Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
The truth


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 malam, Vika dan Tito sudah kembali ke apartemen mereka masing-masing. Samuel juga sudah pulang ke rumah sejak pukul 19.00 tadi.


"Kenapa belum tidur kak?" tanya Arta yang tengah mengambil air minum untuk si kembar pada Samuel yang sedang duduk di meja makan.


"Belum ngantuk dek, ini bentar lagi mau lanjut kerja" balas Samuel.


"Jangan terlalu larut kak, gak baik buat kesehatan. Ya udah aku ke tempat si kembar duku ya kak" balas Arta.


"Iya dek" jawab Samuel.


Samuel beranjak menuju ruang kerjanya, tampak disana berkas-berkas menumpuk dan siap untuk dikerjakan.


Samuel duduk di kursi kerjanya sambil memijit pelipisnya melihat setumpuk tugas yang belum selesai itu.


"Gini amat hidup gue, hufft ya sudah semangat Samuel, kita selesaikan semua sekarang" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Tak beberapa lama, Arta dan Arkan masuk ke dalam ruang kerja Samuel yang memang terbuka, hanya dibatasi oleh beberapa lemari kecil sehingga menjadi seperti sebuah ruangan .


"Kak Sam, ini kopinya" ucap Arta memberikan segelas kopi kepada Samuel.


"Loh eh makasih dek, kenapa kalian belum tidur?" tanya Samuel.


"Mana bisa gue tidur kalau Lo kerja terus begini" ucap Arkan sambil memposisikan dirinya duduk di dekat meja kerja Samuel dan meneliti beberapa dokumen.


"Gue gak apa apa kali Arkan, " ucap Samuel tak enak hati.


"Gak apa-apa gimana? ini banyak banget mana ribet lagi. Udah gak usah banyak omong gue bantuin Lo" ucap Arkan langsung melakukan pekerjaannya.


"Arta kamu tidur aja dulu, biar aku sama Kak Sam yang urus ini" ucap Arkan menatap Arta.


"Nggak kak, Arta ikut bantuin. Sidah biasa ngurus yang beginian, biar cepat kelarnya" ucap Arta sambil mengambil posisinya di samping Arkan dan menganalisis dokumen bagian keuangan.


"Jadi ngerepotin nih, biar kakak aja, kalian tidur gih" ucap Samuel menatap mereka berdua tak enak karena jadi mengganggu waktu istirahat mereka.


"Gak usah bandel kak!" ucap Arkan dan Arta bersamaan tanpa menoleh ke Samuel dan tetap fokus pada pekerjaan masing-masing.


"Eh...i..iya deh, makasih" ucap Samuel kikuk.


Akhirnya mereka mengerjakan semua pekerjaan itu dengan cepat dan tepat. Apalagi kemampuan analisis dan konsentrasi Arkan dan Arta yang tinggi membuat semua masalah terselesaikan dengan baik.


"Wah, Parah hebat kalian berdua! berkas ribet begini bisa selesai gak nyampe satu jam" ucap Samuel berdecak kagum dengan kemampuan kedua adiknya itu.


"Kakak juga hebat bisa ngehandel perusahaan sebesar itu." balas Arta memuji kemampuan Samuel.


"Eh....heheheh biasa aja dek" ucap Samuel malu karena dipuji oleh adik iparnya.


"Kak Sam, gimana perkembangan perusahaan?" tanya Arkan yang memang tak pernah memunculkan dirinya di perusahaan orangtuanya itu dengan alasan ia punya perusahaan sendiri yang harus diurus.


"Lo datang dong ke kantor biar tau" ucap Samuel menatap Arkan datar.


"Ya elah malas gue kak, " ucap Arkan dengan entengnya.

__ADS_1


"Kampret Lo Arkan! perusahaan setidaknya sudah mulai berjalan normal, tapi gue udah catet siapa-siapa aja yang jadi penghianat di perusahaan kita" ucap Samuel dengan tatapan penuh kemarahan.


"Kak, berhubung kita punya masalah yang sama, gimana kalau kita kerjasama saja untuk menjebak orang-orang itu" usul Arta.


"Gimana caranya Ar?" tanya Arkan.


"Hmmm...ta...tapi sebelum itu Arta mau jujur kak" ucap Arta menundukkan kepalanya.


Tampak keraguan dalam raut wajah Arta, entah kebenaran apa yang ingin ia sampaikan.


Flashback


"Halo kak Roki!" ucap Arta melalui telepon.


"Eh halo adek kakak, kakak rindu banget nih" balas Roki.


"Arta juga kak, kakak gimana sama Karina?lancar kan? perusahaan Arta aman kan? perusahaan papa Mama juga aman kan?" tanya Arta beruntun sebab sudah beberapa Minggu ia tak mengurus perusahaannya itu.


