Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Pak Kus


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 7 malam, Arkan dan Arta telah tiba di kediaman Whitegar. Mereka menghampiri anak kembar mereka yang tengah asik menonton serial Kartun bersama Pak Kus.


Hal yang sangat langka terjadi, Pak Kus yang biasa memasang wajah datar dan dingin tertawa terbahak-bahak bersama si kembar di tengah ruangan itu.


Pelayan lain yang bekerja disana begitu terkejut mendengar tawa Pria 38 tahun itu.


"Wah Pak Kus tawanya besar sekali hahahah, seperti suara raksasa di film itu hahahah," tawa Jeni kecil yang sedang duduk di atas pangkuan Pak Kus sambil mengunyah cemilannya.


"Adik jangan berserakan makannya, nanti pelayan capek bersihinnya," gerutu Josua sambil mengambil cemilan Jeni yang berserakan di atas sofa yang mereka duduki.


"Eheheh....iya maaf Abang," balas Jeni.


"Gak apa apa tuan, itu sudah tugas pelayan di rumah ini," ucap Pak Kus seraya mengelus kepala pria kecil itu.


"No Pak Kus, tetap gak boleh itu namanya gak punya etika," ucap Josua sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Tuan memang Abang yang hebat!" ucap Pak Kus seraya menunjukkan dua jempolnya ke hadapan Josua.


"Iya dong, Josua kan Abang heheh," jawab Josua dengan bangga.


"Wah Pak Kus ternyata tidak jadi kepala pelayan es batu lagi ya hahahah," ledek Arkan yang baru saja tiba dari pertemuan mereka di kantor Whitegar.


"Eh...tuan, nyonya selamat malam!" sapa Pak Kus kikuk seraya menurunkan Jeni dari pangkuannya.


"Mama? Papa?" ucap Jeni kecil memiringkan kepalanya bingung. Sementara Josua sudah berlari kegirangan menghampiri orangtuanya itu.


"Papa!! Mama!!" teriak Josua sambil merentangkan tangannya yang disambut oleh Arta dan Arkan.


Cup cup


Josua mengecup pipi kedua orangtuanya bergantian, sementara itu Jeni hanya diam masih dengan kepalanya yang miring, entah apa yang dipikirkan gadis cilik itu.


"Wah Papa tampan sekali, Mama juga cantik sekali hehehehh," puji Josua masih dalam pelukan Arta dan Arkan.


"Terimakasih sayang, muahhh," balas Arta dengan kecupan di kening pria kecil itu.


"Jeni kenapa?" tanya Arkan seraya berdiri menggendong Josua.

__ADS_1


Mereka semua menatap Jeni yang masih melamun, Pak Kus saja sampai heran dibuatnya, sebab sedari tadi Jeni sangat cerewet tapi tiba-tiba diam begitu Orangtuanya datang.


"Jen? Sayang? kenapa hmm?" tanya Arta menghampiri Jeni.


"Eh...Mama hehehh, Jeni kagum, Papa ganteng banget dan Mama cantik sekali , Jeni suka Jeni suka sekali hahahah, Jeni mau jadi seperti Mama kalau udah besar dan punya suami seperti Papa, tampan dan baik hati hahahaha," celetuk Jeni tersadar dari lamunannya.


"Hahahahahah, ada- ada saja kamu Jen, Mama pikir kenapa tadi," ucap Arta sambil mencubit gemas pipi tembem gadis kecil itu.


"Hahahah, Jeni sayang kamu akan tumbuh cantik seperti Mama, dan Abang Josua akan jadi pria tampan seperti Papa," ucap Arkan sambil duduk di sofa bersama Arta dan Jeni.


"Pak Kus terimakasih telah menjaga mereka," ucap Arta sambil tersenyum ramah pad Pak Kus.


"Sudah tugas dan kewajiban saya Nyonya," ucap Pak Kus sambil menunduk hormat.


"Kami benar-benar berterimakasih Pak Kus, undanglah keluarga Anda kemari, saya ingin bertemu dengan mereka," ucap Arta lembut.


"Iya Pak Kus, undang mereka pasti menyenangkan bertemu dengan dua jagoan kecil Anda, Jo dan Jen bisa punya teman baru dan aku ingin mereka tinggal disini supaya Pak Kus bisa memantau mereka," tambah Arkan yang membuat Pak Kus terharu, betapa pedulinya tuannya itu pada dirinya yang hanya seorang mantan jenderal yang cacat.


