
"Arta sedang sakit, jadi aku sedang memasak sarapan untuk dirinya juga anak-anak. Kalau Lo mau entar gue sisain," jelas Arkan.
"Ohh gitu, boleh juga tuh gue nyicipin masakan tuan Argaka yang terhormat hahaha" cicit Samuel menggoda Arkan.
"Halah iri bilang bos!!" ledek Arkan membuat Samuel bungkam.
Arkan pun melanjutkan sesi masak memasak nya, dia mengenakan celemek bunga-bunga yang membuatnya menjadi terkesan imut sekaligus tampan.
Samuel menunggu Arkan di meja makan, tiba-tiba terdengar teriakan si kembar yang baru turun bersama para maid yang sebelumnya diperintahkan Arkan untuk membangunkan dan membantu si kembar membersihkan diri.
"Papa !!!!!" teriak si kembar saat menuju dapur, mereka menatap Arkan dengan tatapan berbinar-binar.
"Wah good morning My kids, maaf Papa gak bisa meluk tangan Papa bau terasi hahahaha," sapa Arakan pada kedua anak kembarnya yang sudah terlihat segar.
"Papa bisa menunduk sebentar?" ucap Jeni, Arkan menurut lalu menunduk mendekatkan dirinya pada si kembar dan........
"Cup...."
"Morning Kiss Papa!" ucap si kembar mencium Masing-masing pipi Arkan. Arkan tersenyum bahagia lalu membalas mencium pipi gembul Josua dan Jeni secara bergantian.
"Morning Kiss Sayang!" seru Arkan sambil terus tersenyum.
"Arghhh....imut sekali kalian, pengen Papa unyel-unyel tapi tangan Papa bau hahaha" seloroh Arkan membuat si kembar juga ikut tertawa, sementara Samuel tersenyum kecut di meja makan melihat kedekatan Ayak dan anak itu.
Jo dan Jen mendekati Samuel yang tengah melamun, mereka naik ke kursi di masing-masing sisi Samuel dan mengecup pipi Samuel seperti yang mereka lakukan pada Arkan.
"Morning Kiss Paman Baik!" seru si kembar.
"Wah.....kirain paman gak kebagian,Ini morning kiss buat kalian ummah...ummmahh" ucap Samuel sambil mencium pipi si kembar secara bergantian.
"Heheheh, Papa Mama dimana?" tanya Josua sambil clingak clinguk mencari keberadaan Mamanya.
"Mama lagi kurang enak badan sayang," jawab Arkan membuat si kembar sontak berlari menuju kamar orangtuanya.
"Mama...!!!" teriak Jo dan Jen.
"Hei jangan lari-lari, nanti kalian jatuh!" teriak Arkan.
"Wah si kembar sayang banget sama kalian Ar!" ucap Samuel heran.
"Kami juga sangat menyayangi mereka, gue dan Arta gak akan sanggup hidup kalau mereka kenapa-kenapa," ujar Arkan sambil menyelesaikan masakannya.
"Gue juga sayang sama mereka, mereka anak-anak yang cerdas, gue harap mereka tetap aman," ucap Samuel.
Sementara itu,Jo dan Jen tengah berlari diikuti 2 orang pelayan menuju kamar orangtuanya.
tok.. tok.....tokk
Suara pintu diketuk, terdengar suara yang mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
"Mamaaa......!!" teriak si kembar langsung naik ke ranjang besar itu dan memeluk Arta dengan erat.
"Eh sayangnya Mama udah bangun, udah ganteng dan cantik juga," ucap Arta memeluk kedua anaknya.
"Kenapa mereka ngos-ngosan bi Ina?" tanya Arta pada salah satu pelayan itu.
"Maaf non, mereka tadi lari-lari menuju kamar Nona," balas pelayan itu sambil menunduk takut dimarahi.
"Aduh maaf ya bi, Bibi jadi capek lari-lari ngejar mereka," ucap Arta yang sontak membuat kedua pelayan itu terkejut. Mereka sudah takut akan terkena amukan bosnya, namun bosnya malah meminta maaf pada mereka.
"Eh ndak apa-apa Non,sudah tugas kami" ucap salah satu pelayan paruh baya yang sering dipanggil Bi Eni.
"Sayang minta maaf sama Bibi, kalian udah buat Bibinya capek, kasihan loh mereka sudah lemah tidak sekuat kalian," jelas Arta.
Si kembar turun dari ranjang lalu menundukkan kepalanya di hadapan kedua pelayan tersebut.
"Maaf ya Bi Ina, Bi Eni, Josua tadi lari-lari bikin Bibi jadi capek," ucap Josua pelan.
