
Arta menekuk kesal wajahnya melihat hasil potongan rambut yang tidak sesuai ekspektasi Ibu hamil yang bisa bisanya mengidam dalam situasi genting begini.
"Mana bisa botak, ini pakai gunting nyonya," gerutu pria gembul itu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arta.
klek...klak...klekk
kembali terdengar suara belati yang dibuka tutup oleh Ibu hamil itu yang langsung mempengaruhi mental si pria gembul.
Tubuhnya bergetar ketakutan melihat pisau belati tipis yang pastinya sangat tajam itu.
"Ba..baiklah akan ku botak," ucap pria itu bergetar ketakutan. Sedangkan ketiga rekannya hanya bisa pasrah dan diam saja saat pria gembul itu menggundul habis rambut mereka.
drrtt...drrtt....drrtt
Terdengar suara ponsel dari pria yang diikat oleh Arta tadi.
Arta bangkit berdiri, "Sudah nak, kalian duduklah dan lihat aksi Mami, suatu saat kalian akan mengalami hal seperti ini kalian harus bisa berpikiran jernih agar bisa menyelesaikan masalah dengan baik, lihat Mami dan belajarlah,"ucap Arta pada ketiga anaknya.
"Baik Mami!" ucap mereka serentak.
Arta membuka pisau belatinya, ia berjalan mendekati pria yang terikat dan terkapar tak berdaya di lantai itu. Arta mengambil ponsel dari kantong pria itu.
Satu jarum Akupuntur ditarik oleh Arta agar pria itu bisa bicara.
"Uhukk...erghh..hah..hah kau apakan kami!" teriak pria itu bertepatan saat Arta menarik jarumnya.
Arta mendekatkan pisau belatinya ke perut pria itu dan menekannya agak kuat sehingga terasa sakit.
"Jangan banyak bicara, jika melanggar akan kupotong lidahmu dan kupastikan istri dan anak-anakmu atau siapapun yang kau sayangi akan menderita untuk selamanya!!" ancam Arta dengan tatapan mata menusuk dan belati yang siap tertancap di perut pria itu.
Ponsel terus berdering, Arta mengangkat belatinya dan mengarahkan ke leher pria itu sambil menatap tajam pria itu.
"Hey gendut lanjutkan pekerjaanmu! jika kau berani berbicara maka siap-siaplah dikebiri!" ancam Arta.
Glekk
Pria gembul itu menelan Salivanya dengan kasar. Tubuhnya bergetar ketakutan hanya mendengar ancaman wanita itu.
"Kau bicaralah seperti normal jangan mengucapkan hal-hal aneh, jika itu terjadi maka bersiaplah menjadi makanan ikan piranha di kolam ikanku!" ancam Arta sambil sedikit menekan pisau belati ke leher pria itu.
Arta menjawab panggilan itu lalu membuat ponsel dalam mode loud speaker.
"Ha..halo bos!!" ucap pria itu berusaha bersikap normal.
"Bagaimana apa sudah kalian dapatkan mereka?" tanya seorang pria dari balik telepon yang ternyata adalah Baron.
"Su...sudah tuan hanya saja anak perempuan itu dibawa oleh pria itu, ta...tapi mungkin mereka sudah mati sekarang karena mobil mereka sudah dirusak sesuai dengan rencana tuan," ucap pria itu ketakutan apalagi saat melihat Arta yang semakin menekan pisau belati itu ke lehernya sehingga permukaan kulitnya terluka dan mengeluarkan darah.
Apalagi saat Arta mendengar bahwa suami dan putrinya mungkin sudah mati.
"Kirimkan foto mereka dan tunggu kami disana, jangan sentuh wanita itu dia milikku!" ucap Pria itu lalu mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Brukk
Pria itu pingsan seketika saat Arta memukul tengkuknya dengan kuat. Bahkan pria gembul dan tiga orang yang sedang di botak itu bergetar ketakutan melihat sorot mata penuh amarah dari wanita itu.
Krakkkk
Ponsel itu dilemparkan Arta ke lantai hingga hancur berantakan. Mark, Ziko dan Josua mengerti mengapa Maminya begitu marah, mereka menjadi sangat khawatir ketika mendengar ucapan pria tadi.
"Mami...huhuhuh Papi dan Jeni," tangis Josua yang berlari kepelukan Maminya. Bagaimana pun mereka bertiga tetaplah anak kecil yang perasaannya sangat sensitif.
"Kemarilah sayang," lirih Arta menatap ketiga anaknya satu persatu.
"Mami huhuhu," mereka bertiga menangis di pelukan Arta.
"Jangan menangis, kita harus yakin bahwa Papi dan Jeni akan baik-baik saja," ucap Arta menenangkan ketiga anaknya.
Ketiganya mengangguk paham dan hanya bisa pasrah. Arta berjalan mendekati pria gembul itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Arta seolah tidak tahu.
"Tu...tuan Baron dan seorang wanita nyo...nya," ucap Pria itu ketakutan.
"Apa tujuan mereka?" tanya Arta dengan wajah datarnya.
