
Alesia mengeryit bingung karna leon yang terus saja diam. Padahal alesia merasa tidak membuat kesalahan apapun. Tapi leon seperti orang yang sedang marah padanya. Leon bahkan hanya akan bersuara jika alesia bertanya padanya. Itupun hanya seperlunya saja.
Alesia menghela napas. Begitu sampai di kediamanya leon bahkan langsung membersihkan dirinya dan menolak untuk makan malam dengan alasan masih kenyang. Padahal setau alesia mereka hanya makan siang itupun saat pukul 1 siang. Tidak mungkin rasanya jika leon sama sekali tidak merasakan lapar.
Kenapa lagi sih? Apa aku membuat kesalahan?
Alesia mencoba memutar otak agar leon tidak lagi diam dan kembali memperhatikanya. Berlahan seulas senyum terukir di bibir alesia. Alesia langsung menunduk dan mengusap lembut perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.
Bantu mamah ya nak..
Alesia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi miring ke kiri. Wanita itu menunggu leon yang masih berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang di lakukan prianya sehingga begitu lama di dalam kamar mandi sekarang.
Ceklek
Alesia langsung berakting dengan pura pura merintih sambil memegangi perutnya berharap bisa menarik perhatian leon. Alesia benar benar merasa gerah dan tidak nyaman dengan kediaman tidak jelas suaminya itu.
Leon yang baru saja keluar dari kamar mandi mengeryit saat indra pendengaranya samar samar menangkap suara rintihan istrinya. Penasaran leon pun berlahan mendekat dan duduk di tepi ranjang di samping alesia yang berbaring.
“Ale.. Kamu kenapa?”
Leon bertanya dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Leon sebenarnya merasa sedikit bersalah karna sudah cuek pada alesia. Tapi leon tidak punya topik pembicaraan apapun dengan istrinya tadi. Pikiranya terus tertuju pada ucapan bunda yati yang mengatakan wajah alesia saat bayi bak pinang di belah dua dengan bramono. Begitu sangat mirip.
“Kak.. Perut aku sakit..” Rengek alesia dengan wajah seperti hendak menangis.
“Kok bisa sih? Bagian mana yang sakit? Kita ke dokter yah?”
Leon langsung menyentuh perut alesia. Wajahnya langsung terlihat sangat khawatir dengan tanganya yang mengusap lembut perut alesia berharap bisa meredakan sedikit rasa sakit yang sedang di rasakan oleh istrinya.
Alesia menggelengkan kepalanya kemudian mengubah posisi miringnya menjadi terlentang.
“Nggak mau..” Tolaknya dengan nada manja.
Leon menghela napas. Alesia memang selalu menolak jika berhubungan dengan dokter.
“Ale.. Ini penting. Bahaya kalau di biarkan. Kamu harus di tangani dokter..”
“Aku cuma mau kamu terus disini kak.. Temenin dan peluk aku..”
Leon mengeryit.
“Maksudnya?”
__ADS_1
Alesia menatap leon dengan tatapan penuh harap. Alesia sangat berharap semoga rencananya untuk menarik perhatian leon berhasil.
“Mungkin anak kita mau di manja sama kamu..”
Mendengar itu berlahan senyuman di bibir leon terukir. Pria tampan itu langsung mendekat lagi pada alesia. Di kecupnya perut alesia serta di usapnya penuh cinta dan kasih sayang.
“Eemm.. Jadi anaknya papah lagi pengin di manjain nih..?” Tanya leon sambil melirik pada alesia.
Alesia mengangguk cepat. Dalam hati alesia bersorak senang karna ternyata rencananya berhasil untuk menarik perhatian leon.
Thank's good
“Tapi.. Sebenarnya yang mau di manjain itu mamahnya atau anaknya nih..?”
Alesia tertawa. Ternyata leon bisa dengan mudah membaca rencananya.
“Kalau dua duanya boleh kan?” Senyum alesia bertanya.
“Tentu saja, apa sih yang enggak buat kamu sayang..” Jawab leon tersenyum pula.
Leon mengecup sekali lagi perut alesia kemudian berpindah pada bibir, kedua pipi chuby alesia, dan terakhir pada kening alesia.
