
Seorang pria tampan dengan wajah kharismatik tengah duduk di ruang kerjanya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah pekerjaan, mengurus semua masalah perusahaan besar itu hingga beres dan tuntas.
Semua berkas dan dokumen dihadapannya diselesaikan dengan cermat dan teliti. Jika terjadi kesalahan pada setiap laporan maka karyawan yang bertugas menyusun laporan itu akan terkena amukan pria ini.
Baginya tidak boleh ada kesalahan sedikit pun sebelum semua laporan itu disampaikan pada bosnya.
Tito membolak-balik kertas dengan serius, sesekali ia tampak menyergitkan kening saat melihat dokumen yang tidak sesuai dengan ekpektasinya.
Tok...tok...tok
suara ketukan pintu semakin keras namun Tito yang terlalu fokus tidak mendengarnya.
Brakk...
Pintu ditendang dari luar hingga terbuka dengan paksa, Tito terperanjat kaget, ia terkejut saat melihat atasannya yang sangat dihormatinya masuk dengan wajah marah ke dalam ruangannya. Bahkan sekretaris yang mengetuk pintu tadi hampir mati konyol di depan atasan mereka ini.
"Tu...tuan Arkan ada apa?" tabah Tito membungkuk hormat.
Brugh
Sebuah pukulan telak menghantam pipi pria itu, Tito sendiri kaget saat mendapat pukulan dari tuannya.
"Kau sudah gila hah!?" bentak Arkan.
"Apa maksud Anda tuan?" tanya Tito.
"Sialan! kenapa kau menyiksa dirimu sendiri dengan bekerja seperti orang gila hah? kau sudah tiga hari disini tanpa minum dan makan apa kau mau menjadi penunggu perusahaan ini bodoh!" bentak Arkan kesal.
Tito sudah tiga hari terus bekerja di dalam perusahaan, tidak pulang, tidak keluar ruangan bahkan tidak makan, ia hanya minum minuman bersoda dan beberapa botol alkohol yang disimpannya di dalam ruang pribadinya.
Penampilannya bahkan sangat kacau, wajah tampannya kini dihiasi dengan beberapa jerawat, kantung mata tebal, rambut acak-acakan dan pakaian yang amburadul.
"Saya baik-baik saja tuan, pekerjaan saya sebentar lagi selesai," ucap Tito.
"Bodoh! kau memang bodoh! aku tidak pernah memaksamu melakukan ini!" kesal Arkan.
"Kau bilang baik baik saja? aku yang tidak baik-baik saja saat melihat wajah bodohmu itu!" teriak Arkan kesal.
"Siapapun yang ada diluar, panggilkan Celo dan Indah kesini!" teriak Arkan dari dalam.
"Kemari kau bodoh!" bentak Arkan sambil menarik Tito dan mengajaknya duduk di sofa.
__ADS_1
"Ma... maafkan saya tuan," ucap Tito masih dalam mode formal.
"Diam! jangan memanggilku tuan! ini bukan jam kerja, mulai hari ini kau libur sampai semua masalahmu selesai!" ucap Arkan tegas, ia tak habis pikir dengan asistennya itu.
"Tapi masih banyak yang harus diurus," kilah Tito.
"Aku tak mau kau mengurus Perusahaan ini dengan menyiksa dirimu, yang ada semuanya akan kacau bodoh!" balas Arkan dengan tatapan kesal.
Beberapa menit kemudian, Celo dan Indah tiba di ruangan Tito.
"Ada apa kak?" tanya Celo dengan wajah khawatir saat memasuki ruangan Tito yang sedikit bau alkohol apalagi wajah dan tubuh Tito sangat berantakan saat ini.
"Celo, Indah kalian ambil alih tugas Tito untuk sementara, kalian bisa memanggil beberapa anak magang untuk membantu kalian, aku akan mengurus si bodoh ini dulu, jika butuh apa-apa hubungi aku!" perintah Arkan.
"Bagaimana kalian bisa diandalkan bukan?" tanya Arkan lagi.
"Apa perlu kupanggil anak-anakku untuk membantu kalian?" ucap Arkan.
"Tidak perlu kak, kami bisa," jawab Celo yakin.
"Kami akan menanganinya kak," imbuh Indah.
"Baiklah, kami pergi dulu," ucap Arkan masih dengan wajah kesal. Arkan menarik Tito keluar dari ruangan itu.
