
Arta berjalan kesana kemari memantau perusahaan miliknya, sungguh ini bukan dirinya, selama ini dia hanya memantau karyawannya melalui CCTV yang langsung terhubung dengan tablet pribadinya tetapi kali ini tampaknya Ibu hamil itu ingin melihat secara langsung kinerja karyawannya.
Setelah lelah berkeliling, bahkan membuat beberapa karyawan terkejut dengan kehadiran wanita cantik itu, Arta pun kembali ke ruangan suaminya sambil menenteng rantang makanan yang di berikan Celo saat mereka ke ruangan pria itu.
Arta membuka pintu ruangan Arkan dengan perlahan, dimasukkannya kepalanya lalu mengintip keberadaan suaminya namun tak ditemuinya dimana pun hingga sebuah suara mengejutkannya.
"Sedang apa hmm? kenapa mengintip seperti maling saja!" ucap Arkan yang ikut memasukkan kepalanya seolah mengintip ruangannya sendiri.
"Eh sayang hehehhe, dari mana?" tanya Arta membuka pintunya.
"Harusnya aku yang tanya kamu dari mana aja sayang," ucap Arkan gemas melihat wajah cantik dan gembul istrinya itu.
"Heheheh dari ruangan Celo tadi, ini ada semur jengkol dimasakin Mama," ucap Arta sambil mengangkat rantang miliknya.
"Ya udah masuk dulu, kita makannya di dalam aku juga udah lapar!" ucap Arkan malah menggendong istrinya seperti bayi baru lahir menuju sofa di ruangan itu.
"Arghh pelan-pelan dong, nanti jatuh!" kesal Arta.
"Baiklah tuan putri," balas Arkan sambil tersenyum manis meletakkan istrinya di atas sofa dengan lembut.
"Sayang panggil Tito sama Vika ya kita makan bareng mereka!" ucap Arta sambil membuka bekal makanan mereka.
"Baiklah nyonya, ada lagi yang anda butuhkan?" tanya Arkan yang dijawab gelengan kepala oleh Arta.
Arkan menghubungi dua orang itu untuk ikut makan siang bersama mereka, setelah mendapat jawabannya Arkan mematikan ponselnya.
Sementara itu di sebuah butik tampak Kart tengah menemani Karina untuk fitting baju pengantin, pernikahan mereka akan digelar seminggu lagi.
"Tuan, nona sudah selesai," ucap pegawai butik yang membantu Karina memakai baju pengantinnya. Kart yang tengah menatap layar ponselnya menatap ke arah tirai yang baru dibuka, tampaklah Karina berbalut gaun putih dengan hiasan manik-manik di ujungnya sangat pas di tubuh indah gadis itu.
Kart terpana melihat penampilan Karina, ia seketika itu tersenyum melihat calon istrinya begitu cantik dalam balutan pakaian pengantin yang akan dipakainya beberapa hari lagi.
"Cantik sekali!" puji Kart sambil bangkit berdiri dan mendekati Karina.
"Benarkah? apa tidak terlihat aneh?" tanya Karina sambil meneliti penampilannya.
"Cantik sayang, kamu cantik sekali!" ucap Kart menatap Karina dengan senyuman tampannya yang bahkan membuat semua pegawai di tempat itu terpana dengan pria bermanik biru itu.
"Benarkah? baguslah heheh, sekarang giliran kamu yang coba gih, aku foto dulu mau kirim sama Arta, tadi merengek minta ikut tapi Arkan gak kasih takut ngidam yang aneh-aneh katanya," jelas Karina.
"Hahahah, iya Arta jadi aneh sejak kehamilannya, apa kamu juga akan begitu nanti?" ucap Kart menggoda calon istrinya membuat Karina merona.
"Udah ah sana cepat, setelah itu kita foto lalu kirim ke Arta," ujar Karina sambil sedikit mendorong tubuh Kart.
__ADS_1
"Baiklah nyonya Kartier," balas Kart kembali menggoda Karina.
Setelah beberapa menit, Kart keluar dari ruang ganti, tubuh tegap dibalut jas hitam yang sangat serasi dengan Karina memancarkan aura dan kharisma pria tampan itu.
Karina menatap calon suaminya dengan mata berkaca-kaca, sekilas ia kembali mengingat bagaimana mereka berpisah dulu dan bertemu kembali setelah berpisah beberapa lama. Pria yang menolongnya ketika diculik oleh penjahat beberapa tahun silam masih lekat diingatannya bagaiman pria itu berkorban sampai dirinya mempunyai alter ego akibat trauma itu.
"Karina, kenapa menangis hmm?" tanya Kart menghampiri gadisnya itu.
