Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
The Power of Bumil


__ADS_3

"Ah mau berkenalan toh, kalau begitu salam kenal tuan Saya Chan," ucap Arta memperkenalkan dirinya sebagai Ms. Chan.


"Nak hubungi Papi dan Paman Celo!" batin Arta yang langsung diikuti oleh Josua dengan tenang, Josua mengirim pesan pada Arkan dan Celo sebanyak-banyaknya.


"Apa Anda tahu tempat jualan pakaian yang bagus di kota ini? saya mau cari hadiah untuk istri saya yang sedang hamil," bohong pria asing itu.


"Ahhhh, menurut saya lebih baik Anda belanja ke Star Mall, disana banyak barang murah dan bagus mungkin akan cocok untuk istri anda," ujar Arta yang malah mempromosikan Mall milik mereka, ada ada saja bumil ini.


"Benarkah? tapi saya tidak tahu tempatnya, saya baru di kota ini," balas Pria itu sedikit gugup dengan tatapan Arta yang mengintimidasi.


"Kan sekarang canggih tuan, tinggal panggil ojek online seperti Marjek dan langsung antarkan kita ke tujuan, gak pakek ribet, atau cari pakai Mars Maps aja tuan, itu fitur baru yang bisa membantu orang baru seperti tuan menemukan tempat yang diinginkan," ujar Arta malah promosi aplikasi yang diluncurkan oleh perusahaan mereka.


"Wah non bener, saya juga pakai Mars Maps beberapa waktu lalu untuk mencaritahu alamat mendiang bapak saya, Alhamdulillah ketemu non malah ada gambarnya lagi," ujar tukang siomay yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


"Eh iya bener mbak, mas Marjek juga bagus banget semua pesanan kita dianter sampai rumah, kita juga aman karena setiap Marjek yang beredar katanya dipasang pelacak yang terhubung langsung dengan kantor polisi dan pelanggan punya tombol darurat pada aplikasi jadi mereka gak boleh macam-macam," ujar Ibu-ibu yang juga sedang makan di kursi yang lain.


"Sialan! kok malah promosi sih? wanita ini juga kok gak bisa dihipnotis? biasanya saat orang lain udah menatap mataku pasti akan langsung terhipnotis," gumam pria asing itu.


"Wah bagus dong Bu, ah dan lagi Star Mall juga barangnya murah loh Bu, asli lagi," ujar Arta malah berceloteh ria dengan pembeli yang lain.


Pria asing tadi semakin geram karena aksinya tak bisa ia lakukan, akhirnya ia nekat menarik tangan Arta dan menodongkan pistol ke kepala Ibu hamil itu.


grep....prang...brukk


"Arghhhh siomaykuuuuu....." teriak Arta merengek karena siomaynya malah tumpah ke jalan padahal saat ini posisinya sudah dalam bahaya, pria asing itu menodongkan pistol ke kepalanya dan mengunci lehernya dengan lengan pria itu.


"Mami!!" pekik Josua ketakutan, traumanya muncul lagi membuat pria kecil itu mulai bergetar ketakutan, wajahnya pucat, matanya menangis dan tubuhnya bergetar.


"Astaga aku lupa Josua masih belum sembuh, haisshh tuan bisa tidak akhiri ini sekarang, anakku sedang sakit!!" gerutu Arta padahal nyawanya dalam bahaya, para pembeli tidak berani menolong karena ada senjata tajam.


"Jika ada yang berani mendekat ku tembak kalian!!" bentak pria itu.


"Huwekkkk napasmu bau jengkol!" ucap Arta kala pria asing itu berteriak.


"Diam! dasar jalang!" bentak pria asing itu membuat Arta geram dan naik pitam.


"Tuan lepaskan saya, anak saya butuh maminya," pinta Arta dengan suara memohon seperti anak kecil.


"Diam kau! aku tak peduli dengan anak sialanmu itu! kau ikut aku! kau akan jadi pemuas ranjangku hahahaha, menjauh kalian!!" gertak pria itu menatap Arta dan orang-orang itu satu persatu.

__ADS_1


"Bajingan!!!"


Krekk....prakk...pletak...Tus


"Arghhhh," teriak pria asing itu saat merasakan rubuhnya diputar, di pelintir dan dipatahkan oleh Arta.


"Krak sudah kubilang, LE..PAS...KAN...AKU!! gara gara dirimu, siomayku jatuh!!!" bentak Arta sambil mematahkan lengan pria asing itu.


Krak


"Anakku,"


Tak


"Sedang,"


klek


"Sakit bodoh!!" teriak Arta memukuli pria itu secara membabi buta hingga pria jahat itu tergeletak tak berdaya.


"Sialan! pistolmu cuma pistol mainan tapi berani-beraninya kau mengganggu waktuku!" omel Arta sambil menginjak injak pistol mainan yang digunakan pria tadi.


"Sayang!" panggil Arkan yang kini memeluk Josua yang sedang panik.


"Sayang.... huhuhuhu lihat dia jahat, dia udah jatuhin siomayku kesel arhkk," rengek Arta menangis sambil berlari memeluk suaminya yang tengah menggendong Josua.


