Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Flashback


__ADS_3

Arta menangis sambil memeluk ketiga anaknya, Jeni, kedua mertuanya dan kakak Iparnya masih dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Arkan di rawat sekarang.


Arta di kawal oleh anak buah Kedua kelompok mafia itu, bahkan seluruh lorong rumah sakit itu dikosongkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan Arta dan anak-anaknya.


Beberapa menit yang lalu Arta tiba di rumah sakit bersama si mata elang yang berhasil menemukan posisi mereka. Bagai di tusuk ribuan belati, Arta mengikuti si mata elang menuju rumah sakir tempat suaminya di rawat.


Operasi sedang berlangsung, Arta dan ketiga putranya menunggu di depan ruang ICU. Wajah Arta pucat dan tubuhnya lemas, ia begitu terpuruk ketika mendengar kabar ini.


Flashback kejadian beberapa jam lalu,


Arta mendengar pintu gudang digedor-gedor dari luar. Tampak pintu itu berusaha di buka oleh orang di luar sana.


Brakk... brakk...brakk


"Sial kenapa ini tidak bisa dibuka? apa yang mereka lakukan disana? jangan sampai pria gendut itu menyentuh mereka, bisa mati kami terkena amukan Bos!!" gerutu seorang pria yang berusaha membuka paksa pintu itu.


Arta dengan kelicikannya, ia menarik lengan ketiga anaknya untuk bersembunyi di balik dinding dengan memegang beberapa jarum beracun.


Arta mengambil kayu pengganjal lalu terbukalah pintu itu namun penjaga itu tidak melihat siapa pun dalam ruangan itu kecuali kelima rekannya yang terkapar. Tiga penjaga itu masuk perlahan-lahan tiba-tiba mereka tak bisa bergerak dan seketika itu pula terjatuh ke lantai.


Arta dengan gerakan lincah menusukkan jari ke tubuh mereka bertiga.


"Beres!" ucap Arta sambil menatap ketiga orang yang terkapar itu.


Arta mengintip untuk melihat situasi di luar, ada empat penjaga yang berjaga di luar.


"Nak, ada enam orang di luar, ingat kalian harus menancapkan jarum jarum itu ke tubuh mereka! kalian bisa bantu Mami?" bisik Arta pada anak-anaknya.


Ketiga anak itu mengangguk mengerti, lalu Arta memulai dramanya untuk memancing para penjaga itu. Arta membuat penampilannya berantakan sedangkan di kedua tangannya sudah tersedia jarum yang siap ditanam ke tubuh targetnya.


"Tolong, hah....hah...tuan tolong saya!" teriak Arta keluar dari gudang itu dengan napas terengah-engah dan rambut yang acak-acakan, para penjaga itu sontak mendekat ke gudang tempat Arta dan anak-anaknya di sekap.


Setelah memastikan jarak yang pas, Arta memulai aksinya.


"Sekarang nak!" teriak Arta sambil melemparkan tiga jarum yang tepat mengenai tubuh tiga pria pertama yang berlari ke arahnya. Mark, Ziko dan Josua berlari ke arah tiga lainnya yang tengah bingung melihat teman-teman mereka tiba-tiba terkapar tak berdaya.


Ketiga anak itu menusuk sisa penjaga yang ada di ruangan itu dengan jarum yang ada di tangan mereka masing-masing.


Dalam sekejap ke enam penjaga itu tumbang dan lemas tak berdaya.


" Mami!" panggil Josua saat ia melewati sebuah ruangan dsn mendengar suara dari sana.


"Ada apa nak, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Arta khawatir.


"Mami sepertinya ada orang di dalam, dengarlah!" ucap Josua sambil menunjuk pintu besi di dekat ruangan tempat mereka di sekap.


"Disini juga Mam!" ucap Ziko di depan ruangan lain.

__ADS_1


"Dua ruangan ini juga Mam, seperti ads irang di dalam!" ucap Mark menunjuk dua ruangan yang saling berhadapan.


"Tapi ini terkunci!" ucap Mark berusaha membuka pintu besi itu namun terkunci.


Arta mencari benda yang bisa dia gunakan membuka pintu itu, matanya tertuju pada kunci yang terjatuh dari kantong penjaga tadi.


"Ada kuncinya nak!" ucap Arta langsung mengambil gantungan kunci yang berisi beberapa kunci.


Arta mencoba satu persatu kunci itu lalu berhasil membuka semua ruangan itu.


Saat dibuka ternyata di dalam ada puluhan orang yang disekap di dalam ruangan itu. umur mereka berkisar dari anak-anak berusia enam tahun sampai orang dewasa berusia dua puluh tahun lebih laki laki dan perempuan.


Mark, Ziko dan Josua membantu Mami mereka melepaskan ikatan orang-orang itu. Anak-anak menangis saat pintu terbuka, mereka berpikir bahwa para penjahat itu yang datang untuk mengambil mereka.


"Kalian baik-baik saja? ayo kita cepat keluar dari sini! Bantu aku menyelamatkan yang lain!" ucap Arta pada anak-anak remaja yang ikut dibekap di ruangan itu.


