
“Kamu hati hati dong kalau motong sayur.. Kamu kan nggak begitu bisa masak. Jadi jangan asal, terus pelan pelan aja. Kamu bukan chef yang bisa begitu cepat melakukanya.”
Alesia merasa janggal dengan apa yang di katakan suaminya. Leon seolah sudah mengingat semuanya tentang alesia.
Darimana kak leon tau aku tidak begitu pandai memasak?
“Lagian kamu nggak perlu lah lakukan semua pekerjaan yang memang kamu nggak bisa al.. Kamu cukup di rumah aja dan selalu ada buat aku itu udah cukup.” Sambung leon.
Alesia menatap leon yang begitu telaten membalut luka di jarinya dengan kain kasa. Rasanya sangat aneh. Leon benar benar seperti leon yang dulu. Leon yang mengingat semua tentangnya.
“Udah.. Udah nggak sakit lagi kan?” Tanya leon tersenyum menatap alesia yang terus saja diam selama leon mengobati luka di jarinya.
Leon mengeryit menatap alesia yang tampak melamun. Dan leon juga yakin alesia tidak mendengar pertanyaanya.
“Ale..”
Leon memanggil lembut alesia. Tanganya meraih dan menggenggam dengan lembut tangan kanan alesia yang tidak terkena luka oleh pisau dapur.
Alesia langsung tersadar begitu merasakan sentuhan lembut leon di tanganya.
“Ya kak..”
“Kamu kenapa?” Tanya leon tersenyum dan menatap penuh perhatian pada alesia.
Alesia tidak langsung menjawab. Wanita itu bingung harus bagaimana. Tapi alesia merasa sepertinya leon memang sudah mulai mengingatnya.
Jangan berpikiran buruk alesia. Seharusnya kamu senang kalau memang kak leon sudah mulai mengingat kamu sedikit demi sedikit.
“Emm.. Nggak, aku nggak papa. Makasih ya kak..” Senyum manis alesia menjawab.
Leon tertawa pelan mendengarnya.
“Bilang makasih, kaya sama siapa aja.”
Alesia hanya diam dengan senyumanya. Alesia berusaha untuk berpikir positif pada suaminya. Tapi nyatanya pikiran buruk itu selalu singgah dan membuat alesia bingung juga bertanya tanya.
“Kakak pulang cepet lagi?” Tanya alesia kemudian.
“Eemm.. Aku pulang hanya untuk makan siang. Aku khawatir sama kamu.”
__ADS_1
Alesia mengeryit.
“Khawatir kenapa?”
Leon menghela nafas. Di lepaskanya tangan alesia. Pria itu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa yang di dudukinya bersama alesia.
“Aku lihat hubungan kamu dengan tante tidak baik akhir akhir ini. Aku takut kamu terus terusan di sudutkan oleh tante.”
Alesia tertawa pelan mendengarnya. Jika leon yang dulu mungkin tidak akan berkata seperti itu. Leon yang dulu selalu berada di kubu tantenya. Dan leon yang dulu selalu menyuruh alesia untuk maklum.
“Aku sangat senang mendengarnya kak.. Tapi kenapa tidak dari dulu kamu seperti ini?”
Leon menoleh menatap alesia. Leon melihat dengan jelas kedua mata istrinya berkaca kaca.
Ya tuhan.. Apa istriku setersiksa itu karna ketidak tegasanku pada tante?
“Kamu tau kak? Dulu aku ngrasa kamu nggak pernah sekalipun membelaku. Kamu selalu menyuruh aku untuk maklum, untuk mengerti, juga untuk memahami. Sedangkan kamu tidak pernah sedikitpun mau memahami perasaan aku.” Cerita alesia.
Leon menelan ludahnya. Leon benar benar merasa sangat bersalah sekarang. Karna merasa berhutang budi pada tantenya alesia menjadi korban. Istrinya menderita dan terluka tanpa leon sadari.
“Kamu bahkan tidak berani menolak apa yang tante mau kak, termasuk di dekatkan dengan pingkan. Jujur aku sakit, aku benci. Tapi itu semua kalah dengan besarnya cinta aku sama kamu.”
