
Tito menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, ia seketika kikuk dengan Omelan wanita bertubuh kecil itu.
"Ah..baiklah Arta yang cerewet," ucap Tito sambil tersenyum kikuk.
"Aku menyuruhmu bersikap biasa bukan mengejekku!" celetuk Arta lagi membuat semua orang dalam ruangan itu menepuk jidat berjamaah karena ocehan wanita itu.
Kart tersenyum melihat adiknya yang sudah kembali seperti sedia kala, Arta gadis ceria yang cerewet, sungguh sebagai ah keajaiban baginya melihat sang adik kesayangannya bisa melupakan traumanya..
Bahkan sahabatnya yang kuat ni menjadi suami dari adiknya telah pulih dari trauma masa lalu, "Ini menandakan bahwa Arta sudah kembali," gumam Kart sambil tersenyum memandang merek yang asik bercanda.
"Mama ayo pulang, Jeni bosan," ujar Jeni sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jeni sayang bosan ya, kalau begitu kita pulang sekarang!" seru Arta.
"Ye...pulang Yee!" seru Jeni melonjak kegirangan di atas ranjangnya.
"Adik jangan lompat lompat nanti jatuh!" teriak Josua, Mark dan Ziko bersamaan membuat mereka semu saling menatap dan langsung tertawa mendengar ucapan tiga pangeran kecil itu.
"Ahahahhhahaha,"
"Hehehe maaf Abang Abang Jeni yang tampan," ucap Jeni cekikikan.
"Kalian pasti bahagia dengan kehadiran mereka," ucap Kath memandang anak-anak itu.
"Iya kak, mereka sumber kebahagiaan kami," ujar Arta memandang keempat anak kecil yang dianggapnya sebagai anak kandungnya walaupun tidak lahir dari rahimnya.
"Apa kau mau memiliki anak seperti mereka?" tanya Samuel yang sedari tadi asik memeluk pinggang gadis di sampingnya itu tanpa memperdulikan yang lain.
"Tentu saja, siapa yang tak ingin punya anak seperti mereka?" ucap Kath.
"Kalau begitu mari kita menikah," ucap Samuel yang langsung membuat mereka semua terkejut dengan ucapan pria itu.
"Astaga kau ini, hei tuan Presdir jangan memikirkan pernikahan sekarang, masalah kantormu saja belum kelar sekarang kau ingin menikah dasar kau ini!" gerutu Kath sambil memukul pelan lengan pria itu.
"Ternyata kau cerewet ya Kath hahahah," ledek Arkan membuat gadis itu tersenyum kikuk.
"Dia memang sangat cerewet, tapi kau mau kan menikah denganku?" tanya Samuel lagi sambil menatap Kath.
"Kita lihat nanti," jawab Kath asal yang membuat Samuel spontan melepas pelukannya dan menatap kesal ke arah Kath.
"Ada apa? kau mau marah ? marah saja maka aku tak akan berbicara padamu," ancam Kath seketika membuat Samuel melunakkan hatinya walaupun ia merasa kesal dengan jawaban gadis itu.
"Ck....kau selalu membuatku tak bisa membalas," ucap Samuel kembali memeluk gadis itu, sementara yang lain sudah senyum-senyum melihat manisnya hubungan dua anak manusia itu.
"Woi bang kondisikan, jiwa jomblo-ku meronta-ronta!" celetuk Celo.
"Hahahah, sudah sudah ayo kita berangkat!" ucap Arta yang sedari tadi sibuk membereskan barang-barang mereka.
Mereka semua pulang dari rumah sakit itu, jam menunjukkan pukul 6 sore, rombongan mereka melaju membelah jalanan kota bunga yang ramai.
Sesampainya di Mansion Whitegar mereka langsung disambut oleh Pak Kus, Mark dan Ziko memeluk Papa Kandungnya itu.
__ADS_1
Saat keduanya melihat kedatangan Lina, ekspresi wajah mereka berubah ketakutan, Arta dan yang lain menyadari hal itu sehingga ia langsung menarik lengan keduanya agar berada disisinya, Josua digendong oleh Arkan dan Jeni digendong oleh Celo.
"Mark dan Ziko ikut bunda ya, kalian akan tidur bersama si kembar!" ucap Arta sambil menggenggam lembut tangan kedua anak kecil itu.
"Nyonya,Mark dan Ziko harus belajar bersama saya," ucap Lina dengan lembut karena ada Pak Kus disana.
"Lina biarkan mereka!" perintah Pak Kus dengan suara tegas dan sedikit mengancam membuat Lina gemetar, karena baru kali ini Pak Kus menunjukkan ekspresi seramnya itu.
"Ba...baik pak," jawab Lina gemetar.
"Sialan kau jal**ng!!" teriak Lina dalam hatinya, sontak si kembar yang mendengar suara hati gadis itu terbangun dan menatap dingin ke arah Lina.
"Abang Mark dan Ziko mulai hari ini akan terus bersama kami, boleh kan Pak Kus?" ucap Josua menatap Pak Kus.
"Tentu tuan muda," jawab Pak Kus hormat.