"Kamu ini nanyanya banyak banget, tenang semua aman kok dek" ucap Roki.


"Kamu ada apa nelpon kakak?" tanya Roki.


"Hmmm kak, Arta bisa ngomong sama kak Kart nggak? ini masalah Blood Tears" ucap Arta ragu-ragu.


"Ohh, kirain ada apa ya udah tunggu bentar ya. Jangan dimatiin panggilannya" jawab Roki.


"Oke kak"


"Ha..halo" panggil seorang laki-laki dengan suara berat khas milik Kart alter ego Roki.


"Kakak!!!" teriak Arta.


"Eh kenapa teriak nona manis?" tanya Kart yang kini menguasai tubuh Roki.


"Tuan tampan, nona manis merindukan tuan tampan" ucap Arta.


"Hahahhahah, bilang sama biar tuan tampanmu ini bisa beraktivitas di siang hari" balas Kart dengan tawa keras khas miliknya.


"Eheheh, kak giman situasi markas?" tanya Arta to the point.


"Markas sejauh ini aman, tapi kami menemukan beberapa kejanggalan di perusahaan mertua kamu juga beberapa perusahaan lain termasuk Star dan Mars Company" ucap Kart.


"Ada apa kak?" tanya Arta serius.


"Sepertinya ada mata-mata yang menyusup Ar. Menurut tebakan gue, mereka anggota Shark Monster" ucap Kart.


"Masih berani mereka main curang dengan perusahaan besar ya" ucap Arta mengetatkan rahangnya.


"Sebaiknya Lo hati-hati Arta, jangan sampai orang-orang itu tahu lo ketua Blood Tears. gue takut anak-anak lo jadi sasaran" tegas Kart.


"Iya kak, tapi apa sebaiknya Arta kasih tahu ke kak Arkan ?" tanya Arta.

__ADS_1


"Sebenarnya lebih cepat lo kasih tahu lebih baik. Masalah Arkan memutuskan bagaimana itu nanti yang penting lo harus jujur dan siapin hati Lo buat nerima semua konsekuensinya" tegas Kart.


"Hah....baiklah kak, Arta bakal kasih tahu. Arta gak mau kak Arkan kecewa, setidaknya sebelum semuanya terlambat Arta udah jujur" ucap Arta Lesu.


" Iya Arta, Lo yang semangat dong masa nona manis bisa kalah sama perasaan begini" ejek Kart.


"Cih apaan sih kak, Arta sumpahin kalian bucin sebucin bucinnya!" ucap Arta kesal lalu mengakhiri panggilannya.


"Hahah, dimatiin untung Adek gue. Kalau nggak udah gue cincang" ucap Kart.


Flashback end


Selama beberapa hari Arta memikirkan apa yang harus ia sampaikan perihal identitas aslinya.


Dan hari ini ia memutuskan menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya terlepas dari konsekuensi yang akan dia terima nantinya.


Entah Arkan akan meninggalkannya atau tidak, akan lebih baik jika ia jujur sekarang.


"Kamu mau jujur tentang apa Ar?" tanya Arkan penasaran.


"Iya bolang aja dek" ucap Samuel yang juga penasaran melihat wajah serius adik iparnya itu.


"Ku harap kalian bisa mendengarkan dengan baik, apa yang Arta sampaikan ini mungkin akan mempengaruhi rumah tangga kita kak" ucap Arta menatap Arkan dengan tenang.


"Setelah mendengar ini, keputusan apapun yang kalian ambil Arta akan menerimanya. Arta sebenarnya ikut dunia bawah kak" ucap Arta dengan tenang.


"Apa !!!" sontak Arkan dan Samuel terkejut dengan pengakuan Arta.


"Maksudnya gimana Ar?" tanya Arkan terkejut. Ia tak menyangka jika istrinya berhubungan dengan dunia bawah.


"Arta Ketua kelompok Mafia Blood Tears" ucap Arta tanpa keraguan lagi.


Arkan dan Samuel begitu shock dengan kebenaran yang disampaikan oleh Arta tadi.


"Ar, gu..gue keluar dulu" ucap Arkan shock.


"Bentar ya Ar, kita tenangin diri dulu" ucap Samuel beranjak keluar mengikuti Arkan.


Sementara Arta sudah tertunduk lemas, ia melihat ekspresi shock mereka tadi. Air mata Arta mulai membasahi pipinya, keputusan yang dibuat nya untuk membongkar identitasnya akan menentukan nasib rumah tangganya.


.


.


.


.


.


next

__ADS_1


__ADS_2