
Arkan bersama Tito dan Vika memilih makan siang di Star Cafe setelah mengurus beberapa masalah yang mengganggu mereka beberapa hari ini.
"Ar lo gak nelpon istri Lo? udah tiga hari Lo gak pulang, entar dia khawatir lagi" tegur Vika.
"Gue mau kasih surprise Vik, Lo sama Tito bantuin gue ya hari ini. Gue ngerasa bersalah banget ninggalin dia gak ada kabar" ucap Arkan lesu.
"Lo sih pake acara nabrak cewek itu lagi kan jadi besar urusannya!" gerutu Vika atas kebodohan Arkan.
"Ya gue juga gak lihat tu cewek murahan di depan mobil gue" balas Arkan kesal.
"Ya udah habis sarapan kita langsung temui istri Lo, gue bantu jelasin entar" ucap Vika menggandeng tangan Arkan masuk ke dalam Cafe itu.
"Gue pesan dulu ya" ucap Tito meninggalkan mereka berdua disana.
"Eh by the way tu cewek murahan gimana nanti?" tanya Vika.
"Dia gali lobang dia sendiri, ya dia tanggung akibatnya dong karena ngerayu suami orang" ketus Arkan mengingat kejadian yang menyebabkan ia tak bisa pulang selama tiga hari.
"Hahahah Lo hebat Ar!" ucap gadis itu pada Arkan.
"Beruntung kita bisa manfaatkan cewek itu" balas Arkan.
Saat tengah berbincang dengan posisi Vika menggenggam tangan Arkan tiba-tiba mereka mendengar teriakan seorang wanita memanggil Arkan.
"Kak Arkan!!" teriak perempuan itu lalu berlari meninggalkan mereka disana.
"Itu siapa Ar?" tanya Vika.
"Waduh itu Arta" ucap Arkan panik.
"Udah sana kejar! kok malah nge lag Lo ah keaal gue!!" bentak Vika bangkit berdiri karena melihat Arkan terdiam di tempat duduknya.
Vika berlari mengejar Arta yang tengah menangis. Arta berlari menuju mobilnya dengan air mata berurai. Sungguh ia kecewa dengan suaminya yang ia khawatirkan selama beberapa hari ini.
"Arta gak nyangka Kak Arkan bakal begini hiks hiks hiks" tangisnya sambil membuka pintu mobilnya sampai seorang perempuan yang duduk bersama Arkan memanggil Arta.
"Hey Lo Arta kan?" ucap gadis itu namun tak digubris oleh Arta.
Arkan datang menghampiri Arta dengan raut wajah gusar karena takut Arta akan salah paham.
__ADS_1
"Ar, kamu mau kemana?" tanya Arkan memegang tangan Arta.
"Pulang!" ucap Arta datar sambil menepis tangan Arkan.
"Ar, kita bisa ngomong bentar?" pinta Arkan kembali menahan tangan Arta.
"Ngomongin apa hah!!! ngomongin hubungan kalian!!!" bentak Arta tak bisa lagi menahan emosinya.
"Ar biar kakak jelasin" ucap Arkan memohon sementara Vika menyingkir menyaksikan perdebatan pasangan suami istri itu.
"Jelasin apa sih kak, kan udah jelas kalau Arta gak berharga sama Kakak! kenapa berubah lagi cara ngomongnya kemarin pakek "Lo gue" kok! terus kemarin Kakak telponan sama siapa bilang bilang kangen sama cewek ?? waktu Arta tanya kakak bilang temen!!" teriak Arta.
"Kakak bilang perginya bentar, tapi apa tiga hari gak pulang itu sebentar hah!!? kakak gak bisa dihubungin, kakak juga gak berusaha buat ngabarin Arta apa Arta gak penting? apa cuma Arta yang taruh kakak jadi prioritas?? "
"Kakak pikir Arta gak khawatir suami Arta gak pulang selam tiga hari, Arta udah mikir macam-macam Arta takut kakak kenapa-kenapa! tapi apa?"
" kakak malah santai santai disini bareng cewek lain hiks hiks hik" ucap Arta menangis tersedu-sedu menjelaskan kegusaran hati dan kekecewaannya selama tiga hari ini.
"Arta check up aja kakak gak nemenin, anak-anak tanya papanya dimana Arta jawab apa coba hiks hiks hiks" tangis Arta semakin menjadi-jadi, ia tak peduli lagi jika menjadi tontonan orang yang lewat disana.
Arkan tertegun mendengar kata-kata Arta, ia tak menyangka perbuatannya yang sembrono itu malah membuat istrinya kecewa dan melukai hatinya.
