Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
48


__ADS_3

"Tapi dimana mereka akan kita sekolahkan?" tanya Arta bingung.


"Hmmm biar nanti aku suruh Tito yang cari sekolahnya" ucap Arkan


"Kalau sudah ketemu kita pantau dulu sekolahnya ya kak, Arta gak mau anak-anak masuk sekolah yang aneh. Apalagi jaman sekarang gurunya harus diseleksi dengan benar, kita harus tahu latar belakang semua gurunya, yayasan sekolah dan seluruh seluk-beluk sekolah itu" jelas Arta.


"Hahahah, ternyata istriku ini Mama yang protektif ya" goda Arkan.


"Harus begitu kak, Arta gak mau anak-anak Arta jadi korban kekerasan apalagi banyak pedofil berkeliaran di luar sana. Selain itu mereka punya trauma, Arta gak mau mereka takut" jawab Arta.


"Iya, iya baiklah aku pun mau yang terbaik buat mereka" balas Arkan sambil memandang si kembar yang tengah menikmati kuenya dengan lahap.


"Pa, Ma kita mau sekolah ya?" tanya Josua berbinar-binar.


"Kamu ini ya curi-curi dengar percakapan orang tua " ledek Arkan sambil membersihkan sisa kue di bibir Josua.


"Heheheh maaf Pa" jawab Josua cengengesan.


"Iya kalian akan sekolah, kalian mau kan?" tanya Arkan.


"Mau Pa!!" seru si kembar semangat.


"Semangat sekali kalian hahah" ucap Arta terkekeh.


"Kalian akan masuk sekolah setelah konsultasi ya sayang. Papa dan Mama gak mau kalian kenapa-kenapa nanti" ucap Arkan.


"Iya Pa" jawab mereka lagi kompak.


"Oh iya, selain kami siapa lagi yang tahu kalian bisa dengar pikiran orang lain?" tanya Arta sedikit berbisik pada si kembar yang kini berada di atas pangkuannya dan arkan. Jeni bersama Arta dan Josua dipangku Arkan.


"Cuma Papa dan Mama" jawab Josua dan Jeni.


"Baguslah, jangan kalian beritahu tentang kelebihan kalian pada siapapun ya sayang. Mama gak mau kalian dimanfaatkan orang jahat" jelas Arta dengan suara pelan pada si kembar.


"Dan jika ada orang jahat, orang yang berpikir macam-macam segera beritahu Papa dan Mama jangan sampai kalian dalam bahaya" ucap Arkan.


"Baik Pa,Ma" jawab si kembar kompak.


"Ya sudah kita bersihkan dulu ini, setelah itu kalian tidur ya sayang " ucap Arta pada kedua anaknya.


Mereka pun membersihkan sisa makanan mereka dan menyimpan kue yang berlebih ke dalam kulkas.

__ADS_1


Si kembar di tidurkan oleh Arkan dan Arta dengan membacakan dongeng secara bergantian. Setelah keduanya terlelap, mereka berdua menutup kamar si kembar lalu beranjak menuju kamar mereka tepat di sebelah kamar si kembar.


"Kak mandilah dahulu, Arta siapin pakaian dulu" ucap Arta lalu beranjak menuju ruangan pakaian mereka.


Belum ia beranjak, Arkan menarik tangan Arta lalu membawa tubuh Arta ke dalam pelukannya.


"Ehmm ada apa kak?" tanya Arta .


"Aku hanya ingin memelukmu saja" ucap Arkan sambil memeluk Arta dengan erat dan dibalas pelukan lembut oleh Arta.


"Hmmm,kau pasti lelah hari ini,sudah sana nanti saja peluk-pelukannya kakak mandi dahulu" ucap Arta.


"Benarkah? baiklah aku mandi dulu" ucap Arkan melepas pelukannya sambil mengedipkan sebelah matanya ke Arta.


"Apaan sih kak, kok jadi genit ihkk" ucap Arta keheranan dengan sikap Arkan.


Setelah bersih-bersih, Arta dan Arkan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk mereka.


"Hmm sayang, apa kau mendengar permintaan anak-anak tadi?" tanya Arkan sambil menggenggam tangan Arta.


"Yang mana kak?" tanya Arta penasaran sambil menatap Arkan.


