
Rico tersenyum ketika mendapati santi keluar dari perusahaanya. Kebetulan malam itu hujan turun begitu lebat dan rico sengaja menjemput santi menggunakan sepeda motornya seperti biasa.
Rico bergegas mendekat pada santi. Tidak perduli meskipun santi akan kembali menyuruhnya pergi bahkan menghinanya sekalipun.
“Tante..”
Santi yang sedang berdiri dengan bersedekap menoleh mendengar suara Rico. Sesaat santi terdiam menatap rambut berponi milik rico yang sedikit basah.
Apa dia datang lagi sengaja untuk menjemputku?
“Tante itu kan..”
Rico masih sangat ingat, santi memberikan switer rajut pemberiannya pada bi Inah. Tapi sekarang santi mengenakanya.
“Apa? Mau ngapain kamu kesini? Dan kenapa kamu menatap saya seperti itu?” Tanya Santi acuh.
Rico tersenyum. Rico tidak mau membahas tentang switer pemberiannya. Karna melihat santi memakainya saja rico sudah sangat senang.
Syukurlah tante mau menerima pemberian dariku..
“Saya kesini sengaja buat jemput tante. Tante mau pulang sekarang? Kunci mobilnya mana? Sini biar saya saja yang bawa mobilnya.” Senyum Rico.
Santi diam. Perhatian Rico selalu membuat santi merasa tersentuh.
“Saya bisa nyetir sendiri.”
Santi melengos. Santi tidak mau jatuh ke kesalahan yang sama untuk yang ke dua kalinya. Santi juga tidak mau tersiksa lagi karna seorang pria yang dengan gampangnya mengatakan cinta kemudian dengan tidak berperasaan menyakitinya begitu saja.
Rico menghela napas. Santi dan leon sama sama keras kepala juga angkuh.
“Hujanya lebat banget loh tante. Saya nggak mau tante kenapa napa.” Kata Rico.
“Hey sadar anak kecil. Kamu itu bukan siapa siapa. Kamu tidak usah sok perduli sama saya. Dan kamu nggak usah sok baik sama saya.”
Rico tertawa pelan kemudian melepaskan ransel yang dia kenakan.
“Saya punya sesuatu yang mau di tunjukan sama tante.”
Santi menyipitkan kedua matanya menatap rico yang mengatakan ingin menunjukan sesuatu padanya.
Apa yang mau dia tunjukan sebenarnya?
Santi bertanya tanya. Wajah tampan Rico tampak berseri saat membuka resleting ransel yang di bawanya.
__ADS_1
“Ini.. Tante buka sendiri aja.” Senyum Rico sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam yang berukuran cukup besar.
“Apa itu?” Tanya santi masih enggan menerima kotak yang di sodorkan oleh Rico.
“Buka aja tante.” Senyum rico manis.
Santi menghela napas. Santi merasa sangat penasaran dengan kotak berwarna hitam tersebut. Namun santi juga merasa malu jika menerima begitu saja kotak pemberian rico.
“Sini tante biar tasnya saya bawain.”
Rico mengambil alih tas kerja yang di tenteng santi kemudian memberikan kotak berwarna hitam yang di pegangnya.
Santi terdiam menatap kotak hitam yang kini beralih berada di tangannya. Entah apa isi dari kotak hitam itu santi sendiri tidak tau.
“Buka dong tante....”
Santi memejamkan sesaat kedua matanya kemudian membukanya kembali. Santi menatap ragu pada kotak tersebut.
Tenang santi.. Buka saja dulu.. Kamu bisa memberi alasan apa saja nanti setelah tau isinya.
Pelan pelan santi membuka kotak tersebut dengan posisi berdiri dimana di sampingnya rico berdiri. Begitu kotak tersebut di buka santi terdiam mendapati sebuah kebaya pengantin berwarna putih tulang yang dulu memang pernah di pesanya bersama rico untuk berakting di depan bramono.
“Tadi saya nggak sengaja lewat butiknya tante, Eh ada petugas butik yang menyetop saya. Petugas itu masih mengenali saya karna saat itu katanya dia yang mengukur kita tante. Katanya dia juga yang membuat kebaya ini. Berhubung saat itu tante sudah bayar jadi petugas itu memberikanya pada saya.”
