
Keluarga Mahendra telah berakhir, Fanya dan Jaya Mahendra dipenjara begitupun dengan Tania, perusahaan Mahendra bangkrut dan seketika itu hancur, seluruh aset mereka ditarik oleh pihak pengadilan sebagai bentuk hukuman dan menyerahkan semua aset itu kepada pihak-pihak yang pantas menerimanya.
Kini mereka mendekam di penjara dan menikmati hari mereka yang lebih tepatnya penderitaan seumur hidup bagi kedua paruh baya itu.
Namun berbeda yang dirasakan oleh kedua orangtua itu dengan putri mereka yang justru merasa sangat puas dan bahagia karena akhirnya ia bisa terlepas dari jeratan kepanikan yang selama ini menghantuinya sejak ia terlibat dengan kasus kedua orangtuanya.
Kart dan Arta memberikan keringanan hukuman pada gadis itu tanpa sepengetahuan mereka, sebab Tania yang berani meminta maaf dan memohon pengampunan mereka serta mengakui semuanya sudah cukup bagi mereka.
Kini Tania menikmati harinya hidup di sel tahanan bersama tahanan lainnya dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan ia kini sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya yang dikiranya akan hancur berantakan, namun ternyata Robin mencintainya begitu dalam bahkan menerima dirinya dengan baik.
Setiap hari Robin akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rutan dimana istrinya ditahan hanya untuk sekedar berbincang dan memberikan semangat bagi wanitanya itu.
Mereka kini telah benar-benar berusaha keras menjadi orang yang baik dan benar, bisnis yang dijalankan Robin juga jauh dari kata ilegal, ia memilih mencari jalannya sendiri daripada mengikuti keinginan kedua orangtua tamak dan licik yang justru menolak Tania dan menginginkan pria itu menikah lagi.
Karena tak mau kehilangan anak satu-satunya, kedua orangtuanya membiarkan Robin memilih jalannya sendiri dan lepas tangan terhadap kehidupan pria itu.
Sementara itu di kediaman Whitegar yang damai, tampak Arkan tidak lagi damai ketika melihat istrinya yang duduk di dekat anjing peliharaan mereka tengah mengunyah sesuatu yang ia lihat dan pikir dipungut oleh Arta dari bakul makanan anjing itu.
"Sayang!!!" teriak Arkan panik. Ia berlari menghampiri Arta yang tengah mengunyah makanan berwarna hitam kecoklatan itu tepat pada saat wanita itu memberi makan anjing peliharaan di rumah itu.
"Keluarkan!" panik Arkan, tangan kirinya kini mengambil alih bungkus makanan anjing yang di pegang oleh Arta, sedang tangannya yang satu ia taruh di depan mulut Arta.
Beberapa orang yang melihat dan mendengar teriakan Arkan ikut panik, bahkan Tito dan Celo yang tengah asik bermain rumah-rumahan dengan Jeni dan anak-anak sedikit terkejut mendengar teriakan panik Arkan.
"Kalian disini dulu ya, Paman mau cek ke belakang sebentar," ucap Tito yang dianggukkan oleh anak-anak.
"Cel temani mereka bentar," ujar Tito yang dianggukkan oleh Celo yang asik didandani oleh Jeni sehingga penampilan pria itu terlihat menggemaskan.
Arta menatap heran dengan suaminya, dengan polosnya ia mengeluarkan makanan yang belum dikunyahnya itu dan meletakkannya di atas tangan Arkan.
__ADS_1
"Sayang, aku tahu kamu mengidam tapi perhatikan dong apa yang kamu makan, apa sebegitu penasarannya kamu dengan makanan anjing itu sampai kamu juga memakannya?" gerutu Arkan sambil membersihkan tangannya dengan tisu, berganti dengan mulut istrinya.
"Hmmm? makanan anjing? siapa yang makan makanan anjing sayang?" tanya Arta bingung, ia malah melihat sekelilingnya siapa tahu orang yang dimaksud Arta ada disana.
"Ya kamulah, tadi yang kamu kunyah itu dari bakul anjingnya kan? warna cokelat sama dengan yang mereka makan," ujar Arkan menunjuk bakul anjing yang terisi dengan makanan berbentuk bulat mirip dengan yang dimakan Arta.
"Astaga sayangku, itu bukan makanan anjing hahahahha," ucap Arta yang malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal dan khawatir suaminya.
Mendengar Arta tertawa, Arkan malah semakin kesal, ia menatap Arta dengan tatapan kesal sekaligus khawatir, namun istrinya itu malah tertawa.
"Sayang itu tadi Choco chips bukan makanan anjing, emang sih aku penasaran gimana rasanya tapi gak sampai nyicipin juga sayang, makanya aku ambil choco chips yang bentuknya mirip jadi gak harus makan itu," terang Arta sambil memegang kedua lengan pria itu dan menatapnya dengan mata bulat besar menggemaskan yang mampu meluluhkan hati seorang Arkan yang tengah kesal.