Arkan menarik tubuh Arta yang tengah gemetar menangis lalu mendekapnya dengan lembut. Tak ada penolakan disana, Arkan merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan Arta.
"Maaf Maafkan Kakak Maaf Ar" ucap Arkan.
"Hiks hiks hiks kakak Jahat hiks" tangis Arta memukul mukul dada pria itu.
"Lo selesaiin sekarang Arkan gue gak mau di cap Pelakor sama Adik ipar gue sendiri!" ucap Vika datar lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kita ke mobil dulu yok, biar kakak jelasin semua" ucap Arkan membawa Arta masuk ke dalam mobil.
"Ar kamu percaya kan sama kakak?" tanya Arkan namun tak dijawab oleh Arta yang masih saja menangis.
"Ar, perempuan tadi itu kakak sepupu kakak, dia baru balik dari Kanada beberapa hari yang lalu. Saat pernikahan Vika nggak bisa ikut karena harus ngurus perusahaan Ayahnya." jelas Arkan.
"Perempuan yang nelpon kakak waktu itu juga Vika, kita udah Deket banget serasa saudara kandung. Kakak yang salah nggak jelasin apa - apa ke kamu karena saking senangnya bisa ketemu lagi sama Vika yang udah 3 tahun gak pernah jumpa" tambah Arkan.
"Lalu selama tiga hari kakak kemana?" tanya Arta menatap Arkan dengan mata sembabnya.
__ADS_1
"Waktu itu, kakak ketemuan sama Vika dan Tito asisten kakak. Pas kakak mau balik ke rumah, ada cewek tiba-tiba nyebrang jalan akhirnya kakak berurusan dengan dia, tau-taunya ponsel kakak malah dijambret orang waktu mau ngehubungin kamu bilang kalau kakak gak bisa pulang" ucap Arkan.
"Cewek yang kakak tabrak itu minta pertanggungjawaban, dia malah fitnah kakak mau memperkosa dia. Akhirnya kakak malah dibawa ke kantor polisi, beruntung Vika dan Tito nemanin kakak. Akhirnya kami bisa selesaikan masalah itu" jelas Arkan.
"Lalu perempuan itu dimana kak?" tanya Arta.
"Dia udah dijebloskan ke penjara, ternyata selama ini dia salah satu buronan polisi yang banyak menipu pria pria di luar sana dengan modus pura-pura ditabrak. Kakak sengaja nggak ngabarin kamu takutnya kamu malah khawatir karena masalahnya cukup rumit dan kita harus cari bukti dan saksi selama tiga hari ini" jelas Arkan.
Arta hanya diam, ia kesal sekaligus lega mendengar cerita Arkan. Kesal karena perempuan yang menggoda suaminya dan lega karena tak terjadi apa-apa dengan Arkan.
"Ada yang perlu kakak jelasin lagi?" tanya Arkan menatap Arta yang dibalas gelengan kepala oleh wanita itu.
"Maaf ya udah buat kamu nangis" ucap Arkan memeluk Arta dengan erat.
" Arta juga minta maaf udah mikir yang nggak-nggak hiks hiks hiks" ucap Arta kembali menangis.
"Husshh jangan nangis lagi dong, kan Kakak udah jelasin" ucap Arkan mengusap air mata istrinya.
"Arta takut kakak kenapa kenapa,kalau kakak pergi ninggalin Arta dan anak-anak, kami gimana nanti? hiks hiks hiks" ucapnya lirih.
"Maaf sayang maaf, dan terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku mencintaimu!" ucap Arkan mengungkapkan perasaannya.
"Be beb..benarkah kak?" ucap Arta tak percaya.
"Iya sayang, Aku mencintaimu dengan segenap hatiku,maaf baru bilang sekarang" ucap Arkan mengecup kening Arta dengan lembut.
"hiks hiks hiks Arta juga mencintai Kakak" ucap Arta mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
"Terimakasih, terimakasih banyak sayang!" ucap Arkan terkejut mendengar perasaannya disambut oleh Arta.
Arkan menatap manik Arta dengan lembut, dibelainya wajah cantik istrinya itu.
"Wajahmu" ucap Arkan tertegun menatap perubahan pada wajah istrinya.
"Iya kak,Arta udah sembuh" balas Arta dengan senyuman termanisnya.
Arkan membelai lembut wajah istrinya itu, menatap setiap inci wajah cantik rupawan sang istri.
Entah siapa yang memulai, kini mereka tengah saling berpagutan menyalurkan semua rasa yang terpendam selama ini. Konfirmasi cinta keduanya menguatkan perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1