"Mereka menginginkan keempat anak tuan dan nyonya untuk bisnis penjualan organ manusia, dan dari yang saya dengar dua dari anak tuan dan nyonya adalah anak dari wanita itu dan dua yang lainnya merupakan anak yang sudah dibeli tuan Baron," jelas pria itu ketakutan saat melihat belati Arta yang berbercak darah pria tadi.
"Anak-anak ayo duduk disana, dan kau fotokan kami lalu kirim ke bos kalian itu!" titah Arta.
Arta dan anak-anak duduk sambil menutup mata dan penampilan mereka acak-acakan, lalu si gembul itu mengambil gambar mereka dengan ponselnya dan mengirimkan ke bis mereka.
"Ini untuk penghianatanmu pada perusahaan dan berusaha melukai anak-anakku! Jangan sekali-kali bermain main dengan keluargaku! ku remas ginjal kau!" tegas Arta dengan suara datar dan menusuk.
Prakkk
Pria gembul itu lumpuh seketika setelah mendapat pukulan telak dari Arta. Begitu juga dengan ketiga pria yang dibotak itu, mereka lumpuh bahkan mulut mereka tak bisa dibuka.
Sementara itu di markas besar Blood Tears Arkan tengah gusar melacak keberadaan istri dan anak-anaknya. Ia terus menggendong dan memeluk putrinya dengan erat agar tidak terjadi apa-apa dengan gadis kecil itu.
"Kenapa kalian lama sekali melacak mereka!! bukankah kalian yang terbaik dalam bidang ini!" teriak Arkan panik.
"Kak tenanglah, biarkan mereka bekerja," ucap Celo yang juga kini berusaha melacak posisi kakak dan keponakannya.
"Bos dapat!" ucap si mata elang ketika ia berhasil menemukan posisi Arta dan anak-anak melalui kalung yang dipakai Arta. Kalung pemberian Arkan yang sudah ditanam alat pelacak.
Arkan langsung mendekat dan melihat layar komputer itu.
"Mereka berada gedung tua terbengkalai di jalan xx tuan!" ucap si mata elang.
"Siapkan pasukan dan kepung area itu, perketat keamanan di sekitar mansion milik Arta dan mansion Whitegar!" titah Arkan.
"Celo tolong amankan Jeni, jaga dia seperti menjaga dirimu sendiri!" ucap Arkan.
__ADS_1
"Jeni sayang, kamu bersama paman Celo ya, Papi akan bawa Mami dan abang-abangmu pulang, jangan menangis, anak Papi pasti kuat!" ucap Arkan sambil memegang kedua bahu anaknya yang kini berdiri di hadapannya.
"Huhuhuh Papi, tapi Jeni mau ikut," ucap Jeni masih menangis.
"Jeni dengar Papi, Jeni harus tinggal, Papi gak akan lama, Papi akan segera bawa Mami dan abang-abangmu keluar dari sana!" ucap Arkan meyakinkan anaknya.
"Baik, tapi Papi hati-hati hiks hiks," ucap Jeni sambil memeluk Papinya.
"Iya Jeni tenang ya sayang!" ucap Arkan membalas pelukan putrinya.
"Bawa dia Cel, amankan dia," ucap Arkan.
"Baik kak, ayo Jen kita ke tempat kakek dan nenek," ucap Celo menggendong Jeni keluar dari markas itu.
"Bos kita harus cepat ! mereka melakukan pergerakan!" ucap anak buah Arkan saat melihat posisi Arta dan anak-anak tampak berpindah dan semakin menjauh dari tempat itu.
"Sialan!!!" teriak Arkan marah.
Arkan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Tito.
"Tito, hancurkan perusahaan B.J group sekarang juga, aku ingin tempat itu rata dengan tanah!" ucap Arkan melalui sambungan telepon dengan asistensinya Tito.
Arkan dengan tergesa-gesa mengejar istri dan anak-anaknya yang ternyata dibawa ke markas milik Baron pria yang membeli anak kembarnya untuk dijadikan budak.
Arkan semakin panik saat melihat alat pelacak istri dan anak-anaknya bergerak berpindah tempat, entah apa yang terjadi dengan mereka itulah pikir Arkan.
Arkan mengemudikan mobilnya sambil terus menyalakan ponselnya untuk melihat keberadaan istri dan anak-anaknya yang semakin menjauh dari lokasi gedung.
"Kuharap kalian baik-baik saja sayang, aku tak akan bisa hidup jika terjadi apa-apa dengan kalian!" ucap Arkan sambil terus memandangi letak Arta dan anak-anaknya di ponselnya.
Sementara itu di sisi lain Arta tengah berjuang melepaskan diri dari para penjahat itu. Mengingat kondisi Arta yang tengah hamil, Arta tidak bisa banyak bergerak, ia harus memutar otaknya agar bisa lepas dari sana apalagi ia harus melindungi ketiga anak yang ikut disekap bersamanya.
.
.
.
"Cepat temukan mereka! kenapa kalian bisa lengah, hanya menjaga seorang wanita dan anak-anak saja tidak becus!!" teriak Mia yang melihat gedung telah kosong yang ada hanya anak buahnya yang terkapar di atas lantai.
.
.
.
Waduh bagaimana bisa??????
Arta the best mom!!!
Like vote dan komen 😊
__ADS_1
baca ini juga ya !!