
"Pa, kita harus bisa dapatkan kedua perusahaan besar itu!" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Fanya Maminya Tania.
"Iya, tenang saja Ma kita akan gunakan metode yang sama saat kita menghancurkan Kartier. Setahuku, Perusahaan Mars dipimpin oleh pria muda. Kita akan manfaatkan putri Sanjaya untuk mendekati pria itu" usul Jaya pada istrinya.
"Lalu bagaimana dengan Star Company? apa yang harus kita lakukan?" tanya Fanya.
"Kita manfaatkan Roki!" ujarnya lagi.
"Roki?" tanya Fanya.
"Iya, kita akan ancam Roki menggunakan adiknya yang cacat dan miskin itu. Roki akan kita manfaatkan untuk mendekati wanita pimpinan Star Company" usul Jaya.
"Bagus Pa, dengan begini kita akan menjadi pengendali seluruh perusahaan besar di negeri ini" ucap Fanya dengan senyuman liciknya.
"Ya kau benar! Tania dan Robin harus kita siapkan menjadi penerus, Sanjaya sudah berada di bawah kontrol kita, sementara Whitegar aku menyerah dengan Perusahaan aneh itu. Lebih baik kita lupakan perusahaan itu, dan beralih pada dua perusahaan yang tampaknya sangat ceroboh ini" ujar Jaya dengan senyuman kemenangan.
"Lalu apa rencana selanjutnya Pa?" tanya Fanya.
"Aku sudah mengirim beberapa penyusup di kedua perusahaan itu, dan tentunya kita mendapatkan banyak informasi dari mereka" ucapnya serius.
"Baguslah, tapi kenapa Whitegar tak bisa kita kendalikan?" tanya Fanya bingung.
"Mereka punya sistem yang kuat, mungkin karena sudah berdiri puluhan tahun. Lebih baik kita menghindar berurusan dengan perusahaan itu sebelum mereka sadar kalau kita memata-matai mereka" jelas Jaya yang mendapat anggukan setuju dari Fanya.
Jaya Mahendra adalah si pria tua yang menculik Tito dan Karina beberapa hari yang lalu. Ia memang sudah sering melakukan hal ini, namun sasarannya masih Perusahaan-perusahaan kecil. Jika dirasa perusahaan tersebut sulit ia tembus maka ia akan menyerah.
Kali ini ia mencoba peruntungannya dengan menyasar dua perusahaan besar yang berkembang pesat 5 tahun belakangan ini. Apalagi menurutnya, kedua perusahaan ini tampaknya punya sistem pengamanan yang kurang kuat sehingga mudah ditembus.
"Kali ini kita harus berhasil, jika perlu kita akan memakai bantuan Mafia untuk menjalankan aksi kita" jelas Jaya.
"Ma...mafia? bukankah itu terlalu beresiko pa?" tanya Fanya sambil menyergitkan keningnya.
"Mama tenang saja, kita akan bermain bersih seperti saat kita menghancurkan Kartier" ujar Jaya sambil tersenyum licik menatap gelas Wine di tangannya.
"Hahahah, dengan begini kita akan dengan mudah menjadi penguasa Pa" tawa Fanya puas dengan semua pencapaian kotor yang mereka lakukan selama ini.
"Ngomong-ngomong bagaimana kabar keponakan miskin kita itu ya ?" tanya Fanya.
"Mungkin mereka sedang mengemis di jalan" ejek Jaya menyunggingkan bibirnya.
Inilah kelemahan Jaya, ia akan puas dengan sua hasil kerjanya tanpa dengan teliti memeriksa latar belakang orang yang menjadi targetnya.
Memang dia selalu berhasil mengalahkan Perusahaan-perusahaan kecil sebab ia memakai ancaman, namun kali ini tampaknya Jaya akan mengalami kejutan besar bagi dirinya dan keluarganya akibat kecerobohan dan sikap serakah mereka.
Sementara itu, Arkan dan keluarganya telah selesai melakukan konsultasi. Dokter Andra mengusulkan agar si kembar lebih banyak mendapat perhatian penuh dari orang-orang di sekitarnya. Mereka tak perlu khawatir dengan trauma itu, sebab akan berangsur membaik seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Mereka kembali ke ruangan Karina dan Tito. Celo masih setia menemani mereka disana dan juga setia dengan laptopnya, beberapa menit yang lalu ia melakukan rapat online dengan petinggi perusahaan Star Company.
Tito sudah bangun dan Karina kembali berbincang-bincang tentang banyak hal dengan kakaknya itu.
"Ehem..." suara deheman seseorang menghentikan aktivitas mereka bertiga.
"Kak Kart, sudah selesai?"tanya Celo mengangkat kepalanya menatap Kart dan keluarga Argaka.
"Sudah" jawab Kart datar.
"Kart, bagaimana?" tanya Karina lirih. Tampak raut khawatir tergambar jelas di wajah perempuan cantik itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tito lagi.
"Hemm....Aku tidak baik-baik saja" terang Kart dengan wajah sedih.
Arkan, Arta dan si kembar hanya memperhatikan drama apa yang akan dimainkan oleh pria tampan yang sudah berubah ini. Mereka berusaha menahan tawa mereka melihat ekspresi sedih tiga manusia dalam ruangan itu.
"A..ada...apa Kart?" tanya Karina Khawatir.