Bahkan Tito yang melihat mereka sedari tadi tersenyum samar melihat kemesraan pasangan itu, ia pikir tadi terjadi sesuatu, namun saat ia sampai yang didapatinya malah Arkan yang sedang kesal namun Arta malah tertawa terbahak-bahak.
"Huffftt, syukurlah semua aman, jika terjadi sesuatu bisa pusing tujuh keliling aku!" ucap Tito menghembuskan nafas lega lalu ia kembali lagi ke tempat anak-anak bermain tadi.
"Hah kau membuatku takut sayang, karena aku tadi sempat ingin memakan makanan anjing itu juga, kupikir kau memakannya," jelas Arkan yang sempat merasa berselera ketika melihat makanan anjing itu.
"Hahahah, kakak ternyata merasakannya juga," kekeh Arta di dalam pelukan suaminya.
"Tentu saja, semua yang kau rasakan pasti akan kurasakan," ujar Arkan sambil menyelipkan anak rambut istrinya dan mengecup kening Arta dengan lembut.
"Sudah, ayo kita ke dalam hari mulai malam," ujar Arkan sambil memberikan jaketnya pada Arta agar wanitanya itu tidak kedinginan.
Mereka masuk ke dalam rumah setelah menyelesaikan aktivitas mereka di taman belakang, dan meminta pelayan membersihkan tempat itu.
Suasana rumah tampak sedikit sepi, pasalnya Samuel bersama Kath dan kedua orangtua mereka tengah berada di luar untuk melakukan pengukuran baju pengantin yang akan dipakai oleh pasangan itu tiga Minggu lagi dalam acara pernikahan mereka.
Arkan dan keluarga kecilnya sudah terlebih dahulu memesan pakaian yang akan mereka pakai untuk dua acara pernikahan sekaligus yakni pernikahan Kart dan Karina yang akan dilaksanakan seminggu lagi dan juga pernikahan Sam dan Kath tiga Minggu lagi.
__ADS_1
Arkan langsung memesan semuanya di hari yang sama agar tidak perlu repot-repot lagi melihat kondisi istrinya yang hamil muda, sebenarnya ia tidak khawatir istrinya kelelahan, ia hanya khawatir jika Arta dibawa ke butik itu, ia akan mengubrak-abrik seluruh isi toko itu dan merengek meminta mencoba semua pakaian yang dirasanya cantik.
Seluruh anggota keluarga sudah mengetahui kabar terbaru tentang kehamilan Arta. Mereka sangat bahagia menyambut kehadiran baby twin yang baru genap berusia sebulan itu.
"Sayang kita makan yuk!" ajak Arkan pada istrinya yang tengah asik mengunyah keripik pedas sambil lesehan di depan televisi di dalam kamar mereka, bahkan Arkan juga ikut mengunyah keripik super pedas yang dirasa sangat nikmat itu.
"Yok, aku sudah laparrrrr huh!" seru Arta bangkit berdiri sambil mengusap perutnya yang kelaparan padahal sejak bangun hingga malam.yang dilakukan Ibu hamil ini adalah mengunyah dan mengunyah apa saja yang menurutnya enak untuk dimakan.
"Kau seperti tidak makan sebulan saja padahal dari pagi kau mengunyah terus," ucap Arkan sambil menggandeng tangan istrinya dan mematikan televisi.
"Heheheh, kan yang makan sekarang ada tiga sayang," ucap Arta terkekeh, ia juga sadar betapa meningkatnya nafsu makannya sejak ia hamil, bahkan Arkan yang mengalami gejalanya tidak mampu mengimbangi nafsu makan Istrinya yang sangat besar itu.
"Ya sudah ayo!" ajak Arkan.
Namun yang diajak malah berhenti di tempat sambil menatap Arkan dengan tatapan berbinar-binar. Arkan tahu jika Ekspresi istrinya seperti ini, pasti ada yang diinginkan oleh ibu hamil itu. Arkan menghadap Arta lalu memegang kedua bahu wanita itu.
"Apa yang kamu inginkan ibu peri hmmm?" tanya Arkan gemas sambil menoel hidung istrinya.
"Aku ingin....." tiba-tiba Arta berhenti saat melihat tatapan suaminya sudah berubah, tampaknya pria itu sudah tahu apa keinginan istrinya.
"Tidak!" ucap Arkan tegas lalu meninggalkan Arta di dalam kamar, kali ini ia menolak keras keinginan istrinya sebab ia juga menginginkan hal yang sama, namun Arkan masih bisa mengendalikan dirinya berbeda dengan Ibu hamil itu.
.
.
.
like vote dan komen 😊
__ADS_1