
Selama metting berlangsung leon benar benar tidak bisa berkonsentrasi. Belum selesai masalahnya tentang ayah alesia kini muncul masalah baru yaitu hubungan rico dan santi.
“Bagaimana menurut anda pak leon?”
Leon mengeryit. Leon sama sekali tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh kolega bisnisnya. Merasa bingung leon kemudian melirik sekertarisnya dan beruntungnya sekertarisnya adalah orang yang peka juga pintar. Sekertaris leon menganggukan kepalanya mengkode pada leon agar menjawab iya.
“Ah iya.. Bagus bagus. Saya sependapat dengan anda.” Senyum leon tanpa ragu sedikitpun.
“Baik kalau begitu. Mungkin cukup sampai disini saja pembahasanya pak. Semoga semuanya berjalan dengan semestinya.”
“Ah iya..”
Leon menghela napas. Pria tampan itu ikut bangkit dan menjabat tangan 2 orang koleganya. Leon juga menyuruh sekertarisnya agar mengantar 2 orang tersebut sampai depan.
Hhh.. Ya tuhan.. Apa ini buah dari kebohonganku? Masalah muncul bertubi tubi dan satupun belum ada jalan keluar.
Tidak lama sekertaris leon kembali masuk ke dalam ruang metting. Laona menyerahkan 2 lembar berkas pada leon.
“Apa ini?” Tanya leon bingung.
“Itu percakapan kolega tadi pak. Barang kali pak leon bingung jadi saya mencatatnya untuk pak leon baca.” Jawabnya.
Leon menghela napas lega. Beruntung sekertarisnya tidak hanya pintar tapi juga peka dan bisa mengerti leon.
“Terimakasih.”
“Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi.”
Leon menganggukan kepalanya. Setelah sekertarisnya berlalu leon menatap 2 lembar berkas dengan tulisan tangan yang begitu rapi.
“Nanti sajalah.”
Leon menilik waktu. Pria itu berdecak. Waktu pulang sebentar lagi tiba tapi leon merasa sangat tidak bersemangat. Mungkin karna masalahnya yang semakin bertubi tubi. Belum lagi leon yang lagi lagi harus berbohong demi menutupi kebohonganya pada alesia.
“Apa aku jujur aja?”
Leon tampak berpikir. Saat ini alesia sedang bahagia karna leon yang sangat memanjakanya. Dan leon tidak mau kebahagiaan alesia pudar karna dirinya jujur di waktu yang tidak tepat.
“Aku harus membuat cara agar alesia tidak marah..”
“Tapi.. Itu sama aja aku bohong lagi..”
Leon berdecak. Mungkin dari awal memang dirinya yang salah karna menganggap kebohonganya tidak akan berbuntut masalah. Leon menganggap semuanya akan mudah padahal nyatanya begitu susah.
Leon kemudian meraih 2 lembar berkas di atas meja di depanya. Leon bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang metting dengan kebingungan yang membuat kepalanya serasa mau pecah.
----
“Alesianya ada?”
__ADS_1
Mbak sari menatap dari atas sampai bawah pria tampan di depanya. Pria yang terlihat sudah matang juga mapan.
“Maaf tuan. Anda siapanya nyonya?”
Bramono terdiam sesaat. Mungkin memang asisten rumah tangga di rumah leon tidak tau siapa dirinya. Berbeda dengan bi minah yang memang mengenalnya dari dulu.
“Saya.. Eemm.. Saya om nya leon. Apa mereka berdua ada?”
Mbak sari menoleh pada pak satpam yang hanya membukakan pintu gerbang sedikit. Mungkin satpam itu tidak berani memberi izin masuk pada orang asing yang tidak di kenalnya.
“Maaf tuan sebenarnya anda mencari tuan leon atau nyonya alesia?”
Bramono berdecak. Bramono sebenarnya ingin bertemu dengan leon. Tapi setibanya di kediaman itu tiba tiba bramono lebih ingin bertemu dengan alesia.
“Dua duanya.” Jawab bramono malas.
“Tuan leon belum pulang tuan. Sedangkan nyonya sedang istirahat. Sebaiknya anda kesini lagi saja nanti malam.”
Bramono mendelik. Asisten rumah tangga di depanya begitu sangat berani.
“Memangnya kenapa kalau saya masuk? Saya keluarganya leon.”
Mbak sari terdiam sesaat. Di liriknya pak satpam yang hanya diam seperti orang bodoh di sampingnya.
