Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Kantor


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Arta dan rombongannya tiba di gedung kantor pusat Mars Company yang sebentar lagi akan berubah menjadi Argaka Company. Si kembar Jo dan Jen serta Mark dan ziko memakai masker untuk menutupi identitas mereka, begitu juga dengan Arta. Mereka masuk ke dalam gedung perusahaan itu dengan penjagaan ketat dari pengawal yang ditugaskan untuk menjaga mereka.


Karina dan Kath telah berganti pakaian dan kembali ke rupa mereka seperti sedia kala. Kath ikut ke perusahaan Mars untuk menyelesaikan urusan mengenai Proyek AG yang diselenggarakan bersama perusahaan- perusahaan besar yang telah diumumkan di konferensi pers sebelumnya.


Kedatangan Arta dan anak-anak menjadi pusat perhatian semua orang di dalam gedung megah itu. Sosok Arta yang misterius serta keempat anak kecil yang menempel kepadanya menjadi perbincangan hangat diantara para karyawan yang belum mengetahui kalau Arta adalah istri presdir mereka yang tampan dan memukau itu.


Hanya segelintir karyawan Mars company yang tahu jika bosnya telah menikah dengan seorang gadis cacat, itu pun hanya mereka yang dipercayai oleh mereka yang diundang ke acara pernikahan pasangan itu beberapa waktu yang lalu.


"Lihat siapa wanita itu, sepertinya orang penting sampai sampai mereka harus dikawal seperti itu," bisik seorang karyawan.


"Wah ada apa ini? kenapa ada anak-anak datang ke perusahaan ini?" ujar yang lain.


" Aku penasaran siapa mereka, dan dua wanita karir yang berada di belakangnya juga tampak familier, sepertinya aku pernah melihat perempuan itu," ucap yang lain.


Arta dan anak-anaknya disambut oleh Tito, mereka dibawa menuju lift khusus presdir yang hanya boleh dinaiki oleh presdir perusahaan dan orang yang diizinkan naik lift itu.


"Pak Tito sepertinya mengenal mereka," bisik yang lain.


"Mereka pasti orang penting," ujar karyawan disana.


Arta dan yang lain sampai di depan ruangan presdir Mars company, Tito membukakan pintu untuk mereka dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Silahkan masuk nyonya, tuan-tuan muda, nona-nona," ucap Tito menunduk hormat ala penjaga kerajaan yang sedikit berlebihan di mata Arta.


Brughhh


"Arghhh...kok dipukul si nona Arta?" rintih Tito memegangi perutnya yang dipukul oleh Arta.


"Gak usah lebay deh kak," ledek Arta yang dibalas kekehan oleh Tito, sementara anak-anak ikut tertawa melihat aksi mereka tadi.


"Kak aku tak menyangka ternyata tingkah lebay mu itu masih bertahan sampai sekarang hahahah," ledek Karina yang membuat Tito mengerucutkan bibirnya.


Arta dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan Arkan, tampak di dalam ruangan itu pria tampan itu tengah berkutat dengan berbagai dokumen di hadapannya, di meja yang lain juga masih ada tumpukan dokumen yang tampaknya harus segera di urus. Karena terlalu fokus Arkan tidak memperhatikan kedatangan istri dan anak-anaknya.


"Hmmm....... sepertinya di bagian ini adalah masalah utamanya, mungkin butuh suntikan dana agar pengerjaannya bisa maksimal dan sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan," ucap Arta yang telah berdiri di samping Arkan tanpa disadari oleh pria itu. Sementara anak-anak dan yang lainnya sudah duduk di tempat mereka masing-masing.


Kath dan Karina langsung pergi menuju ruang rapat, sebab Arkan masih sibuk dengan berkas-berkas itu, sementara Tito dan anak-anak duduk manis menonton kedua orang itu, walaupun Tito juga sedang memeriksa beberapa berkas di tangannya.


