Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
VVIP pintu biru


__ADS_3

Tito bersama Vika dan Indah tiba di lokasi yang sudah ditentukan yakni Star Cafe. Saat mereka sampai, kebetulan Samuel dan Kath juga baru tiba.


"Selamat sore tuan Sam, nona Kath!" sapa Tito sopan, sebab Samuel adalah atasannya di kantor Whitegar.


"Sore Tito, nggak usah formal udah bukan jam kerja santai aja bro!" balas Samuel sambil menepuk pundak pria itu.


"Cuma basa basi Kak Sam, heheheh," kekeh Tito membuat Samuel ikut tergelak.


"Sore Tito," sapa Kath.


"Sam!!" teriak Vika tiba-tiba sambil menarik tangan pria itu membuat Tito, Indah dan Kath terkejut.


"Apa lagi nih nenek lampir ck," kesal Samuel sambil menarik tangannya dari genggaman Vika sementara yang lain hanya terkekeh geli melihat interaksi mereka. Lain halnya dengan Indah, ia sedari tadi bingung kenapa Vika sedekat itu dengan pria lain padahal pacarnya saja dicuekin.


"Lo kok makin tampan sih? makin sayang gue uluh uluh...." goda Vika sambil mencubit gemas kedua pipi pria berkulit putih itu.


"Idih najis, minggir sana gak usah dekat-dekat Lo banyak virusnya," ledek Samuel sambil mengibaskan tangannya seraya mengusir Vika dengan tatapan mengejek.


"Kakak ipar huaaaaa.....Lihat Sam dia jahatin Vika hmmm," rengek Vika beralih pada Kath sambil memeluk gadis itu seperti seorang anak yang mengadu pada Ibunya.


"Loh..eh...ka..kakak ipar kamu siapa nona Vika?" kilah Kath, sebenarnya ia cukup malu dengan sebutan itu, Indah dan yang masih dengan kebingungannya tetap diam tak berani bertanya.


"Ya kamulah!" seru Vika, Samuel dan Tito berbarengan.


"Ehhh...aduh...hhmmmm ma..masuk yuk udah ditungguin pasti, Vika ayo," ucap Kath gugup dengan wajah memerah karena digoda tiga makhluk tengil itu.


"Ciee...malu nieee hahahhah," goda Vika masih bergelayut manja di lengan Kath.


"Ihk kamu ini ya, malu tahu udah ayo masuk!" titah Kath berusaha menutupi rasa malunya, sementara Tito dan Samuel tersenyum geli dengan tingkah kedua wanita yang mereka cintai itu.


Indah menatap mereka dengan perasaan sedikit iri. Wajar saja, ia tak pernah memiliki teman dekat sebelumnya, bahkan keluarganya tak menginginkannya. Tapi ia bersyukur bertemu dengan orang-orang baik seperti Vika dan teman-temannya yang mau menampungnya setelah kejadian memalukan itu.


"Beruntung sekali mereka punya sahabat dan kehidupan yang baik, sementara aku diterima saja tidak di keluargaku huh, gak papa Indah kamu kuat, kamu harus semangat!!" ucap Indah dalam hatinya tak sadar ia tertinggal jauh di belakang.


""Ayo Ndah !! ngapain bengong disitu, diculik tuyul tau rasa Lo!" panggil Vika membuyarkan lamunan Indah.


"Eh...aduh i..iya," ucap Indah tersadar dari lamunannya, ia pun mengejar mereka masuk ke dalam Cafe mewah dan indah itu. Ia takjub dengan isi Cafe yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat memanjakan setiap pelanggan yang masuk ke dalamnya.


"Hai Semua," sapa Vika pada Arkan dan yang lainnya yang sudah berkumpul disana.


"Hai Vika," balas Arta sambil tersenyum sementara yang lain hanya tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Lama ya kak, kita udah 10 menit nungguinnya," ledek Celo.

__ADS_1


"Idih 10 menit doang kok Cel!" balas Vika.


"10 menit itu berharga loh kak Vika yang julid," ledek Celo.


"Julid...julid Lo yang Julid dasar jomblo ngenes!!" ejek Vika tepat sasaran membuat Celo seketika bungkam tak berani melawan sebab sudah melibatkan harkat dan martabat seorang jomblo sejati.


"Bwahahahhaha......." tawa mereka pecah mendengar ocehan kedua manusia super cerewet itu. Biasanya Vika dan Tito serta Karina dan Celo yang ribut tapi kali ini tampaknya Nenek lampir dan bebek liar yang akan menjadi pemandu acara komedi hari ini, mungkin saja.


"Kasihan Lo Cel, cari pacar gih!" imbuh Karina membuat Celo semakin kesal.


"Ck...Lo kok ikut ikutan sih, mentang-mentang bakalan nikah sama bang Kart Lo seenaknya ejekin gue cih dasar tikus got, Lo juga Nenek lampir ngapain buka aib sih," kesal Celo sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang ditekuk kesal.


