
Di Markas besar Dead Rose, Kart tengah duduk dihadapan tiga orang manusia yang kepalanya ditutup dengan kain hitam. Kart sendiri memakai topeng wajah yang menutupi seluruh wajahnya.
Sorot mata tajam pria itu mengarah pada ketiga orang itu.
"Lepaskan penutup kepalanya!"titah Kart.
Penutup kepalanya ketiganya dibuka, tampaklah Jaya Mahendra,Fanya dan Tania duduk diikat di atas kursi.
"Emphhh....erghhh..le.pagan a.ii," rintih Jaya Mahendra meronta-ronta di atas kursi.
Fanya dan Tania terus saja menangis, Kart memutar ulang siaran televisi saat Arkan mengumumkan peresmian Argaka Company.
Mata Tania dan Fanya terbelalak melihat video itu, tak ayal Jaya Mahendra juga syok saat mengetahui Argaka Company adalah gabungan dua perusahaan besar di negeri itu.
Bahkan semua perusahaan yang dahulu diancamnya menjalin kerjasama dengan Argaka Company. Tania tak kalah terkejut saat melihat Robin suaminya dan Ayah mertuanya Sanjaya, ikut menjalin kerjasama dengan Argaka Company.
Kart tersenyum tipis di balik topengnya, ia menatap mereka satu persatu.
"Kalian tahu siapa pria itu?" tanya Kart dengan suara datarnya.
Mereka bertiga menggeleng ketakutan, "Buka penutup mulut para bajingan itu!" titah Arkan.
"Emph....hah...hah," mereka bertiga terengah-engah tepat setelah penutup mulutnya dilepaskan.
"Beraninya kau melakukan ini pada kami sialan!" teriak Jaya Mahendra, Kart menggaruk telinganya mendengar teriakan pria paruh baya itu.
"Aku bertanya apa kalian tahu siapa pria itu? " tanya Kart sekali lagi mengulang pertanyaannya.
"Jawab!!" bentak Kart yang mulai habis kesabarannya.
"Ka...kami tidak tahu," ucap mereka bertiga ketakutan.
"Hahahaha, lihatlah sekarang kalian seperti anjing yang ketakutan padahal baru saja kalian menyalak!!" ejek Kart dengan tatapan merendahkan.
"Ah untuk pria itu, nanti kujelaskan, sekarang apa kalian mengenalku pembunuh?" tanya Kart sambil melepaskan topengnya, tampak wajah tampan berkarisma yang mirip sekali dengan Arta, sorot mata biru khas keluarga Kartier menambah kharisma pria tampan itu.
"Ro...Roki!" pekik mereka bertiga terkejut. Jaya, Fanya dan Tania terkejut begitu melihat pria di depannya itu.
"Sialan kalian keluarga Kartier!!" teriak Jaya marah begitu menatap manik biru kas milik Ken Kartier yang ternyata disembunyikan oleh Kart alias Roki yang mereka kenal.
"Hahahahh,kau mengenalku ternyata Jaya Mahendra, Roki? ah kau mengenalku sebagai Roki ternyata," ucap Kart setengah tertawa.
"Kau! dasar anak tidak tahu diri! apa yang kau lakukan pada kami hah? kurang ajar, lepaskan kami, sudah repot-repot kami mengurus kau dan adik buruk rupamu itu yang kau lakukan malah mengikat kami seperti ini!" teriak Fanya mengamuk sambil meronta-ronta mencoba melepaskan ikatannya.
"Mengurus?atau memeperbudak adikku? Dasar wanita jadi-jadian!" balas Kart dengan amarah yang sudah memuncak.
"Jika kau tak melepaskan kami, maka anak buah-ku dari Shark Monster akan membunuh adik kesayanganmu itu!" ancam Jaya Mahendra.
"Shark Monster? hahahah bahkan mereka tak sebanding dengan Dead Rose dan Blood Tears, tentu kau tahu kedua kelompok mafia itu bukan?" ledek Kart menatap rendah ke arah Jaya.
__ADS_1
"Sialan kau! aku tahu mereka, bahkan mereka pun bisa kupakai untuk menghancurkan Kartier sampai habis berkeping-keping!" teriak Jaya tak mau kalah.
"Hahahah, asal kau tahu pria yang ada di televisi tadi dan istrinya adalah ketua kedua kelompok itu! kau sudah bertemu dengan pria itu bukan?" balas Kart.
"Ahh, dan Shark Monster, hey apa kalian akan mengikuti perintah pria bau lapuk ini?" tanya Kart sembari memalingkan wajahnya ke arah beberapa orang yang berdiri di belakangnya, wajah mereka tidak tampak karena mereka berdiri di sisi gelap ruangan itu.
"Siluman jahat seperti dirinya harus segera dihabisi, kami Shark Monster menyatakan mengakhiri perjanjian dengan Mahendra Grup, dan Kau Jaya Mahendra terimalah hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu pada Ibu dan Adikku!" ucap Storm melangkah dari posisinya dan mendekati Jaya Mahendra.
"Jadi kau sudah tahu? sialan kalian? apa mau kalian hah?" teriak Jaya.
"Lebih baik kita percepat, putar semua video itu dan tunjukkan semua bukti kejahatan yang telah diberikan ke pihak kepolisian," ucap Kart.
Satu persatu video dan rekaman serta gambar dan keterangan saksi diputar dengan hadapan mereka bertiga.
Video saat Jaya, Fanya dan Tania yang berada di lokasi kecelakaan keluarga Kartier, video saat Tania menyuruh anak buahnya untuk menghabisi keluarga Hillary, keluarga kandung si kembar, Video saat si kembar dijual, rekam medis penjualan ginjal yang ternyata uangnya masuk ke kantong Tania, ia menjual ginjal dan tubuh Josua begitu pun dengan Jeni yang di jual sebagai pembantu.