"Maaf ya Bibi, Jeni gak ulangi lagi deh hehehehe" kekeh Jeni dengan senyuman manisnya.
"Waduh Nyonya, gak perlu seperti ini Kami ndak masalah kok,sekaligus olehraga heheh" balas Bi Ina tak enak hati.
"Nggak Bi, ini juga untuk melatih mereka jadi anak-anak yang bertanggungjawab nantinya, Saya nggak mau anak-anak saya jadi orang yang seenaknya dengan orang lain," jelas Arta sambil tersenyum.
"Ya sudah, Bibi maafin kok Aden Josua dan Nona Jeni," ucap kedua pelayan itu pada si kembar.
" Terimakasih Bibi!" seru si kembar kompak.
"Permisi Nyonya, " ucap keduanya undur diri.
Josua dan Jeni kembali naik ke atas ranjang, lalu duduk di hadapan Arta .
" Mama sakit apa?" tanya mereka bersamaan.
"Cuma sakit perut biasa kok sayang,"jelas Arta sambil membelai kedua anaknya.
"Kalau sakit perut berarti belum bisa ditinggali adik bayi dong Ma," celetuk Jeni dengan polosnya membuat Arta kelabakan dengan ucapan gadis kecil itu.
"Iya Ma, Kapan dedek bayinya datang?" tanya Josua penasaran.
"Hahahah, astaga kalian ini pagi-pagi sudah bicarakan dedek bayi. Sabar ya sayang, kalian berdoa saja supaya Tuhan cepat kirim dedek bayinya ke perut Mama," jelas Arta sambil terkekeh dengan ucapan-ucapan si kembar.
"Abang gak sabar pengen punya dedek bayi hehehe" kekeh Josua sambil memegang perut Mamanya.
"Jeni juga pengen jadi kakak heheheh" tambah Jeni seraya mengelus perut Mamanya.
"Hahahah, iya sayang" kekeh Arta.
"Ya sudah ayo kita ke dapur!" usul Arta seraya bangkit dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Eh....no sayang no, kamu disitu aja!" teriak Arkan yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar sambil membawa sarapan pagi untuk mereka berempat.
"Aduh, sayang jangan makan di kamar gak enak tau sama kak Sam!" ujar Arta merasa tak enak hati membiarkan kakak iparnya makan sendirian.
"Nggak apa-apa kok sayang, tadi udah aku bilangin kok!" balas Arkan sambil meletakkan sarapan paginya di atas meja dibantu oleh beberapa pelayan.
Arkan dan Arta dudu di atas kasur, sementara si kembar duduk di atas kursi yang digeser mendekati ranjang mereka.
Setelah berdoa mereka menikmati acara makan pagi mereka di kamar itu. Pagi yang mereka lewati dengan canda tawa dan keharmonisan membuat hati mereka bahagia.
Sementara di lain tempat, Jaya Mahendra tengah menyusun strategi untuk menjebak pimpinan Star dan Mars company saat di acara pernikahan anaknya nanti.
"Seret kemari wanita itu" ucap Sanjaya Ayah Robin yang tengah duduk sejajar dengan Jaya Mahendra calon besannya.
Pengawal menarik seorang perempuan muda, wajah cantiknya hilang karena dipenuhi luka tamparan, pakaiannya juga acak-acakan.
"Arhhhh.....am...puni Saya!!!" rintih wanita itu menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Heh gadis kampung!! kau hanya gadis yatim piatu yang kuadopsi, jika bukan karena keluargaku kau akan mati di panti asuhan itu termakan api!!" sergah Sanjaya.
"Hiks..hiks....hikss...to..tolong ampuni saya tu..an!" lirih gadis muda itu.
"Kau akan kuampuni, selama kau mengikuti perintahku!" bentak Sanjaya.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?" lirih gadis muda itu.
"5 hari lagi pernikahan Robin dan Tania, mulai hari ini persiapkan dirimu, kau harus bisa menggoda pria ini dan mengajaknya tidur bersamamu!" ujar Sanjaya sambil melemparkan selembar foto ke arah gadis muda yang meringkuk di atas lantai itu.
"Ta...tapi," ucapnya terputus.
"Bawa dia! suruh pelayan merawat tubuh dekilnya itu! jangan biarkan dia keluar sebelum acara pernikahan dimulai!" perintah Sanjaya pada para pengawalnya.
Gadis itu meronta-ronta dibawa paksa oleh pengawal itu. Ia dikurung selama 5 hari kedepan untuk mempersiapkan dirinya sebagai umpan untuk menggoda pemilik perusahaan besar.
.
.
.
"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya seseorang.
"Mereka mulai begerak tuan!" balas orang di balik telepon itu.
.
.
.
__ADS_1
.