Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Ramai


__ADS_3

Hampir semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan, kini ruang makan yang panjang dan muat hingga dua belas orang penuh bahkan perlu tambahan beberapa kursi, tidak seperti dahulu yang hanya diisi oleh keempat orang penghuni rumah itu terkadang Tito dan Fiko diundang untuk sekedar ikut makan di rumah itu.


"Wah Ramai sekali rumah ini, akhirnya keinginan Mama terwujud, dulu Mama selalu kesepian setiap kali makan di meja ini, Samuel dan Arkan terkadang tak sempat sarapan bersama bahkan Papa juga," ucap Mama Lily.


"Terimakasih atas undangannya Om, Tante, saya jadi tidak enak," ucap Kart yang memang merasa sungkan.


"Nak Kart, jangan sungkan anggap kami orangtuamu, sama seperti kami menerima Arta kami juga akan menganggapmu sebagai anak kami," ujar Mama Lily dengan lembut.


"Terimakasih Tan," jawab Kart dengan senyuman manisnya, wajah tampannya begitu bersinar kali ini, senyum yang hanya sering disaksikan oleh Arkan, Arta dan Karina akhirnya bisa dilihat semua orang.


"Buset dah Kak Kart, senyummu mempesonahhhhh," goda Celo menatap wajah Kart yang mengembang sempurna.


"Pfhhtt....gue lebih menggoda tau," ucap Fiko menyombongkan diri, dokter yang satu ini memang terkenal narsisnya.


"Hahahhahah," semuanya tertawa dengan canda di pagi hari itu, tak beberapa lama anak-anak datang bersama keempat pengasuh bohongan yang masih setia dengan penyamarannya.


Mark, Ziko dan Josua sudah tampan dengan pakaian kasual yang sangat cocok dengan mereka, sedangkan Jeni kecil sangat cantik seperti boneka Barbie dengan gaun biru selutut dan rambut yang dikuncir dua, pipi tembem dan mata bulat besar seperti bayi padahal umurnya sudah tujuh tahun.


Prokk prokk prokk prokk


Suara tepuk tangan dari meja makan mengiringi langkah mereka, padahal ini bukan sesi pengumuman lomba ini acara sarapan pagi.


"Wow tuan-tuan tampan dan gadis cantik, aku sampai kalah di buat mereka!" celetuk Fiko menatap keempatnya.


"Good morning Grandpa, Good morning Grandma," Sapa keempat anak kecil itu sambil secara bergantian mencium pipi Kakek dan neneknya, sungguh Arta mendidik mereka dengan sangat baik.


"Wah attitude mereka luar biasa, sama seperti nonya muda!" bisik Tito pada Kart yang langsung dianggukkan oleh pria itu.


"Good morning honey, mana Papi dan Mami kalian?" tanya Mama Lily.


"Masih di kamar nek, bentar lagi turun kok," jawab Mark sopan.


"Ya sudah duduk dulu sayang," ucap Papa George.


"Adek duduk disini sama Abang!" panggil Josua pada Jeni yang kebingungan memilih tempat duduknya.


"Baik Abang," jawab Jeni langsung mengambil kursi kosong di barisan sebelah kanan Papa George yang memang disengaja kosong untuk Arkan dan keluarga kecilnya.


Tak beberapa lama, Arkan dan Arta turun dari lantai dua, namun ada yang aneh wajah Arta ditekuk saat ia turun kebawah.


"Sayang please jangan marah ya, aku cuma gak mau kamu capek," mohon Arkan yang berjalan di samping Arta namun dengan posesifnya ia selalu memperhatikan langkah kaki wanita itu.


"Ishhh....sebel sama kak Arkan, awas ah Arta lapar nih," kesal Arta karena sedari tadi Arkan berjalan terlalu dekat dengannya.


"Sayang jangan marah ya," pinta Arkan lagi.

__ADS_1


"Gak mau!" kesal Arta, lalu ia melewati Arkan begitu saja dengan wajah kesal. Arta kesal dengan Arkan yang tak memperbolehkannya memasang dasi pria itu, katanya itu butuh tenaga apalagi tinggi mereka berbeda, Arkan tak maus istrinya kelelahan, yang membuatnya semakin kesal adalah saat mau turun tangga sebenarnya Arkan memaksa agar Arta mau digendong atau mereka pakai lift khusus saja, Arta menolak keras hingga menjadi sangat kesal seperti saat ini.


Sesampainya di ruang makan mata Arta terbelalak menatap semua orang yang melihat aksi mereka berdua, sontak ia berlari seperti anak kecil menghampiri Arkan lalu bersembunyi di belakang pria tampan itu.


"Kak....malu," bisik Arta di belakang punggung Arkan.


"Tadi ngambek, sekarang kamu yang datang sendiri," ledek Arkan sambil terus berjalan dan ternyata Arta tertinggal di belakang dengan kepala yang menunduk.


Arkan menyadari Arta tak ikut berjalan, ia membalikkan badannya lalu menatap Arta.


"Pasti dia menangis lagi, lihatlah air mataku ini mengalir lagi saat ia menangis," ucap Arkan sambil menghampiri Arta.


"Hei kenapa diam saja hmm? kamu kok nangis sayang?" tanya Arkan sambil mengangkat wajah Arta yang sembab.


"Hmmm....huhuhu...maaf..Arta bikin repot ya huhuhuh," tangis Arta tersedu-sedu.


