Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Gudang


__ADS_3

"Sekali kau bermain-main dengan keluargaku, ku remas ginjal kau!"


-Arta Chan Kartier-


.


.


.


Dalam sebuah Van mini, Arta tidak sadarkan diri karena dipukul oleh pria misterius yang menculik mereka. Mark, Ziko dan Josua juga masih pingsan.


"Kita bawa kemana mereka bos?" tanya salah satu penculik itu.


"Ke Markas besar milik tuan Baron," ucap pria gembul di depannya yang ternyata adalah pria gembul yang sama yang ditemui oleh Arta dan Arkan di rumah sakit dan di kantor Argaka Company.


"Emmm wanita ini sangat cantik bos, apa kita akan menikmatinya nanti?" ucap pria itu sambil memandang tubuh Arta yang mulai berisi, roknya tersingkap sedikit ke atas sehingga menunjukkan paha mulus dan putih wanita itu.


"Hey jangan berpikir yang tidak-tidak, dia milik tuan Baron, kau tahu kan pria itu tak suka barang miliknya disentuh oleh orang lain, jika ia sudah bosan maka kita bisa menikmatinya," seringai pria gembul itu.


Arta yang ternyata sudah sadar mendengar percakapan mesum mereka.


"ingin rasanya ku peras darahmu lalu kucincang tubuh mu dan kuberikan pada peliharaanku di markas!!" batin Arta yang sekarang masih pura-pura tidur untuk mengecoh mereka.


Arta melayangkan tinjunya dan


Brughh


Satu Bogeman mentah mengenai leher belakang pria yang duduk tepat di kursi depannya. Seketika pria itu malah pingsan akibat hantaman yang begitu keras dari ibu hamil itu.


"Hey kau kenapa?" tanya temannya yang duduk di samping Mark dan Ziko yang masih tidak sadarkan diri.


"Dia hanya tidur tuan!" bisik Arta tepat saat ia menekan titik tertentu di punggung pria itu hingga membuatnya bak bisa bergerak bahkan berbicara pun tak bisa.


Matanya terbelalak saat melihat Arta sadar dari pingsannya.


"Plakkk," satu pukulan telak melayang di batang leher pria itu hingga membuatnya pingsan. Sepertinya kekhawatiran Arkan terhadap Arta yang katanya akan melemah selama masa kehamilan hanya sebatas ucapan belaka, nyatanya wanita hamil ini malah semakin licik.


Arta melanjutkan tidurnya agar tidak ketahuan telah menghajar dua anak buah pria gembul itu.


"Lihat kau nanti gumpalan lemak, kuperas lemakmu sampai kurus kering lalu kuberikan pada peliharaanku, sudah lama dia tidak makan enak!!" geram Arta kembali menutup matanya.


Mobil Van mini itu membawa Arta dan anak-anaknya ke sebuah gedung terbengkalai yang tidak terpakai dan kini di jadikan markas besar B.J Group untuk menjalankan bisnis ilegal mereka.


"Woy bangun !! kenapa kalian malah tidur!" bentak pria gembul itu saat melihat kedua anak buahnya tertidur padahal mereka pingsan akibat ulah Ibu Hamil di belakangnya.


Mereka membuka pintu Van mini itu, tepat di saat yang sama Arta membuka matanya dan meronta-ronta minta dilepaskan.


"Lepaskan aku! apa yang mau kalian lakukan bajingan!" teriak Arta meronta-ronta.


"Cepat bawa dia, bangunkan ketiga anak itu!" ucap pria gembul itu pada anak buahnya.


Mereka mencoba membangunkan kedua pria yang mengapit Mark dan Ziko namun nihil mereka pingsan dan tak bisa dibangunkan.


"Bangun kalian!" ucap seorang pria sambil menyiramkan air dingin ke arah ketiga anak yang tidak sadarkan diri itu.


Byurrrr


"Mami!!" teriak merak bertiga bangun dari tidurnya.


"Emm hah...hah...om..om a...apa yang kalian lakukan pada kami?" lirih Mark ketakutan.

__ADS_1


"Mami, mana Mami?" teriak Ziko meronta-ronta.


"Nak tenang Mami disini," ucap Arta yang kini sedang dipegang oleh salah seorang anak buah pria gembul itu.


"Cepat turun, menurutlah jika tidak Mami cantikmu ini akan kusantap hahahah," seringai pria gembul itu sambil mengelus wajah Arta.


Ketiga anak lelaki Arta sangat geram melihat perlakuan tidak senonoh pria itu pada Mami mereka.


"Lepaskan tanganmu dari Mamiku om gendut!;" teriak Mark meronta-ronta saat melihat Maminya disentuh oleh pria gendut itu.


"Bawa mereka ke gudang!" ucap pria gembul itu.


Arta melihat ketiga anaknya dengan perasaan khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan anak-anaknya.


"Abang Josua, Abang dengar Mami? kalau dengar anggukan kepalamu!" batin Arta mencoba berbicara dengan Josua.


Josua yang mendengar suara Maminya mengangguk pelan.


"Abang masih ingat kan dengan yang Mami dan Papi ajarin selama sebulan ini? nanti beri kode pada abang-abangmu untuk melakukan hal yang sama saat kita dibawa ke gudang yang dimaksud!" batin Arta.


Josua mengangguk perlahan, ia mengerti apa yang dimaksud oleh Maminya.


Markas itu hanya dijaga oleh sekitar dua puluh anak buah, sebab sebagian besar anak buah Baron telah dihabisi oleh anak buah Arta saat mengepung mereka tadi, sebagian lagi bertugas di perusahaan dan kediaman Baron.


Arta meneliti seluruh lokasi bangunan tua itu, ia melihat ruangan-ruangan yang terkunci, ada bercak darah dimana-mana, bahkan terdengar suara tangisan dan teriakan dari ruangan yang mereka lewati itu.


