Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Restoran


__ADS_3

"Aduh baik banget suamiku, gak usah balik tetap gini aja. Arta percaya kok sama Kakak" jawab Arta sambil tersenyum manis.


"Hahaha sekarang Papa yang malu" ejek si kembar membuat Arkan semakin salah tingkah di hadapan istri dan anak-anaknya.


"Gimana keadaan Kamu?" tanya Arkan mengalihkan pembicaraan.


"Arta baik kak, Sekarang keadaan kakak gimana? udah check kan?" tanya Arta khawatir.


"Kakak sudah pulih total sayang, ini semua berkat kamu dan anak-anak" ucap Arkan tanpa malu lagi melontarkan kata sayang pada istrinya.


" Kakak juga sudah bisa berjalan dengan percaya diri selama kalian disisi kakak. Jo dan Jen juga sudah mulai membaik, Minggu depan mereka akan mendapat dokter baru untuk konsultasi." jelas Arkan.


"Benarkah! syukurlah Kak hiks hiks hiks" ucap Arta terharu.


"Mama jangan nangis dong" ucap si kembar langsung memeluk tubuh Arta.


"Kamu kenapa nangis hmm?" ucap Arkan lembut sambil mengelus pucuk kepala Arta.


"Aku bahagia kak hiks hiks, akhirnya kakak sembuh. Arta juga bahagia punya anak-anak manis seperti Jo dan Jen, Arta bahagia punya keluarga yang menyayangi Arta hiks hiks" ucap Arta menangis sesenggukan karena terharu dengan semua hal baik yang dianugerahkan Tuhan padanya.


"Kita harus bersyukur pada Tuhan, karena dibalik semua penderitaan akhirnya Tuhan kasih kebahagiaan buat keluarga kita. Ini semua takdir Tuhan yang mempertemukan kita" ucap Arkan memeluk tiga orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu.


"Mama jangan nangis, Abang dan Adek akan jagain Mama dan Papa! kita superhero nya Papa Mama!" seru Josua sambil mengusap air mata di wajah Arta.


"Mama tenang aja, ada Jeni dan Abang sama Papa juga kalau ada yang macam-macam nanti Jeni pukul pakai kayu biar nangis terus gak gangguin Mama lagi" seru Jeni penuh semangat yang dibalas tawa bahagia oleh mereka semua.


Kriuk kruk kruk


Seketika mereka berhenti tertawa karena mendengar suara perut Arkan yang kelaparan.


"Ada yang lapar nih hahaha" tawa Arta diikuti si kembar. Arkan hanya tersenyum kecut sambil menggaruk-garuk lehernya menahan rasa malu karena perutnya yang tak bisa baca situasi dan kondisi.


"Ya udah kita keluar deh Abang dan Adek juga pasti udah lapar kan?" ucap Arta yang dibalas anggukan oleh si kembar.


"Kamu udah bisa pulang kan?" tanya Arkan.


"Sudah kak, kata dokternya 2 hari lagi kita bisa balik kesini buat lepas perban" ucap Arta.


"Ya sudah kamu ganti pakaian kamu dahulu gih. Apa perlu aku bantu?" ucap Arkan.


"Eh, a...aku bisa sendiri kak" ucap Arta gugup lalu dengan cepat mengambil pakaiannya masuk ke dalam toilet di ruang perawatan VIP itu.

__ADS_1


Arkan tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya saat gugup apalagi wajahnya yang memerah menambah kesan gemas di mata Arkan.


Setelah beres-beres, Arkan, Arta dan si kembar keluar dari rumah sakit dan masih tetap memakai masker. Masalah administrasi sudah dibereskan oleh Celo sebelum ia berangkat tadi.


Saat mereka keluar, semua mata tertuju pada mereka lebih tepatnya pada Arkan yang memang sangat menarik perhatian terutama para wanita.


Arkan menggendong Jeni kecil lalu menggandeng tangan Arta sementara Josua memilih jalan sambil memegang tangan Mamanya.


Banyak yang iri dan penasaran dengan sosok dan identitas keluarga misterius yang sangat harmonis itu.


Mereka juga tak luput dari pandangan dokter genit yang berusaha menggoda Arkan tadi.


"Bodohnya diriku! masa iya aku mau menggoda suami orang yang sangat menyayangi keluarganya? dasar bodoh kamu Kiki. " Gerutu dokter wanita itu merutuki dirinya yang begitu naif.


"Ini adalah pelajaran buatku agar melakukan pekerjaanku dengan profesional selayaknya seorang dokter anak" ucapnya lagi lalu masuk ke dalam mobilnya sambil membawa barang-barangnya. Hari ini dokter itu ditransfer ke pelosok untuk bekerja disana selama 3 tahun.


Arkan dan keluarga kecilnya menaiki mobil pribadi Arkan. Arta duduk di samping Arkan dan si kembar duduk di kursi penumpang.


"Kalian mau makan apa sayang?" tanya Arta menoleh ke arah si kembar.


"Ayam goreng!" seru Josua, "minumnya jus Alpukat" tambahnya lagi.


