Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Akhir keluarga Mahendra


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, hari ini adalah hari persidangan untuk menentukan hukuman bagi tiga manusia yang ditahan sementara di penjara itu.


Fanya dan Jaya Mahendra tampak gusar, namun beda halnya dengan Tania yang tampak lebih tenang, bahkan tubuhnya mulai sedikit terurus tidak seperti sebelumnya. Tentu saja semua ini karena dukungan positif dari Robin yang setiap hari mengunjungi dan mengobrol dengannya.


Tiba di hari persidangan, tampak Kart duduk sebagai pihak penggugat, di sebelahnya kursi kosong yang seharusnya ditempati oleh Arta, namun tampaknya Arkan dan Arta masih belum tiba di persidangan. Kart didampingi oleh Pak Bram, sekretaris keluarga Kartier sekaligus pengacara mereka.


Tania, Jaya dan Fanya duduk di kursi masing-masing dengan memakai baju tahanan, tampak Fanya dan Mahendra dengan wajah kusut dan kesal, sedangkan Tani tenang di kursinya. Disudut lain tampak Robin memandangi istrinya dan memberi semangat pada wanita itu, sesekali tampak wajah polos Tani tersenyum samar saat melihat suaminya yang selalu setia mendukungnya.


"Bodohnya aku selama ini menyia-nyiakan pria yang sangat mencintaiku dan justru jatuh dalam dunia gelapku sendiri," ucap Tania dalam hati.


"Aku berjanji, jika Tuhan memberiku kesempatan, aku akan berusaha mencintai pria itu dengan segenap hatiku," batin Tania menatap suaminya.


Para Hakim pun memasuki ruangan, jaksa penuntut dan pembela telah hadir disana, semuanya telah dipersiapkan dengan baik.


Persidangan berjalan dengan tenang, sebab semua bukti merujuk pada tiga tersangka, Tania dengan jujur mengakui semua perbuatannya di hadapan hakim, Kart yang mendengar itu menatap Tania kasihan, sebab ia tahu sepupunya itu sebenarnya wanita yang baik, namun hanya karena keserakahan orangtua menjadikannya jahat seperti itu.


Lain halnya dengan Jaya dan Fanya yang menolak semua bukti itu dan bahkan berteriak histeris saat ditanyai oleh jaksa penuntut.


Beruntung semua bisa dikendalikan dengan baik, hingga akhirnya mereka dijatuhi hukuman penjara sesuai dengan pasal-pasal yang berlaku di kota itu.


Fanya dan Jaya terjerat pasal berlapis menyebabkan mereka harus dipenjara sampai dua puluh tahun lamanya sebab semua bukti rencana pembunuhan didalangi oleh keduanya, bahkan penjualan organ anak-anak dan kematian keluarga Hillary adalah tanggungjawab mereka sepenuhnya.


Sedangkan Tania diberi keringanan hukuman karena jujur dan mengakui semua perbuatannya, selain itu Kart selaku penggugat hanya menuntut Tania dengan tuduhan penjualan anak dan pemakaian obat-obatan terlarang.


Pintu ruangan terbuka, tampak pasangan suami istri dengan pakaian senada berwarna biru tua menggandeng dua orang anak kecil masuk ke dalam ruangan itu.


"Mohon maaf pada tuan dan nyonya untuk segera duduk, persidangan akan berakhir!" ucap hakim.


"Ah maaf Pak, Saya saudari pihak penggugat, saya yang seharusnya duduk disana, mohon maaf atas keterlambatannya," ujar Arta sopan.


"Baiklah, silahkan duduk nyonya," ucap Hakim.


Tania menatap Arta dengan berkaca-kaca, tak terasa air matanya menetes saat melihat adik sepupunya yang dulu sangat ia sayangi itu.


Namun beda halnya dengan Fanya dan Jaya, mereka terbelalak tak percaya melihat perubahan besar pada gadis itu, bahkan saat melihat Arta menggandeng tangan Arkan, akhirnya mereka tahu siapa pria tampan yang ditemui mereka beberapa hari lalu.


"Sialan ternyata itu si cacat dan si cupu itu! kenapa aku tidak tahu?" gerutu Fanya menatap sinis ke arah Arta.


"Astaga, kenapa semua data yang diberikan si berengsek penghianat itu salah?" kesal Jaya Mahendra saat sadar siapa pemilik Argaka sebenarnya.


Akhirnya Hakim menjatuhkan hukuman yang pantas untuk mereka, di akhir persidangan Tania meminta waktu pada Hakim untuk berbicara pada keluarga korban.


"Pak, boleh saya minta waktu sebentar untuk berbicara dengan mereka?" tanya Tania dengan nada lembut tidak seperti biasa ia bicara dengan nada yang selalu diatas.


"Baiklah, silahkan nona," ucap Hakim mempersilahkan,lalu merek pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Tinggallah Beberapa petugas kepolisian dan tahanan itu disana serta para saksi dan juga pihak-pihak yang bersangkutan.


Tania berjalan mendekati tempat duduk Arta dan Kart ia berdiri di hadapan kursi mereka lalu duduk berlutut di hadapan mereka berdua.


"Maafkan aku Arta, Roki. Aku tahu kalian pasti membenciku, mungkin aku memang tak pantas untuk dimaafkan hiks..hiks..hiks, aku menyesali semua perbuatanku pada kalian selama ini, terutama untuk Arta, maafkan aku Ar, aku tidak bisa jadi kakak yang baik untukmu," tangis Tania menyesal sambil berlutut.


