
Arkan tampak berpikir keras di dalam ruangan kerjanya, ia masih teringat dengan saputangan yang memiliki lambang serupa dengan keluarga sepupunya.
"Ada apa?" tanya Arta menghampiri suaminya sambil mengunyah pop corn yang di bawanya dari rumah tadi pagi, Arta duduk di samping Arkan yang memang tersedia kursi tambahan untuk dirinya disana.
"Aku terganggu dengan sapu tangan milik Indah sayang, lambang di saputangan itu lambang keluarga Vika Whitegar Rouland dengan simbol matahari," ujar Arkan sambil mengambil beberapa pop corn milik istrinya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Arta.
"Yang memiliki saputangan itu hanya keturunan Whitegar Rouland, dan yang kutahu keturunan mereka hanya Vika, dulu memang Vika mempunya adik perempuan tetapi adiknya itu meninggal saat usianya tiga tahun," jelas Arkan.
"Hmmm, sebentar aku suruh si mata elang untuk mencari tahu," ucap Arta sambil merogoh ponselnya dan menghubungi si mata elang.
"Halo Beni!" ucap Arta memanggil si mata elang dengan nama aslinya.
"..."
"Barusan aku mengirim file data pribadi seorang wanita, segera caritahu semua tentang dirinya bahkan asal usul keluarganya dan pastikan mendapatkan hasil tes DNA gadis itu dengan orang yang kumaksud!" ujar Arta dengan suara berwibawa.
"..."
"Bagaimana keadaan markas?" tanya Arta.
"..."
"Tetap awasi pergerakan mereka, jangan sampai kedok kita terbongkar pastikan semua anak buah aman!" tega Arta.
"..."
"Kutunggu info darimu dalam lima hari!" ucap Arta lalu mematikan panggilannya.
"Sudah!" seru Arta meletakkan ponselnya di atas meja suaminya. Arkan melihat istrinya tanpa berkedip membuat Arta bingung dan heran.
"Ada apa? ada yang salah dengan wajahku?" tanya Arta bingung.
"Bukan, kau sangat berbeda saat berbicara dengan anak buahmu tadi, auramu semakin luar biasa, mungkin ini bawaan baby atau mungkin memang kau semenakjubkan itu!" celetuk Arkan.
"Cih apaan sih, sudahlah ayo bekerja aku ke bawah dulu mau ambil cemilan," ujar Arta.
"Biar kutemani!" ucap Arkan bangkit berdiri.
"Ck...tak perlu sayang, aku tahu pekerjaan kita masih banyak, diamlah disana aku hanya ingin cari udara segar sebentar sekaligus memeriksa pekerjaan karyawan kita," tukas Arta sambil memakai tas selempang miliknya.
"Tapi..." ucap Arkan terputus.
"Sssttt tenang, kau ingatkan istrimu ini siapa?" ucap Arta dengan senyuman menyeringai yang terlihat menyeramkan bagi orang lain namun justru mengkhawatirkan bagi Arkan.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aktifkan ponselmu, jika ada apa-apa hubungi aku," ucap Arkan .
"Cih aku tahu kau akan mengawasi ku dari komputermu itu, jika sesuatu terjadi kau pasti akan langsung tahu!" ucap Arta sedikit meledek suaminya.
"Heheheh, kau tau saja ya sudah berhati-hati lah," ucap Arkan menatap istrinya yang sudah melangkah keluar.
"Bye!" seru Arta seperti anak kecil.
Arkan tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan istri cantiknya itu, ia melanjutkan pekerjaannya sambil terus mengawasi Arta melalui kamera CCTV yang terhubung dengan salah satu komputer di mejanya.
Sementara itu Arta berjalan dengan santainya mengelilingi perusahaan itu, Arta yang memang sudah dikenal oleh seluruh karyawan disana sangat dihormati oleh mereka.
Arta memakai rok tutu berwarna hita favoritnya, dengan sweater merah maroon kebesaran yang membuat penampilannya seperti anak remaja padahal ia adalah seorang calon ibu.
Arta memakai sneaker, rambut panjangnya dicepol ke atas serta mengenakan make up polos namun tidak mengurangi kecantikan ibu hamil itu.
"Selamat siang nyonya!" sapa karyawan yang melewati wanita itu dan dibalas dengan senyuman manis olehnya.
Arta berjalan menuju sebuah ruangan yang bertuliskan Manajemen Pemasaran. Ia dengan ragu-ragu mengetuk pintu itu.
tok tok tok
Pintu diketok, seseorang membuka pintu, tampak seorang wanita muda namun lebih tua dari Arta membuka pintu pintu itu.
Arta masuk ke dalam ruangan itu dan langsung disambut oleh tim pemasaran yang tengah melakukan rapat di dalam ruangan itu.