Lima orang anak buah mengkawal mereka menuju gudang yang dimaksud, dengan kasar pria pria itu mendorong mereka masuk ke dalam Gudang.


Namun Arta yang sedari tadi sudah melepas ikatannya langsung memulai aksinya.


"Sekarang nak!" teriak Arta tepat saat empat penjahat itu masuk ke gudang .


"Bang lakukan seperti pelatihan!" teriak Josua.


Mark, Ziko dan Josua langsung menendang bagian intim ketiga pria itu dnegan keras sehingga mereka meringis kesakitan bahkan tak bisa berkutik karena rasanya seperti pecah di bagian sana.


"Argghhh, sa...saakit....arghhh," rintih pria itu berguling-guling di atas lantai.


Arta menghajar pria yang membawanya. Ditutupnya pintu gudang itu lalu dikuncinya dengan sebatang kayu yang ada disana agar tidak bisa dibuka.


Dengan gesit dan penuh kehati-hatian, Arta membekuk pria itu hingga ia terkapar lemas.


Brughh....BRAKKK...plakk...srettt


Arta memberikan pukulan telak di titik titik vital pria itu hingga ia tak bisa bergerak akibat pukulan itu.


"Nak ambilkan tali itu!" ucap Arta.


Dengan cepat Ziko melemparkan tali pada Maminya.


"Ini Mami!"ucap Ziko.


Arta dengan santainya mengikat pria itu dan mendudukkannya di atas lantai.


"Apa mereka sudah beres nak?" tanya Arta.


"Sepertinya belum Mami," ucap Josua saat melihat pergerakan ketiga pria itu.


Arta mendekati mereka, dengan senyuman menyeringai, ia mengeluarkan kotak kecil yang disimpannya di balik gaunnya.


srekk...srekk..srekkk

__ADS_1


"Kalian tahu apa ini hahahah, ini jarum yang sama yang kugunakan untuk melumpuhkan bawahan Demon pemimpin Dead Poison!" ucap Arta sambil menatap mata mereka. Tampak kilatan amarah dari manik biru itu.


"Si..siapa kau sebenarnya?" ucap pria gembul yang terkapar lemah saat Arta menusukkan satu jarum akupuntur di titik lemah tubuh pria itu.


"Aku? wanita yang kau hina di lift rumah sakit dan aku ibu dari keempat anak yang akan kalian jual itu bajingan!" ucap Arta dengan tatapan menusuk yang mampu menumbangkan pertahanan mental lawannya.


jlebb...jlebb... jlebb


Beberapa tusukan jarum akupuntur berhasil di tanamkan Arta di tubuh ketiganya. bersamaan dengan itu, tubuh mereka lemas tak bertenaga, bahkan untuk bergerak saja sulit.


Arta tiba-tiba pusing, beruntung Ziko dan Mark berdiri di sampingnya. Josua menyeret sebuah kursi untuk Maminya.


"Mami, duduk dulu Mami pasti capek, baby-nya juga!" ucap Josua khawatir.


Mark dan Ziko menopang Maminya untuk duduk.


"Mami, Mami pusing ya? apa ada yang sakit? ada masalah dengan baby twin?" ucap Mak khawatir saat melihat wajah maminya sedikit pucat.


"Mami tidak apa-apa sayang, hanya sedikit lelah saja," ucap Arta menenangkan ketiga anaknya.


"Kalian baik-baik saja kan? astaga Abang Ziko luka di lututnya, Mark kenapa wajahmu lecet dan Josua kenapa dengan tanganmu nak?" ucap Arta panik.


"Ahh tidak apa-apa Mami," ucap mereka sambil memeluk Maminya. Setidaknya mereka bisa bernapas lega setelah menghajar keempat manusia jahat itu.


"Hey apa kau punya alat cukur?" tanya Arta yang kini sedang dipijat oleh Mark di bagian bahunya, sedang Ziko dan Josua dengan senang hati memijat lengan dan betis Maminya.


"Apa yang kau inginkan jalang!" kesal pria gembul itu.


"Jalang, jalang, jalang kau pikir aku murahan seperti dirimu! hmmm aku ingin kau membotak seluruh kepala anak buahmu itu cepat! jika tidak akan ku kebiri kau!" ancam Arta sambil mengangkat gunting yang di dapat entah dari mana.


"Ja..jangan, ba..baiklah a..akan ku botak mereka," ucap pria gembul itu bergetar ketakutan saat melihat gunting di tangan Arta.


"Ta..tapi tidak ada alat cukur disini!" ucap pria itu masih gemetar ketakutan.


"Pakai gunting ini!" ucap Arta.


"Mark cabut satu jarum di bagian leher kirinya supaya dia bisa berjalan," ucap Arta.


"Jika kau berani melarikan diri, tentu kau tahu apa akibatnya bukan?" ucap Arta sambil memutar-mutar pisau belati kecil miliknya.


Klak...kleekk...klak


terdengar suara belati yang dibuka tutup, rasanya begitu horor mendengar suara itu.


Si gembul mulai menggunting rambut rekannya, namun Arta terlihat merengek saat melihat hasilnya.


"Huhuhuhu, aku ingin kau dibotak bodoh! bukan dicukur begini," rengek Arta pada ketiga korbannya yang rambutnya digunting oleh pria gembul itu.


"Sebenarnya yang diculik siapa sih? mereka atau kami?" gumam pria gembul itu.


"Pffthh," Josua tertawa kecil mendengar suara hati pria itu.


.


.


.


Kasihan hahahah, makanya jangan main-main sama ketua mafia !!!😂


like, vote dan komen juga ya biar author gajenya semangat

__ADS_1


Baca ini juga ya 😊😊



__ADS_2