Karina memeluk Kart dengan erat, ia menumpahkan rasa harunya di pelukan pria itu.
"Aku tak menyangka Tuhan begitu baik padaku hingga Dia mempertemukan kita kembali," ucap Karina sambil menangis tersedu-sedu.
Kart memeluk Karina sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu, "Aku juga bersyukur dipertemukan kembali denganmu sayang," ucap Kart.
"Sudah jangan menangis, kita berfoto lalu kirim ke adik iparmu, kurasa dia sudah memberontak di kantor sekarang karena sedari tadi ponselku bergetar dan pasti panggilan dari dirinya," ujar Kart mengingat adiknya yang berubah jadi cerewet itu.
"Hahahah, baiklah" jawab Karina.
"Buk tolong fotokan kami ya," ucap Karin sambil menyerahkan ponselnya pada pegawai butik itu.
Setelah berfoto dan berdiskusi sedikit mengenai pakaian mereka, akhirnya keduanya keluar dari butik itu. Karina mengirimkan foto dirinya dan Kart ke nomor Arta sebab sedari tadi sudah banyak pesan masuk dari wanita itu.
.
.
.
Sementara Arkan ,Tito dan Vika hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu, sejujurnya Arkan juga sama penasarannya dengan Arta hanya saja ia masih bisa memendam perasaannya berbeda dengan Ibu hamil itu.
"Sudah sayang, habiskan dulu makananmu kasihan baby-nya sudah lapar," ucap Arkan mengingatkan Arta.
Mendengar kata baby, Arta langsung memakan makanannya, ia tak ingin bayi kembarnya sampai kelaparan karena terlalu asik menunggu foto dari kakaknya.
Saat Arta tengah makan, tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanda Karina membalas pesannya. Dibukanya pesan itu dan langsung saja matanya terbelalak melihat foto itu, bahkan mulutnya ikut terbuka untung saja segera ia tutup jika tidak, semua makanan dalam mulutnya akan keluar.
"Wow! cantik dan tampan sekali mereka ini bagaikan putra dan putri di negeri dongeng!" celetuk Arta sambil menunjukkan ponselnya ke arah Arkana, Tito dan Vika.
"Wah mereka luar biasa, Karina juga sangat cantik!" puji Vika.
"Adikku memang sangat cantik," ucap Tito menatap layar ponsel Arta dengan haru, Vika menyadari hal itu dengan lembut ia menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Dia akan bahagia dengan Kart," ucap Vika memandang Tito.
__ADS_1
"Benar, aku yakin mereka akan berbahagia," ucap Tito.
"Nyonya bolehkah nyonya mengirim foto itu ke ponselku?" pinta Tito.
"Tentu saja," ucap Arta lalu langsung mengirim foto itu ke nomor Tito.
Mereka melanjutkan makannya, namun Arkan terlihat tengah memikirkan sesuatu saat melihat foto pernikahan itu. Apalagi saat melihat Arta yang begitu antusias dengan foto itu.
"Sudah beberapa bulan kami menikah tapi aku tak pernah memanjakannya seperti pasangan lain, bahkan dia pun tak pernah meminta yang aneh-aneh padaku, sebentar lagi ulang tahunnya aku akan menyiapkan kejutan untuk istriku, dia sudah begitu sabar bersamaku," gumam Arkan dalam hatinya mengingat ia belum memberikan kejutan seperti yang biasa dirasakan oleh wanita-wanita lain di luar sana.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, akan kupastikan kau bahagia hidup bersamaku!" ucap Arkan.
Arta menatap suaminya sambil mengunyah makanannya, Arkan yang ditatap tersenyum sambil membersihkan sisa makanan yang belepotan di sekitar mulut istrinya.
"Masih lapar?" tanya Arkan.
"He..emm masih hhehehe," jawab Arta sambil terkekeh.
"Makannya pelan-pelan ya sayang nanti tersedak," ucap Arkan sambil mengelus lembut kepala istrinya.
"Kakak juga makan dong ini aaaa..." ucap Arta sambil menyuapkan satu sendok makanan yang langsung di lahap oleh Arkan.
.
.
.
"Aku sudah menemukan kedua anak itu! mereka diadopsi oleh Pemilik Argaka Company!" ucap Baron pada Mia di sela-sela kegiatan panas mereka.
"Ehmm....ahhh....bagushhlahh, kita bisa memanfaatkan perusahaan itu arghh...emphh," balas Mia dengan desahan dan erangan nikmat di tengah aktivitas panas mereka itu.
.
.
.
Mia dan Baron udah hyper !!!!
Parah anak yang mana maksudnya?? apa mereka udah tau semuanya??
Like vote dan komen 😊😊😉
__ADS_1