
"Stooopp....." teriak Arta membuat Arkan mengerem Mobilnya tiba-tiba, untung saja mereka tangan Arkan sigap menghalangi tubuh Arta jika tidak, mungkin saja kepala ibu hamil itu sudah memar sekarang.
Ckiiiiitttttt....
"Kamu gak apa-apa kan? kalian gimana nak? ada yang luka?" tanya Arkan dengan raut wajah khawatir.
"Kami baik-baik aja Pi," jawab Mark yang memeriksa keadaan ketiga adiknya. Ziko dan Jeni masih aman dalam tidurnya beruntung mereka memasang seat belt dan memeluk boneka sehingga tidurnya tidak terlalu terganggu.
"Ada apa Arta? kenapa kamu tiba-tiba teriak hmm? ada masalah apa? " tanya Arkan panik mengecek tubuh istrinya.
"Hmm...ma..maaf..hiks...hiks," jawab Arta yang malah menangis dan tertunduk tak berani menatap Arkan.
"Fuhh....ada apa katakan padaku, jangan menangis kumohon," bujuk Arkan, ia harus ekstra sabar menghadapi perubahan sikap istrinya yang tengah hamil muda itu.
"Nggak jadi, aku..aku," ucapnya terputus.
"Sayang katakanlah, ada apa? kamu butuh sesuatu?" tanya Arkan lembut sambil mengusap air mata istrinya.
"Itu.." ucap Arta sambil menunjuk seorang nenek-nenek yang menjual bunga mawar di pinggir jalan.
"Kamu mau bunga?" tanya Arkan yang dianggukkan oleh Arta.
"Baiklah, tunggu disini biar aku beli dulu ya," ucap Arkan.
"Hmmm belinya 10 ya kak, terus kasih satu sama neneknya, lalu ini beri bonus buat si nenek, kasihan kalau harus kerja padahal umurnya sudah tua begitu," ucap Arta menyodorkan sebuah amplop berisi uang tunai yang entah kapan di siapkannya.
Arkan tersenyum mendengar ucapan istrinya, jadi hanya karena merasa iba dengan nenek itu ia sampai berteriak seperti itu.
"Baiklah sayang, tapi lain kali kalau mau melakukan hal seperti ini atau apa pun itu gak usah teriak sayang, nanti kita bisa bahaya loh, ya?" ucap Arkan dengan lembut sambil menepuk kepala istrinya.
"He em...baiklah sayangku, terimakasih heheh," jawab Arta dengan ceria, moodnya sudah membaik secepat kilat, dasar bumil aneh.
Arkan keluar membeli bunga mawar si nenek sesuai jumlah yang diinginkan oleh Arta lalu memberikan setangkai bunganya pada nenek itu sambil menunjuk Arta yang memandang mereka dari mobil.
"Nek, ini bunganya satu buat nenek ya, dari istri saya, dia sedang ngidam dan ini ada tambahan rejeki buat nenek, nenek gak usah keliling lagi seperti ini, saya harap ini cukup buat bantu keluarga nenek," ujar Arkan sambil menyodorkan amplop berisi uang dengan total lima juta itu.
"Astaga tuan, terimakasih banyak saya jadi tidak enak, bawalah semua bunga ini tuan, saya sungguh berterimakasih, kebetulan cucu saya sedang sakit say butuh biaya, terimakasih banyak tuan terimakasih," ucap si nenek dengan penuh haru menerima uang itu, yang akan ia gunakan untuk membayar pengobatan cucunya.
"Tak perlu sungkan nek, saya hanya ambil yang sembilan ini aja, kalau boleh tahu bisa minta nama dan alamat nenek?" tanya Arkan.
"Nenek biasa dipanggil nenek Iyem, nenek tinggal di jalan Sejahtera no 25 tuan," ucap si nenek.
__ADS_1
"Ahh baiklah kalau begitu saya permisi nek," ucap Arkan.
"Terimakasih tuan, semoga tuan dan istrinya selalu dilimpahkan berkat dan semoga istri tuan sehat sampai hari persalinan tiba," ucap si nenek.
"Amin nek, saya permisi," ujar Arkan lalu kembali ke mobilnya.
"Ini sayang," ucap Arkan pada Arta namun tak ada jawaban dari Ibu hamil itu. Arkan mendekat dan dilihatnya Arta sudah tertidur.
"Wah cepat sekali tidurnya, Mark kapan Mamimu tidur?" tanya Arkan pada Mark.
"Hah? bukannya barusan Mami masih liatin Papi?" ucap Mark heran.
"Hahahahha, lihatlah Mamimu itu nak cepat sekali ia tidurnya, sudahlah kita berangkat, kalau kalian ngantuk tidurlah, jalanan mungkin agak macet dan kita sampainya sejam lagi," ujar Arkan.
"Baik Papi," jawab Josua dan Mark bersamaan.
Arkan mengemudikan mobilnya menuju perusahaan, benar saja waktu yang mereka tempuh hampir satu jam padahal jarak perusahaan ke rumah sakit tidak sejauh itu, jalanan cukup macet karena ada perbaikan jalan.
Sementara itu di mobil lain, tampak Indah dan Celo sedikit canggung, tak ada banyak percakapan terdengar di mobil itu.