Pak Kus mengalami kecelakaan 10 tahun lalu saat bertugas di pangkalan militer, kaki kanannya menggunakan kaki palsu. Ia selamat berkat bantuan Mr. George di masa lalu, mereka membiayai seluruh pengobatan pria itu dan memberikan perawatan terbaik,sehingga ia bisa berjalan normal meskipun menggunakan kaki palsu.


Istrinya menceraikannya begitu tahu bahwa suaminya cacat dan tidak memiliki uang sepeser pun akibat tertipu. Ia meninggalkan kedua buah hati mereka berjenis kelamin Laki-laki yang baru berusia 2 tahun dan 5 bulan dan hilang tanpa jejak.


Sesekali, ia akan membawa mereka berkunjung kesana, Keluarga Whitegar sangat menyukai kehadiran mereka.


"Ta..tapi tuan," ucap Pak Kus tersengal.


"Tidak ada tapi-tapian Pak Kus, kau tau aku tak menerima penolakan bukan?" ucap Arkan tegas.


"Bawalah mereka Pak Kus, mereka juga pasti ingin hidup berdampingan dengan ayahnya," tambah Arta meyakinkan.


"Baik tuan, nyonya terimakasih atas kebaikan Anda," ucap Pak Kus sambil menunduk hormat.


"Tak usah sungkan Pak Kus, kita keluarga disini," ucap Arta yang membuat Pak Kus terharu, bahkan pelayan lain yang mendengar mereka saat itu ikut terharu.


"Baik sekali nyonya muda, rumah ini pasti akan diberkahi dengan kebahagiaan," ucap seorang pelayan.


"Kau benar, aku menyukai majikan kita mereka orang-orang baik," sahut yang lain.

__ADS_1


Mereka mengakhiri obrolan mereka dan melaksanakan makan malam setelah membersihkan diri terlebih dahulu. Makan malam selesai dengan hikmat tanpa ada pembicaraan apa pun.


Samuel masih belum kembali dari Makan malam perusahaan.


Arta dan Arkan masuk ke dalam kamar si kembar. Terlihat Mereka tengah bermain dengan mainan mereka.


"Sayang, Mama dan Papa boleh masuk?" tanya Arta seraya mengintip keduanya dari balik pintu yang dibuka sedikit.


"Mama, Papa mari masuk!" ucap Josua menghampiri kedua orangtuanya dan menarik tangan mereka memasuki ruangan itu.


"Kenapa nggak langsung masuk aja, Pa, Ma?" tanya Josua heran.


"Hmmm Mama sama Papa mau ngasih contoh yang baik buat anak-anak kami ini. Kalau mau masuk ke ruangan orang lain kalian harus permisi atau paling tidak ketuk pintunya," ucap Arta menghampiri mereka berdua dan duduk di atas karpet tempat mereka bermain.


Arkan menatap istrinya dengan bangga, ia begitu bahagia mendapatkan seorang istri yang lembut, baik, berani dan kuat seperti Arta.


"Ohh begitu ya Ma, tapi kalau Papa Mama masuk kamar kita gak usah permisi, masuk aja gak apa-apa kok," celetuk Jeni sambil mengangkat cangkir mainannya dan memberikannya pada Arkan.


"Sayang, kita harus membiasakan yang benar, Papa gak mau kalian melihat contoh yang buruk dan menirunya," ucap Arkan masih memegangi cangkir kecil itu di tangannya.


"Papa Benar!!" celetuk Josua.


"Heheh iya deh iya," kekeh Jeni sambil seolah-olah menuangkan minuman ke dalam cangkir Arkan. Arkan berpura-pura meminumnya.


"Hmm enak sekali tuan putri Jeni," seru Arkan.


"Hahahaha......papa main rumah teh jadi lucu ya," tawa Josua saat melihat akting Papanya.


"Asal kalian tahu, Papa cuma bisa begitu di hadapan kita, kalau di hadapan orang lain, Papa itu berkarisma sekali hahah," timpal Arta diikuti kekehan kecil dari bibir cantiknya.


"Hush...jangan buka kartu sayang," ucap Arkan sembari menggaruk tengkuknya karena malu dengan kebenaran yang diungkap istrinya.


Bagaimana mungkin seorang CEO sekaligus ketua mafia bermain rumah-rumahan, sungguh membuat martabatnya hancur. Tapi tak apalah demi si buah hati, manis sekali mereka ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2