Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Sadar


__ADS_3

Semua dokter ahli diarahkan untuk menangani Arkan. Dokter memeriksa keadaan Arkan, sementara itu Arta dan anak-anak dibawa keluar untuk menunggu selagi dokter memeriksa keadaan Arkan.


Arta duduk di samping Kart, Anak-anak juga duduk di dekat Mami dan Paman mereka.


"Bagaimana ini kak? suamiku kak, apa yang terjadi dengannya," lirih Arta .


Kart merangkul bahu adiknya dan menggenggam tangan Arta dengan erat. Begitu sakit hatinya ketika melihat adiknya menangis dan terpuruk seperti ini.


"Tenang, serahkan semua pada Tuhan, semua akan baik-baik saja," ucap Kart menenangkan Arta.


"Papi pasti sembuh!" ucap Josua dengan sangat yakin.


"Iya Mami jangan nangis, jangan sedih, kita tunggu apa kata dokter," tambah Ziko sambil memegang lengan Maminya dari sisi lain.


Arta tersenyum melihat anak-anaknya, ia bersyukur bisa merawat anak sehebat mereka.


Dokter keluar dari ruangan dan memanggil keluarga pasien.


"Nyonya, tuan Arkan sudah sadar," ucap sang dokter pada mereka.


Arkan, Kart dan anak-anak sontak berdiri mendengar kabar bahagia dari sang dokter. Arkan langsung beranjak masuk ke dalam kamar inap diikuti anak-anak.


Sementara itu Kart masih berbicara dengan dokter mengenai keadaan adik ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Kart.


"Tuan Arkan sudah kembali stabil, beliau melewati masa komanya dengan baik, ini merupakan suatu keajaiban, biasa pasien yang mengalami hal seperti ini mungkin akan mengalami koma dengan waktu yang lebih lama," jelas sang dokter.


"Syukurlah, terimakasih atas bantuannya dok," ucap Kart lega saat mendengar penjelasan dokter yang merawat Arkan.


Kart mengintip dari balik pintu, ia memilih membiarkan Arta dan anak-anaknya untuk berbicara dengan Arkan. Kart kembali ke kamarnya untuk menemui sang istri.


Saat Kart masuk ia melihat Karina tengah terlelap di atas brankar. Wajahnya sedikit pucat karena mual dan muntah hingga beberapa kali sebelum ia tidur tadi.


Kart memperbaiki selimut istrinya, ia naik ke atas brankar dan memilih untuk memeluk Istrinya, Karina seolah menyadari kehadiran suaminya langsung memeluk erat tubuh Kart dalam posisi tertidur.


Kart tersenyum, ia membalas pelukan Istrinya.


"Tidur yang nyenyak sayang, anak Daddy baik baik diperut Mommy ya, besok kita ketemu paman Arkan," ucap Kart.


Mungkin karena terlalu lelah, Kart malah ikut terlelap di samping Karina. Padahal rencananya ia tadi ingin menemui Arkan.


Sementara itu di dalam kamar Arkan, tampak Arta dan anak-anak menangis tersedu-sedu sambil memeluk Arkan yang sudah sadar.


Arkan juga menangis, namun ia masih terlalu lemah untuk berbicara. Ia menatap Arta, hatinya begitu sedih ketika melihat istrinya sangat lusuh dan sedikit pucat, Ia menggenggam tangan Arta dengan erat, sorot matanya seolah mengatakan bahwa dia sangat merindukan wanita itu.


"Akhirnya kamu sadar sayang, terimakasih telah kembali hiks hiks hiks," lirih Arta sambil menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


"Papi jangan sakit lagi ya, Jeni rindu sama Papi hiks hiks hiks," ucap Jeni.


Mereka semua berbicara dengan Arkan, rasa rindu dan rasa cemas selama sebulan terakhir kini telah terobati dengan Arkan yang sadar dari komanya.


"Ya sudah, kamu pasti masih lemah sayang, tidur lagi ya jangan berpikir yang nggak-nggak, kami ada disini buat kamu, besok Mama dan Papa akan datang, yang lain juga, mereka pasti senang dengan kabar ini," ucap Arta sambil mengelus wajah suaminya.


Arkan tersenyum sambil mengangguk, ia kembali terlelap karena tubuhnya masih lemah, berbaring selama sebulan di atas brankar membuat tubuhnya kaku dan sakit.


Arta dan anak-anak juga kembali tidur sebab jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mereka semua sangat bersyukur dengan kembalinya Arkan.


Arta mengecup kening, pipi dan bibir suaminya, ia begitu bahagia melihat suaminya sudah sadar dari koma. Air mata bahagia terus mengalir dari matanya.


"Terimakasih sudah kembali kepada kami sayang, aku mencintaimu sangat mencintaimu," ucap Arta di telinga suaminya.


Flashback 30 Menit sebelum Arkan Sadar


Tampak suasana yang begitu asri, banyak bunga dan tanan yang sangat cantik disana. Ada sebuah air terjun yang begitu indah, seekor kupu-kupu menari-nari di sekitar tempat Arkan berdiri.


Bak tersihir dengan pesona sang kupu-kupu, Arkan mengikuti arah terbang kupu-kupu cantik itu. Kupu-kupu itu membawa Arkan ke sebuah air mancur yang dikelilingi banyak bunga.