"Ah kau benar, untuk proyek ini telah ditemukan solusinya," ujar Arkan.


" Kalau yang ini sepertinya ada masalah degan bagian pemasaran, tampaknya mereka mengalami penurunan target dari bulan-bulan sebelumnya, bagian pemasaran harus mengeluarkan ide baru untuk bisa bertahan di pasar saat ini, jika tidak, produk ini tidak akan bertahan lama di pasar," ucap Arta sambil mengambil sebuah berkas dari hadapan Arkan.


"Iya benar, tapi sepertinya produk seperti ini sudah tidak diminati oleh orang-orang,eh...tunggu kau astaga Arta," ucap Arkan terkejut baru menyadari keberadaan istrinya yang sedari tadi ternyata membantunya menyelesaikan berkas-berkas itu.

__ADS_1


"Baru sadar sayang hmm? kamu terlalu serius sih sampai-sampai tidak menyadari kedatangan istri dan anak-anakmu ck...ck....ck," ledek Arta sambil menggeleng-geleng kan kepalanya namun matanya masih menatap berkas yang ada di tangannya.


"Ehehehe....maaf sayang, sudah sana temani anak-anak aku akan selesai sebentar lagi," ucap Arkan sambil mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Bagaimana mau selesai, ini gak bakal kelar-kelar kalau kamu kerjakan sendiri, udah  tadi pagi tinggalin aku sendiri di kamar, sekarang malah kerja sendirian sampai wajahmu kusut  padahal baru jam 11, sudah diam ayo kita kerjakan sama-sama," gerutu Arta sambil membolak-balikkan berkas di tangannya, rambutnya diikat asal, dia duduk di samping Arkan dengan kursi yang ditariknya entah darimana.


"Maaf ya, aku terlalu sibuk ya," ucap Arkan sambil menggenggam tangan Arta dengan lembut. Arta menghentikan aktivitasnya sejenak, ia menatap Arkan dengan lembut sambil tersenyum.


"Kak gak apa-apa kok, udah gak usah sedih begitu Arta juga ngerti kalau kita bakalan sangat sibuk, Arta juga udah biasa ngurus yang beginian jadi nggak ada salahnya kalau Arta ikut membantu suami Arta," ucap Arta tulus.


"Terimakasih sayang," ucap Arkan memeluk Arta dengan erat, hatinya sungguh bahagia mendapatkan seorang istri yang berhati baik seperti Arta.


"Sudah, ayo cepat kerjakan, anak-anak akan bosan kalau harus menunggu kita," ucap Arta melepas pelukannya.


"Tito," panggil Arkan.


"Ada apa tuan?" jawab Tito.


"Bawa anak-anak berkeliling agar mereka tidak bosan, sekaligus agar mereka tahu seluk beluk perusahaan orangtuanya," titah Arkan pada Tito.


"Baik tuan," jawab Tito.


"Kak Tito pastikan keadaan mereka aman, aku tak mau terjadi apa-apa dengan anak-anakku, jika sampai mereka terluka tunggu bagianmu,' ancam Arta dengan tatapan serius membuat kedua pria di sekatnya itu menelan salivanya dengan kasar. Saat sang ketua mafia telah mengucapkan titahnya entah mengapa suasananya selalu mencekam seperti ini.


Tito pergi menghampiri Si kembar Jo dan Jen serta Mark dan Ziko yang tengah asik bercanda, ia membawa mereka keluar dari ruangan itu.


"Sayang jangan terlalu keras padanya," ucap Arkan yang langsung mendapat sikutan oleh Arta.


"Aku hanya ingin anak-anakku aman kak," ucap Arta datar.


"Kau ini ya, jangan buat ekspresi dinginmu itu padaku aku tak menyukainya," sindir Arkan.


"Ehehehe, maaf suamiku sayang tak akan kulakukan lagi, sudah ayo kerjakan," ucap Arta dengan nada lembut dan tatapan hangat, ia tahu bahwa Arkan tak menyukai tatapannya itu.


