Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Bertanya tanya


__ADS_3

Sampai larut malam alesia tidak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Ucapan bunda yati terus terngiang di telinganya. Sebenarnya alesia sendiri juga bingung dan merasa aneh dengan apa yang di alami leon. Alesia pernah ingin mencari tau tapi tidak sampai menemui titik terang. Alesia juga pernah mendiskusikanya dengan santi tapi santi tidak pernah menyinggung apapun lagi sampai sekarang.


Tentang masa lalu.. Apa tentang tante santi juga?


Alesia menolehkan kepalanya menatap pada leon yang sudah terlelap di sampingnya. Alesia sangat tidak mau berpikiran buruk tentang suaminya. Tapi pada bunda yati, alesia juga tidak mungkin menganggapnya berbohong. Alesia tau wanita tua itu sangat menyayanginya.


Bunda tidak mungkin mengatakanya tanpa alasan yang jelas. Bunda juga tidak mungkin berbohong dan tidak menyukai kak leon..


Alesia memejamkan kedua matanya beberapa detik kemudian membukanya kembali.


Tante santi.. Aku harus menemuinya besok. Yah.. Aku harus menanyakanya pada tante santi.


Esok paginya seperti biasa, leon menikmati sarapan paginya bersama alesia. Menu sarapan pagi mereka kali ini adalah bubur manado dengan campuran sambal roa buatan mbak sari.


“Kak..” Alesia memanggil pelan leon yang sedang menikmati sarapanya dengan lahap.


“Ya.. Kenapa sayang?”


Leon langsung menoleh dan menatap penuh perhatian pada istri tercintanya.


Alesia diam sesaat. Alesia berpikir lebih baik jujur akan menemui santi dari pada harus ngumpet ngumpet yang tentu akan menimbulkan masalah baru.


“Aku.. Izin mau ke tempat tante yah nanti siang.”


Leon mengeryit. Senyum yang terukir di bibirnya berlahan pudar.


“Ke tempat tante? Untuk apa?”


Leon sebenarnya tidak setuju. Bukan karna tidak percaya pada alesia maupun santi. Leon percaya alesia akan baik baik saja. Tapi sikap arogan santi membuat leon merasa khawatir. Santi memang baik, namun pembawaan wanita itu sangat kasar dan arogan. Leon takut alesia kembali merasa tertekan karna sikap tantenya itu.


“Ya.. Aku pengin ketemu aja sama tante kak. Rasanya udah lama banget sejak tante kesini bawain mobil aku kita nggak ketemu..” Senyum alesia beralasan.


Leon mengangguk. Santi memang belum menghubunginya sejak tau tentang kebohonganya.


“Kalau begitu aku akan pulang cepat nanti dan antar kamu ke tempat tante.”


Alesia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Semuanya tidak akan berjalan lancar jika leon yang mengantarnya menemui santi.


“Kenapa?” Tanya leon kebingungan.


“Emm.. Kamu kan sibuk kak.. Aku nggak mau kerjaan kamu jadi ke ganggu. Dan juga, aku kan perginya sama pak no. Jadi kamu nggak usah khawatir. Aku pasti baik baik aja kok..”

__ADS_1


“Ale.. Tapi tante..” Leon tidak bisa melanjutkan ucapanya. Leon tidak mau membuat istrinya berkecil hati dan menganggap santi tidak menyayanginya seperti dulu.


“Aku cuma pengin mastiin sendiri kamu baik baik saja.” Lanjut leon dengan helaan napas yang keluar dari hidungnya.


Alesia tersenyum. Di sentuh dan di genggamnya tangan besar leon.


“Aku bakalan baik baik saja kak..”


Leon menatap alesia yang tersenyum manis padanya. Ucapan alesia seolah memberi kode bahwa alesia akan terus baik baik saja meskipun tanpa leon di sisinya.


Kenapa aku merasa alesia seperti mulai tidak membutuhkanku?


Leon menelan ludahnya. Leon merasa tidak lagi di butuhkan sekarang.


Selesai sarapan alesia seperti biasanya yaitu mengantar leon sampai depan rumahnya. Alesia tersenyum sambil melambaikan tanganya saat mobil leon mulai keluar dari pekarangan luas rumahnya.


Setelah mobil leon tidak lagi terlihat alesia memanggil pak no dan mengatakan akan pergi ke tempat santi.


“Kita ke perusahaan tante saja langsung pak.”


