Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Diculik


__ADS_3

Arkan melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota itu dan tentu saja milik Argaka Company. Arta dan anak-anak begitu girang dalam perjalanan mereka, sesekali terdengar ibu hamil itu bernyanyi bersama anak-anaknya.


Arkan menatap merek dengan penuh kasih. Apalagi saat melihat istrinya tersenyum ceria tanpa beban berbeda dengan saat mereka pertama bertemu dulu, wanita itu sangat irit Ekspresi.


"Sayang apa kamu tidak ingin pergi berlibur atau menonton atau shopping dengan teman-temanmu seperti wanita lain? bukankah kalian menyukai hal seperti itu?" tanya Arkan tiba-tiba.


"Aku tidak punya teman untuk kuajak kak, lagipula lebih menyenangkan pergi keluar bersama kalian," ucap Arta.


"Apa benar? aku tak memaksamu untuk selalu di rumah dan mengikutiku ke kantor, aku tidak ingin mengekangmu, jika kamu ingin hang out kamu bisa pergi selama ada yang menemani, jika perlu aku mau menemanimu," usul Arkan, ia merasa bersalah sebab selama ini Arta selalu mengikutinya bahkan dalam keadaannya hamil muda ia ikut bekerja di kantor, mengurus anak-anak di rumah bahkan mengurus dirinya pasti itu melelahkan dan membuat jenuh.


"Hmmm aku tahu sayang, jika aku butuh sesuatu pasti akan kukatakan padamu, tenang saja justru aku sangat bersemangat ikut ke kantor, entah mengapa aroma ruang kerja dan bau kertas membuatku nyaman, mungkin si kembar akan menjadi pebisnis ulung suatu saat nanti!" ujar Arta yang mengerti maksud suaminya.


"Baiklah, jika kamu ingin sesuatu jangan segan-segan mengatakannya, selama itu aman dan nyaman untukmu aku akan berusaha memenuhinya," ujar Arkan sambil menatap istrinya sekilas.


"Iya sayangku," jawab Arta sambil tersenyum.


Tak beberapa lama mereka tiba di pusat perbelanjaan dimana Arta akan membeli beberapa pakaian baru untuk anak-anaknya, sebenarnya mereka bisa menyuruh asisten hanya saja Ibu hamil itu ingin melakukannya secara langsung.


"Perketat keamanan!" Titah Arkan melalui ponselnya, sedari tadi jantungnya berdegup tak karuan sepertinya akan terjadi sesuatu, oleh karena itu ia memperketat pengawasan anak-anak dan istrinya.


Apalagi dengan kondisi Arta yang hamil muda ia takut terjadi apa-apa, jika Arta tidak hamil mungkin akan sedikit aman sebab kemampuan bertarung Ibu hamil itu sangatlah mengerikan.


Sebelum saling mengenal Arkan dan Arta pernah sekali bertemu ketika terjadi pergolakan di dunia Mafia tepat saat Blood Tears dibentuk pertama kali beberapa tahun lalu setelah Arta dan Kart berhasil menumbangkan kekuasaan Ketua Mafia terkejam di dunia yang dikenal sebagai pria berdarah dingin.


Pada waktu itu Arta dan Kart berhasil menolong ribuan anak buah yang terikat perjanjian darah dengan Demon pimpinan Dead Poison, di saat yang sama Dead Rose datang membantu mereka untuk menumbangkan kekuasaan Dead Poison yang telah membuat resah seluruh masyarakat di dunia.


Kembali ke masa lima tahun yang lalu, Arkan mengingat dengan jelas bagaimana Kart dan Arta menghajar habis-habisan seluruh mafioso Dead Rose hanya dengan berbekal senjata api. Mereka menolong banyak jiwa yang terikat dengan Demon.


Dengan kecerdasan di atas rata-rata bahkan sangat jenius keduanya mampu menumbangkan seorang Demon yang terkenal dengan kelicikannya.


Pada hari itu anak peluru yang diarahkan Arta menembus jantung pria berdarah dingin itu bertubi-tubi hingga ia tumbang dan mati di tangan Gadis itu. Mata biru keturunan Kartier itu tampak berkilau kala mereka berhasil menumbangkan serikat Mafia terbesar di dunia padahal usia mereka sangat muda.


Tak banyak yang mengetahui bahwa keluarga Kartier adalah keluarga dengan kualitas gen terbaik, mereka memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan berkelahi mereka bahkan tak bisa dibandingkan dengan siapapun.


Hanya saja jika seorang wanita keturunan Kartier mengandung atau wanita lain mengandung keturunan Kartier, maka ia akan lemah untuk sementara waktu, Arkan jelas mengetahui hal ini dari kakak iparnya.


Inilah yang membuat Arkan cemas, bahkan ia sangat senang ketika mendengar istrinya mau ikut kemanapun dia pergi, sebab ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Sayang mikirin apa sih hmm?" tegur Arta yang melihat suaminya melamun di depan pintu masuk toko buku dan alat tulis.


"Eh...emm enggak ada heheh, gimana udah ketemu bukunya?" tanya Arkan sambil menggenggam tangan istrinya.


"Udah kok, sekarang kita ke toko baju anak-anak ya, aku juga mau beli baju buat baby," ucap Arta sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit sebab ia hamil anak kembar.


