
Roki menyelesaikan misinya, ia kembali ke kamar tempat Karina beristirahat. Tampak disana Celo dan Tito tengah berjaga di depan kamar itu dengan menggunakan seragam yang sama dengan seragam pengawal Fanya . Roki menghampiri mereka berdua.
"Apa tadi ada masalah?" tanya Roki pada dua pemuda itu.
"Sedikit kak, tapi sudah beres," ucap Celo.
"Apa yang terjadi tadi?" tanya Roki.
"Ada seorang pelayan wanita mencoba masuk ke dalam kamar ini dengan alasan layanan kamar, ternyata dia membawa kamera beruntung Kak Tito cepat menyadarinya, langsung saja kami eksekusi wanita itu," jelas Celo sambil membuka pintu kamar hotel tersebut.
"Syukurlah, aku sempat khawatir tadi," ucap Roki.
Celo, Roki dan Tito memasuki kamar itu, mata mereka tertuju pada seorang gadis cantik yang tengah terlelap di atas ranjang. Tito menatap adiknya itu dengan tatapan haru.
"Terimakasih sudah menjaganya," ucap Tito pada Roki.
"Dia kekasihku tentu aku menjaganya," sinis Roki.
"Iya aku tahu, tapi aku tetap berterimakasih padamu, menahan gejolak hasrat akibat obat perangsang sangat sulit tapi kau bisa menjaganya," ucap Tito menatap Roki dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Yayaya terserah padamu saja, tapi aku bersyukur Fanya memanfaatkan ku, jika itu pria lain aku tak tahu apa yang akan terjadi mungkin keluarga Mahendra dan Sanjaya sudah ku bumihanguskan seluruhnya," geram Roki mengingat semua kejadian itu.
"Ya kau benar, tapi kali ini bos kita mungkinkah n akan melakukan perkataan mu itu," ucap Tito dengan senyum menyeringai di wajahnya.
"Kau benar kak," balas Celo.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Tito pada Roki.
"Sudah mulai stabil, beruntung penawarnya adalah yang terbaik jadi cepat bereaksi," jelas Roki sambil mengelus lembut pucuk kepala gadis itu.
Mendengar keributan di kamar itu membuat Karina terbangun dari tidur. Ia menatap 3 lelaki tampan di ruangan itu sambil tersenyum.
"Tikus got dah bangun Lo?" ledek Celo tepat setelah Karina menatap matanya.
"Kak Tito, Roki ada yang ngomong tapi gak ada wujudnya ihh serem deh," ucap Karina tak menghiraukan Celo.
"Ciahhhh buta kali Lo," ledek Celo.
"Tuh kan kak, itu siapa sih serem tau," ucap Karina seraya menutup kepalanya menggunakan selimut yang dipakainya.
__ADS_1
"Aduhh kalian ini, jangan mulai deh ngaconya!! ingat misi woy!!" teriak seseorang dari balik earphone yang ternyata adalah Arta membuat mereka cengengesan mendengar suara perempuan itu.
"Ya sudah kita keluar, misi clear!" ucap Tito.
"Oke!" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kamu bisa jalan Kar?" tanya Tito sambil membantu Karina bangkit.
"Masih pening sih kak, tapi Karin coba deh," ucap Karina.
"Gak usah jalan deh kak, sini gue gendong!" ucap Celo menawarkan bantuannya.
"Gak usah Cel gue bisa kok, lagian ada Roki sama kak Tito juga," ucap Karina tak enak.
"Bandel banget sih, Kak Roki, Kak Tito gue ijin ya gendong ni tikus got," pinta Celo dengan tatapan memelas membuat kedua manusia tampan itu tak tega.
"Ya udah Lo gendong tapi hati-hati," ucap Tito memberi ijin.
"Gue setuju tapi hati-hati," ucap Roki dengan tatapan sedikit mengancam.
"Ye elah kak, gini-gini gue cowok kuat kali kak jangan diraguin heheh udah ayo bantu Kak Karin naik ke punggung gue kak!" ucap Celo sambil membalikkan badannya dan menundukkan tubuhnya agar Karina bisa naik.
