Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Kembali merasa ragu


__ADS_3

“Aku berangkat yah.. Kamu hati hati di rumah.. Ingat..”


“Jangan temui tuan bramono kalau dia datang kesini terus bila perlu aku ngumpetkan?” Sela alesia meneruskan apa yang hendak di katakan oleh suaminya.


Leon tertawa. Istrinya sampai hapal petuahnya.


“Kamu pinter banget sih. Istrinya siapa sih kamu?”


Alesia ikut tertawa.


“Istrinya tuan Leon sanjaya dong..” Jawabnya penuh rasa percaya diri.


Leon mengusap lembut pipi chuby alesia.


“Dengar yah.. Aku nggak mau kamu kenapa napa sayang. Aku tidak akan segan menghukum pak no, pak satpam, bahkan mbak sari sekalipun jika mereka sampai lalai menjaga kamu.”


Alesia menghela napas. Alesia tau leon sangat mencintainya. Alesia sangat percaya itu. Leon melakukan semuanya demi dirinya juga janin dalam kandunganya. Tapi menurut alesia tetap saja itu terlalu berlebihan.


“Kak.. Kamu nggak boleh gituh. Mereka orang yang baik. Mereka sudah mau dengan tulus menjaga dan melayani aku..”


Leon tersenyum mendengarnya. Istrinya memang baik meskipun kadang jutek dan kadangkala juga judes.


“Iya deh iya...”


Leon mengalah. Apa yang di katakan alesia memang benar. Para pekerjanya sudah sangat baik dengan bidangnya masing masing. Pak no dan pak satpam yang menjaga keamanan juga mbak sari yang melayani dan menyediakan apa yang mereka berdua butuhkan dengan sangat baik.


“Uang bukan segalanya kak. Jangan lupakan itu.”


Alesia kembali mengingatkan karna tidak mau suaminya sampai lupa dengan apa yang seharusnya. Alesia tidak mau suaminya buta hanya karna harta melimpah yang di milikinya. Alesia juga tidak mau suaminya memandang segala hal dengan uang.


“Iya sayang. Makasih banget udah ngingetin aku..”


Leon membelai penuh cinta pipi alesia kemudian mengecup keningnya singkat. Leon benar benar merasa sangat beruntung memiliki istri seperti alesia. Alesia begitu dewasa meskipun kadang manja. Alesia juga bukan wanita egois dan buta akan keadilan karna harta.


Aku yakin siapapun ayah kamu.. Dia pasti orang baik..


“Kamu hati hati bawa mobilnya. Jangan ngebut ngebut terus makan siang juga jangan sampai telat. Aku tunggu kamu pulang..”


“Iya sayang... Aku ke kantor dulu yah..”


Alesia menganggukan kepalanya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Dan sebuah kecupan lembut dari leon mendarat dengan singkat di kening wanita yang sedang berbadan dua itu.


Alesia melambaikan tanganya ketika leon mulai menghidupkan mesin mobilnya hingga akhirnya leon tancap gas dan berlalu dengan kecepatan sedang dari pekarangan luas rumah mewahnya.


Alesia menghela napas. Semuanya berubah semenjak leon lupa ingatan. Tapi alesia terkadang merasa ragu juga takut apakah kebahagiaan yang di rasakanya akan selamanya dia rasakan atau justru hanya bersikap sementara.

__ADS_1


“Nyonya..”


Alesia menoleh ketika mendengar suara mbak sari yang berhasil membuyarkan lamunanya.


“Mbak sari, kenapa mbak?” Tanya alesia.


“Ini nyonya, dari tadi hp nyonya bunyi terus jadi saya bawakan ke nyonya.”


Alesia menatap hp miliknya yang di sodorkan oleh mbak sari. Dan deringan hp nya kembali terdengar dengan nama kontak bunda yati yang tertera di layar benda pipih elektronik itu.


Bunda? Ada apa?


Alesia menerima hp miliknya dengan bertanya tanya. Bunda yati jarang sekali menelponya. Bahkan bisa di katakan bunda yati menghubunginya jika ada sesuatu yang sangat penting.


Apa ada sesuatu lagi?


Alesia menghela napas kemudian tersenyum pada mbak sari.


“Makasih ya mbak.” Katanya.


“Ya nyonya. Kalau begitu saya permisi ke dalam lagi mau beresin meja makan.” Angguk mbak sari.


“Ah iya..”