"Tentang Adik" ucap Arkan membalas tatapan Arta.


"Apa kau mau punya anak ?" tanya Arkan sambil menatap Arta dengan lembut.


"Kalau Tuhan kasih Arta tidak menolak kak" ucap Arta malu-malu.


"Kalau begitu kita harus rajin buat cetakannya, kita cicil mulai hari ini " ucap Arkan spontan.


"Pffttt hahahah apaan kak, memangnya kue dicetak?" ledek Arta sambil terkekeh dengan pernyataan Arkan.


Arkan menarik tengkuk Arta lalu mendaratkan ciuman lembut di bibirnya yang ranum.


Cup


Arta terdiam, wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang.


"Bisakah aku melakukannya?" bisik Arkan lembut dan di balas anggukan pelan oleh Arta.


Arkan mengunci ruangan kamar mereka, tatapan Arkan tak beralih dari wajah cantik dan natural istrinya. Mata mereka saling bertatapan, gejolak dalam diri mereka semakin memanas.

__ADS_1


Arkan mendaratkan kecupan di kening, mata, hidung Pipi dan berakhir di bibir manis milik istrinya. Perlahan namun pasti ia melakukan ciuman di area itu, mereka saling bertautan membalas satu sama lain.


Arkan turun ke leher jenjang dan putih milik Arta, memberikan kecupan dan beberapa tanda merah akibat hisapan dari Arkan.


Tangannya juga ikut bekerja mengikuti instingnya, perlahan lahan meraba perut rata di balik piyama Arta lalu naik ke bagian gundukan disana menyentuhnya dengan lembut sambil terus bermain dengan bibirnya dan bibir Arta.


Arkan membuka piyamanya terlebih dahulu hingga menampakkan perut atletis miliknya. Arta menatap kagum dengan tubuh suaminya itu, meski bukan pertama kali melihatnya ia masih saja kagum.


"Wah ini keras sekali hahah seperti roti" ucap Arta sambil menusuk nusuk perut Arkan dengan lembut.


"Kau suka hmm?" tanya Arkan lembut.


"Tentu saja, inikan milikku" ucap Arta terkekeh yang dibalas senyuman lembut oleh Arkan.


Arkan melanjutkan permainannya, dia membuka pakaian Arta hingga tersisa ********** saja. Tampak tubuh seksi dan indah milik Arta begitu jelas dihadapannya. perlahan ia mengecup tubuh Arta dengan lembut meninggalkan tanda disana.


Arta sesekali mengeluarkan desahan yang terdengar seksi bagi Arkan. Mereka menikmati pergulatan malam mereka, permainan Arkan yang membuat Arta terlena dan sentuhan lembut yang saling mengisi satu sama lain.


Mereka sudah polos, Arkan memposisikan dirinya dengan benar agar tidak menyakiti istrinya itu.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, kali ini tidak akan sesakit kemarin" ucap Arkan yang dibalas anggukan kecil oleh Arta.


Arta menahan rasa malunya, wajahnya memerah mendengar bisikan Arkan yang sangat menggoda baginya.


Dengan pasti Arkan melakukannya hingga akhirnya berhasil membobol pertahanan Arta. Malam itu mereka lewati dengan kebahagiaan serta penuh dengan bisikan cinta dari keduanya, malam panjang yang dilakukan hingga beberapa ronde, menanamkan bibit unggul di tanah yang subur secara rutin demi hasil yang berkualitas sudah seperti acara bercocok tanam saja hahaha.


Mereka melakukan aktivitas nya hingga pukul 1 dini hari lalu mereka terlelap karena rasa lelah di tubuh masing-masing. Arkan memeluk Arta dengan erat di dalam satu selimut dengan kondisi polos.


"Aku mencintaimu" ucap Arkan sambil menyingkirkan anak rambut Arta yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya.


Arkan pun ikut terlelap bersama Arta menjelajahi dunia mimpi. Dia begitu bahagia, karena hari ini dia sangat lelah dengan semua pekerjaannya, hampir saja penyakit lamanya kambuh beruntung dia langsung bertemu dengan Arta dan akhirnya dia bisa tenang hanya dengan melihat istrinya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Give Like, vote Comment 😊😊😊


__ADS_2