
Arkan berjalan dengan raut wajah kesal, ia keluar dari kamar tanpa mengindahkan perkataan Arta. Saat menuruni tangga ia berpapasan dengan Indah yang akan memanggil mereka untuk makan malam.
"Loh kak Artanya dimana kak?" tanya Indah pada Arkan yang tengah berwajah masam.
"Di kamar, biarkan saja dia tak usah dipanggil, kami akan makan di kamar," ketus Arkan melalui Indah begitu saja.
Indah bingung dengan wajah Arkan ia memilih turun menuju meja makan dan menyiapkan hidangan.
Arkan duduk di meja makan, ia suntuk dengan permintaan aneh istrinya, bagaimana tidak suntuk Arta ingin makan malam di atas atap mansion besar itu.
Semua orang menatap wajah masam Arkan, yang ditatap malah menundukkan kepalanya dan ternyata Arkan tengah menyembunyikan air matanya yang menetes pasti karena Arta sedang menangis saat ini.
Celo, Tito, Indah dan Vika saling menatap tak mengerti, namun mereka tak berani bertanya sebab wajah pria itu benar-benar menunjukkan kalau ia sedang tidak ingin ditanya. Bahkan anak-anak terdiam saat melihat Arkan yang hanya diam dan menunduk.
Arkan berdiri, "kalian makanlah dahulu, jangan tunggu kami," ucap Arkan setelah itu ia berlari menuju kamarnya.
Sedangkan yang lain sudah kebingungan dengan perubahan sifat Arkan itu.
"Indah, kak Arkan kenapa?" tanya Celo penasaran.
"Entahlah Cel, tadi sewaktu aku mau manggil kak Arkan wajahnya muram gitu, aku tanyain kak Arta dimana eh bilang gak usah dipanggil," jelas Indah.
"Pasti Arta ngidam yang aneh-aneh lagi nih," ujar Vika.
"Darimana kamu tahu vik?" tanya Tito.
"Feelingku sih bilangnya gitu," jawab Vika sambil menyendokkan makanan ke piring anak-anak.
"Terimakasih Tan," ucap mereka bersamaan.
"Hmmm sama-sama sayang," ujar Vika sambil tersenyum manis, Tito ikut tersenyum melihat perhatian Vika pada anak-anak tuannya itu.
Sementara itu Arkan tengah berjalan menuju kamarnya, dibukanya pintu dengan pelan.
"Pasti menangis lagi," gumam Arkan yang sudah masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan istrinya yang tengah hamil muda itu.
Arkan melihat seluruh ruangan itu, dan matanya tertuju pada gulungan selimut yang tampak bergerak gerak, terdengar suara Isak tangis seseorang di balik selimut tebal itu.
Arkan berjalan perlahan mendekati gulungan selimut yang bergerak-gerak itu. Ia naik ke atas tempat tidur lalu menarik pelan selimut itu dan terlihatlah Arta yang menangis sesenggukan dengan rambut acak-acakan sambil memeluk kedua lututnya di balik selimut itu.
"Mau nangis terus hmm?," ucap Arkan sambil memeluk tubuh Arta dengan lembut.
"Kenapa istriku ini jadi cengeng sekali sih? sudah jangan menangis, maaf membentakmu tadi, aku hanya tak ingin kamu bahaya sayang," jelas Arkan.
"Ishh...kakak jahat, Arta belum bilang Arta maunya apa kakak langsung marah huhuhuhu," rengek Arta sambil memukul-mukul dada suaminya.
"Sebelum kamu bilang Kakak udah tahu karena apa yang kamu inginkan pasti transfer ke kakak," jelas Arkan.
__ADS_1
"Kamu pasti tadi pengen makan di atas atap iya kan?" ucap Arkan sambil menatap dua manik biru yang tengah kebanjiran air mata itu.
Arta mengangguk kecil, ia malah tertunduk merasa bersalah.
"Sayang jangan yang aneh-aneh ya please, aku gak mau kalian dalam bahaya," ujar Arkan.
"I..iya maaf," jawab Arta masih tersedu-sedu, ia memeluk suaminya dengan erat, aroma tubuh pria ini mampu menenangkan dirinya.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti dikira aku KDRT lagi hehehe," tawa Arkan mencoba menghibur istrinya.
"Hmmm..ahh, kakak wangi," ujar Arta sambil mengendus-endus dada suaminya yang menurutnya sangat nyaman.
"Iya dong, sudah nanti endus-endusnya, kita ke bawah dulu untuk makan malam," ucap Arkan.
"Aku mau makan di luar," ucap Arta sambil memandang suaminya dengan mata berbinar-binar.
"Dasar kau ini, ya sudah ayo kamu ganti pakaian dulu ya, bentar aku ambilin!" ujar Arkan melepas pelukannya dan beranjak mengambil pakaian hangat untuk istrinya.