Mereka memasuki mansion itu, hari ini Mansion utama Whitegar cukup ramai, sebab Kart, Celo, Tito dan yang lain bergabung disana.
"Bukankah pria itu selingkuhan si jal**ng itu? tapi sepertinya tidak," gumam Lina menatap Kart.
Kart yang merasa ditatap oleh Lina kembali menatap gadis itu dengan tatapan dingin menusuk yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding.
"Astaga seram sekali!" ucap Lina dalam hati, seketika ia menunduk.
Kath dan Karina yang sudah menyamar tersenyum kecil melihat gadis itu gemetar ketakutan.
Mereka semua masuk ke dalam mansion dan berkumpul di ruang santai. Sedangkan Arta, Arkan dan Celo mengantar anak-anak ke dalam kamar mereka.
"Baik kak," jawab Arta.
"Cel jaga mereka!" ucap Arkan pada Celo yang meletakkan Jeni kecil di atas kasur empuknya, Jeni dan Josua kembali terlelap.
"Mark, Ziko kalian bersih-bersih dulu sana, setelah itu bunda dan paman Celo mau ajarin kalian sesuatu," ucap Arta pada keduanya.
"Cel temani mereka mengambil pakaian mereka," perintah Arta.
"Siap Bu Bos, ayo pria pria tampan!" celetuk Celo.
Celo menemani Mark dan Ziko menuju kamar yang mereka tempati bersama Pak Kus.
Sementara itu di ruang santai, lima pria tampan dengan pesona masing-masing tengah duduk sambil berdiskusi mengenai perusahaan.
"Bro gue ke belakang bentar ya, kebelet nih," ucap Kart langsung pergi tanpa menunggu jawaban mereka.
Ria dan beberapa pelayan datang dengan membawa minuman atas perintah Pak Kus. Ria dan yang lainnya berpapasan dengan Kart yang tengah berjalan ke ruang belakang.
Wajah tampan serta postur tubuh menarik pria itu menghipnotis Ria dan dua pelayan perempuan yang membantunya membawakan minuman dan cemilan. Pelayan itu tak lain adalah Vika dan Indah yang tengah menyamar.
"Tampan sekali," ucap Ria pelan namun masih bisa di dengar oleh Vika dan Indah.
Kart melewati mereka dengan cepat dan dengan tatapan datar dan dingin yang menusuk. Ria tidak mengenali wajah Kart sebab ia mengintip dari jauh dan wajah Kart tertutup kepala Arta saat Ria mengambil gambar mereka
__ADS_1
Ria dan dua gadis itu membawa minuman dan cemilan ke ruang santai.
Ria dengan sengaja meletakkan ponselnya di atas meja berisi gambar yang dia dapat tadi pagi.
Arkan melirik ponsel gadis itu lalu mengambilnya dan melihatnya lebih jelas.
"Tu...tuan itu ponsel saya," ucap Ria sedikit gugup padahal sebenarnya ia sangat senang saat Arkan melihat ponselnya.
"Darimana kau dapatkan foto ini?" tanya Arkan datar.
"Ta...tadi pagi tuan, tepat setelah tuan berangkat, nona Arta dan pria itu bertemu disini," ucap Ria menjelaskan.
"Apa kau tahu siapa pria itu?" tanya Arkan pada Ria.
"Ti...tidak tuan, tapi saya melihat nona dan pria itu begitu mesra tuan," ucap Ria.
"Ah...ma...maafkan kelancangan saya tuan," ucap Ria menunduk takut.
"Sialan!!" ucap Arkan menggebrak meja di hadapannya.
"Tu...tuan, saya mungkin lancang tapi sepertinya nona Arta bukan wanita baik-baik, nona Arta juga berusaha menggoda Pak Kus," bisik Ria dengan suara pelan.
Arkan membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan pelayan itu.
"Indah juga mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan spesial," ucap Ria tanpa rasa takut sama sekali.
"Benarkah itu Indah!" bentak Arkan dengan suara menggelar hingga mengundang para pelayan menyaksikan kejadian itu.
"Benar tuan, mereka punya hubungan spesial," jawab Indah lantang.
"Tuan nona Arta juga mendekati Mark dan Ziko agar bisa dekat dengan Pak Kus," ucap Lina yang baru tiba.
"Apa maksudmu Lina!" ucap Pak Kus terkejut, ia juga baru datang ke ruangan itu setelah mendengar teriakan Arkan.
"Pak Kus, sebenarnya Lina sudah lama menyukai Pak Kus tapi gara-gara wanita jal**ng tukang selingkuh itu Pak Kus semakin jauh dari Lina, bahkan anak-anak juga," ucap Lina mengucapkan perasaannya.
"Bisakah langsung kugor**k leher wanita ular ini?" geram Arkan menatap dingin ke arah Lina yang menyebut istrinya jalang.
"ingin rasanya kugantung wanita ini di alun-alun kota!!" geram Celo.
"Akhirnya perang akan dimulai," gumam Ria dalam hatinya.
"Arta!!!" teriak Arkan dengan suara menggelegar membuat semua pelayan bergidik ngeri dengan suara pria itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊
__ADS_1