Semua orang di meja makan terheran heran dengan wanita itu, kecuali orang-orang yang sudah tahu keadaan Arta.


Kart malah kebingungan melihat adiknya yang biasanya sangat kuat dan tegar bahkan terkesan cuek malah jadi kepribadian yang cengeng seperti ini.


"Ada yang salah dengan adikku," ucap Kart menatap Arta.


"Husshh jangan menangis lagi ya sayang, sudah gak malu dilihatin anak-anak sama yang lainnya hmmm?" ucap Arkan seraya menghapus air mata istrinya yang moodnya selalu berubah-ubah.


"Nah gitu dong kan makin cantik istriku," ucap Arkan sambil tersenyum.


"Fiuh,ternyata begini menghadapi wanita hamil, sungguh pengalaman yang sangat baru," ucap Arkan dalam hati, meski begitu dia senang bisa mendapatkan kesempatan mendampingi istrinya dalam keadaan mengandung.


"Good morning Papa, Mama," sapa Arta sambil mencium pipi kedua mertuanya seperti anak kecil. Celo membelalakkan matanya tak percaya dengan perubahan kakaknya itu.


"Wow ada apa denganmu kak? kak Arkan, istrimu tidak salah makan kan?" celetuk Celo.


"Paman yang tampan, Mami itu sehat, cuma sekarang ada dedek bayi di perut Mami makanya Mami seperti itu," celetuk Jeni yang memang cepat mengerti.


"Apa!!" teriak Kart, Celo, Tito bahkan tiga pengasuh yang masih menyamar itu tak kalah terkejut dengan ucapan Jeni.


"Wah selamat nyonya, tuan!" seru Tito ikut bahagia.


"Kak Arta jadi emak-emak betulan ya wow hebat!" seru Celo sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Terimakasih kak Tito," jawab Arta sambil tersenyum manis.


"Lebay amat Lo Cel," ejek Arta yang langsug menghampiri sang kakak laki-laki, bahkan Kart dibuat terkejut ketika wanita itu memeluknya dari belakang.


"Kak Kart, Arta rindu kakak," ucap Arta seperti anak kecil memeluk kakaknya dari belakang.

__ADS_1


"Adik kakak sayang, selamat ya atas kehamilan kamu, jaga baik-baik janinnya, kamu harus sehat sampai persalinan dan seterusnya, kakak juga rindu kamu," balas Kart sambil memegang lengan Arta yang memeluknya dari belakang.


"Arta minta peluk dong kak," ucap Arta seraya melepas lengannya.


Kart menoleh ke arah Arkan seraya meminta persetujuan, Arkan berdiri dekat Arta mengangguk setuju sambil tersenyum melihat mereka.


Kart berdiri lalu merentangkan kedua tangannya,"kemarilah tuan putri,pangeran ingin memelukmu," ucap Kart.


"Hmmm...ahh, akhirnya aku bisa memeluk kakak lagi seperti ini, pelukan kakak yang paling hangat dan nyaman walau lebih nyaman kak Arkan sih heheheh," celetuk Arta dalam pelukan kakaknya.


"Hahahah, adikku sekarang sudah jadi wanita dewasa ya, berbahagialah sayang!" seru Kart sambil mencium pucuk kepala adiknya.


"Hehehe aku menyayangimu kakak," ucap Arta seraya melepas pelukannya.


"Hmmm....boleh kita makan sekarang? Arta lapar hehehh," tanya Arta cengengesan, mereka semua malah tepok jidat mendengar perkataan wanita itu, yang buat lama makan kan dirimu bumil cantik.


Akhirnya mereka menikmati makan pagi mereka dengan tenang, seperti biasa Arta terlebih dahulu menyiapkan makanan untuk suaminya, kemudian memeriksa makanan anak-anaknya, ini suatu hal rutin yang selalu ia lakukan.


Selesai sarapan, mereka semua duduk di ruang santai sebelum berangkat ke kantor, namun tiba-tiba Arta merasa ada yang kurang.


"Hmmm..kenapa kak Vika dan yang lainnya gak ikut makan disini?" tanya Arta tiba-tiba saat mereka akan makan.


"Vika?" tanya Mama Lily.


"Iya Ma, Kak Vika keponakan Mama," ujar Arta.


"Emang dia disini?" tanya Mama Lily.


"Disini kok Ma, itu kak Vika pacarnya kak Tito, Kak Kath pacarnya kak Samuel dan Kak Karina pacarnya kak Kart, kalau Indah masih jomblo heheh," ujar Arta menunjuk para pengasuh yang pura-pura sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Astaga kenapa semuanya di bongkar nyonya muda!" gerutu Tito yang tengah gugup karena Papa George menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Aishhhh, dasar bumil gagal deh rencana gue ngejutin Tante dan Om huh," gerutu Vika dalam hati.


"Astaga adik ipar ngeselin juga kalau hamil begini ya? pantes ngeselin bibitnya Arkan sih," gerutu Samuel dalam hati.


"Vikaaaaa!!" teriak Mama Lily membuat Vika yang sedang merunduk di bawah meja langsung berdiri menatap Mama Lily dengan senyuman gigi tonggos dan tompel hitam besarnya itu.


"Eheheheh......Hello Aunty!" cicit Vika.


.


.


.

__ADS_1


like vote dan komen 😊😉


__ADS_2