"Hahahah... sudah sudah, mendengar kalian berdebat gak akan ada habisnya, ya udah kita pindah ke belakang ya," ucap Arta.


"Kemana Ar?" tanya Kart.


"Ke ruang pribadi Arta kak, yok!" ajak Arta.


"Mbak bilangin sama Tia pesanan kita dianter ke ruang VVIP pintu biru ya, terimakasih," ucap Arta pada seorang pelayan. Sontak pelayan itu terkejut sebab ruangan VVIP pintu biru merupakan milik CEO Star company yang sangat jarang menampakkan diri.


"Ja..jadi mbak eh maksud saya Ibu Presdir ya!" ucap pelayan itu tak menyangka membuat semua pelanggan dan pelayan lain yang belum tahu siapa pemilik cafe itu terkejut bahkan penasaran.


"Ssstt.....jangan keras-keras mbak heheh, ya sudah tolong ya," ucap Arta mengedipkan sebelah matanya.


"Arta!" panggil Kart membuat semua orang menoleh padanya.


"Ada apa kak?" tanya Arta berbalik masih memegang lengan Arkan.


"Ah ..nggak nggak jadi heheh," kilah Kart sambil terkekeh karena ulahnya sendiri.


"Apa sih bang Kart, gaje Lo!" ledek Celo.


"Celo, please deh!" ucap mereka bersamaan membuat Celo diam seketika.


"Iya...iya," ucap Celo dengan wajah kesal.


Mereka berjalan bersama, sementara itu Indah berada di barisan paling belakang. Ia hanya diam dan menunduk, sungguh sangat canggung berada di antara orang-orang ini, ia merasa tak layak berjalan bersama orang-orang hebat seperti mereka.


"Hmmm...kak Vika, Indah ke toilet dulu ya," bisik Indah pelan pada Vika yang memegang tangannya dengan erat sementara tangan yang lain menggandeng lengan Tito.


"Mau ditemani?" tanya Vika lembut.


"Ng..nggak usah kak, gak apa apa kok Indah sendiri aja," ucap indah yang dianggukkan oleh Vika.

__ADS_1


"Ya udah cepat sana, hati-hati kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak," ucap Vika yang dibalas senyuman oleh Indah.


"iya kak,"


Indah pergi ke arah toilet, sebenarnya tujuannya bukan kesana, ia hanya ingin menyelamatkan diri dari rasa canggung yang menyelimuti dirinya sejak tadi.


"Hufftt....lebih baik aku tidak ikut dengan mereka, canggung sekali," ucap Indah menghela nafas panjang di dalam toilet.


Arta dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan khusus Presdir Star Company. Ruangan bernuansa hitam putih lebih mirip seperti ruangan laki-laki daripada ruangan perempuan.


Mereka duduk di ruangan itu.


"Baik apa yang mau kakak sampaikan?" tanya Arta pada Kart to the point.


"Hufftt, ini sesuatu yang mungkin akan sangat berat bagi kita semua terutama yang sudah dekat dengan seseorang yang sudah pergi untuk selamanya," ucap Kart memulai percakapan membuat semuanya terkejut dengan ucapan Kart.


"Hah!? ada apa Kak?" tanya Arkan terkejut.


"Roki sudah hilang, ia tak akan pernah kembali lagi, Roki sudah menyatu denganku," ucap Kart lirih.


Arta, Arkan dan yang lainnya terkejut mendengar itu.


"Kalau Roki hilang bukankah itu bagus? berarti Kart sudah sembuh dong," ceplos Vika membuat semua orang menatapnya.


"Eh...ma.maaf bukan bermaksud lain, tapi kenyataannya kan begitu," ucap Vika gugup sambil menyembunyikan wajahnya di balik lengan kekar Tito.


"Apa yang Vika bilang benar, tapi setidaknya Roki pergi dengan ucapan perpisahan, selama bertahun tahun hidup berdampingan dengannya cukup menyedihkan membayangkan kalau dia pergi begitu saja," ucap Arkan dengan nada sendu.


"Iya kak, Arta juga gak rela kalau Kak Roki pergi begitu saja," lirih Arta.


"Roki sudah tahu kalau kalian akan bersikap seperti ini, oleh karena itu dia mempersiapkan video perpisahan untuk kita semua, bahkan aku pun tak tahu apa isinya karena dia membawa pergi ingatan itu saat dia menghilang," ucap Kart sambil mengeluarkan flashdisk lalu memasangnya pada LCD yang ada di dalam ruangan itu.


"Maksudnya ?" tanya Karina bingung begitu juga dengan yang lain.


"Kalian lihatlah ini!" ucap Kart sambil membuka sebuah file video berdurasi beberapa menit.


.


.


.


kasih like sama votenya, komentar juga boleh ya, terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2