
"Makan ini!" ucap Arkan tegas, ia membawakan makanan untuk asistennya.
"Terimakasih Ar," ucap Tito dengan wajah tidak bersemangat.
"Mau sampai kapan kau seperti ini? apa kau terlalu bodoh hingga merusak dirimu sendiri karena cinta?" kesal Arkan.
"Seharusnya kau bisa berpikir jernih, kau ini laki-laki dan kau tahu jelas apa yang membuat Vika menolak lamaranmu," ucap Arkan.
"Setidaknya jangan sampai menyakiti dirimu sendiri bodoh!" ucap Arkan.
"Dia menolak ku, aku aku hanya ingin membahagiakan dia dan berharap dia bisa lepas dari rasa sakitnya selama ini, tapi apa? dia menggantung hubungan kami!"
Tito akhirnya melampiaskan rasa kesal dan marah yang disimpannya sendri selama beberapa hari ini.
"Saat aku mulai berpikir jernih, dia malah menjauh dan menghindariku, aku kacau aku tak tahu apa masalahnya, dia mendiamkan ku dan menghindariku beberapa hari ini, jika memang tidak nyaman bersamaku seharusnya dia bicara bukan membuatku tersiksa seperti ini," ucap Tito, ia sangat terpuruk, hatinya sakit saat gadisnya tidak menggubris dirinya bahkan sampai menolak bertemu dengannya.
"Aku harus apa jika begini?" lirih Tito, pria itu menunduk, air matanya menetes rasanya hatinya sangat kacau dan bingung dengan semua yang terjadi.
"Kalian harus bicara, kau istirahatlah dahulu dan makan semua itu, jika sampai aku datang lagi kau tidak menghabiskannya maka bersiaplah kusuapi!" tegas Arkan dengan tatapan marah.
Tito hanya diam menatap makanannya tak berselera. Arkan meninggalkan pria itu di dalam kamar dan membiarkan Tito beristirahat dan menenangkan pikiran dan hatinya.
Arkan berjalan menuju ruang santai dimana istrinya sedang duduk.
"Sayang," panggil Arkan.
"Ada apa?" tanya Arta.
"Aku pamit mau ke markas dulu ya," ucap Arkan sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Baiklah hati-hati di jalan sayang," balas Arta sambil tersenyum.
"Kak Karin, kak Kath pamit ya," ucap Arkan berpamitan pada dua wanita di dekat Arta.
"Vika kurasa kau tahu harus melakukan apa!" ucap Arkan sambil melirik lantai dua.
Vika terdiam, ia mengerti apa maksud sepupunya itu.
"Aku berangkat, jika ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Arkan.
"Kak boleh aku menjemput anak-anak nanti?" tanya Arta dengan mata berbinar-binar.
"Boleh sayang, tapi harus ditemani Vasko, tidak ada penolakan!" tegas Arkan.
"Baiklah, terimakasih," ucap Arta tersenyum manis.
"Hem...aku pergi dulu," ucap Arkan.
Arkan pergi menuju markas Dead Rose yang kini dikendalikan oleh anak buahnya dan anak buah Arta.
"Kalian sudah temukan data-datanya? jika sudah siapkan semuanya, 30 menit lagi aku tiba!" ucap Arkan pada seseorang dibalik telepon sebelum akhirnya ia menjauh dari mansion Whitegar.
Sementara itu di dalam mansion, tampak Vika tengah bingung, wajahnya juga murung dan gelisah.
__ADS_1
Kath memegang tangan gadis itu.
"Kamu harus tenang, jangan gunakan emosimu saat berbicara dengannya, lebih baik kamu mengalah saat dia marah," ucap Kath.
"Kak Tito bukan orang yang sulit ditenangkan, tapi jika dia terlanjur kecewa maka akan seperti ini, kuharap kamu bisa berbicara dari hati ke hati dengannya, pikirkanlah hubungan kalian, jangan semuanya berakhir sia-sia karena ego masing-masing," tambah Karina.
"Benar kak, kuharap kalian bisa bicara baik-baik," tambah Arta.
Vika menundukkan kepalanya, ia sedih sekaligus kecewa dengan dirinya sendri yang berlaku egois dan tidak memperdulikan perasaan Tito.
"Aku...aku akan mencoba," ucap Vika menatap mereka satu-persatu.
"Pergilah, bicaralah dengannya kami mendukungmu dari sini," ucap Kath sambil tersenyum.
Vika mengangguk, ia bangkit berdiri dan melangkah dengan berat menuju lantai dua dimana kamar Tito terletak.
Arta, Kath dan Karina hanya bisa berharap yang terbaik dengan mereka.
"Kuharap mereka bisa baikan, sangat tidak seru jika ada yang berkelahi di keluarga ini," ketus Arta.
"Kamu benar Ar, semoga mereka cepat baikan dan ada kabar bahagia dari keduanya," ucap Karina yang dianggukkan oleh Arta dan Kath.
"Emmm nanti kita jemput anak-anak yuk kak sekalian jalan-jalan aku bosan di rumah terus," usul Arta.