Alesia yakin saat ini santi sudah tidak ada di rumah mengingat santi yang sudah mulai aktif lagi dengan bisnisnya.


Ketika melewati sebuah pusat minimarket di pinggir jalan pak no berhenti dengan alasan ingin membeli minum sebentar. Alesia mengangguk dan memilih menunggu di dalam mobil sedang pak no memasuki mini market tersebut.


Alesia menyipitkan kedua matanya ketika melihat sosok yang di kenalnya keluar dari mobil di parkiran depan minimarket tersebut.


“Itu kan pingkan..”


Alesia menurunkan kaca mobilnya agar bisa melihat dengan jelas sosok pingkan yang keluar dari mobil sport warna biru itu. Setahu alesia itu bukan lah koleksi mobil pingkan yang sering di lihatnya saat masih dekat dengan santi dulu.


Alesia melihat ada sosok lain yang keluar dari mobil tersebut. Sosok seorang pria dengan badan tinggi dan perawakan yang bagus. Mereka berdua tampak mesra dan tertawa sangat bahagia. Pingkan juga tampak sangat manja dan bergelayut mesra di lengan pria tersebut.


“Itu siapa? Pacarnya pingkan? Tapi kan dia bukanya suka sama kak leon?”


Alesia bertanya tanya. Alesia tau pingkan sangat menyukai suaminya. Pingkan bahkan pernah sangat lancang masuk ke dalam kamarnya dan mengatakan menyukai kamarnya dan leon di kediaman sanjaya dulu. Pingkan juga selalu berusaha terlihat baik di depan santi.


Penasaran alesia pun turun dari mobil dan melangkah mendekat pada pingkan dan pria tersebut yang masih berdiri di depan mobil sport berwarna biru itu.


“Pingkan.” Panggil alesia.


Merasa namanya di panggil pingkan pun menoleh. Pingkan terdiam sesaat menatap sosok alesia dengan perut sedikit buncitnya sudah berada di depanya.

__ADS_1


“Kamu alesia?”


Pingkan tertawa menatap alesia yang menatapnya. Wanita itu bahkan menatap remeh pada sosok alesia.


“Dia siapa sayang?”


Alesia menatap sesaat pada pria yang ada di samping pingkan. Pria yang mungkin jauh lebih tua dari suaminya itu sangat lembut bertanya pada pingkan. Dan alesia menebak mungkin memang pria itu adalah kekasih pingkan.


“Oh ini.. Dia itu keponakanya temen aku sayang. Namanya alesia. Dia juga wanita yang merebut pria yang pernah aku suka. Tapi itu udah nggak masalah. Toh aku sudah punya kamu yang jauh lebih baik dan lebih kaya dari pria itu..”


Kedua mata alesia melebar mendengarnya. Pingkan memutar balikan fakta. Padahal jelas jelas pingkan yang berniat merebut leon darinya.


“Begitu ya?”


Pingkan mengangguk dan dengan manja masuk ke dekapan pria itu. Dan itu sukses membuat alesia merasa mual dan ingin muntah detik itu juga.


Dasar wanita munafik. Bisa bisanya kamu memutar balikan fakta dengan menyalahkan aku


“Sudah ah sayang aku males liat dia. Mending sekarang kita masuk.”


“Oke..”


Kedua tangan alesia mengepal erat merasa sangat jengkel pada pingkan. Pingkan berlalu begitu saja setelah menjelekkanya di depan kekasihnya.


Dasar wanita jelek


Alesia mengumpat dalam hati. Jika saja mereka tidak sedang berada di depan umum ingin sekali rasanya alesia meninju wajah menyebalkan penuh kemunafikan pingkan.


“Nyonya..”


Alesia menoleh dan menemukan pak no yang sudah berada di sampingnya.


“Maaf nyonya.. Nyonya kenapa keluar dari mobil? Saya sampai khawatir nyariin nyonya. Takut nyonya ilang.”


Ucapan pak no berhasil membuat alesia tertawa. Mungkin leon terlalu melebihkan tugas pak no dalam menjaganya sehingga membuat pak no merasa harus benar benar ekstra menjaganya.


“Pak no berlebihan deh.. Saya kan bukan anak kecil.” Tawa alesia.


Pak no hanya menggaruk tengkuknya. Pria setengah baya itu merasa malu karna kebablasan saat berbicara pada majikanya.


“Ya sudah yuk pak lanjut jalan lagi.”

__ADS_1


“Eh iya nyonya. Baik.”


__ADS_2