“Kamu bahkan menolak untuk meninggalkan rumah ini dan menempati rumah yang kamu beli sendiri. Dan itu juga karna kamu yang terlalu berat pada tante.”
Leon tidak bisa berkata kata. Dadanya ikut terasa sesak. Hatinya terasa perih. Alesia begitu sangat terluka karnanya.
“Maaf...” Lirihnya.
Alesia menggelengkan kepalanya.
“Aku nggak butuh kata maaf dari kamu kak.”
Alesia menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan kasar. Wanita itu meraih tangan kanan leon dan menempelkan di perutnya.
“Aku sedang hamil sekarang. Dan ini adalah anak kamu, buah cinta kita. Aku nggak menuntut apa apa dari kamu kak. Tapi tolong. Demi anak kita, tolong pikirkan apa yang aku katakan tadi.”
Leon menatap wajah sedih istrinya sendu. Kedua pipi wanitanya sudah basah oleh air mata. Leon tau alesia bukan wanita yang lemah, alesia bukan wanita yang gampang menangis jika itu tidak menyakitkanya. Tapi sekarang hanya menceritakanya saja alesia sampai menangis, itu artinya apa yang di tahanya selama 2 tahun hidup bersamanya sangatlah menyakitkan.
Apa yang tante lakukan begitu sangat menyakitkan untuk kamu sayang?
__ADS_1
“Aku akan berusaha alesia..”
Alesia melepaskan tangan leon kemudian mengusap kasar kedua pipi basahnya. Alesia tersenyum menatap wajah sendu suaminya. Alesia sebenarnya tidak ingin mengatakanya. Tapi alesia tidak mau setres sendiri. Apa lagi sekarang dirinya sedang hamil. Kondisi pikiranya akan mempengaruhi kondisi tubuhnya yang pasti juga akan berdampak pada janin dalam kandunganya.
“Permisi tuan, nyonya. Makan siangnya sudah siap.”
Alesia dan leon menoleh mendengar suara bi inah yang entah sejak kapan sudah berada di samping sofa panjang yang di duduki leon dan alesia di ruang keluarga.
“Ah ya bi.. Terimakasih.” Senyum leon menyaut menatap bi inah.
Leon kembali menoleh pada alesia. Pria tampan itu mengembangkan senyuman di bibir tipisnya.
“Udah yah nggak usah sedih sedih lagi. Pokonya aku janji, aku akan berusaha menjadi suami, pelindung, sekaligus papah yang baik buat kamu juga anak kita.” Katanya.
Alesia tertawa mendengarnya.
“Masa jadi papah buat aku juga sih. Kan kamu suami aku..”
“Loh kan nggak papa. Aku kan kepala keluarga. Nanti juga pasti kamu panggil aku papah ngikutin anak kita.”
”Iya deh iya.. Papah leonard.” Senyum alesia mengalah.
“Gituh dong.. Senyum kan tambah cantik. Ya udah yuk nyonya sanjaya kita makan siang dulu.”
Leon mengulurkan tanganya yang langsung di sambut senang oleh alesia. Keduanya kemudian melangkah berlalu dari ruang keluarga dengan bergandengan tangan menuju meja makan untuk makan siang bersama.
Di meja makan alesia dan leon makan dengan canda tawa. Keduanya sesekali saling menyuapkan makanan di piringnya masing masing.
“Eemm.. Kak, tante mana? Kok nggak ikut makan?” Tanya alesia celingukan mencari santi yang siang itu tidak ada di meja makan.
“Emm.. Tadi pas aku pulang tante pergi. Katanya sih mau jalan sama pingkan.”
Alesia menghela nafas. Santi selalu saja meluangkan waktunya untuk pingkan yang bukan siapa siapanya. Sedangkan denganya santi selalu memusuhi.
“Kenapa?” Tanya leon perhatian.
“Nggak kak. Nggak papa.”
Leon mengangguk. Leon tau alesia pasti merasa iri dengan kedekatan santi dan pingkan yang selalu kompak kemana mana bersama.
__ADS_1
Leonard, pria itu tidak sadar jika tidak ada kata kebohongan demi kebaikan. Karna pada dasarnya memang kebohongan adalah kesalahan. Kebohongan adalah dosa. Dan kebohongan tidak akan bisa menjadi kedok sebuah kebaikan.