Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Drama dimulai


__ADS_3

Arkan dan keluarganya memasuki area sekolah setelah mengganti penampilan mereka di halaman parkir.


Arkan dan Arta menyadari ada sesuatu yang aneh dengan mobil hitam di belakang mereka yang juga ikut terparkir tepat di samping mobil milik mereka.


Namun mereka berusaha tetap tenang mengingat ada anak-anak yang harus mereka jaga dan lindungi. Memang trauma Jo dan Jen sudah sembuh, bahkan Josua sudah mendapatkan donor ginjal tepat setelah acara pernikahan Kart dan Karina dilaksanakan.


Tetapi Arkan dan Arta selalu berhati-hati jika ada sesuatu yang mencurigakan di dekat mereka, anak buah Blood Tears dan Dead Rose selalu mengikuti mereka kemana pun, dimana pun dan kapan pun sehingga mereka bisa sedikit bernafas lega karena anak buah mereka tersebar dimana-mana.


Bahkan saat ini, anak buah mereka tengah berakting menjadi Arkan dan Arta serta menaiki mobil yang persis sama seperti yang mereka tumpangi untuk mengecoh orang-orang misterius itu.


"Nak, kalau terjadi apa-apa, Papi harap kalian tetap tenang, untuk Jo dan Jen selalu berada di dekat Mark dan Ziko, jangan sampai berpencar!" tegas Arkan.


"Beruntung kita memakai penyamaran hari ini, mereka akan kita kecoh," ucap Arta dengan rahang yang mengeras, dia sangat benci ketika keluarganya di ganggu.


"Baik Papi, Mami," jawab mereka serentak.


Saat mereka akan turun, tiba-tiba ada seseorang mengetuk kaca mobil mereka dari samping, bahkan di sisi lain beberapa orang dengan pakaian hitam dan masker tengah mengerumuni mobil mereka, ada yang berusaha membuka paksa, beruntung Arkan sudah mengunci mobil itu.


Karena kaca mobil itu hanya bisa dilihat dari satu sisi, maka orang-orang misterius itu tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil.


"Ihkk jelas sekali Mami, lihatlah dia jorok sekali !" ejek Jeni kesal ketika melihat seorang pria tengah mencongkel giginya dan mengorek upilnya di kaca dekat ia dan Mark duduk.


"Astaga menjijikkan, tutup tirainya, mata suci kalian akan ternodai dengan pemandangan horror itu," ucap Arta kesal saat melihat apa yang ditunjukkan oleh Jeni.


Mark menutup tirai agar tidak melihat pemandangan jelek itu lagi. Sementara itu, kaca terus di ketuk bahkan terdengar suara orang memanggil-manggil mereka.


"Mami, bagaimana ini? mereka siapa?" ucap Mark khawatir.


"Jeni takut Mami, mereka sepertinya jahat," ucap Jeni mulai ketakutan, gadis kecil itu memang mudah sekali takut.


"Tenang ya sayang, ingat kalian harus akting sebaik mungkin," ucap Arta menenangkan anak-anaknya.


"Jangan takut Jen, kan ada Abang Ziko, Abang Mark dan Abang Josua, tenang aja, Papi dan Mami kita kan hebat," ucap Ziko menenangkan adik kecilnya yang tengah memeluk Mark.


"Iya, adik jangan takut, Mami dan Papi kita kuat!" celetuk Josua sambil menunjukkan otot lengannya yang membuat Arta dan Arkan tersenyum mendengar ucapan anak-anak mereka.


"Baiklah kita mulai dramanya," ucap Arkan sambil membuka kaca mobil.


"Adah apah yah tuannhhh," ucap Arkan, ia berbicara dengan mulut bebek bahkan suaranya di buat-buat sepeti suara sengau, saat ia berbicara air liurnya muncrat kemana-mana membuat pria berpakaian hitam itu kesal.

__ADS_1


"Haishhh jorok sekali kau dasar cupu!" kesal pria berbaju hitam itu, ia menundukkan kepalanya sambil melihat wajah Arkan lalu membandingkan dengan foto yang ad di tangannya.


"Ah...maafkanhh sayahhh tuanhhh," jawab Arkan lagi dengan air liur yang berhamburan.


"Menjijikkan!" gerutu pria itu melangkah mundur.


"Buka jendela disebelahmu kami ingin memeriksa sesuatu cepat!" bentak pria berbaju hitam itu, kini dia agak menjauh agar tidak terkena air liur Arkan.


Arta membuka jendela mobil di sebelahnya, tampak ia tengah menggaruk-garuk bekas lukanya hingga muncul cairan merah yang dipikir darah segar oleh pria misterius di sebelahnya.


"Haishhh apa itu! kenapa dia berdarah!" teriak pria itu kesal sebab cairan itu sedikit muncrat saat Arta menggaruknya tadi.


"Maaf tuan, bekas luka saya lagi kumat, maaf kalau darahnya muncrat," ucap Arta ingin menyentuh pria itu dengan tangannya yang berlumuran cairan merah.