“Setelan jasnya ada di bawahnya katanya tante..”
Santi menahan napas sejenak. Santi tidak membutuhkan kebaya dan jas itu. Santi memesanya saat itu bukan untuk dirinya dan rico, tapi hanya untuk menguatkan sandiwaranya di depan bramono. Agar bramono percaya dan berhenti mengejarnya.
Santi menutup kembali kotak hitam tersebut kemudian menjatuhkanya dengan sangat angkuh.
Rico yang melihat itu terkejut. Santi membuang sepasang baju pengantinya begitu saja.
“Tante...”
“Saya nggak butuh itu rico. Kalau kamu mau kamu boleh ambil. Kamu bisa jual lagi. Lumayan kok harganya.” Sela santi sombong.
Rico mengepalkan erat tanganya yang memegang tas kerja santi. Emosi juga kecewa sedang rico rasakan saat ini. Santi membuang begitu saja sepasang baju pengantinya.
“Tapi tante....”
“Berapa kali saya harus ngomong sama kamu rico, sandiwara kita sudah berakhir. Bramono sudah lagi mengejar saya, jadi saya pikir sudah tidak perlu lagi kita berdua dekat.”
Rico diam. Semuanya sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Rico sudah terlalu kuat berharap pada santi. Dan rico merasa tidak akan sanggup jika harus melupakan perasaan indah yang bersarang di hatinya. Rico sudah pernah gagal memiliki alesia, dan rico tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Rico menarik dalam dalam napasnya kemudian berjongkok dan meraih kotak hitam berisi kebaya dan jas pengantinya.
“Ya sudah.. Biar saya saja yang simpan mungkin nanti bisa berguna tante..” Senyum rico memungut kembali kotak hitam yang di buang oleh santi.
Santi melengos enggan menatap rico yang sedang memungut kotak hitam tersebut. Karna jauh dalam lubuk hatinya santi juga merasa senang kebaya dan jas pengantin itu sudah jadi.
Rico kembali berdiri. Senyumnya terus menghiasi bibir tipisnya. Rico berusaha menutupi rasa kecewanya pada santi. Rico benar benar sudah bertekad. Rico harus bisa memenangkan hati santi.
“Tante mau pulang sekarang?”
Santi berdecak. Padahal santi berharap rico marah kemudian pergi menjauhinya dan tidak lagi muncul di hadapannya.
“Nggak. Nanti.” Jawab santi jutek.
Santi kemudian merebut tas kerjanya yang di pegang oleh rico. Santi sebenarnya tidak tega menyakiti rico tapi santi juga tidak mau disakiti. Santi hanya sedang berusaha melindungi hati juga perasaanya. Santi tidak mau mengalami sakit hati untuk yang kedua kalinya.
“Nanti? Memangnya tante lagi nungguin siapa?”
Santi memutar jengah kedua bola matanya. Rico menjadi sangat bawel sekarang.
“Saya mau nunggu siapa aja itu bukan urusan kamu. Nggak usah banyak nanya.”
Rico tersenyum. Rico tidak akan menyerah sebelum santi benar benar menjadi miliknya.
Sabar Rico.. Sabar...
“Hujanya semakin deras tante. Susah liat jalanya kalau lebat begini.. Saya cuma mau bantuin tante buat bawain mobil tante dan mengantar serta memastikan tante pulang dengan selamat.”
Santi menyipitkan kedua matanya menatap Rico.
“Kamu sedang menyumpahi saya supaya saya celaka begitu? Kamu dendam sama saya?”
“Bukan begitu tante.. Saya..”
JDERRRRR !!!
Suara gelegar petir membuat ucapan rico terhenti. Namun sebenarnya bukan karna gelegar petir itu melainkan santi yang tiba tiba memeluknya.
“Ya tuhan ya tuhan..”
Santi bergumam dan terus menyebut nama tuhan dengan memeluk tubuh kekar rico. Santi benar benar tidak menyukai suara gelegar petir bahkan sejak santi kecil.
Berlahan seulas senyum terukir di bibir tipis Rico. Rico menjatuhkan begitu saja kotak hitam berisi kebaya dan jas pernikahannya dengan santi kemudian membalas lembut pelukan erat santi.
__ADS_1
“Tenang ya tante.. Tante aman bersama saya..”