Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Kantin


__ADS_3

Setelah kejadian di kantor sekolah dasar tadi, Arkan dan keluarganya kembali mengubah penampilannya atas permintaan Ibu hamil yang mulai kesal dengan tatapan orang-orang pada mereka.


Memang dasar Ibu hamil yang satu ini banyak mintanya. Arta meminta suami dan anak-anaknya berdandan Serapi dan sebaik mungkin. Sedari tadi mulut ibu hamil ini komat Kamit seperti baca mantra karena kesal mendengar ledekan orang-orang terhadap diri mereka.


Padahal kan emang dia yang minta berdandan seperti itu dan pastinya Arta sudah tahu resikonya. Tapi apa pun katanya, Ibu hamil selalu benar.


Arkan bersama tiga anak laki-lakinya berganti pakaian di toilet pria sedangkan Arta dan Jeni di toilet wanita.


Setelah selesai berdandan menjadi super rapi dan keren mereka keluar dan melanjutkan aksi mereka lagi berkeliling menemani Ibu hamil itu.


Arta memakai gaun selutut longgar berwarna biru muda yang didesain khusus untuk Ibu hamil, Arkan memakai setelan jas biru tua yang sangat serasi dengan Arta.


Sedangkan si kembar, Mark dan Ziko memakai pakaian kasual yang sangat cocok di tubuh mereka.


Kecantikan dan ketampanan paripurna keluarga Argaka menjadi sorotan di sekolah itu. apalagi sekarang jam istirahat kedua, dengan senang hati Arta malah ngacir ke kantin untuk cari makan.


"Sayang hati-hati jangan berlari!" teriak Arkan saat melihat istrinya ikut nimbrung dengan anak-anak SMP yang mengantri di kantin.


"Astaga, lihat Mami kalian seperti tidak makan seratus tahun saja!" ucap Arkan geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Padahal nyatanya ia juga sedang berada dia antara antrian panjang itu.


"Papi juga sama seperti Mami hahahah," ledek Jeni yang melihat Papinya malah ikut berbaris.


"Eh hahahah, dedeknya pengen papi ikut," kilah Arkan yang sudah malu karena ikut nimbrung juga.


"Hahahah, Papi ngeles aja kerjaannya, bilang aja laper Papi!" celetuk Mark yang berhasil membuat papinya salah tingkah.


"Hussh udah duduk disana, biar Papi pesenin makanan buat kalian!" ucap Arkan pada keempat anaknya.


Mark membawa adik-adiknya duduk di meja panjang yang muat hingga beberapa orang. Kehadiran mereka di kantin umum itu sontak menjadi perhatian orang-orang.


Sementara itu di kantor guru, tampak Anita dan guru laki-laki tadi terkena amukan pak Kepsek.


Saat sedang memberi nasihat, Pak Kepsek mendapat panggilan dari Tito asisten Arkan. Setelah mendapatkan panggilan itu, tampak wajah pak Kepsek sedikit lega, hanya saja ia menatap tajam ke arah kedua guru itu.


"Ibu Grace dan Bapak Rudi kemari!" panggil Pak Kepala Sekolah.


"Ada apa pak?" tanya mereka takut, sebab mereka berdua yang melayani pemilik yayasan yang berkunjung tadi. Bahkan tidak ada yang menyangka bahwa mereka adalah pemilik yayasan.


"Pak Rudi dan Ibu Grace ditugaskan menjadi guru pembimbing untuk ketiga anak pemilik yayasan, mereka mengambil jalur eksklusif, barusan saya dapat panggilan bahwa kalian akan menjadi guru pembimbing mereka dan untuk Ibu Grace selamat Anda menjadi guru tetap disini!" jelas Pak Kepsek yang sontak membuat mereka terkejut bahkan sangat senang dengan berita itu.


"Be..benarkah pak, terimakasih Pak terimakasih banyak!" ucap Ibu Grace mengucap syukur karena telah diterima sebagai guru tetap bahkan menjadi guru pembimbing di sekolah elit itu.


"Terimakasih banyak Pak!" ucap Pak Rudi.


"Lanjutkan pekerjaan baik kalian, pemilik yayasan sangat puas dengan pelayanan kalian, mereka percaya bahwa sekolah ini akan berkembang di tangan orang-orang seperti kalian bagus!" ucap Pak kepsek bangga dengan bawahannya.

__ADS_1


"Terimakasih Pak, terimakasih!" ucap merela berdua.


"Dan untuk gaji, akan langsung ditransfer ke rekening kalian masing-masing, nominalnya mungkin mencapai sepuluh juta," jelas Pak Kepsek yang membuat semua orang dalam ruangan itu terbelalak kaget.


"Ternyata orang kaya beda ya, sekali ngasih gaji bisa ngasih makan orang sekampung!" celetuk guru lain.


"Itulah alasan kenapa kita tidak boleh menilai orang dari penampilannya, bisa saja seperti mereka tadi penampilan buruk tapi hatinya baik bahkan hartanya melimpah," ujar guru lain.