"Ini pakailah," ucap Arkan menyodorkan pakaian hangat istrinya.
"Kakak yang pasang," ujar Arta dengan suara imut menggemaskannya.
"Uluh uluh istriku manja banget ya, cup," ucap Arkan sambil mengecup bibir istrinya singkat yang mampu membuat ibu hamil itu merona.
"Loh itu mukanya kok merah hmm?" goda Arkan sambil memasang pakaian istrinya.
"Hahahah, imutnya," seru Arkan sambil tertawa melihat wajah cantik istrinya yang berubah warna jadi merah.
Arkan memakaikan pakaian Arta, dipasangkannya sweater panjang berwarna biru ditambah jaket tebal, topi hangat dan rok tutu panjang berwarna hitam untuk Ibu hamil itu.
"Nah sudah beres, anak-anak Papi baik-baik disini ya, kita akan keluar!" ucap Arkan sambil mengusap lembut perut istrinya.
"Iya Papi," ucap Arta menirukan suara anak kecil sambil memegang perutnya.
Mereka berdua keluar kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati, bahkan Arkan terlihat was-was saat istrinya turun tangga.
"Ck...kenapa anak tangga ini banyak sekali," gerutu Arkan yang fokus memegangi tangan istrinya agar tidak terjatuh padahal sudah biasa Arta naik turun tangga itu dan selalu hati-hati, namun yang namanya suami posesif ya begitu ia akan merasa was-was jika melihat istrinya harus naik turun tangga.
"Ini kan rumah kamu sayang," ucap Arta tersenyum mendengar gerutuan suami tampannya itu.
"Mau kemana kak? nggak makan dulu?"tanya Celo yang baru selesai makan malam.
"Mau keluar, kamu temenin kita ya Cel," ujar Arta.
Celo menatap Arkan, pria itu mengangguk setuju.
"Okey kak, anak-anak gak ikut?" tanya Celo.
__ADS_1
"Nggak, biar kita aja dulu lagipula udah malam entar mereka masuk angin," ucap Arkan.
"Okey, bentar Celo ambil mobil dulu ya kak," ucap Celo berlari menuju parkiran mobil. Arkan dan Arta berjalan keluar rumah, mereka naik mobil yang sudah dinyalakan oleh Celo dan Celo sebagai supirnya.
"Ehmmm kak boleh Celo ajak Indah nggak?" tanya Celo.
"Indah? Boleh kok daripada kamu harus nontonin kami nanti," ucap Arta.
"Okey bentar ya tuan dan nyonya Argaka hamba akan menjemput teman hamba dahulu," ucap Celo sambil keluar dari mobil dan berlari menjumpai Indah.
"Menurut kakak mereka ada hubungan spesial nggak?" tanya Arta sambil menatap suaminya yang sedari tadi asik memeluknya dari belakang.
"Hmmm nggak tahu dan nggak mau tahu juga," ucap Arkan.
"Ihkk kakak mah gitu," kesal Arta.
"Sayangku aku memang nggak tahu, lagian kalau mereka punya hubungan pun bukan masalah kan?" ucap Arkan.
"Hmmm iya sih, tapi Celo aku takut dia sakit hati kalau misalnya nanti Indah menolak dirinya," ungkap Arta.
"Sayang, jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," ucap Arkan sambil menatap istrinya.
"Hmm baiklah, kak bagaimana kalau Indah kita masukkan ke universitas, mungkin dia bisa mendampingi Celo mengurus perusahaan juga," usul Arta.
"Terserah kamu saja Nyonya Argaka, nanti kita tanyakan dia, Indah juga cukup gesit dan pintar dia akan cocok menjadi asisten Celo di perusahaan," jelas Arkan.
"Baiklah, eh mereka datang," ucap Arta sambil menunjuk Indah dan Celo yang sudah tiba.
"Kita mau kemana kak?"tanya Celo yang sudah masuk ke dalam mobil diikuti Indah disisi lain.
"Hmmm ke taman bunga dekat Star Cafe aja, kalau malam disana banyak kuliner aku mau makan sate, bakso, rujak, manisan, dan apa lagi ya," ucap Arta menyebutkan semua menu yang ia ketahui membuat ketiga orang di dalam mobil itu terheran heran dengan wanita itu.
"Wah kak, itu perut karet atau apa? emang muat sebanyak itu?" heran Celo sambil menatap Arta tak percaya.
"Heheheh porsi tiga orang Cel," ucap Arta malu-malu.
Arkan, Indah dan Celo tergelak mendengar ucapan wanita itu.
"Baiklah ayo berangkat!" seru Celo menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan mereka.
.
.
.
Like, Vote dan komen 😊😉
__ADS_1