"No no no, Adik nggak boleh makan yang manis-manis, terakhir kali makan manisan adek sakit gigi" ucap Josua menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan kiri di hadapan wajah Jeni.


"Jeni maunya yang manis Abang huh" ucap Jeni cemberut.


"Jeni dengerin Abang ya, Jeni mau giginya rusak terus bikin Papa, Mama dan Abang khawatir karena Jeni sakit hmm?" ucap Josua menjelaskan alasan gadis kecil itu tidak boleh makan yang manis-manis.


Arta dan Arkan hanya tersenyum dan mendengarkan celotehan kedua anak itu. Sungguh Josua adalah sosok yang bertanggungjawab, dia sosok Abang yang sempurna buat kembarannya yang cerewet dan rewel itu.


"Pa, Ma Jeni boleh ya makan yang manis-manis" bujuk Jeni pada Arta dan Arkan.


"Jeni sayang tadi kan Abang udah jelasin kalau Jeni bisa sakit nanti" balas Arta sambil tersenyum memberi pengertian pada Jeni.


"Iya deh iya Jeni nurut" ucap Jeni lesu sambil mengerucutkan bibirnya.


Sesampainya di restoran, mereka terlebih dahulu memesan ruang Privat disana supaya tidak banyak orang yang melihat mereka.


Arta terlebih dahulu memesan makanan untuk mereka. Saat memesan makanan, tanpa sepengetahuan Jeni yang tengah tidur digendong Arkan Josua membisikkan sesuatu pada Arta.


Setelah selesai memesan, mereka masuk ke dalam ruang Privat itu, Jeni sudah bangun dan disinilah mereka duduk dalam ruang Privat yang lebih mirip ruang karaoke untuk keluarga.

__ADS_1


"Nah ini makanannya sudah sampai, ayo berdoa dahulu baru dimakan" seru Arta. Setelah berdoa mereka mulai menyantap makanannya.


Arkan dan Arta sesekali menyuapi si kembar secara bergantian. Mereka berempat cukup lapar sehingga saat makan mereka tak membicarakan apa pun hanya fokus pada makan siang yang sudah terlewat itu.


Arta dan Arkan menyadari sikap Jeni yang sedari tadi lebih diam. Padahal biasanya dia akan banyak bercerita tentang berbagai hal.


Arta meraih telepon yang terhubung ke meja pelayan itu.


"Halo Bu, mohon bawakan pesanan kami yang tadi ya" ucap Arta lalu menutup teleponnya.


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan masuk lalu membawa sebuah Kue strawberry yang tadi dibisikkan Josua pada Arta.


"Terimakasih bu" ucap Arta ramah yang dibalas senyuman oleh pelayan restoran itu.


Arkan mencoba mencari tahu maksud dari kue ini dengan melirik Arta, namun yang dilirik hanya mengangkat bahunya lalu melihat ke arah Josua.


"Adek, Abang minta maaf ya" ucap Josua tiba-tiba yang sontak membuat Arta dan Arkan terkejut.


"hiks hiks hiks Abang jahat" ucap Jeni memalingkan wajahnya lalu memeluk Arkan.


"Loh loh sayang kenapa begini hmm? jelasin sama Papa dan Mam" ucap Arkan menatap putranya.


"Sebenarnya Jeni mau makan yang manis-manis karena kangen sama Papi dan Mami yang sudah bahagia di surga" lirih Josua.


"Tapi Josua larang Jeni, Josua takut Papa dan Mama jadi sedih karena kita masih ingat sama mendiang Papi Mami hiks hiks hiks" ucap Josua sambil berderai air mata.


"Josua takut Papa dan Mama ninggalin kita hiks hiks hiks" lanjutnya dengan tangis tersedu-sedu.


Arta menarik Josua yang tengah menangis ke dalam pelukannya.


"Sayang,anak Mama yang ganteng dan cantik jangan sedih begitu dong. Mama juga ikut nangis ini hiks hiks hiks" lirih Arta karena ia tahu rasanya merindukan orang terkasih yang tak bisa dia temui bahkan juka sangat merindukan mereka.


"Josua, Jeni coba lihat Papa, Arta kamu juga lihat Kakak" ucap Arkan menghentikan tangisan mereka sambil menoleh ke arah Arkan dengan wajah sembab.


"Jangan nangis ya, Papa akan lindungi kalian. Jo dan Jen kalian boleh kok rindu sama mendiang Papi dan Mami kalian. justru Papa dan Mama bangga punya anak yang mengingat orang tuanya. Buat Arta, kamu jangan nangis ya sayang ya, Kamu punya Papa George dan Mama Lily sebagai orang tua kamu. Kamu juga punya suami yang siap menjaga kamu sampai akhir hayat" ucap Arkan menatap mereka satau persatu.


Josua,Jeni dan Arta menghamburkan pelukannya pada Arkan.


"Sudah jangan menangis ya, Papa seperti merawat 3 bayi sekaligus ini hahahhaha" kekeh Arkan melihat tingkah menggemaskan ketiganya.


"Terimakasih Papa!" seru si kembar penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2