"Kuharap kalian berbahagia dengan hidup kalian, aku akan menikmati waktuku di penjara dan berusaha belajar menjadi wanita yang lebih baik dengan kepribadian yang baik juga," ucap Tania menangis tersedu-sedu.


Robin ikut duduk di samping Tani, ia menggenggam tangan wanita itu, memberikan kekuatan bagi istrinya.


"Aku Robin Sanjaya, meminta maaf atas nama istriku, aku juga menyesal dengan semua yang terjadi di masa lalu, terkhususnya denganmu Arta, aku meminta maaf untuk semua ucapan kasar yang kulontarkan padamu dulu, dan kudoakan semoga keluarga kalian bahagia.


Arta menangis tersedu-sedu di dalam pelukan kakaknya, ia juga tak ingin hal seperti ini terjadi ia sangat menyayangi kakak sepupunya, hanya saja hukuman ini akan tetap berlanjut sebagai pelajaran bagi Tania.


"Kak Tania, Bolehkah aku memelukmu?" tanya Arta dengan suara isakannya.


"Kemarilah," jawab Tania sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


"Kak huhuhuh, aku menyayangimu, kau tetap kakakku, ku harap saat kita bertemu lagi suatu saat nanti kakak menjadi kepribadian yang lebih baik," tangis Arta tersedu-sedu.


"Aku juga menyayangimu Arta, terimakasih dan maaf untuk segalanya," ucap Tania memeluk Arta dengan erat.


Arkan, Kart dan Robin tersenyum melihat mereka berdua lain halnya dengan Fanya dan Jaya Mahendra yang sangat kesal dengan anak mereka itu.


"Tania!!! dasar kau wanita ular!! beraninya kau menghianati orangtuamu bodoh!!" bentak Fanya tak terima melihat kedekatan mereka.


"Maaf Tuan dan Nyonya Mahendra, Tania bukan lagi bagian dari keluarga Mahendra, dia adalah Tania Sanjaya istri dari Robin Sanjay, tidak ada hak kalian mengatur maupun menghina istriku!" tegas Robin di hadapan kedua paruh baya itu.


"Sialan!!" teriak Fanya dan Jaya bersamaan, karena terlalu ribut, akhirnya keduanya diseret keluar dari ruangan.


Tania menangis melihat kedua orangtuanya yang bahkan tidak menyesal sama sekali.


"Maafkan oragtuaku Arta, Roki!" ucap Tania malu.


"Tak apa Tania, kami sudah lama memaafkan kalian, namun untuk hukuman itu, memang pantas mereka dapatkan!" ujar Kart.


"Kak, aku sedang hamil loh, sebentar lagi kakak akan jadi aunty dari baby twin!" celetuk Arta memberitahukan kabar kehamilannya.


"Kembar?" ucap Kart, Tania dan Robin bersamaan.


"Iya kak heheh," jawab Arta cengengesan.


"Wah selamat ya Arta, maaf kakak sepertinya tak akan bisa menemani persalinanmu," ucap Tania sedikit kecewa.


"Tak Apa kak, kami akan serong berkunjung, kakak sehat sehat ya disana," ucap Arta melepas pelukannya.

__ADS_1


"Hmmm... terimakasih Arta, dan selamat ya buat kalian berdua, Arkan aku juga minta maaf atas semua perbuatanku padamu," ucap Tania menyesal.


"Tak apa Tania, justru karena kejadian ini aku bisa bersatu dengan istriku yang sangat cantik dan baik ini," ujar Arkan merangkul istrinya dengan senyum bahagia.


"Bahkan kami punya dua jagoan disini," ucap Arkan mengelus perut rata istrinya.


"Wah, selamat ya kuharap semuanya lancar sampai persalinan, lalu siapa kedua anak itu?" tanya Tania yang memang tidak ingat dengan si kembar.


"Nak kemarilah," panggil Arta.


Jo dan Jen berjalan ragu-ragu pasalnya mereka masih ingat dengan jelas wajah Tania di malam keluarga terbunuh.


"Mami, Papi," lirih mereka berdua sambil bersembunyi di belakang Arta dan Arkan.


"Mereka anak-anak keluarga Hillary kak," ucap Arta pelan. Tania membelalakkan matanya terkejut, ia menangis sejadi-jadinya menatap kedua anak itu, Tani terjatuh ke lantai, ia berlutut di hadapan mereka sekali lagi sambil menangis.


"Ma..maafkan aku, huhuhu maafkan aku, maaf" tangis Tania menyesal di hadapan kedua anak kembar itu.


Jo dan Jen melihat dan mendengar penyesalan tulus dari wanita itu, mereka berjalan lalu memberanikan diri memeluk Tania yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Tante, gak apa-apa kok, kita maafin kok jangan nangis ya," ujar Josua sambil memeluk Tania dari sisi Kiri sedang Jani dari sisi kanan.


"Maaf nak, Tante jahat sama kalian," sesal Tania.


"nggak apa-apa Tante, tapi jangan diulangi ya, kata Mami itu nggak baik loh," ujar Jeni kecil.


"Mami?" tanya Tania.


"Kami mengadopsi mereka kak," ucap Arta.


"Ah, baiklah Tante janji gak ulangi lagi, berarti kalian jadi keponakan Tante dong," ujar Tania sambil tersenyum.


"Iya dong Tante," ucap si kembar yang traumanya mulai hilang setelah seminggu ini menjalani terapi bersama psikiater terbaik yang mereka temui sebelumnya.


.


.


.


"Sayang!" teriak Arkan panik.


.


.

__ADS_1


Hayo bagian paniknya belum di up hehehhe,


like Vote dan komen๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2