
Seperti yang diperintahkan oleh Arkan, Vika datang ke kediaman Whitegar dengan alasan bahwa Arta mengidam ingin bertemu dengan Vika tentu saja ini hanya karangan Arkan agar gadis itu mau datang ke rumahnya.
Vika disambut oleh kedua bumil yang juga tengah menunggu kedatangan Karina dan Kart yang masih berada di dalam negeri, sebab Karina masih ingin dekat dengan Arta.
Semenjak kehamilannya diketahui, Karina selalu nyaman dan tidak mual jika dekat dengan Arta.
"Selamat pagi bumil cantik," goda Vika pada Kath dan Arta. Kath dan Arta tersenyum sambil memeluk Vika.
"Masuk dulu sini," ucap Kath.
Mereka bertiga duduk di ruang santai, Arta meminta pada salah satu pelayan untuk membawakan minuman untuk Vika karena cemilan selalu tersedia di meja itu apalagi bumil yang dua itu sangat suka makan.
"Jadi apa keponakanku merindukanku atau ibunya yang rindu denganku hmm?" tanya Vika pada Arta yang dijadikan alasan oleh Arkan saat bertelepon tadi.
"Hehehe, kami merindukan nona Vika yang ceria," ucap Arta sambil tersenyum.
"Apa yang akan kita lakukan, sepertinya akan sangat membosankan jika hanya duduk seperti ini," ucap Vika.
"Ck...baru beberapa menit kau duduk tapi langsung bosan, apa kau ingin bekerja terus?" ketus Kath.
"Ya maaf hahahahah," kekeh Vika.
Mereka bertiga bersenda gurau hingga tiba tiba suara seseorang yang sangat mereka kenal menghentikan percakapan mereka.
"Wah sepertinya kalian asik sekali berceritanya sampai tidak tahu kalau kami sudah datang," ucap Karina yang langsung duduk dan memeluk Arta dari samping bahkan suaminya sendiri dibiarkan.
"Eh kakak udah sampai, heheh maaf gak dengar tadi," ucap Arta membalas rangkulan kakak iparnya.
"Mentang-mentang ketemu sama Karina kakak kandung sendiri dicuekin," ucap Kart.
"Oh Hay kak, loh kenapa muka kakak kusut begitu?" tanya Arta yang heran dengan penampilan kakaknya yang tampak berantakan.
"Biasa dek, perjuangan seorang suami untuk anak istri, kakakmu ngidam minta dipanjatin mangga jam tiga pagi ya terpaksa kakak mauin daripada ngambek," ucap Kart dengan wajah kusut.
"Pfhhtt hahahah, rasain kak," ledek Arta.
"Ck....ya udah, aku ke apartemen dulu ya masih ngantuk mau lanjut tidur, aku titip Karin ya Ar, Kath, Vik," ucap Kart sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
"Oke kak, kakak tidur yang nyenyak, siapin tenaga untuk menuhin permintaan keponakanku!" celetuk Arta sambil tersenyum sumringah.
Kart mengacak acak rambut Arta.
__ADS_1
"Kamu ini ya seneng banget kakaknya kesusahan, ya udah aku pamit, sayang aku balik ya entar kalau ada apa-apa langsung telpon aja, Kath balik dulu ya," ucap Kart berpamitan.
"Kak apa nggak sebaiknya kakak istirahat disini aja, kan capek kalau harus bolak-balik, lagian siapa tau kak Karin tiba-tiba butuh sesuatu," ucap Arta memberi usul.
"Iya Kart, nginap disini aja, pakai kamar tamu," usul Kath.
"Bener sayang, kamu nginap disini aja ya, lagian aku sama baby gak mau jauh dari kamu," pinta Karina dengan nada manjanya.
Jika sudah begini, Kart tidak akan bisa menolak lagi. Ia hanya akan menuruti permintaan mereka bertiga.
"Oke deh, aku tidur disini aja, kalau gitu aku ke kamar dulu ya, ngantuk banget hoaammmm......"
Kart pergi menuju kamar tamu yang biasa ia dan Karina pakai jika menginap di mansion, tentu saja kamar itu selalu disiapkan jika sewaktu-waktu mereka datang berkunjung.
"Om George dan Tante Lily mana Ar, Kath?" tanya Vika yang sedari tadi tidak melihat keberadaan mereka.
"Ohh, Papa dan Mama balik ke London kemarin malam, ada urusan mendadak disana, anak perusahaan Whitegar ada yang bermasalah," jelas Arta.
"Ohh begitu," ucap Vika mengerti.
Arta dan Kath saling memandang, ini waktunya bagi mereka untuk bicara dengan Vika perihal lamaran Tito yang ditolaknya.
