
"Good morning Pa, Ma," sapa Samuel langsung memeluk dan mencium kening sang Mama sedangkan Papanya hanya disapa saja.
"Good morning Sam!" jawab Papa George dan Mama Lily.
"Papa gak di cium nih?" tanya Papa George sambil menurunkan korannya menatap Samuel.
"Idih najis, wleeekk," ledek Samuel sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dasar anak durhaka!" kesal Papa George.
"Ck....ck....ck kalian ingat umur dong, anak-anak aja gak seperti kelakuan kalian berdua," ledek Mama Lily yang asik dengan rajutannya.
"Eheheh,Ma Arkan dan yang lain mana? kok belum turun?" tanya Samuel mencari keberadaan keluarga adiknya.
"Masih di atas, oh iya Sam kamu bakal jadi Paman," ucap Mama Lily sumringah.
"Paman? kan emang Sam udah jadi paman ke empat anak-anak yang menggemaskan itu," ujar Samuel.
"Hmm, Arta hamil, kamu akan punya lima keponakan!" seru Papa George.
"What!!?? wow rumah ini bakal rame yayyy!!" seru Samuel kegirangan mendengar kabar kehamilan adik iparnya.
"ck...ck...ck, ininih kelamaan jomblo," celetuk Papa George.
"Eitss, Sam gak jomblo lagi Pa, Ma, Sam udah punya pacar heheh," seru Samuel malu-malu.
Byurrr...
"Hah, siapa yang mau sama manusia tengil sepertimu Sam? ini masih pagi, bangun Sam bangun!!" seru Papa George tak habis pikir.
"Astaga Pa, anak sendiri dinistakan, Sam udah punya calon dari ibu anak-anak Sam nanti heheh," ucap Samuel seperti seorang anak yang mendapat hadiah tahun baru, sungguh Samuel hanya bertingkah seperti ini dihadapan keluarganya, kalau di luar dia dinginnya melebihi puncak gunung Everest.
"Siapa dia Sam? kapan kenalin ke Mama? Tinggalnya dimana? dia pasti cantik kan? apa dia juga cerewet seperti adik iparmu?" cerca Mama Lily dengan banyak pertanyaan membuat Samuel kelimpungan.
"Mom, dia ada kok di rumah ini dan cerewetnya mungkin sebelas dua belas dengan Arta, cantik lagi, baik, pinter, semuanya deh!" seru Samuel dengan bangganya.
Papa George dan Mama Lily geleng-geleng kepala melihat tingkah Samuel yang seperti anak remaja baru jatuh cinta itu.
"Tuan, nyonya, sarapannya sudah siap," panggil pelayan bergigi tonggos dengan kacamata dan tompel yang masih belum di lepas, dia tak lain adalah Vika keponakan kedua orangtua Samuel dan Arkan, entah apa yang akan mereka ucapkan jika mengetahui gadis itu adalah Vika.
__ADS_1
"Ah baiklah, terimakasih," jawab Mama Lily ramah, ia kemarin diberitahu bahwa ada empat pelayan baru di rumah itu yang membantu Arta mengurus anak-anak.
Setelah kepergian Vika, Mama Lily merasa ada yang aneh, "Sam, suara gadis tadi seperti suara sepupu kalian ya," ucap Mama Lily sedikit bingung.
"Bisa aja itu Vika, ya udah Sam panggil Arkan dan yang lain deh Ma, Sam mau ucapin selamat sama Arta, senangnya bakal ada suara tangisan bayi di rumah ini hahhaah," seru Samuel sambil berjingkrak jingkrak seperti anak kecil menaiki tangga menuju lantai dua meninggalkan Mama Lily yang bingung dengan ucapan Samuel.
Vika, Katherine, Karina dan yang lainnya belum tahu kabar kehamilan Arta sebab mereka pulang larut malam setelah menghandel acara yang ditinggalkan Arkan semalam, kecuali Indah yang memilih diam, karena menurutnya lebih baik Arkan dan Arta yang mengucapkannya langsung kabar gembira itu.
Pagi itu, Kart, Tito dan Celo tiba di kediaman Whitegar untuk ikut serta dalam sarapan pagi, kali ini Papa George yang menghubungi mereka secara langsung, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, bahkan dokter Fiko pun turut di panggil ke kediaman Whitegar.
Samuel berjalan menuju kamar si kembar namun tak ada orang di dalam ruangan itu, begitu juga dengan ruangan Mark dan Ziko yang sudah dipindah di samping kamar si kembar juga kosong.