Video saat Fanya dan Tania yang menghina dan melecehkan Arta selama dua tahun di mansion Mahendra. Segala bentuk ancaman dan tekanan yang mereka lakukan, bahkan kekerasan fisik juga ditampilkan di layar itu.
Bagian berikutnya menunjukkan segala bentuk kecurangan perusahaan Mahendra Grup saat menjalin kerja sama dengan Kartier, korupsi dan pencucian uang dilakukan Jaya selam beberapa tahun hingga Kartier melemah.
Semua bukti itu diputar di hadapan mereka. Betapa terkejutnya Jaya Mahendra, Fanya dan Tania melihat semua itu.
"Ba..bagaimana kalian bisa tahu?" ucap Jaya Mahendra mulai panik.
"Sialan!!" teriak Tania saat melihat semua bukti yang sudah dimusnahkan oleh mereka beberapa tahun lalu.
"Ck...manusia rendahan!!" ucap Kart menatap jijik ke arah mereka.
"Lakukan hukumannya!" ucap Kart.
"Selamat menikmati hukuman dari keponakan tampanmu Jaya Mahendra!" ucap Kart menyeringai jahat.
Beberapa mafioso datang dengan membawa besi panas dengan cap "PEMBUNUH" yang sudah dibakar dan menyala merah.
"Mau apa kalian!" panik Tania saat melihat besi panas berapi-api didekatkan ke tubuhnya.
SREKKKKK
tiga mafioso berdiri di belakang mereka dan mengoyak baju yang mereka pakai.
"Jangan! jangan! jangan!" teriak Fanya ketakutan ketika besi panas itu mulai mendekat.
Cess.......cessss....ceshhh
"Arkhhhh, panas....sakit....lepaskan arghhhhh," rintih mereka bertiga saat besi panas itu menghantam permukaan kulit mereka.
"Arghhhhh.....lepaskan sa...sakit..." teriak Jaya Mahendra.
Cesssshh....cessss....cessshh
__ADS_1
Sekali lagi besi panas berlogo itu mendarat dengan lembut menusuk di permukaan kulit betis mereka bertiga.
Rintihan demi rintihan, teriakan kesakitan dan ketakutan menyelimuti ruangan remang-remang itu.
Fanya dan Tania tak sadarkan diri, sedangkan Jaya Mahendra mulai melemah dan setengah sadar, rasa sakitnya bertambah saat besi panas itu diletakkan tepat di atas luka tembakan yang dilakukan si mata elang saat ia akan lari.
"Cukup! bawa mereka ke pihak yang berwajib, pastikan mereka sampai dengan selamat disana, jangan sampai mereka mati sebelum menghadapi penyiksaan yang sebenarnya!" tegas Kart.
"Tapi tuan, apakah Anda tidak ingin menghabisi mereka daripada harus di serahkan ke kantor polisi?" tanya Storm sedkit terkejut dengan ucapan Kart.
"Hey pria berbadan besar! tidak semua masalah harus kau selesaikan dengan langsung mencabut nyawa mereka! kurasa otakmu sudah dirusak si tua bangka itu!" balas Kart yang malah meledek Storm.
"Aku tak akan mengotori tanganku dengan darah hina binatang menjijikkan seperti mereka! apa kata keponakanku dan anak-anakku nanti saat mereka tahu bahwa aku seorang pembunuh? Lebih baik aku menyaksikan penderitaan mereka secara perlahan-lahan. Besok! besok mulailah menonton televisi!" ucap Kart tegas lalu meninggalkan mereka disana.
"Maksud tuan?" tanya Storm bingung, namun Kart sudah pergi lebih dahulu dan meninggalkan pria itu.
Storm melangkahkan kakinya menuju kediaman Mahendra, ia berjalan tergesa-gesa untuk segera menemui Ibu dan adik perempuannya. Ia sudah memerintahkan kepada seluruh mafiosonya untuk menjaga kediaman Mahendra.
BRAKKK
Pintu dibuka dengan kasar, Storm masuk dan mencari keberadaan Ibu dan adiknya.
"Ibu! Siska!" panggil Storm dengan suara bergetar.
Mafioso wanita yang ditugaskannya menjaga sang Ibu dan adik membawa keduanya keluar dari kamar. Tampak raut wajah lesu keduanya, sepertinya mereka benar-benar disiksa di mansion itu.
"Ibu, Siska!" ucap Storm menghampiri mereka dan langsung memeluk keduanya.
"Kak Andi, Siska rindu kakak," lirih Siska di pelukan kakaknya, Andi adalah nama asli Storm sebelum ia masuk ke dunia gelap yang malah menghancurkan keluarganya.
"Kami darimana saja nak, kenapa baru datang sekarang?" tanya sang Ibu.
"Andi minta maaf baru datang sekarang, ayo kita pulang!" ucap Andi dengan nada sendu, kedua matanya mulai menganak sungai melihat kondisi lemah Ibu dan adiknya itu.
"Ta...tapi tu..tuan dan nyo...nya belum datang," ucap Ibu Andi dengan gugup dan terbata.
"Andi sudah tau semua kebusukan mereka Bu, sudah ayo tinggalkan rumah ini, kita pulang ke rumah kita," ucap Storm sambil menggenggam erat tangan keduanya.
"Terimakasih telah menjaga mereka Maria!" ucap Storm pada mafioso wanita itu, wanita itu menunduk hormat sambil tersenyum.
"Ayo kak!" ucap Siska memegang lengan Kakaknya dengan erat, berakhir sudah penderitaan mereka di rumah penyiksaan itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊
__ADS_1