Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
mangga muda


__ADS_3

"Papi, Mami!" panggil Jeni yang mengintip dari balik tirai, gadis kecil itu sungguh penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.


"Nak, kenapa sembunyi disitu? kemarilah," ucap Arkan lembut sedangkan Arta sudah dalam posisi duduk ia tersenyum melihat putri kecilnya yang sangat menggemaskan.


"Hmmm apa boleh?" tanya Jeni sedikit ragu pasalnya suster mengatakan bahwa mereka tidak boleh masuk sembarang.


"Kemarilah sayang," ucap Arta.


Jeni berjalan dengan senyuman manis di wajahnya lalu naik ke pangkuan Arkan. Tiba-tiba Mark, Ziko dan Josua juga ikut masuk bahkan Indah sampai kewalahan karena tak bisa menahan keempat anak yang mulai bosan itu.


"Aduh kak Maaf ya, mereka maksa buat masuk," ucap Indah merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok Indah, ini kita juga udah selesai," jawab Arta.


"Papi sama Mami tadi ngapain?" tanya Jeni penasaran sambil menatap monitor yang ada di ruangan itu sedangkan saudara-saudaranya hanya memperhatikan saja mereka tak ingin membuat keributan.


"Kita tadi jenguk dedek bayinya," ucap Arta lembut.


"Wah benar mi? lalu dedek bayinya dimana? Jeni pengen lihat," celetuk Jeni.


"Abang juga!" seru ketiga pria tampan yang ternyata sangat penasaran dengan adik baru mereka.


"Hmmm sebentar ya Papi tanya ke dokternya dulu," ucap Arkan lalu keluar dari ruangan itu, beberapa saat kemudian ia kembali membawa secarik kertas berupa foto hasil USG yang mereka lakukan tadi.


"Nah kemari kalian lihatlah, ini foto dedek bayinya," ucap Arkan sambil menunjukkan foto itu.


"Wah kecil sekali seperti biji salak, tapi kenapa kecil begitu Papi?" tanya Jeni antusias.


"Hmmm mereka kan batu terbentuk, pasti kecil dahulu sayang, nanti baby-nya akan tumbuh besar di perut Mami selama sembilan bulan setelah itu, kita bisa bertemu baby sayang," jelas Arkan.


"Ohh...jadi seperti pohon ya Papi, awalnya dari biji keciiilll sekali karena diberi pupuk bijinya tumbuh besar dan jadi pohon yang tinggi?" ujar Ziko.


"Benar sayang, dan Papi Mami punya kabar bahagia, kalian punya adik kembar!" seru Arkan .


"Kembar?" ucap mereka terperangah.


"Iya sayang, kalian senang kan?" ucap Arkan.


"Wah senang Papi," jawab mereka antusias.


"Yayyyy ada baby twins lagi, senang sekali hahahha," ucap Mark kegirangan.


"Sehat-sehat ya baby twin, Mami juga sehat-sehat ya ummah," ucap Josua mengelus perut rata Maminya dan mengecup pipi Arta dengan sayang.


"Terimakasih abang Josua," ucap Arta dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


"Wah selamat ya kak ternyata kembar," ucap Indah yang juga ikut senang.

__ADS_1


"Terimakasih Indah," jawab Arta.


Mereka pun menyelesaikan pemeriksaan mereka dan Arkan dan Arta berdiskusi sedikit dengan dokter kandungan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Ibu hamil, mereka berdua mendengarkan dengan antusias apalagi Arkan yang sangat senang dengan kehadiran baby twin di rahim istrinya, tak sia-sia olahraga yang mereka lakukan setiap malam hingga berbuah baik seperti i ini.


Setelah menyelesaikan konsultasi dan menerima resep vitamin untuk Arta mereka lanjutkan untuk menemani anak-anak ke bagian psikolog anak.


Keempat anak kecil itu menjalani pemeriksaan di dampingi oleh Arkan dan Arta. Mark dan Ziko dalam kondisi yang stabil namun Jeni dan Josua perlu mendapatkan perawatan intensif terutama Josua yang tingkat traumanya lebih tinggi.


"Saya sarankan Josua dan Jeni menjalani terapi untuk menghilangkan trauma mereka tuan, nyonya sebab trauma mereka termasuk trauma berat yang apabila dibiarkan dapat mengganggu kesehatan mental keduanya terutama Josua dia yang paling parah," ucap dokter tersebut.


"Baiklah dok, tolong lakukan semua yang terbaik bagi kedua anak kami, saya mohon berapa pun biayanya akan saya tanggung, berikan perawatan terbaik!" ucap Arkan penuh harap.


"Benar dok, kami ingin mereka segera pulih, karena sangat menyakitkan ketika melihat mereka drop saat bertemu dengan orang-orang jahat itu," tukas Arta dengan air mata yang sudah berlinang.


"Ah jangan menangis nyonya, baik saya akan lakukan yang terbaik," ucap sang dokter menyakinkan.


"Ku beri waktu dua Minggu dok, jika tak ada perubahan maka akan saya ambil tindakan tegas!" ucap Arkan sedikit mengancam membuat dokter wanita itu sedikit ketakutan.


"Saya mengerti tuan!" jawab dokter itu.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi," ucap Arkan dan Arta pamit.