Samuel mendengar suara tawa terbahak-bahak di kamar Arta dan Arkan. Ia memanggil mereka namun tak juga di sahut, bahkan sampai ia mengetuk pintu itu beberapa kali.
Sampai akhirnya ia menggedor gedor pintu itu seperti orang gila karena penghuni kamar itu sedari tadi terdengar tertawa ria tanpa memperdulikan orang yang mengetuk pintunya saat ini.
Samuel memutar kenop pintu, namun terkunci ia menyenderkan telinganya ke arah pintu mencoba mendengar penghuni kamar itu dan tiba-tiba pintu dibuka hingga akhirnya Samuel terjatuh dengan wajah ke lantai.
Brukkk
Arkan membuka pintu dengan cepat, dan tiba-tiba seseorang terjatuh dari balik pintu.
"Kak Sam!" ucap Arkan langsung membantu Samuel yang sudah mencium lantai di pagi hari yang indah ini.
"Pfffttt..hahhaha, bibirmu Jontor kak!" ledek Arkan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Arghh...sakit dodol! Napa buka pintu gak bilang-bilang sih, ketampananku berkurang karenamu!" kesal Samuel yang langsung mengambil tisu yang terletak di meja dalam kamar itu dan membersihkan darah segar dari hidungnya.
"Kak kau tak apa-apa kan?" tanya Arta khawatir.
"Ahh tak apa, hanya perih sedikit bukan apa-apa, adik ipar bagaimana keadaanmu, bagaimana keadaan calon keponakanku? kalian baik kan?" tanya Samuel sambil menggulung tissu lalu memasukkannya ke dalam hidungnya yang berdarah.
"Kakak sudah tahu? kami baik dan sehat kak, terimakasih sudah bertanya kak," jawab Arta dengan senyuman semanis mungkin yang membuat siapa saja kegirangan melihat senyuman bumil itu.
"Arghhh....astaga manis sekali, kak kau lihat istriku? arkhh cantik sekali astaga," ucap Arkan berjingkrak jingkrak seperti anak kecil.
"Ck...dasar mafia Bucin!" ledek Samuel meskipun ia tak memungkiri bahwa senyuman adik iparnya itu mendamaikan hati.
"Ponakan Paman ayo bersih-bersih dulu, kita udah ditunggu di bawah, kalian juga cepatlah!" celetuk Samuel.
__ADS_1
"Baik Paman!" sahut keempatnya.
Si kembar, Mark dan Ziko bersiap-siap dengan bantuan keempat pengasuh yang masih menyamar itu. Entah apa tujuannya sepertinya semuanya ini ide Vika untuk memberikan kejutan pada Papa George dan Mama Lily yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya.
Setelah semua meninggalkan kamar, kini tinggallah Arta dan Arkan di dalam kamar.
"Kakak mandilah dahulu, Arta siapkan pakaian kakak," ujar Arta hendak turun dari tempat tidurnya namun Arkan dengan segera menghentikan wanita itu.
"Eits gak perlu, biar aku yang ambil sendiri, kamu sedang hamil aku tak mau kalian kelelahan," ucap Arkan yang kini duduk di samping Arta.
"Ck...aku hamil bukan sakit sayang," jawab Arta mencebikkan bibirnya.
Cup
Cup
Cup
Tiga kecupan mendarat lembut di kening, pipi dan bibir wanita itu. Arta merona karena mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
"Sayang....te... terimakasih untuk semuanya," lirih Arkan dengan suara yang menahan tangis haru, ia sungguh bahagia dengan kehadiran malaikat kecil di rahim istrinya.
"Aku juga berterimakasih karena sudah menerimaku, bahkan melindungi dan mencintaiku hingga saat ini," balas Arta sambil mengelus wajah suaminya yang menatapnya dengan sangat lembut.
"Boleh minta peluk hmmm?" tanya Arta tiba tiba dengan suara imutnya.
"Kemarilah sayang," jawab Arkan sumringah, baru saja suasananya haru namun secepat itu suasana berubah, benar benar mood bumil ini tak menentu.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" ucap Arta dalam pelukan suaminya, aroma tubuh suaminya menenangkan dirinya yang sebenarnya sejak tadi menahan rasa tak enak di perutnya.
"Aku juga, aku sangat sangat mencintaimu, terimakasih telah menerima pria cupu ini," ucap Arkan menghujani Arta dengan kecupan di kepala istrinya.
"Hmmmm ahhhh.....sudah ayo siap-siap," ucap Arta melepas pelukannya.
"Baiklah nyonya Argaka yang terhormat," jawab Arkan.
.
.
__ADS_1
.
Like vote dan komen 😊.