Mbak sari berlalu setelah alesia mengiyakan. Wanita dengan daster orange itu berlalu cepat meninggalkan alesia yang berdiri di teras depan rumahnya.


Alesia menatap lagi hp nya yang kembali berdering setelah beberapa detik berhenti. Alesia yakin bunda yati pasti ingin mengatakan sesuatu padanya karna bunda yati bahkan sampai menelponya berkali kali.


Sekali lagi alesia menghela napas. Alesia mengangkat telpon dari bunda yati.


“Halo bunda..”


“Nak, kamu baik baik saja?”


Alesia mengeryit ketika mendengar pertanyaan yang langsung di lontarkan oleh bunda yati. Entah kenapa tiba tiba bunda yati menanyakan tentang dirinya yang baik baik saja atau tidak.


“Tentu saja bunda. Aku selalu baik baik saja. Memangnya kenapa?”


Di seberang telpon bunda yati menghela napas. Bunda yati sebenarnya mulai ragu pada leon yang katanya lupa ingatan.


“Nak.. Boleh bunda tanya sesuatu? Ini tentang suami kamu..”


Alesia semakin bingung. Bunda yati mulai menyerempet pada leon.


“Tentang kak leon? Memangnya kenapa dengan kak leon bunda?”

__ADS_1


Bunda yati diam sejenak. Wanita itu seperti sedang mencoba memikirkan kata yang pas untuk menanyakan tentang leon pada alesia.


“Nak leon, apa dia sudah sembuh dan bisa mengingat semuanya?” Tanya bunda yati pelan.


Alesia tersenyum setelah mendengar pertanyaan bunda yati. Mungkin bunda yati bingung karna leon bisa mengingat sebagian dari masa lalunya.


“Belum bunda.. Kak leon belum bisa mengingat apapun tentang aku juga tante santi. Memangnya kenapa bunda?”


“Dia tidak bisa mengingat tentang kamu dan nyonya santi?”


Alesia menganggukan kepalanya namun sadar bunda yati tidak akan tau alesia segera menjawabnya.


“Ya bunda. Kak leon tidak sepenuhnya amnesia. Dia hanya kehilangan sebagian dari ingatanya. Dan itu tentang aku dan tantenya. Tante santi.”


“Kok aneh..”


“Aneh? Aneh gimana maksudnya bunda?”


Lagi bunda yati diam dan sempat membuat alesia menunggu hampir semenit.


“Bunda tidak bisa mengatakanya lewat telpon nak. Apa kamu bisa ke panti sekarang? Tapi jangan kasih tau suami kamu.”


Alesia tampak berpikir. Alesia tidak pernah pergi dari rumah tanpa seizin dari suaminya. Pernah memang, tapi itu hanya sekali. Itupun saat bertemu dengan rico dan alesia sudah jujur mengatakanya pada leon.


“Bunda membuat aku penasaran kali ini. Tapi bunda, aku nggak mungkin pergi tanpa sepengetahuan kak leon. Kalaupun aku nggak bilang juga pasti pak no bakal bilang sama kak leon.”


Alesia ingin pergi sebenarnya. Alesia ingin tau apa yang ingin di katakan oleh bunda yati padanya tentang leon.


“Kalau begitu bunda saja yang datang ke rumah kamu. Kamu jangan kemana mana dan tunggu bunda datang.”


“Baiklah bunda. Nanti aku kirim alamatnya ke bunda.”


“Tapi nak.. Tolong jangan kasih tau suami kamu tentang kedatangan bunda. Bunda tidak mau nanti suami kamu berpikir yang tidak tidak. Bunda nggak mau membuat masalah.”


Alesia tertawa mendengarnya. Apa yang di katakan bunda yati sangat lucu menurutnya. Bagaimana mungkin leon marah hanya karna bunda yati datang ke rumahnya.


“Bunda ada ada aja deh. Masalah apa sih? Kak leon kan juga sudah menganggap bunda seperti orang tuanya sendiri.”


“Alesia, bunda serius.”


“Baiklah bunda... Iya aku nggak akan bilang apa apa sama kak leon. Tapi aku nggak bisa bohong kalau kak leon nanya.”


“Ya nak. Ya sudah bunda jalan sekarang yah..”


“Ya bunda, hati hati di jalan.”

__ADS_1


Sambungan telpon di sudahi oleh alesia. Alesia kembali bertanya tanya. Bunda yati sampai rela datang sendiri ke rumahnya.


Memangnya ada apa dengan kak leon?


__ADS_2