"Ayo sayang, pemeriksaannya sudah selesai," ajak Arta pada keempat anaknya.


"Tante Indah dimana?" tanya Arta mencari keberadaan Indah.


"Ya sudah ayo kita tunggu Indah dan Celo disana, kamu duduk gak boleh capek," ujar Arkan menuntun istrinya.


"Terimakasih sayang," ucap Arta lembut yang dibalas senyuman oleh Arkan.


Tak beberapa lama Indah dan Celo datang dari arah yang sama, "Kenapa kalian bersama?" tanya Arta.


"Kebetulan aja kak," jawab Celo santai.


"Bagaimana pemeriksaan kakak? janinnya baik-baik saja kan? kakak juga kan?" tanya Celo.


"Kami baik Cel, dan kau tahu mereka kembar Cel," ujar Arta dengan bahagia.


"Wah selamat ya kak, cewek apa cowok kak atau sepasang ya?" tanya Celo antusias.


"Bro kalau baru dua Minggu jenis kelaminnya belum keliatan, tunggu lima atau enam bulan lagi baru jelas," tutur Arkan.


"Ohhh....ya Celo kan gak tau kak," ujar Celo sambil garuk-garuk kepalanya.


"Habis ini kalian mau kemana? mau langsung pulang atau gimana?" tanya Celo.


"Heummm kak Aku pengen jalan-jalan deh sama anak-anak boleh kan?" tanya Arta penuh harap.

__ADS_1


"Kamu yakin sayang? aku gak mau kamu capek loh," ujar Arkan.


"Kan ada kamu heheh," ujar Arta cengengesan.


"Kamu udah pinter sekarang ya, ya udah kita jalan-jalan tapi kemana sayang?" tanya Arkan.


"Hmmm Arta pengen jalan-jalan di Perusahaan heheheh," ujar Arta yang langsung membuat Arkan dan yang lainnya terkejut, mereka pikir jalan-jalannya ke taman, mall atau pusat hiburan eh ini malah minta ke perusahaan.


"Kalau ke perusahaan bukan jalan-jalan sayang, itu namanya kerja kamu ini ada ada saja," celetuk Arkan.


"Eheheheh, gak tau kenapa mungkin bawaan baby-nya aku pengen banget keliling-keliling perusahaan, gimana boleh ya tapi sambil makan rujak mangga muda pasti seger boleh ya kak please," pinta Arta.


"Rujak mangga muda wah sepertinya enak, boleh kok sayang, ya udah kita cari dulu rujak baru ke perusahaan," ujar Arkan.


"Bagaimana dengan anak-anak kak Arta?" tanya Celo.


"Ya ikut dong," ucap Arta dan Arkan kompak.


"Baiklah, ya sudah ayo berangkat, Indah kamu sama Celo ya, kalau dia apa-apain sama Celo langsung telpon kakak!" ujar Arkan.


Indah diminta oleh Arkan dan Arta untuk tinggal bersama mereka, sebab mereka tahu gadis itu tidak punya tempat tinggal selain di rumah Sanjaya, belum waktunya bagi gadis itu untuk membalas semua perbuatan jahat keluarga angkatnya itu.


Arkan menjalin kerjasama dengan Sanjaya Grup karena mereka perusahaan tambang terbesar, kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan bekerjasama dengan perusahaan itu lebih tinggi, selain itu mereka menerima segala persyaratan yang diajukan oleh Sanjaya Grup.


Arkan dan rombongannya berangkat menuju perusahaan, seperti yang dikatakan Arta tadi mereka terlebih dahulu singgah membeli rujak yang diminta oleh Arta tadi, saat membeli rujak ternyata rasanya enak akhirnya Arta dan Arkan memborong semua rujak milik tukang rujak itu, rencananya mau dibagi-bagi oleh si bumil.


"Hmmm nyamm... nyamm enak banget kak, kalian gak mau nak?" tanya Arta terus mengunyah rujaknya yang sangat asam dan pedas, bahkan Arkan juga ikut makan dan ketagihan.


"Asem Mami pedes lagi, Mami kok kuat makannya?" ucap Mark yang memilih memakan buah yang lain daripada rujak mangga muda yang dibeli Arta.


"Hehheeh, baby twin pengen," jawab Arta terkekeh.


"Sayang minta lagi dong, kok enak ya?" ucap Arkan sambil membuka mulutnya, kini ia sedang mengemudikan mobil sambil memakan rujak yang disuapi oleh Arta.


"Aaaaa....enak kan," ucap Arta menyuapi Arkan, yang langsung dianggukkan oleh pria tampan itu.


"Wah Papi juga kuat banget makannya, Josua gak sanggup ini asem banget huekkk," seru Josua yang menyerah dengan mangga muda dan beralih ke jambu air yang lebih segar dan ringan.


Sedangkan Ziko dan Jeni malah tertidur tanpa menyentuh buah yang dibeli dan sudah dipotong potong itu.


"Stooopp....." teriak Arta membuat Arkan mengerem Mobilnya tiba-tiba, untung saja mereka tangan Arkan sigap menghalangi tubuh Arta jika tidak, mungkin saja kepala ibu hamil itu sudah memar sekarang.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2