Semua orang terbelalak melihat tingkah wanita itu, yang kejam disini siapa dia yang sudah mematahkan seluruh tulang-tulang pria itu atau pria yang terkapar lemah itu.


"Astaga kak Arta, sudah dalam bahaya tau taunya merengek hanya karena siomaynya tumpah, dimana kak Arta yang kukenal!!!" teriak Celo dalam hatinya.


"Sudah sudah jangan menangis, Pak minta tolong bungkusin siomaynya satu lagi ya," ucap Arkan.


"Mau tiga," ujar Arta sambil mengangkat tiga jarinya dan memohon seperti anak kecil membuat Arkan gemas sendiri dengan perilaku Ibu hamil itu.


"Tiga bungkus ya pak," ucap Arkan.


"Ada apa ini kenapa sampai pria itu terkapar seperti itu?" tanya Celo pada pengunjung yang hadir disana, tadi Celo dan Arkan langsung bergegas setelah mendapat pesan dari Josua yang dikirim melalui ponsel Arta, Celo membawa Indah ke ruangannya tepat saat Josua mengiriminya pesan, akhirnya Indah menunggu disana.


Sedangkan Arkan tadi baru saja memulai memeriksa berkas dan membiarkan Mark ikut tidur dengan Ziko dan Jeni karena pria muda itu tampak kelelahan, hingga saat ponselnya berbunyi dan ada banyak pesan dengan isi yang sama masuk ke dalam ponsel khususnya, setelah melihat isi pesan itu ia bergegas turun ke bawah.

__ADS_1


"Pria itu tadi mendekati gadis itu, ia menodongkan pistol ke kepalanya dan mengancam kami semua yang ada disini, bahkan ketika perempuan itu meminta dilepas karena anak lelaki itu gemetar dan menangis pria itu malah membentak mereka, kami sudah sangat ketakutan ternyata perempuan itu malah menghajarnya dengan tangannya sendiri," ucap Ibu-ibu yang tadi makan si seberang bangku Arta.


"Ah ternyata begitu, baiklah terimakasih Bu," ucap Celo, Celo lalu menghubungi anak buahnya untuk membereskan semua kekacauan itu.


"Tuan, nona ini pesanannya," ucap penjual siomay itu sambil memberikan tiga bungkus siomay yang langsung disambar oleh Arta sambil tersenyum kegirangan.


"Ini pak," ucap Arkan memberikan beberapa lembar uang merah.


"Ini kebanyakan tuan," ucap pria itu tak enak.


"Ambil aja pak, istri saya lagi hamil soalnya entar ngamuk lagi, maaf sudah buat keributan disini," ucap Arkan yang juga merasa tak enak, namun lebih tak enak dengan tatapan tajam Arta saat ini.


"Ohhh pantes lahap sekali makannya, tadi nona ini sudah menghabiskan tiga mangkok siomay, say doakan semoga bapak sekeluarga sehat-sehat ya pak," ucap Penjual siomay itu.


"Terimakasih pak, oh iya ini sedikit tambahan lagi, biar makanan ibu dan bapak yang ada disini saya yang bayar," ujar Arkan sambil menyodorkan beberapa lembar uang lagi.


"Astag terimakasih banyak pak, terimakasih, Alhamdulillah ya Allah akhirnya saya bisa bawa istri saya berobat, terimakasih non, terimakasih pak!" ucap penjual itu memanjatkan syukurnya pada Tuhannya dan rasa terimakasihnya pada Arkan.


"Sama-sama pak kalau begitu kami permisi, ayo sayang!" ucap Arkan.


Arkan, Arta, Josua dan Celo berjalan beriringan memasuki areal perusahaan.


"Anak Mami jangan takut ya, Mami sama Papi jagain kamu kok," ujar Arta sambil mengelus kepala Josua yang masih menangis dengan siara pelan.


"Abang takut Mami dijahatin huhuhuhu, Abang takut, Papi sama Paman juga lama sekali datangnya," gerutu Josua sambil menatap Maminya dengan air mata yang berderai di pipinya.


"Maaf sayang, Papi juga panik tadi, itu Papi udah lari sekencang-kencangnya, seandainya Papi punya kekuatan super, dalam hitungan detik papi pasti bisa sampai disana, tapi papi kan cuma manusia biasa," ujar Arkan memberi pengertian pada anaknya.


"Iya sayang, Papi kamu benar, tapi Abang hebat udah lindungi Mami dan baby twin, kalau Abang gak kepikiran untuk nulis pesan seperti tadi, mungkin Mami udah dalam bahaya, Abang hebat sekali!" puji Arta sambil mengelus lembut pipi putranya.


"Hmm tentu saja, Abang harus kuat supaya bisa lindungi Mami, Papi dan Baby twin!" seru Josua yang moodnya mulai membaik, seketika ia melupakan ketakutannya tadi.


Celo menatap mereka sambil tersenyum, ia sangat senang melihat keharmonisan keluarga kecil kakaknya itu, dia salut melihat Arkan dan Arta yang mampu merawat anak yang bahkan bukan darah daging mereka dan mereka anggap sebagai anak kandung mereka.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 😊😊😊


__ADS_2