"Kenapa kita kesini tuan?" tanya Tito.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu di apartemen adikmu lagi? kau tinggal di tempatku! aku tahu kau tidak akan mengurus dirimu jika kau disana, kau hanya akan menyusahkan Karina yang sedang hamil muda!" ucap Arkan.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di kediaman Whitegar, tampak Arkan menyeret Tito seperti seorang kakak yang menyeret adiknya ke dalam rumah.
Tanpa mereka sadari, keempat wanita yang tengah duduk di ruang santai mengamati mereka berdua. Vika begitu terkejut saat melihat penampilan Tito yang berantakan dan tak terurus.
"Kau istirahat disini! ganti pakaianmu, kau sangat bau!" kesal Arkan, kemudian ia berlalu ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk asistennya yang sudah dianggapnya seperti adik baginya.
Sementara itu di ruang santai, Vika hanya bisa terdiam. Ia sadar betapa egoisnya dirinya selama ini, bahkan ia sampai mengecewakan pria yang sangat dicintainya.
"Kau lihat penampilannya tadi? kau membuat kami kecewa Vik," lirih Karina, wanita itu memeluk Arta sebagai pelampiasan rasa sedihnya.
"Jika terus begini aku tidak akan membiarkan kakakku memiliki hubungan apapun denganmu hiks hiks hiks," tangis Karina tersedu-sedu dalam pelukan Arta.
"Seharusnya kakak bisa membicarakan ini pada kak Tito, dia pasti akan mengerti dan menunggu kakak untuk pulih, jika terus kakak gantung maka kak Tito juga akan menyerah," ujar Arta.
__ADS_1
"Rasanya sangat sakit ketika hubungan kalian tidak jelas ke arah mana, apalagi alasanmu begitu klise, jika kau takut kehilangan orang yang kau cintai maka sejak awal jangan mencintainya!" tegas Kath.
Vika sudah menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Tito. Beberapa waktu lalu, Tito melamarnya dengan sangat romantis, Tito sudah mempersiapkan semuanya bahkan ia sampai menyewa sebuah restoran mewah untuk acara lamarannya itu.
Dengan percaya diri ia melamar Vika, namun jawaban yang diterimanya adalah jawaban yang tidak jelas.
"Aku mau menikah, tetapi tidak sekarang mungkin suatu saat nanti, aku masih ingin fokus dengan karirku,"
Begitulah jawaban menggantung yang diberikan oleh Vika.
Hingga beberapa kali Tito menanyakannya, dan jawaban Vika tetap sama, ia memang mencintai Tito tapi belum berencana untuk menikah dengan pria itu, padahal dari segi umur mereka sudah cocok untuk menikah.
Tito berusaha bersabar, namun beberapa hari belakangan Vika malah menghindari dirinya, saat ditanya Vika hanya beralasan dia sedang lelah jadi tidak punya waktu untuk bertemu.
Hingga beberapa hari lalu mereka bertengkar hebat di dalam mobil. Tito sudah tidak bisa menahan amarahnya hanya bisa pergi dari hadapan gadis itu sebelum ia lepas kendali dan malah menyakiti hati gadisnya.
Vika menangis terus menerus, ia tak berani mengungkapkan rasa takutnya kepada Tito, ia sangat takut kehilangan orang yang dicintainya setelah kehilangan adik kecilnya yang sangat disayanginya.
Ia takut ia akan ditinggalkan ketika sedang sayang-sayangnya sama seperti adik kecilnya yang malang.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kath.
"Hiks...hiks..aku...a..aku tidak tahu, aku bingung, aku takut,aku takut kehilangannya tapi aku takut jika aku akan ditinggalkan suatu saat nanti saat aku sedang sangat sayang padanya, sama seperti adikku yang malang," tangis Vika tersedu-sedu.
Sesungguhnya ia juga merasa sangat sakit dengan keadaan mereka saat ini. Hubungannya sedang renggang dengan kekasihnya, di satu sisi ia tak mau kehilangan Tito namun disisi lain dia masih trauma.
"Ck...justru ketika situasi seperti inilah kakak akan kehilangan kak Tito!" kesal Arta.
"Kumohon bicaralah dengannya, jangan sampai kalian saling menyakiti," pinta Karina dengan wajah memohon.
Vika menatap mereka satu per satu, ia sadar seharusnya ia tak boleh menggantung hubungan mereka seperti saat ini, Tito mencintainya dan dia juga mencintai pria itu.
"Aku akan bicara dengannya," ujar Vika.
"Kuharap kalian kembali seperti dulu, jangan saling menyakiti," ucap Kath.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😊😉😊