"Oke ayo, anak-anak kemari jangan berpencar ya!" ucap Arkan memanggil anak-anaknya.


Mereka berjalan menuju toko pakaian anak-anak tiba-tiba Jeni minta ditemani ke toilet.


"Mami, Papi Jeni mau ke toilet sebentar," ucap Jeni menahan ingin buang air kecil.


"Ya sudah sebentar Papi temani, Kalian tetap di dalam ya sayang, jika ada apa-apa langsung beritahu padaku, Vasko dan yang lain mengawasi kalian dari jauh!" ucap Arkan yang dianggukkan oleh Arta.


Arkan menggendong Jeni menuju toilet sementara itu, Arta dan ketiga anaknya lelakinya asik memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk mereka.


Namun tiba-tiba sesuatu yang tak diinginkan terjadi, Gerombolan pria berpakaian hitam membekap mereka, Arta dipukul dari belakang hingga membuat wanita itu pingsan sedang ketiga anaknya dibius dan tak sadarkan diri.


Semua orang panik melihat kejadian itu, namun tak ada yang berani menolong, para pengawal yang mengkawal Arta dan anak-anak ternyata kalah jumlah sebab beberapa pengawal tengah bertarung dengan pasukan berbaju hitam di jalan raya.


Perkelahian tak tehindarkan, hampir seluruh pria berbaju hitam itu berhasil dilumpuhkan namun mereka terkecoh sebab saat mereka bertarung Arta dan anak-anak sudah dibawa entah kemana oleh pimpinan orang-orang misterius itu.


"Sialan!!!" teriak Arkan menghancurkan ponselnya.


"Jeni ayo sayang, tetap dekat Papi, Mami dan abang-abangmu diculik, kita harus menyelamatkan mereka," ucap Arkan sambil memeluk erat putrinya.


Arkan menggendong Jeni dan berlari menuju tempat kejadian. Jeni sudah menangis saat mendengar bahwa Mami dan abang-abangnya diculik.


"Kenapa kalian tidak becus hah!!" kesal Arkan sambil menendang tulang kering Vasko membuat pria itu sedikit meringis kesakitan namun masih tetap setia di posisinya.


"Maafkan saya tuan!" ucap Vasko menyesal.


"Simpan maafmu itu, sekarang hubungi seluruh anak buah, hubungi Blood Tears juga kumpulkan semua mafioso dan segera lakukan pencarian! Lakukan yang terbaik!!" ucap Arkan sebelum ia meninggalkan pria itu disana.


Dengan tergesa-gesa sambil menggendong Jeni dengan erat dan menenangkan anaknya Arkan berjalan menuju mobilnya, namun ia tidak langsung naik seperti pria ini menaruh curiga terhadap mobilnya.


Ia langsung menghubungi Celo untuk menjemputnya langsung dan menyuruh anak buahnya memeriksa Mobilnya.

__ADS_1


"Cel jemput kami di Mall XX, kakakmu diculik bersama anak-anak!" ucap Arkan lalu mematikan ponselnya.


"Papi huhuhu,apa yang terjadi kenapa dengan Mami dan Abang-abang Jeni, ini semua salah Jeni, harusnya Jeni gak usah ke toilet tadi," tangis Jeni di pangkuan Arkan.


"Hussh jangan menangis, ini bukan salah Jeni, dengarkan Papi ya nak, Jeni gak boleh jauh-jauh dari Papi, kita akan cari Mami dan abang-abangmu, jangan menangis Jeni harus jadi gadis kuat demi Mami, Abang Mark, Ziko ,Josua dan baby twin, janji ya sayang!" ujar Arkan menenangkan anaknya.


Tak beberapa lama, Celo tiba namun Arkan malah jatuh pingsan saat akan masuk ke dalam mobil.


"Kak!!, Papi!!" teriak Celo dan Jeni bersamaan saat melihat Arkan pingsan.


Dengan cepat Celo membawa mereka menuju rumah sakit. Bahkan perasaan Celo sekarang sudah campur aduk, ia tak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi.


"Sialan!! siapa yang berani bermain-main dengan kakakku!!" kesal Celo sambil membanting setir mobil.


"Celo kita mau kemana?" tanya Arkan sadar dari pingsannya.


"Kakak sudah bangun, kita akan ke rumah sakit!" jawab Celo panik.


"Tidak, kita ke markas Blood Tears sekarang!! aku harus melacak istri dan anak-anakku, sepertinya tadi Arta pingsan, ia sedang menangis sekarang!" ucap Arkan panik saat air matanya keluar menandakan bahwa istrinya sedang menangis sekarang.


.


.


.


"Huhuhuhu, aku ingin kau dibotak bodoh! bukan dicukur begini," rengek seorang wanita pada beberapa orang yang babak belur dihadapannya.


Di sisi lain, Mia dan Baron tertawa puas saat mendengar bahwa anak buahnya berhasil membekap Arta dan tiga orang anak kecil.


"Misi kita berhasil hahahah, selamat datang ladang uang!" seringai Mia menatap foto yang dikirimkan oleh anak buahnya. Foto Arta dan anak-anak diikat di atas kursi dengan mulut dan kepala yang ditutup.


.


.


Waduh Arta dan anak-anak diculik!!!!

__ADS_1


Like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2