Dengan cepat mereka membuka semua ruangan tempat yang lainnya di bekap, sekitar lima puluh orang di bekap dalam gedung terbengkalai itu.


Arta meminta yang lebih dewasa berjalan di belakang dan mengawasi anak-anak, sedangkan beberapa orang lainnya menggendong anak-anak yang terluka dan lemah.


Perlahan-lahan mereka berjalan, salah satu dari tawanan itu mengintip keluar untuk melihat situasi di luar dan menghitung berapa penjaga yang tersisa.


"Kak ada enam penjaga lagi!" ucap pria seumuran Celo itu.


"Aku butuh enam orang, dan jika bisa yang masih sehat dan bisa berlari !" ucap Arta pada mereka semua.


"Kami akan membantu kak," ucap mereka dengan tekad ingin lepas dari rumah tua itu.


"Baiklah, masing-masing kalian memegang satu jarum ini! tapi jangan sampai tertusuk, ini jarum beracun! pastikan kalian menusuk mereka dengan benda ini!" ucap Arta.


Mereka mengangguk mengerti, Arta mengkoordinir semuanya dengan baik.


"Buka pintunya kita semua keluar bersama sama untuk mengecoh mereka, kalian bersiap melakukan tugas kalian," ucap Arta dengan wajah serius.


"Kami takut tante ," ucap seorang anak perempuan yang menggendong adiknya yang pingsan karena kelaparan.


"Jangan takut ya, kalian harus kuat kalau mau keluar dari tempat ini," ucap Arta sambil tersenyum, mereka mengangguk mengerti.


Arta dan semua tawanan itu keluar bersama-sama sontak ke enam penjaga yang tersisa kelabakan sebab mereka semua berhamburan dan mengecoh mereka, sementara enam anak laki-laki yang tadi sudah berada di posisi mereka dan


Jlebb


jarum di melekat di tubuh masing-masing penjaga itu, tak sampai satu menit mereka ambruk dan tak berdaya.


"Seret mereka ke dalam gedung dan tutup pintu gedung itu!" perintah Arta.


Mereka mengangkat tubuh para penjaga itu ke dalam gedung dan melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh Arta.

__ADS_1


"Yeeyyy....kita selamat!" sorak mereka bahagia karena mereka berhasil keluar dari gedung itu.


"Semuanya ayo cepat kita pergi dari tempat ini, lewat jalan sana!" ucap Arta mengarahkan semua tawanan itu keluar dari area gedung.


Arta mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya namun tak di angkat oleh Arkan, Arta semakin risau karena ia mencoba menghubungi suaminya hingga beberapa kali tapi tidak juga diangkat.


Arta, anak-anak dan semua tawanan itu kini berada di sebuah lapangan yang sangat luas, mereka istirahat sejenak di tempat itu.


Arta menghubungi anak buahnya, tepat saat ia menelepon sebuah mobil Jeep datang ke area itu, Anak-anak korban penculikan dan beberapa tawanan lain ketakutan saat melihat mobil itu.


Seorang pria yang sangat dikenal oleh Arta keluar dari dalam mobil dan menghadap kepadanya.


"Nona akhirnya saya menemukan anda!" ucap si mata elang pada Arta.


"Ternyata kau, Beni dimana suamiku?" tanya Eta khawatir.


"Tuan tertembak nona dan sekarang sedang ditangani di rumah sakit," ucap Si mata elang.


Deg


Jantung Arta serasa tercabut kala mendengar suaminya tertembak. Arta hampir saja jatuh, beruntung Mark memegang lengannya di samping.


"Mami, Mami harus tenang, Mark mohon," pinta Mark dengan suara lembut berusaha menenangkan Maminya.


"Huhuhuhu Mark, bagaimana ini nak, Ziko Jo, Papi kalian hiks hiks hiks," lirih Arta melemah.


"Bawa aku kesana Ben, cepat hiks hiks hiks, kirim orang untuk mengurus mereka semua, rawat semua yang terluka dan kembalikan ke keluarga mereka," ucap Arta sambil masuk ke dalam mobil.


"Baik nona!" ucap si mata elang.


Si mata elang menghubungi anak buah mereka untuk menjemput semua tawanan itu dan melakukan seperti yang dikatakan oleh Arta.


"Sebentar lagi akan ada yang menjemput kalian, bertahanlah, kalian akan di rawat lalu diantar ke rumah kalian masing-masing," ucap Arta, Arta masih sempat memikirkan semua tawanan itu meskipun dirinya sudah lemah apalagi mendengar kabar tentang suaminya.


"Terimakasih kak," ucap pria yang membantu Arta tadi.


"Terimakasih nona!" ucap mereka semua serentak, Arta tersenyum tipis menanggapi, dalam pikirannya sekarang hanyalah suaminya yang tertembak dan tak tahu bagaimana keadaannya saat ini.


Flashback end


.


.


.


like , vote dan komen 😊

__ADS_1


__ADS_2