Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tetap utuh part 2


__ADS_3

Rico menghela napas kemudian menurunkan hp yang sedari tadi menempel di telinganya. Rico tau mungkin santi memang enggan untuk mengangkat telpon darinya. Tidak salah lagi, santi pasti ingin menjauh darinya.


“Tuan rico?”


Rico menoleh ketika mendengar suara berat seseorang memanggilnya. Rico mengeryit mendapati satpam di perusahaan santi sudah berada tepat di belakangnya.


“Tuan menunggu nyonya santi ya?”


Rico tersenyum kikuk kemudian menganggukan kepalanya. Canggung rasanya karna panggilan tuan yang di sematkan oleh satpam tersebut.


“Iya pak.. Tante santinya sudah keluar yah?” Tanya rico sembari meringis merasa malu.


“Setahu saya sih belum tuan.. Itu mobilnya juga masih ada..”


Rico mengikuti arah pandang satpam tersebut. Dan benar saja di parkiran mobil santi masih ada disana.


“Ah iya iyahh..”


“Nah itu nyonya santi tuan..”


Rico kembali mengikuti arah pandang pak satpam. Dan lagi lagi benar. Santi sedang melangkah keluar dari dalam perusahaanya.


Tante...


Rico tersenyum menatap santi yang sepertinya belum menyadari kehadiranya.


“Ya sudah kalau begitu. Saya ke tante santi dulu..”


“Oh iya tuan, silahkan..” Senyum pak satpam mempersilahkan.


Rico melangkah cepat menghampiri santi yang entah sedang mencari apa di dalam tas slempangnya.


“Tante..”


Santi terdiam mendengar suara yang sudah sangat familiar di telinganya. Santi menelan ludahnya kemudian segera mengangkat kepalanya. Santi sedikit mendongak menatap rico yang berdiri menjulang di sampingnya. Mungkin karna hari ini santi tidak menggunakan hils sehingga rico terlihat sangat tinggi.


“Kamu...”


Rico tersenyum menatap santi yang tampak terkejut karna kehadiranya.


“Tante belum makan siang kan? Kita cari makan sama sama yuk? Kali ini saya yang traktir deh..” Kata rico dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


“Nggak usah..”

__ADS_1


“Ssstttt.. Saya tidak menerima penolakan tante. Pokonya tante ikut saya..” Sela rico tidak mau di bantah.


Kedua mata santi melebar. Rico sedang memaksanya.


“Kamu pikir kamu siapa berani memaksa saya hah?”


Rico tertawa. Santi memang sangat judes dan tidak pernah sekalipun menerima ajakanya setelah meminta rico untuk menjauh.


“Saya? Saya orang yang siap menerima tante apa adanya. Saya siap melakukan apapun untuk tante. Dan saya, saya juga siap kalau harus berkorban untuk tante. Tidak perduli bagaimanapun tante juga masa lalu tante..”


Santi terdiam mendengarnya. Santi tidak menyangka rico masih mau mendekatinya setelah tau santi adalah mantan istri bramono. Padahal santi sudah berpikir mungkin rico menjauh karna pagi ini rico tidak mengiriminya pesan singkat.


“Sekarang tante sudah tau kan siapa saya? Jadi sekarang tante nggak boleh nolak lagi. Tante juga nggak boleh menyuruh saya untuk menjauh.” Lanjut rico tersenyum manis.


Santi tidak bisa berkata apapun. Ucapan rico benar benar membuatnya tidak percaya.


“Ayo tante..”


Rico meraih tangan santi dan menggenggamnya dengan sangat lembut. Dan apa yang rico lakukan membuat santi benar benar tidak bisa berkutik.


“Rico kamu...”


“Sssttt.. Ikut aja tante..” Sela rico menatap santi dengan tatapan penuh kelembutan.


Pelan pelan rico melangkahkan kakinya dengan tangan yang terus menggenggam tangan santi hingga akhirnya mau tidak mau santi mengikuti langkah rico.


“Kita naik motor saya saja ya tante?” Tanya rico sambil melangkah menuju motornya.