“Tapi ada syaratnya sayang..” Bisik leon berkata tepat di depan bibir alesia.
“Syarat? Syarat apa?”
Leon tersenyum penuh arti kemudian mengecup sekali lagi bibir merah alami istrinya.
“Syaratnya gampang. Kamu makan dulu terus minum vitamin. Abis itu baru aku temenin kamu.” Senyum leon menjawab.
Alesia mengangguk dengan antusias. Mungkin sekarang mood suaminya sudah kembali bagus. Karena tadi leon sempat mengatakan masih kenyang tapi sekarang justru leon yang mengajaknya untuk makan malam.
“Ya udah.. Kamu tunggu disini yah. Biar aku yang ambil makananya.”
“Kak tapi...”
“Ssstt.. Nggak ada tapi tapian. Tetap anteng disini tunggu aku kembali.” Sela leon lembut.
Alesia terdiam sesaat kemudian tersenyum dan menganggukan kembali kepalanya.
“Oke oke...”
__ADS_1
Leon mengecup kembali kening alesia sebelum bangkit dan melangkah keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan. Leon bukan pria bodoh, meskipun memang awalnya leon memang sangat khawatir karna alesia yang merintih kesakitan tapi setelah mendengar permintaan alesia leon bisa dengan mudah menebaknya. Leon tau alesia hanya sedang berusaha menarik perhatianya.
Ale.. Kamu memang sangat menggemaskan
Leon tersenyum sembari melangkah menuruni anak tangga menuju lantai atas. Leon benar benar merasa sudah sangat gila sekarang. Dan semua itu karna cintanya yang begitu besar pada alesia. Tidak lupa cintanya juga pada santi yang sudah berjasa dalam kehidupanya.
Leon tidak pernah sekalipun menyangka dirinya akan menjadi seorang pembohong. Dan orang yang dia bohongi adalah alesia, istrinya sendiri. Tapi leon tidak sembarang berbohong. Leon juga tidak berbohong demi dirinya sendiri. Melainkan demi alesia juga.
Tante sama sekali belum menghubungiku sejak tau kebohonganku. Tante juga tidak datang untuk menemui alesia sejak mengembalikan mobil alesia kesini. Apa mungkin tante masih marah sama aku? Apa tante kecewa lagi sama aku?
-----
Di sisi lain santi baru saja keluar dari gedung perusahaanya saat tatapanya bertemu dengan pramono. Saudara kembar mantan suaminya.
Santi terdiam sesaat. Rupa bramono dan pramono memang sama tapi warna mata mereka juga gaya rambutnya berbeda membuat santi bisa dengan mudah mengenalinya.
“Kamu..”
Santi melengos merasa malas bertemu dengan siapapun anggota keluarga bramono.
“Apa kabar mantan adik ipar?”
Pertanyaan dengan nada mengejek terlontar dari mulut pram pada santi.
Santi melipat kedua tanganya di depan dada enggan menjawab pertanyaan dengan nada mengejek itu. Santi tau bagaimana sikap saudara kembar dari mantan suaminya itu.
“Mau ngapain kesini?” Tanya santi dingin.
Pramono menghela napas. Di tatapnya penampilan santi dari atas sampai bawah. Bagi pramono penampilan santi sangat mempesona dan selalu membuatnya jatuh cinta.
“Aku hanya ingin tau bagaimana kabar kamu. Mantan adik iparku..” Senyum pramono menatap santi.
“Saya tidak ada waktu untuk berbasa basi dengan anda.”
Pramono tertawa mendengarnya. Santi selalu dingin padanya dari dulu. Padahal jelas dulu santi lebih dulu mengenalnya sebelum mengenal bramono adik kembarnya.
“Kamu tetap tidak berubah dari dulu. Tetap cantik dan menggemaskan.” Senyum miring pramono.
“Pram, tolong jangan ganggu saya. Saya tidak mau lagi ada hubungan apapun dengan kalian.”
Dari kejauhan rico menyipitkan kedua matanya melihat santi yang sedang berhadapan langsung dengan pria yang tentu sangat rico kenali.
__ADS_1
Itukan tuan bramono