"Ihkk kok Kakak kasih ijin sih, ck" kesal Karina dengan wajah ditekuk.
"Ck...Roki juga sama haishhhh ya sudah lah," ucap Karina pasrah lalu naik ke atas punggung bidang pria itu.
"Okey penumpang kita akan segera berangkat mohon eratkan pegangan anda!!" ucap Celo dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"Let's go pilot!!!" teriak Karina tak kalah semangat. Mereka berdua memang paling sering berdebat tapi merea juga saling menyayangi satu sama lain.
Tito dan Roki hanya geleng-geleng melihat sifat kedua manusia itu, apalagi Tito cukup heran melihat kedekatan mereka berdua yang selalu berkelahi.
"Pemandangan seperti ini udah biasa, mereka memang sedekat itu," ucap Roki sambil berjalan mengejar Celo dan Karina yang sudah keluar kamar.
"Hahhhh....seandainya dulu aku menjaganya dengan benar, aku akan sedekat itu dengannya," lirih Tito tanpa sadar ucapannya bisa di dengar orang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arta dan Arkan tampak serius membahas sesuatu di dalam mobil Van mini itu. Sepertinya ada masalah baru yang timbul saat mereka menjalankan misi.
__ADS_1
"Siapa pelakunya?" tanya Arta dengan suara bergetar.
"Pelaku yang sama dengan penculikan nona Karina bos," jawab si penelepon.
"Sialan!! Bagaimana kondisi kalian?" tanya Arta pada orang dibalik telepon, sebelumnya ia mematikan earphone miliknya dan Arkan agar yang lain tak mendengar percakapan mereka.
"Kondisi aman terkendali bos! mereka menyerang markas buatan dan setelah itu mundur, ada beberapa anak buah yang terluka tapi tidak ada korban jiwa," jawab si penelepon.
"Hmmm, segera obati mereka yang terluka,jangan sampai mereka tahu letak markas utama, arahkan semua anggota untuk berjaga, perketat keamanan di sekitar Area 1 dan area 2," ucap Arta.
"Siap bos!!" ucap penelepon itu.
"Dan ingatkan semuanya agar seminimal mungkin menghindari kontak fisik, aku tak ingin anak buah-ku yang berharga jadi bonyok hanya karena tangan-tangan kotor itu!!" titah Arta.
"Siap Bos!!"
Arkan meminta Arta memberikan ponselnya pada dirinya yang dituruti oleh Arta.
"Dead Rose akan membantu, kalian temui Mr. Vasko ia akan segera tiba di area 1, anak buah Dead Rose juga akan membantu," jelas Celo lalu langsung mengakhiri teleponnya tanpa mendengar jawaban dari si penelepon.
Area 1 adalah Mansion utama Whitegar dimana si kembar berada, mereka tak ingin terjadi apa-apa dengan si kembar. Jika terjadi serangan, maka area 1 akan menjadi prioritas kelompok itu. Anak buah yang berjaga disana tidak terlihat, beberapa orang melakukan kamuflase hingga sama seperti lingkungan mansion itu, yang lainnya mengambil peran masing-masing untuk mengelabui musuh.
Ada yang berperan menjadi orang mabuk, preman, ibu-ibu berdaster yang sedang menggosip, pasangan yang berkelahi, ada yang jadi tukang ojek, ada yang jadi pembersih jalan dan sebagainya.
Sedangkan area 2 adalah markas utama Blood Tears yakni di perusahaan Star Company.
"Aku khawatir dengan anak-anak kak," tukas Arta dengan wajah khawatir.
"Mereka akan aman, biar kau tahu, Pak Kus itu mantan jenderal dia akan menjaga anak-anak disana, pelayan yang menemani si kembar juga bukan orang sembarang jadi jangan takut ya," ucap Arkan seraya memeluk Arta meski dirinya juga risau.
"Berani sekali geng curut itu mengganggu ketenangan keluarga Argaka," geram Arta.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Arkan.
"Kelompok selemah itu Tak akan mampu mengalahkan Blood Tears! tunggu kau Jaya Mahendra akan kubalas beribu kali lipat dari yang telah kau lakukan!!" ucap Arta dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
like, vote, komen , 😊😊😊