"Vik, kenapa belum mau nikah sih? kalau kamu nikah enak loh ada yang jagain," ucap Kath santai sambil menyalakan televisi dan memutar acara variety show yang sedang banyak diminati ibu-ibu.
"Heheh penasaran aja, kan Tito udah lamar kamu," ucap Kath.
"Da.... darimana kalian tahu?" tanya Vika terkejut.
"Wah jadi betul ya, padahal kita nebak doang loh kak," ucap Arta.
" Eh...i..itu iya bener sih," ucap Vika terbata.
"Emang kenapa kamu gak mau Vik? soalnya dari yang aku lihat kak Tito itu sayang banget sama kamu," tanya Karina.
"Aduh kok kalian malah bahas itu sih, mending aku balik aja deh," kesal Vika.
"Kak ada apa sebenarnya? bukannya kakak juga cinta sama kak Tito? jangan sampai hubungan kalian renggang gara-gara masalah ini loh, kalau ada sesuatu lebih baik kakak cerita daripada nanti kalian berdua saling menyakiti," jelas Arta.
"Iya Vik, cerita aja sama kita, kamu nggak sendirian loh, kamu juga kan keluarga kami, jadi jangan sungkan buat cerita," ucap Karina.
"Eh....Ng...nggak kok, nggak ada apa-apa, emang aku belum mau nikah aja," sanggah Vika yang masih enggan menceritakan masalah hatinya.
__ADS_1
"Kok gitu sih,ck ....Vika kamu nyebelin ahk hiks hiks hiks, aku kasihan sama kak Tito, dia jadi banyak diam sekarang, kamu juga udah jarang ketemu sama kak Tito, kalian berdua kenapa sih hiks hiks hiks," Karina tiba-tiba menangis mungkin karena hormon ibu hamil yang meningkat membuat Karina semakin sensitif.
"Hiks...hiks...hiks...Karina jangan nangis dong, aku jadi ikut nangis nih,Vika kamu gimana sih, hikss hikss,"lirih Kath yang malah ikut menangis saat melihat Kath menangis.
"Loh kok malah nangis sih huaaaaa," imbuh Arta yang ikut menangis saat melihat kedua kakaknya menangis.
" Yah mampus gue, kok malah jadi nangis berjamaah sih? aduh pliss jangan nangis, entar gue dihabisin suami kalian!" ucap Vika kelabakan melihat ketiga bumil itu menangis bersama.
drtt drrtt drrrt
Ponsel Vika berbunyi tampak nama seseorang disana.
"Tuh kan, aduh Arkan udah nelpon nih, pliss jangan nangis ya, janji deh bakal cerita," ucap Vika. Benar saja setelah Vika mengatakan kata-kata itu mereka bertiga langsung berhenti menangis.
"Halo Arkan ada apa?" tanya Vika menjawab panggilan sepupunya.
"Arta dimana? dia kenapa nangis? apa dia terluka? kok ponselnya gak bisa dihubungin?" teriak Arkan dari seberang sana.
"Eh....A..Arta emang lagi nangis, tapi dia gak kenapa-kenapa kok, cuma lagi nonton film aja, sedih banget soalnya makanya sampai nangis," ucap Vika berbohong.
"Ohh...gitu, ya udah gue titip istri gue, kalau ada apa-apa langsung kabarin!" tegas Arkan.
"Oke tenang aja, gue bakal jagain mereka," balas Vika mengakhiri percakapannya dengan Arkan.
"Huffftt, suami Lo sensitif banget ya Ar, masa Lo nangis aja dia tau," ucap Vika menghela nafas lega.
"Ya gitu deh, kakak juga bakal rasain kalau udah nikah sama kak Tito, kalau gitu sekarang cerita sebenarnya kalian kenapa? Arta gak suka lihat wajah kalian akhir-akhir ini," ketus Arta.
"Iya bener, Kak Tito jadi sering muram, malah sering pergi ke club untung Kak Tito mau tinggal bareng aku dan Kart di apartemen jadi ada yang ngurusin dia," ucap Karina dengan wajah kesal.
"Sebenarnya ada apa Vik, kamu juga akhir-akhir ini kayak putus semangat gitu, kalian juga udah jarang datang bareng, kalau ketemu kalian selalu saling menghindar, kesel aku tuh!" celetuk Kath.
Vika merasa bersalah, ia menunduk sedih apalagi saat mendengar dari Karin kalau Tito jadi sering pergi ke Club untuk minum-minum.
Perlahan air matanya tak bisa lagi dibendung, ia sungguh sangat bingung dan terpuruk juga sama seperti Tito yang saat ini jadi benar-benar hanya berpikir tentang pekerjaan.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊
kita lanjut lagi 👌👌👌