"Ehmmm....In kok diam aja sih, canggung tauk," ujar Celo membuka percakapan.
"Ck...hmmm gimana kalau kamu ceritakan tentang dirimu? dari kecil Samy besar semuanya jangan ada yang ditutup-tutupi," usul Celo.
"Bukannya kamu bisa dapat info tentang itu semua?" tanya Indah membuat Celo sedikit kesal.
"Haissshhh....aku ingin mendengarnya darimu dan mengetes kejujuranmu," ujar Celo kesal.
"Baiklah, aku juga sudah lama ingin cerita hanya saja aku tak punya teman berbagi cerita," ucap Indah.
"Kalau begitu ceritalah mumpung jalanan ini macet, kalau sudah di kantor aku mungkin tak sempat mendengar ceritamu," ucap Celo.
"Hmm aku mulai dari mana ya?" ucap Indah sedikit bingung.
"Dari asalmu sebelum diadopsi," usul Celo.
"Ah benar!" ucap Indah.
"Aku dahulu ditemukan dalam keadaan sakit sakitan di depan panti asuhan Elshadai, saat itu umurku baru tiga tahun, tubuhku penuh bercak darah dan aku demam saat itu, hari itu aku dibungkus dengan kain panjang serta sebuah sapu tangan yang terselip diantara kain itu yang berlabel "WDR" dengan lambang matahari di sampingnya, sapu tangan itu yang kupakai jadi bandoku saat ini dan selalu kubawa ke mana mana," jelas Indah.
"Coba lihat," ucap Celo memandang Indah sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.
__ADS_1
Indah membuka saputangan yang dijadikannya bando lalu menyerahkannya pada Celo. Celo menatap benda itu dengan intens,dirabanya lambang yang terukir disudut sapu tangan itu.
"WDR dengan lambang matahari," gumam Celo
"Lalu?" tanya Celo lagi.
"Lalu mereka merawatku di panti asuhan itu hingga saat usiaku lima tahun, aku diadopsi oleh keluarga Sanjaya saat mereka melakukan bakti sosial di panti Asuhan Elshadai, awalnya mereka menyukaiku begitupun dengan Kak Robin dia sangat menyayangiku," lirih Indah dengan rasa sedih yang ia tahan.
"Tapi dua tahun setelah aku diadopsi, Mama mengandung calon putri mereka, rasa sayang mereka berangsur-angsur berkurang, setelah kelahiran anak kedua mereka yang merupakan seorang putri mereka melupakanku, bahkan ketika anak itu meninggal karena diracun oleh pembantu mereka sendiri, mereka justru menyalahkan aku yang jelas saat itu masih sangat kecil dan butuh kasih sayang, hiks hiks hiks," tangis Indah.
"Udah kalau gak kuat gak usah dilanjut," ujar Celo tak tega, sebenarnya ia sudah tahu betapa sakit kehidupan gadis itu, namun ia masih penasaran dan ternyata semuanya itu benar sesuai dengan ucapan Indah.
"Ihkk kamu ahk, nanggung tau, udah aku sampai nangis begini huhuhu," balas Indah tersedu-sedu.
"Heheheh, udah hapus dulu ingusmu itu dasar gadis roti!" ucap Celo sambil memberikan tisu pada Indah.
"Terimakasih," balas Indah.
"Ok, lanjutkan ceritamu," ucap Celo.
"Selama bertahun-tahun mereka menjadikanku pembantu di rumah itu, mereka menyiksaku, mereka tidak memperbolehkan ku berteman dengan anak-anak lain, bahkan aku sampai diejek sebagai pembantu di rumah orangtua angkatku, saat SMA teman-temanku mengataiku sebagai pelacur yang menggoda keluarga kaya agar bisa tinggal di mansion mewah padahal mereka tidak tahu aku tersiksa di sana," lirih Indah yang membuat Celo terbelalak sebab info yang satu ini masih belum ia baca.
"Lalu saat SMA aku pernah menyukai seseorang, dia sangat baik dan dia juga menyukaiku, tapi ternyata yang dia inginkan selama mendekatiku adalah tubuhku, ia disuruh oleh Mama untuk memperkosaku dan dengan demikian Mama bisa membuang ku hiks, hampir saja aku kehilangan sesuatu yang paling berharga bagiku, beruntung saat itu ada seorang pria muda yang menyelamatkanku, aku tak ingat wajahnya tapi kuharap aku bisa bertemu dengannya," ujar Indah.
"Dia gadis itu," gumam Celo dalam hatinya.
"Setelah semua itu aku masih memaafkan Mama angkatku dan semua perbuatannya, namun mereka semua seolah tak senang jika tidak melihatku menderita," ucap Indah sambil menangis tersedu-sedu mengingat semua masa lalu menyakitkan itu.
Mobil Celo berhenti di pinggir jalan,Celo menatap Indah dengan tatapan yang tak bisa diartikan, Celo menarik tubuh Indah dan memeluk mencoba menenangkan gadis itu.
"Sudahlah jangan menangis lagi, ternyata kau masih ingat dengan pria itu," ucap Celo sambil memeluk Indah.
"Akhirnya kita bertemu gadis Roti!" ucap Celo dalam hatinya.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉😊
__ADS_1