"Aku....aku...hiks hiks hiks" akting Kart dimulai dengan tangisan.
"Ada apa ini Arta? jelaskan padaku!" teriak Karina khawatir. Matanya mulai memerah menahan tangisnya, jantungnya terasa akan meloncat keluar dari dalam dadanya melihat raut wajah sedih dari Kart.
Tito hanya menatap mereka penasaran, ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Pfffttt astaga hebat sekali aktingmu kak hahahahah" kekeh Arta dalam hati.
"Hahahah dia lucu sekali, apakah harus begini hahahahha" tawa Arkan dalam Hati.
" Sayang ada apa? Apa kau baik-baik saja? jelaskan padaku!" desak Karina sambil bangkit dari ranjangnya lalu berdiri dihadapan Kart.
"Karina " ucap Kart menatap Karina yang berdiri di hadapannya.
Karina menatap Kart sendu, ia ingin menunduk membantu Kart berdiri, namun tiba-tiba Kart mengeluarkan tangannya dengan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian yang sangat indah.
"Will you marry me?" ucap Kart berderai air mata menyodorkan cincin berlian itu dihadapan Karina.
"Apa !!" teriak Celo dan Tito bersamaan, sementara Arkan dan Arta sudah menahan tawanya sedari tadi apalagi melihat ekspresi shock ketiga manusia itu.
"Pfftt hahahhaha" kikik Arta dan Arkan pelan sambil memegang perutnya menahan tawa mereka. Sementara Karina membelalakkan matanya, ia tak tahu situasi apa yang ia hadapi sekarang.
Air matanya sudah terjatuh membasahi pipinya, Ia sangat terkejut dengan lamaran tiba-tiba ini. Ia masih berusaha merangkai semua kejadian ini di dalam otak pintarnya itu.
"Ja...jadi kamu...." ucapnya menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Kart menganggukkan kepalanya, Karina menangis tersedu-sedu melihat jawaban Kart.
"Hiks hiks hiks kau membuatku khawatir Kart!!" kesal Karina menangis tak karuan.
"Aku sudah sembuh sayang, semua berkat kegigihanmu" tutur Kart sambil tersenyum lembut seperti yang biasa Roki lakukan.
"Terimakasih telah menjaga dan menerima ku selama ini, terimakasih tetap ada walaupun aku selalu berganti, terimakasih telah mendampingiku, kini saatnya aku ingin memilikimu seutuhnya dalam ikatan pernikahan suci sekali untuk seumur hidup. Jujur aku tak bisa hidup tanpa dirimu, aku tak bisa pulih tanpa kalian semua yang mendukung dan merawatku selama ini, dan keinginanku saat ini adalah kau bersanding denganku dalam bahtera rumah tangga dan menjadi teman hidupku hingga maut memisahkan kita. Maukah kau Karina Fernando menikah denganku? Will you marry me honey?" ucap Kart mengulangi lamarannya.
Karina menangis terharu, ia menatap ke arah kakaknya Tito untuk meminta dukungan, Tito tersenyum menganggukkan kepalanya. Karina menatap semua yang berada di ruangan itu, mereka tersenyum tulus sambil menunggu jawaban gadis cantik itu.
Karina menatap Kart dengan deraian air mata membasahi pipinya. "Yes I Will" jawabnya pelan namun pasti tanpa ada keraguan.
Kart menyematkan cincin berlian itu di jari manis Karina.
"Terimakasih sayang" ucap Kart mencium bibir Karina sekilas.
Arkan dan Arta spontan menutup mata si kembar agar tak melihat ciuman itu.
"Astaga kak! sadar gak sih disini ada yang jomblo !" sindir Arta meledek dua manusia jomblo yang hanya menatap mereka berdua dengan tatapan iri bercampur bahagia.
"Kak, ada anak anak juga loh" tambah Arta membuat Kart tersadar lalu menggaruk lehernya mencoba menghilangkan rasa malunya.
"Ck kak Arta mentang-mentang sudah menikah ngeledek Celo Mulu kerjaannya cih" kesal Celo menatap Arta dengan tatapan malas.
"Gue mah biasa biasa aja, yang penting adek gue bahagia" ujar Tito menatap dua sejoli itu dengan senyuman bahagia.
"Ciee selamat Bro, berarti sebentar lagi kita bakal pesta nih" cetus Arkan menggoda Kart dan Karina.
"Hahahha iya dong, sayang kamu baring aja entar capek" ucap Kart membantu Karina berbaring. Wajah Karina memerah akibat perlakuan manis yang biasa ia terima dari Roki dan kini Kart juga melakukannya tentu saja karena mereka orang yang sama.
"Huuuuweeekkkk.......sok romantis" ledek Celo yang di balas tatapan tajam oleh Karina.
"Eh bebek Liar iri bilang bos!!" ledek Karina dengan senyuman penuh kemenangan.
"Cih si tikus got akhirnya nikah, gua gak ngiri ya wekk!!" ketus Celo mencebikkan bibirnya.
"Hahahahah astaga kalian ini ya dasar manusia bar-bar" ejek Arta.
Acara lamaran dadakan itu berjalan lancar, tentu saja ini semua ide Arta dan Arkan yang mengusulkan agar Kart memberi kejutan pada Karina.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut !!!!!!!😊😊😊😊😊