Santi hanya diam dan sama sekali tidak menyaut. Namun diam diam santi tersenyum sambil terus menatap tanganya yang di genggam oleh rico.


Rico melepaskan genggaman tanganya pada santi kemudian naik ke atas motornya dan tidak lupa mengenakan helm warna merahnya.


“Ayo tante naik..”


Santi tidak menyaut namun tetap naik ke boncengan rico. Entah kenapa santi merasa sangat bahagia berada begitu dekat kembali dengan rico.


Hatiku.. Ya tuhan.. Jantungku...


Napas santi sedikit memburu. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat juga hatinya yang terasa sangat penuh.


“Udah?” Tanya rico menolehkan kepalanya pada santi.


“Ya.” Jawab santi singkat.

__ADS_1


Rico mulai menstater motor gedenya sebelum akhirnya berlalu dengan kecepatan sedang dari depan gedung tinggi menjulang perusahaan santi.


Dalam perjalanan menuju tempat makan yang di tuju rico, rico menambah kecepatan laju motornya sehingga santi dengan sigap langsung memeluk pinggang rico erat karna ketakutan. Wajar memang mengingat santi yang jarang bahkan sepertinya tidak pernah naik motor dengan kecepatan maximal sebelum bersama rico.


Rico menghentikan motornya ketika sampai di depan sebuah warung yang menyediakan semua jenis makanan khas padang atau biasa di sebut warung padang.


Rico tersenyum saat merasakan eratnya pelukan santi padanya. Rico tidak munafik, rico merasa sangat senang karna santi memeluknya dengan begitu erat seolah sedang berlindung padanya.


“Eemmm.. Tante, kita sudah sampai.”


Rico mencoba memberitahu pada santi dengan pelan karna santi yang terus saja memeluknya erat dari belakang.


Santi yang mendengar suara lembut rico berlahan mulai memberanikan diri membuka kedua matanya. Dan setelah kedua matanya terbuka sempurna santi langsung melepaskan pelukanya dan segera turun dari boncengan rico.


“Kamu sengaja yah mau buat saya pingsan dengan kebut kebutan kaya tadi?”


Santi langsung menyerang rico dengan pertanyaan tajamnya.


Rico mengeryit. Rico merasa tidak kebut kebutan. Rico hanya melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata rata. Semua itu rico lakukan untuk mempersingkat waktu karna waktu istirahat makan siang yang hanya sebentar.


“Kamu dendam sama saya? Kamu mau mencelakai saya?” Santi kembali bertanya.


Rico menggelengkan kepalanya. Santi terlalu berlebihan bahkan sangat berlebihan menurutnya.


“Saya nggak bermaksud begitu tante. Saya hanya tidak mau kita buang buang waktu di jalan. Kan setelah ini tante juga harus kerja lagi. Saya juga.”


Santi berdecak. Santi tidak keberatan jika terlalu lama di jalan asalkan bersama rico bukan dengan yang lain.


“Udah dong tante jangan marah marah terus, nanti cantiknya ilang loh. Senyum dong biar tambah manis kaya madu.”


Rico berusaha merayu santi agar tidak merajuk padanya. Pria tampan itu kemudian melepas helmnya dan turun dari motor gedenya.


“Kita makan disini saja ya tante. Saya jamin tante nggak bakalan nyesel. Masakanya enak banget tante. Saya sudah lama jadi langganan disini.”


“Nggak nanya.” Sela santi ketus.


Rico menghela napas. Dulu saat mengagumi alesia rico tidak seberusaha seperti mendekati santi sekarang. Tentu saja karna alesia tidak ketus dan judes seperti santi.


Santi menatap rico kemudian melengos dan melangkah lebih dulu masuk ke dalam warung khas padang yang sedang ramai pembeli saat itu meninggalkan rico yang masih berdiri di samping motor gedenya.


Rico menggelengkan kepala dan tertawa melihat tingkah menggemaskan santi.


Tante, Kenapa aku bisa begitu yakin untuk bisa memiliki tante? Bahkan rasa ini tetap utuh meskipun aku tau tante sudah pernah menikah..

__ADS_1


__ADS_2