"Bahkan ada yang penampilannya baik seperti mereka berdua, tapi hatinya busuk!" ucap guru itu menunjuk Anita dan pria tadi yang kini tengah menunduk menahan malu akibat perbuatan mereka sendiri.


"Dan untuk kalian berdua, kalian diberi satu kesempatan untuk berubah, jika masih dengan sikap sombong seperti tadi maka saya tidak segan-segan memecat kalian mengerti!" ucap Pak Kepsek pada dua guru itu.


"Mengerti Pak!" jawab mereka.


Kembali lagi ke kantin, tampak meja Arkan dan keluarganya penuh dengan makanan atas permintaan Ibu hamil itu.


"Sayang apa ini nggak kebanyakan?" tanya Arkan menatap semua makanan di atas meja mereka.


"Ini bukan untukku semuanya kak, milikku hanya soto dan bakso ini, sama seperti dirimu!" ucap Arta menunjuk bakso miliknya.


"Lalu makanan yang lain?" ucap Arkan bingung.


"Untuk mereka kak!" ucap Arta menunjuk beberapa anak yang berdiri menatap teman-temannya sedang jajan, sedangkan mereka hanya bisa menonton saja.


"Heheh bercanda sayang," ucap Arkan kikuk.


"Mark ayo panggil mereka untuk makan disini!" ucap Arkan pada Mark.


"Baik Papi," ucap Mark.


Mark melangkah mendekati empat anak SMP seusianya, dua laki-laki dan dua perempuan yang tengah menatap teman-temannya yang jajan di kantin sementara mereka hanya bisa menelan saliva mereka saat melihat jajanan itu.


"Hay, kenalin aku Mark mau gabung dengan kami?" ucap Mark pada keempat anak SMP itu.


"Ha...halo Mark, kenalkan aku Rio, dia Andre dan mereka Hana dan Yuni," ujar Rio memperkenalkan dirinya.


"Ohh begitu, kenapa kalian berdiri disini?" tanya Mark ramah, tak ada kesombongan dari raut wajah pria muda itu.


"Emm...ka..kami mau jajan, ta....tapi cuma punya duit segini," ucap Andre menunjukkan uang dua ribu rupiah di tangannya.


Mark merasa kasihan dengan mereka, dengan tersenyum Mark mengajak keempatnya menuju tempat duduk mereka.


"Ayo ikut aku! Mamiku sedang hamil, dia ingin makan bersama kalian, kalian bantu ya pliss!" pinta Mark dengan alasannya mengatasnamakan kehamilan Maminya.


"Apa boleh?" tanya Yuni.

__ADS_1


"Boleh, Ayo!" ucap Mark.


Mark membawa keempat anak itu menuju bangku mereka. Sudah tersedia banyak makanan di meja itu, namun mereka ragu untuk duduk.


"Hai semuanya, ayo sini duduk bareng kami!" ucap Arta ramah agar tidak membuat anak-anak itu takut.


"Duduk sini, kalian udah makan?" tanya Arkan yang dijawab gelengan kepala oleh anak-anak itu.


"Kebetulan sekali, kalau begitu kalian makan ini ya, Om dan Tante tadi pesannya kebanyakan," ucap Arkan.


"Siapa nama kalian nak?" tanya Arta lembut.


Mereka pun memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Ahh, baiklah ayo dimakan nak nanti keburu masuk loh," ucap Arta.


"Terimakasih, Om Tante!" ucap mereka berempat dengan girang.


Mereka menikmati makanan mereka yang singkat di jam istirahat itu. Arta dan Arkan sangat senang melihat anak-anak itu makan dengan lahap, bahkan anak-anak mereka terlihat akrab dengan anak SMP seumuran dengan Mark itu.


Setelah itu mereka mendaftarkan Mark di SMP itu dan menyelesaikan administrasi dengan cepat. Pihak sekolah begitu terkejut dengan kedatangan mereka, kehadiran keluarga Argaka menjadi pusat perhatian semua orang terlebih lagi sifat mereka yang tidak sombong seperti kebanyakan orang kaya di luar sana.


Setelah selesai dengan semua urusan, mereka pergi dari sekolah itu, segala keperluan sekolah anak-anak akan mereka beli hari ini.


.


.


.


"Bos Saya menemukan mereka!!" ucap seorang pria berbaju hitam yang sedang mengikuti sebuah mobil.


"Ikuti dan lakukan seperti perintahku!! jangan sampai terkecoh lagi seperti tadi!" ucap seseorang di balik telepon.


"Baik Bos, kami siap!" ucapnya menutup teleponnya.


"Semuanya berpencar! jaga tuan dan nyonya!! Tim satu amankan arah Barat! tim dua amankan bagian Utara, kami akan mendampingi mereka dari belakang!" ucap Vasko memerintahkan anak buahnya.


.


.


.


Like, vote dan komen 😊

__ADS_1


__ADS_2