Arkan dan Arta melanjutkan pekerjaan yang menumpuk itu, sementara Tito dan anak-anak berkeliling di perusahaan itu untuk mengusir rasa bosan, perusahaan tampak sepi sebab semua karyawan tengah bekerja di ruangan mereka masing-masing.


"Wah paman, perusahaan ayah Arkan besar sekali ya," ucap Ziko menatap seluruh ruangan yang mereka lewati dengan mata berbinar-binar.


"Ayah? sejak kapan mereka jadi anaknya tuan Arkan?" gumam Tito bingung.


"Abang,Jeni juga pernah ke perusahaannya mama, ruangannya juga besar seperti ruangan Papa," celetuk Jeni menanggapi ucapan Ziko.


"Jadi bunda juga punya gedung besar seperti ayah, wah hebat sekali ya," ucap Mark yang menggendong Jeni kecil sedangkan Ziko menggandeng tangan Josua.

__ADS_1


"Bunda? jadi Arta dan Arkan mengangkat mereka jadi anak juga, wah hebat bosku ini, anak kandung saja mereka belum punya tapi sudah merawat 4 anak kecil yang pintar dan menggemaskan ini, salut sekali aku dengan mereka, hmm apa aku bisa seharmonis mereka nanti jika menikah dengan Vika?" gumam Tito yang asik dengan pikirannya sendri hingga tak sadar dia membawa keempat anak itu ke dalam ruangan kerja karyawan membuat semuanya menatap pria tampan itu bingung.


"Paman, kenapa kita kesini?" tanya Josua bingung.


Tito tersadar dari lamunannya, "Aduh maaf maaf, Paman tadi melamun hehhe, sudah ayo keluar, kalian lanjutkan kerjanya," ucap Tito salah tingkah di depan anak-anak kecil itu namun menunjukkan ekspresi datar dan ketusnya dihadapan para karyawan.


"Hahaha, paman kok melamun sih? nanti Jo bilangin ke papa loh," goda Josua yang membuat pria itu langsung terkejut dan berhenti di tempatnya.


"Aduh jangan ya Jo, nanti Paman habis dilahap sama Mama kalian itu, paman ngeri ahk," ucap Tito sedikit ketakutan mengingat ancaman Arta tadi.


"Hahaha, ya sudah ayo paman, kita kemana lagi ini, rasanya Josua capek jalan terus," ucap Josua merengek.


"Josua capek? sini abang gendong," ucap Ziko membungkukkan badannya di hadapan Josua.


"Boleh bang?" tanya Josua ragu.


"boleh kok, sini sama abang," ucap Ziko lembut, Ziko menggendong Josua di punggungnya dan berjalan mengikuti Tito.


"Kalian mau es krim tidak?" tanya Tito.


"Mau," ucap mereka serentak.


"Ya sudah kita ke lantai 1 , disana ada cafe yang jual es krim enak, Josua sama Jeni biar paman yang gendong kalian pasti capek ," ucap Tito berniat mengambil alih si kembar namun langsung ditolak oleh Mark dan Ziko.


"No Paman, biar kami yang gendong," tolak ziko dan Mark yang membuat Tito terkejut.


"Kalian pasti sangat menyayangi mereka kan?" ucap Tito yang dianggukkan oleh keduanya.


"Abang Jeni berat ya?" tanya Jeni pada Mark.


"Nggak Jen, Abang kuat kok gendong Jeni heheh," ucap Mark sambil terkekeh.


Tito menatap mereka sambil tersenyum, ia mengingat dirinya dahulu bersama Karina sebelum kejadian mengenaskan itu terjadi dan memporak-porandakan keluarga mereka.


"Beruntungnya mereka,' gumam Tito.


.


.


.


. like, komen dan Vote sekalian guys......^_^

__ADS_1


__ADS_2