Disana juga terdapat dua pintu misterius. Arkan melangkah pada pintu no. 00 ia melihat desain pintu itu sangat indah, terbuat dari emas murni dengan hiasan bunga di atasnya. Ia menyederkan kepalanya ke pintu itu, ia mendengar suara tawa bahagia, ia terkejut kala mendengar suara sahabatnya Nathan yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.


"Nathan! Nathan! buka pintunya!" ucap Arkan mencoba membuka pintu emas itu namun tak bisa dan tak akan bisa.


Arkan terus berusaha membuka pintunya, ia sangat ingin bertemu dengan Nathan, sahabat baiknya.


Tampak tiga sosok berdiri di belakang Arkan dengan pakaian putih yang indah serta karangan bunga di atas kepala mereka.


Arkan membalikkan tubuhnya, Betapa terkejutnya ia melihat Nathan dan dua orang tua di samping Nathan tersenyum kepadanya.


"Nathan! kau disini? aku sangat merindukanmu, maaf telah membuatmu kesepian lagi," ucap Arkan berusaha mendekati Nathan namun kakinya tak bisa digerakkan.


"Kenapa kaki tak bisa bergerak?" ucap Arkan berusaha menarik kakinya.


"Arkan, sahabatku yang baik tempatmu bukan disini, kau masih punya tugas di dunia, kau harus kembali!" ucap Nathan.


"Kembali kemana?" ucap Arkan.


"Kembali bersama Arta nak," ucap kedua orangtua itu.


"Kalian siapa?" tanya Arkan penasaran.


"Kami orangtua istri dan sahabatmu Kart nak,"ucap mereka.


"Be.. benarkah, wah kalau begitu ayo pulang bersamaku, Arta dan Kart pasti akan bahagia bisa bertemu kalian lagi," ucap Arkan dengan senyum bahagia.


"Kami sudah tenang disini, dan ini bukan waktumu nak, kembalilah bahagiakan lah putri kecil kami, dia sudah sangat menderita setelah kehilangan kami, kami harap kamu bisa membuatnya bahagia sepanjang hidupnya nak," ucap Papa Kart dan Arta.

__ADS_1


"Baiklah tapi bagaimana aku bisa kembali kesana?" tanya Arkan sedikit bingung.


"Lihatlah pintu berwarna putih itu, pergilah kesana!" ucap wanita itu.


Arkan mencoba melangkah, kakinya sudah bisa digerakkan kembali, ia mendekati pintu berwarna puti itu. Ia sekilas mendengar suara anak-anaknya tengah menangis di balik pintu itu. Beberapa saat ia mendengarkan semua ucapan anak-anak dan istrinya.


Arkan menangis, ia membuka pintu itu hingga akhirnya ia kembali bangun dari mimpi panjangnya.


Flashback end.


Hari berganti menjadi pagi, Arta sudah bangun dari tidurnya, ia memeriksa keadaan suaminya yang masih tidur, dikecupnya kening Arkan lalu menyelimuti pria itu agar nyaman tidurnya.


"Selamat pagi Mami Papi," ucap Mark yang juga sudah bagun dari tidurnya, ia bangkit dan mendekati Maminya sambil mengecup pipi Arta dan Arkan bergantian.


"Kamu sudah bangun nak, cepat sekali," ucap Arta pasalnya jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.


"Mark pengen jagain Mami, heheh" kekeh Mark yang tahu kalau Maminya mungkin akan mengalami morning sickness yang sering terjadi pada ibu hamil.


Benar saja, baru berdiri sebentar Arta sudah mual dan pusing, ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Huweekk...huwekkk...uhuk...hah...hah,"


Mark memijit tengkuk Maminya, Mark tidak tega melihat Maminya menderita seperti itu tapi memang seperti itulah yang akan terjadi pada wanita hamil.


"Sudah Mami? Mami baik-baik saja?" ucap Mark yang setia mendampingi Maminya.


"Mami baik-baik saja, cuma sedikit mual, ini udah biasa kok, terimakasih nak," ucap Arta.


Mark tersenyum, sejujurnya ia sudah banyak membaca artikel dan buku tentang Ibu hamil dan masa kehamilan, kenapa Mark tertarik dengan kehamilan tentu karena cita-cita adalah menjadi seorang dokter.


Bukan hanya tentang kehamilan, ia membaca banyak buku tentang kesehatan dan perawatan pada penyakit-penyakit yang menurutnya menarik untuk dibahas.


Mark membawa Maminya ke brankar dan membantu Arta Duduk disana.


" Mami perlu sesuatu? biar Mark yang ambilkan," ucap Mark sambil memijit kaki Maminya.


"Nggak perlu nak, sudah gak usah dipijit, Kaki Mami udah enakan kok, sini duduk di samping Mami, kita tunggu papi kamu bangun,"ucap Arta sambil tersenyum.


Mark duduk di samping Arta menghadap ke brankar Arkan. Mereka menatap Arkan yang masih terlelap dengan pikiran mereka masing-masing.


.


.


.


like, vote dan komen 😊

__ADS_1


__ADS_2