"Jangan sentuh aku, dasar menjijikkan!" keala pria itu.


Mereka mengintip ke arah belakang, dilihatnya empat orang anak dengan wajah bodoh masing-masing, Mark dengan matanya yang aneh, Jeni yang tengah memutar mutar jari palsunya, Josua yang memasukkan semua jarinya kedalam mulut lalu mengeluarkannya dan mengulanginya lagi dan Ziko dengan ilernya yang terus menetes serta tatapan kosong yang dibuat pria kecil itu.


"Bos itu mereka!" ucap anak buahnya menunjuk pasangan yang mirip dengan foto yang ad di tangan mereka,


"Sialan! percuma waktuku habis hanya untuk melihat keluarga aneh ini!" kesal pria berbaju hitam itu.


Semua pria berpakaian serba hitam yang totalnya ada enam orang itu akhirnya pergi meninggalkan mereka. Arkan dengan cepat kembali menutup jendela dan mengunci mobil mereka.


"Hahhhh....wah nafas mereka bau sekali huwekkkk," kesal Arta tmyang ternyata sedari tadi menahan bau dari mulut pria berbaju hitam itu.


"Astaga kau tak apa-apa kan sayang?" tanya Arkan sedikit khawatir melihat istrinya yang mual.


"Nggak apa-apa kok kak," jawab Arta sambil mengolesi minyak kayu putih ke bawah hidung, Arkan juga melakukan hal yang sama.


"Kalian hebat aktingnya hahahah," terdengar suara tawa Arta saat melihat wajah keempat anaknya masih dengan ekspresi yang tadi.


"Hahaha kita hebat kan Mami," celetuk Josua menghentikan aktingnya, ia lalu mengambil tisu untuk membersihkan wajah dan tangannya.


"Aduh hahahah itu dibersihin dulu ilernya Abang Ziko," ucap Arta tergelak melihat baju Ziko yang sedikit basah karena ilernya.


"Kalian hebat!" ucap Arkan sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Kalau begini kalian bisa akting di Hollywood hahahah," ucap Arta.

__ADS_1


"Hehehe, penjahatnya aja sampai ngeri lihat kita tadi," ucap Mark sambil terkekeh.


"Tapi apa mereka akan kejar kita lagi Mami, Papi?" tanya Jeni sedikit khawatir dengan kejadian tadi.


"Kalian tenang ya nak,Papi dan Mami akan memastikan mereka tidak bisa menyentuh keluarga kita," ucap Arkan berusaha menenangkan anak-anaknya.


"Sepertinya target mereka kami berempat dan Mami!" ucap Josua sebab ia melihat sekilas foto yang di pegang salah satu orang misterius tadi saat ia berbalik badan dan melihat ke sekitar area parkiran.


"Bisa jadi, kalian pokoknya haru ingat pesan Mami dan Papi jangan sampai berpencar, untuk sementara waktu sepertinya kita harus memakai semua pernak pernik ini agar lebih aman," ujar Arta.


"Tapi kita nggak bisa selamanya melakukan ini Mami, mereka sudah tahu siapa kita hanya kita yang tidak tahu siapa mereka, Mark takut Mami kenapa-kenapa nanti," ujar Mark mengucapkan kekhawatirannya.


"Kau benar Mark, ini tidak bisa dibiarkan, kita harus segera cari tahu siapa dalang dibalik ini semua," tegas Arkan yang sama khawatirnya dengan Mark.


"Astaga sulit sekali jika begini, lagi pula darimana mereka mendapatkan foto-foto itu," kesal Arkan.


"Sepertinya orang dalam kak, kakak ingat kan pria gembul yang kuikut kurang lebih sebulan lalu, dia berbicara dengan orang itu!" ucap Arta mengingat kejadian sebulan lalu.


"Kau benar, sebaiknya kita cepat menyelesaikan hal ini, aku tak mau terjadi apa apa dengan kalian, bisa gila aku jika kalian sampai dalam bahaya!" ucap Arkan sambil mengepalkan tangannya.


"Tenang, kakak harus tenang agar bisa berpikir jernih, jika suatu saat terjadi sesuatu ku harap kakak tenang dan berpikiran dingin,mengerti?" ucap Arta sambil menggenggam tangan suaminya.


"Huhhh, aku tak mengharapkan hal seperti itu terjadi, akan kupastikan kalian aman," ujar Arkan menatap istri dan anak-anaknya secara bergantian.


.


.


.


"Arghhh, ma...maaf bos, kami tak berhasil, ada sekelompok preman yang menghajar kami sehingga kami kehilangan kesempatan," ucap seorang pria berpakaian hitam, pria yang sama dengan orang yang mengganggu keluarga Arkan.


"Sialan kau!! kenapa kalian lemah sekali!" kesal Baron saat mendengar ucapan anak buahnya.


.


.


Baron jelek! Baron jahat!

__ADS_1


Ayo di like, vote juga, komentarnya juga ya gaesssss๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


__ADS_2