
"Ayo kita sarapan pagi, makanan sudah siap!" ucap Arta sambil menggandeng tangan si kembar di kiri dan kanan, sementara Ziko menggandeng tangan Jeni dan Mark memegang tangan Josua.
"Kalian ikut bersama kami!" titah Arta pada 3 pelayan itu.
"Baik nyonya," ucap mereka bertiga sopan.
Mereka semua berjalan menuju meja makan, di atas meja makan sudah tersedia berbagai hidangan yang dimasak oleh Arta sejak bangun tadi.
"Ma, Papa belum bangun ya?" tanya Josua yang duduk di samping Arta.
"Papa kalian..eh itu Papa," ucap Arta menunjuk Arkan yang baru tiba dari perjalanannya.
"Selamat pagi sayang cup," sapa Arkan mengecup kening istrinya lalu bergantian mengecup pipi si kembar.
"Selamat pagi Papa!" sapa mereka bertiga ceria.
"Selamat pagi tuan," sapa ketiga pelayan yang berdiri di belakang mereka.
"Pagi,"
"Selamat pagi tuan," sapa Mark dan Ziko berdiri sambil menundukkan kepalanya hormat pada Arkan majikan Papa mereka.
"Selamat pagi jagoan, kapan kalian tiba? sudah kenalan dengan istri Om?" tanya Arkan pada mereka.
"Sudah tuan," jawab keduanya masih menunduk.
"baguslah, ayo duduk jangan berdiri seperti itu," ucap Arkan lembut.
"Permisi tuan, nyonya saya mau mengajak Mark dan Ziko makan di belakang," ucap seorang pengasuh yang ditugaskan oleh Pak Kus merawat Mark dan Ziko.
"Mark, Ziko kemari jangan duduk disana!" hardik pelayan itu membuat Arkan dan Arta saling menatap heran.
"Ba..baik," ucap keduanya terbata.
"Biarkan mereka disini!" titah Arkan dengan suara tegas miliknya.
"Tapi tuan Pak Kus meminta saya untuk membawa mereka," balas pelayan itu dengan berani sambil memandang wajah Arkan dengan tatapan aneh.
"Siapa wanita ini? kenapa gerak-geriknya mencurigakan," gumam Kath menatap risih pada pelayan itu.
"Pak Kus!!" panggil Arkan.
"A..ada apa tuan?" tanya Pak Kus sedikit berlari, ia memandang kedua anaknya yang menunduk di hadapan Arta dan Arkan.
"Mark, Ziko! kemari kenapa kalian disana!" panggil Pak Kus.
"Biarkan mereka disini!" titah Arta dengan suara agak meninggi Pak Kus bergidik ngeri mendengar suara dengan aura yang berbeda itu.
"Siapa dia?" tanya Arkan menunjuk pengasuh itu.
"Dia Lina tuan, pengasuh Mark dan Ziko," ucap Pak Kus sopan.
"Baiklah, Lina kau boleh pergi Mark dan Ziko akan bergabung dengan kami!" titah Arkan.
"Ta..tapi tuan," ucap Lina terputus.
"Pak Kus!!" ucap Arkan lagi.
"Lina sudah biarkan saja, jangan membantah tuan Arkan, mulai hari ini kau bekerja di bawah perintahnya!" tegas Pak Kus.
"Baik tuan saya undur diri," ucap Lina sopan.
__ADS_1
"Nak duduklah, jangan menunduk terus nanti leher kalian sakit," tegur Arta.
"Terimakasih bunda," ucap mereka berdua sambil tersenyum.
"Bunda?" ucap Pak Kus dan Arkan bersamaan.
"Nak tidak sopan begitu!" ucap Pak Kus.
"Biarkan Pak Kus, mereka juga akan jadi anak asuhku!" tegas Arta.
"Apa Pak Kus keberatan?" tanya Arta dengan tatapan menusuk pada Pak Kus.
"Ah tidak nyonya, justru saya merasa tidak enak," ucap Pak Kus.
"Biarkan saja Pak Kus, tapi kalian harus memanggilku Ayah karena bunda kalian itu istriku!" ucap Arkan tak mau kalah.
"Ck...kau ini cemburuan sekali," ledek Arta.
"Heheheh, aku juga suka anak-anak loh sayang," balas Arkan sambil terkekeh.
"Bagaimana? kalian mau kan? ini Ayah Arkan dan Bunda Arta dan pria itu Papa kalian!" ucap Arkan pada Mark dan Ziko yang malah diam menatap mereka.
"Mau kan nak?" tanya Arta lagi.
"Eh..i..iya mau kok Bun, Yah," ucap Mark malu-malu.
"Nah bagus kalau begitu, dengar kan Pak Kus mereka mau," ucap Arkan bangga.
"Hahahahah...terserah Anda saja Tuan," kekeh Pak Kus membuat semua orang menatap pria itu senang, sebab selama ini Pak Kus jarang tertawa seperti itu.
"Yeii Pak Kus manusia Super tertawa hahahhaha," celetuk si kembar.
"Cih kau juga baru bangun Kak Sam!" ledek Arkan.
"Hehehe, sudah ayo makan!" ucap Samuel.
"Kalian bertiga duduklah, kita makan bersama, Pak Kus juga duduk sana, kasihan sudah tua tapi harus berdiri seperti itu," ledek Samuel membuat semuanya tertawa.