"Se... selamat siang nyonya, ada yang bisa kami bantu?" tanya Lea manajer Pemasaran gugup. Kini penampilan Lea lebih sopan bahkan tidak ada kesan seksi maupun menggoda dari wanita itu.
"Wah kamu semakin cantik manajer Lea, kalau begini kan nyaman," puji Arta melihat penampilan Lea.
"Ah ini semua berkat ucapan Anda nyonya, saya justru berterimakasih atas teguran nyonya," jawab Lea sopan.
"Hmm, lanjutkan rapat kalian aku hanya akan mendengarkan, tak usah pedulikan aku, aku hanya sedang bosan," ujar Arta yang memilih duduk agak jauh dari mereka.
"Baik nyonya!" jawab mereka serentak.
Rapat kembali berlangsung, Arta memperhatikan mereka dengan seksama, entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu tapi tampaknya ia sangat serius mendengarkan. Setelah beberapa menit menonton rapat, Arta permisi keluar pada sekretaris yang membukakan pintu tadi.
Arta kembali menyusuri perusahaan, itu ia sampai di bagian keuangan namun betapa terkejutnya ia saat mendengar pembicaraan orang di dalam perusahaan itu.
Arta mengintip dari balik kaca transparan yang terhubung langsung dengan ruangan itu. Ia melihat dengan jelas wajah pria gembul yang ternyata mereka temui sewaktu di rumah sakit dahulu.
"Ketemu kau! dendamku masih belum terbalaskan sejak kau menghina anak-anak ku, sekarang kau berusaha untuk menghianati perusahaan kami kan? lihat saja apa yang akan ku lakukan hahahah," gumam Arta dalam hatinya.
Ia terus mengawasi pria itu, pria gembul itu keluar dari dalam ruangannya dengan gelagat mencurigakan sambil berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
Arta mengikuti pria gembul itu, hingga tibalah mereka di tangga darurat, Arta terus mengikuti tanpa sadar ada beberapa pengawal yang menjaganya dari belakang atas perintah Arkan karena ia melihat gelagat aneh istrinya.
"Baron!" ucap Arta terkejut. Ia tahu siapa itu Baron, dia adalah pria yang membeli kedua anak kembarnya yang malang, bahkan mengambil ginjal milik Josua.
Pria gembul tadi menatap ke atas saat mendengar suara seseorang, ia melangkah ke atas mencaritahu sumber suara itu. Arta panik ia mencari tempat untuk bersembunyi hingga tiba-tiba seseorang menutup mulutnya dan menariknya ke dalam sebuah ruangan penyimpanan di sekitar tempat itu.
Pria gembul tadi mencari dimana sumber suara itu dengan hati-hati namun tak ditemuinya.
"Baik tuan Baron, sepertinya pemilik perusahaan ini yang mengadopsi kedua anak itu karena kemarin saya melihat mereka berkeliaran di sekitar perusahaan ini!" ucap pria gembul itu.
"..."
"Semua data keuangan perusahaan ini akan saya kirim ke email tuan, dengan begitu tuan akan dengan mudah menguasainya, dan mungkin tuan juga akan tertarik dengan istri pemilik perusahaan ini, dia cukup cantik sebagai penghangat ranjang anda tuan!" ucap pria gembul itu
"...."
Pria gembul itu menyelesaikan percakapannya dan keluar dari tangga darurat itu
"Lepaskan!" ucap Arta dengan nada sedikit kesal karena mulutnya dibekap oleh tangan seseorang di dalam ruangan sempit itu.
Arta keluar dari ruangan itu lalu menatap pria yang menariknya tadi.
"Ma..maaf kak, Celo nggak bermaksud buat kakak terkejut," ujar Celo menunduk takut.
"Huh tanganmu bau jengkol Celo!!" ledek Arta yang sudah sangat kesal pasalnya ia menahan nafasnya mati-matian karena bau tangan milik Celo.
"Ma...maaf kak, tadi Celo habis makan semur jengkol buatan Mama Lily heheh," kawan Celo cengengesan.
"Benarkah? ada buat kakak ngga?" tanya Arta berbinar-binar, kali ini gadis itu tidak jadi marah saat mendengar kata semur jengkol.
"Cih kalau soal makan kakak langsung senang ya, ada kok ya udah kita ke ruangan ku dulu Indah juga ikut kak," jelas Celo.
"Kamu kok tahu kakak disini?" tanya Arta.
"Panjang ceritanya nanti aja Celo ceritain," ucap Celo sambil menuntun Kakak keluar dari tangga darurat itu.
.
.
.
Hayo Baron mau ngapain? anak yang mana yang dimaksud si gembul itu?
like vote dan komen 😊
__ADS_1