“Yang saya tau keluarga nyonya dan tuan hanya nyonya santi tuan. Maaf.. Selain itu saya tidak tau. Jadi saya tidak bisa mengizinkan tuan masuk.”
Bramono menghela napas.
Mbak sari dan pak satpam saling menatap sesaat. Mereka merasa bimbang takut jika ternyata pria di depanya adalah orang jahat.
“Ya tuan, boleh.”
Bramono membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan sebuah paperbag berukuran sedang. Bramono kemudian memberikan paperbag tersebut pada mbak sari sebelum akhirnya berlalu dengan mobil mewahnya.
Mbak sari dan pak satpam masih diam menatap mobil bramono yang berlalu. Mereka berdua tidak berani mengizinkan bramono masuk apa lagi leon belum pulang dan alesia sedang istirahat.
“Kamu nggak tanya namanya mbak sari?” Tanya pak satpam pada mbak sari.
“Aduh iya pak saya lupa.”
Mbak sari menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya mbak sari menanyakan lebih dulu siapa nama pria tersebut sebelum bramono berlalu.
“Tapi nggak papa deh. Tadi pas lagi bicara sama kamu saya sempat photo orang itu jadi gampang nanti laporanya sama tuan.”
Mbak sari mengangguk dan merasa lega.
“Untuk kamu pinter.”
“Ya sudah kalau begitu saya masuk dulu.”
__ADS_1
Mbak sari melenggang pergi meninggalkan pak satpam yang kembali menutup dan mengunci pintu gerbang.
Malamnya.
Leon menatap bingung pada paperbag yang berada di atas meja makan. Sepertinya alesia juga belum menyadarinya karna paperbag itu masih utuh dan sama sekali belum tersentuh.
“Eem.. Mbak itu apa?”
Mbak sari yang sedang menata makan malam menoleh mendengar pertanyaan leon. Mbak sari meringis. Mbak sari lupa memberitahu kedua majikanya bahwa ada titipan.
“Ah ya tuan.. Saya lupa. Itu ada titipan untuk nyonya dan tuan.”
Leon mengeryit.
“Titipan dari siapa?”
“Saya nggak tau siapa tuan. Saya lupa menanyakanya. Tapi pak satpam sempat memphoto orangnya.”
“Kalau begitu panggil pak satpam kesini.”Perintah leon.
Mbak sari menganggukan kepalanya dan segera berlalu dari hadapan leon dengan terburu buru untuk memanggil pak satpam. Dan tepat setelah mbak sari berlalu alesia mendekat pada leon.
“Kenapa kak? Itu mbak sari kenapa lari lari gituh?”
Leon menoleh.
“Kamu tau itu paperbag dari siapa?” Tanya leon menunjuk paperbag di atas meja.
Alesia menoleh ke arah yang di tunjukan suaminya. Alesia memang melihatnya dari siang. Tapi alesia pikir mungkin itu milik mbak sari.
“Aku pikir itu milik mbak sari.”
Leon berdecak pelan.
“Kamu ini ada ada aja sih.. Mana mungkin punya mbak sari di letakan disitu. Lain kali kamu teliti sedikit dong ale..”
Alesia mengerucutkan bibirnya. Leon seperti sedang mengomelinya.
“Ya udah sih nggak usah marah.. Kan aku juga nggak tau. Orang mbak sari juga nggak bilang apa apa kok.”
Leon menghela napas. Hampir saja leon emosi karna ketidak telitian alesia. Mungkin memang karna rasa lelah yang sering di rasakan alesia sehingga kedisiplinan yang dulu selalu alesia prioritaskan kini alesia abaikan.
“Aku nggak marah. Aku cuma khawatir aja. Takutnya bingkisan itu juga dari orang yang sama yang mengirim paket mengatas namakan kamu.”
Alesia hanya diam enggan berdebat dengan suaminya.
“Permisi nyonya tuan..”
Leon langsung menoleh mendengar suara pak satpam. Tidak bisa menahan rasa penasaranya leon langsung meminta agar pak satpam menunjukan photo seorang yang menitipkan paperbag itu untuknya dan alesia. Dan alangkah terkejutnya leon begitu melihat sosok bramono yang begitu jelas sedang memberikan paperbag tersebut pada mbak sari.
__ADS_1
“Loh itukan orang yang pernah aku dan tante temui di rumah sakit?”
Ya tuhan..