Sarapan pagi itu mereka lewati dengan canda tawa, meskipun ada sedikit rasa curiga di hati Arkan dan Arta.
"Cih dasar wanita murahan itu, beraninya dia membentak Pak Kus, apa sih kelebihan wanita itu, aku jelas lebih cantik darinya!!" gumam seseorang yang mengamati mereka dari dekat namun tak terlihat.
Jo dan Jen menatap kedua orangtuanya, seakan tahu apa yang dipikirkan anaknya, Arkan dan Arta mengedipkan mata sebagai kode agar mereka tetap tenang.
...****************...
Di rumah sakit tampak Tito dan Kart mengurus kedua insan yang baru saja sadarkan diri itu, seperti sebelumnya saat Tito dan Karina sakit, mereka berdua juga di rawat di ruangan yang sama untuk menjaga keamanan.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Kart pada Celo dan Indah.
"Keadaanku baik kak, mungkin Indah yang paling parah, karena saat aku tiba disana dia tersungkur di atas tanah," jelas Celo yang memang kondisinya sudah stabil.
"Sa..saya baik tuan, terimakasih telah menyelamatkan saya dan maaf merepotkan kalian," ucap Indah sambil menunduk.
"Hei gadis roti, angkat kepalamu! kau pikir kami penagih hutang ck," kesal Celo.
"Cel jangan kasar padanya, nanti kau jatuh cinta baru tahu rasa!" ucap Kart.
"Apaan sih kak!" ucap Celo kesal.
"Indah, apa kamu masih mau kembali ke rumah Sanjaya?" tanya Tito tiba-tiba.
__ADS_1
Indah menggelengkan kepalanya sambil sekali lagi menunduk dihadapan mereka.
"Hei kubilang jangan menunduk, bicara yang benar jangan geleng-geleng seperti orang gila!" celetuk Celo.
Indah mengangkat kepalanya, menatap ketiga orang itu, ternyata ia menahan tangisannya.
"Waduh jangan menangis, kenapa kau malah menangis gadis roti!" ucap Celo terkejut.
"Sa..saya tidak mau kembali ke rumah itu tuan, mohon bantu saya, saya mau bekerja dengan kalian asalkan saya tidak pulang ke rumah itu, Saya bisa melakukan apa pun terserah kalian saya mohon...huhuhuu," ucap Indah sesenggukan memohon belas kasih ketiga pria itu.
Celo menatap gadis itu, ia merasa sedih melihat wajah memohon gadis itu, persis seperti dirinya dulu saat memohon meminta belas kasihan orang-orang yang lewat di jalan untuk memberikan sedikit makanan baginya.
"Hei tenanglah jangan menangis, sudah ku bilang kan semua akan baik-baik saja," ucap Celo dengan nada lembut.
"Indah, kau akan aman bersama kami, tapi kumohon dengan sangat jangan sampai menghianati kami, kami semua menerimamu atas perintah Arta dan Arkan. Jadi sebelum itu kumohon berjanjilah tidak menghianati kami!" ucap Kart tegas.
"Aku berjanji tuan!" jawab Indah yakin.
"Apa jaminanmu?" tanya Tito tiba-tiba.
"Nyawaku jaminannya tuan!" ucap Indah tegas.
Celo menatap gadis itu dengan seksama.
"Aku yakin kau orang baik Indah!" ucap Celo di dalam hatinya.
"Indah jangan panggil kami tuan, Arkan dan Arta akan membunuh kami jika mendengar mu mengucapkan itu!" ucap Kart.
"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Indah.
"Kakak, panggil kami kakak anggap kami sebagai keluargamu!" ucap Kart lantang.
"Ba..baik kak, terimakasih," ucapnya sambil tersenyum lembut.
"Dalam keadaan seperti ini, gadis roti ini masih bisa tersenyum, luar biasa!" gumam Celo.
"Kalian akan dipindahkan ke mansion Whitegar, dan kamu Indah akan menjadi pelayan bersama yang lainnya. Jangan pernah membuka identitasmu di hadapan pelayan yang ada di mansion itu, dan bersikap profesional lah!" ucap Tito.
"Maksudnya akting kak?" tanya Indah.
"Binggo!!" ucap mereka bertiga.
"Kau ternyata pintar, iya kau harus berakting nanti ku jelaskan kronologis nya di jalan menuju mansion!" ucap Kart yang dianggukkan oleh Indah.
Mereka berempat pun akhirnya keluar dari ruangan itu atas seizin dokter.
Dalam perjalanan, Celo, Tito dan Kart secara bergantian menjelaskan situasi dan kondisi yang akan dihadapi oleh Indah nantinya.
Beruntung Indah adalah gadis yang cukup pintar, ia mengerti dengan cepat. Mengapa mereka bisa sepercaya itu dengan Indah, tentu karena Arta sudah mencari tahu seluk beluk kehidupan gadis itu, dan ia mempunyai firasat yang bagus saat melihat gadis itu.
.
.
.
Like, vote dan komen guys 😊
Stay safe dan patuhi protokol kesehatan guys.
Makan makanan bergizi dan rajin olahraga, tenangkan pikiran dan relax sejenak. semua masalah yang kamu hadapi pasti ada jalan keluarnya,semangat ya😊😊😊😊😊
__ADS_1