"Wah boleh tuh," ucap Karina setuju.
"Aku ijin dulu sama Sam, dia parno banget soalnya, gak boleh ini gak boleh itu kan bikin kesel," ucap Katherine.
"Oke, aku bantu deh bujuk kak Sam, lagian masa Kuta di rumah terus, dikira gak bosan apa," ketus Arta.
"Hahahahah, itu tandanya Sam sayang banget sama kalian berdua Kath," ujar Karina terkekeh.
"Aku juga digituin sama Kart, malah kemana-mana diikutin, bikin pusing hahahha tapi seneng juga sih," ucap Karina.
"Sebenarnya di masa kehamilan kita bisa menjahili suami kita puas puasan, karena mereka pasti akan mengikuti semua kemauan kita," ucap Arta dengan senyuman liciknya.
"Hahahah, bener kalau gitu kita kibulin yok, aku pengen banget lihat mereka bertiga kesal," celetuk Kath.
"Iya bener, ya udah nanti aja waktu jemput anak-anak, pasti seru hahahah," seru Arta.
Ketiga ibu hamil itu berbincang dengan penuh canda dan tawa padahal baru saja suasananya sedikit runyam dan menguras emosi. Tapi yang namanya ibu hamil ya begitu.
Sementara ketiga bumil cantik itu tertawa dengan rencana licik mereka, di depan pintu kamar Tito, Vika tengah ragu dan gugup.
"Bagaimana ini? aku takut," lirih Vika.
"Huffff...huhhhhhhhh, nggak boleh takut, nggak boleh ragu, kamu harus bisa demi hubungan kalian!" ucap Vika menyemangati dirinya sendiri.
Tok..tok....tok
Vika mengetuk pintu kamar Tito dan belum ada respon.
Tok....tok....tok
__ADS_1
Sekali lagi gadis itu mengetuk pintu hingga ada suara yang menyahutinya dari dalam kamar.
"Masuk, pintu tidak dikunci!" teriak Tito dari dalam.
Perlahan Vika membuka pintu, ia masuk dan langsung mengunci pintu kamar itu.
Tito menatap gadis itu dengan malas, ia sedikit terkejut ketika melihat Vika yang dipikirkannya Arkan yang datang.
"Mau apa kau kesini? keluar!!" bentak Tito marah. Hatinya menjadi sangat panas saat melihat Vika di hadapannya dan di satu ruangan yang sama dengan dia.
"Ti.. Tito, a...aku ingin bicara," ucap Vika mendekati Tito yang duduk di sofa, ia baru saja menyelesaikan makanannya.
"Mau bicara apa lagi?" ketus Tito.
"Ti..Tito kumohon de.. dengarkan aku dulu," pinta Vika terbata bata karena ia menahan tangisnya, ia begitu terkejut saat Tito membentak dirinya.
Vika memegang lengan Tito, namun tanpa sadar Tito malah menghempaskan tubuh Vika hingga gadis itu terjatuh ke lantai dan lututnya sedikit tergores karena terkena sudut meja yang tajam.
"Awh.." rintih Vika, Vika ingin menangis nun ia tahan, ia harus bicara itulah yang ada dalam pikiran gadis itu sekarang.
"Tito kumohon dengarkan aku!" teriak Vika agar Tito mau melihatnya.
Tito sedikit terkejut, ia memalingkan wajahnya dan melihat Vika duduk di lantai.
"Aku minta maaf, hiks hiks hiks," ucap Vika yang malah menangis.
"Aku min..minta maaf, a..aku tidak bermaksud menyakitimu, a..aku hanya takut kau meninggalkanku seperti adikku, aku takut huhuhuhu, aku takut kehilangan dirimu saat aku terlalu jauh mencintaimu, aku takut Tito, maafkan aku hiks hiks hiks, maaf,"
Vika menangis tersedu-sedu di hadapan Tito, Ia mengeluarkan semua rasa takut dan sedihnya.
"Aku minta maaf karena mengabaikan mu, bukan maksudku menolakmu, aku juga mau menikah denganmu tapi rasa takutku lebih besar Tito,"di lanjutnya lagi.
Mendengar ucapan Vika, Tito terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa, hatinya terlanjur sakit.
"Maaf katamu? kau terlalu egois Vika!" ucap Tito yang kini malah marah dan kesal.
"Apa kau pikir hati seseorang adalah sebuah permainan? kau pikir aku tidak sakit saat kau mengabaikan ku? aku aku sangat mencintaimu tapi kau mengabaikan ku hanya karena alasan klisemu itu! Kau bisa bicara denganku tapi kenapa kau malah menghindar dan menjauhiku? arghhhhhkkk.....sial!!" kesal Tito.
Vika bangkit berdiri, ia menatap Tito dengan tatapan sedih.
"Maaf aku mengecewakanmu, aku memang tidak pantas untukmu, maafkan aku, maafkan aku, aku akan pergi aku...a..aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Vika sambil menangis tersedu-sedu.
Deg
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan pria itu disana.
.
.
.
Sedih oii ðŸ˜
__ADS_1
Like vote dan komen 😊😉