
Pesanan mereka tiba, Tia dan Cindy bersama beberapa pelayan lain membawakan makanan yang mereka pesan tadi.
"Silahkan dinikmati tuan-tuan dan Nona-nona," ucap Cindy ramah dan penuh hormat, sebab ia tahu orang-orang itu adalah jajaran orang-orang penting.
"Cindy dan Tia tinggal sebentar, yang lain boleh keluar!" titah Celo.
"Ada apa pak Manajer?" tanya Cindy gugup.
"Mulai hari ini kamu akan menggantikan posisi saya sebagai manajer dan mengurus Star Cafe, dan kamu Tia diangkat oleh Presdir secara langsung sebagai asisten manajer Star Cafe!" ucap Celo pada mereka berdua.
"Apa!?" teriak Tia spontan.
"ma...maafkan saya tuan, saya terlalu senang," ucap Tia gugup, sementara Cindy hanya terkekeh geli menatap ekspresi teman sekaligus sahabat kerjanya itu.
"Hmm....baiklah, lanjutkan kerja bagus kalian, aku ingin nama Star Cafe semakin bersinar di tangan orang-orang hebat seperti kalian!" ucap Celo.
"Ah dan Tia kau sudah tahu siapa Presdir kita?" tanya Celo.
"Siapa tuan?" tanya Tia penasaran.
"Gadis cacat yang kau cari-cari itu," bisik Celo membuat Tia terkejut setengah mati.
"A..apa tuan? ja....jadi nona yang tadi...," ucap Tia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Pfhhtt.....lucu sekali wajahmu Tia!" ledek Cindy membuat Tia mengerucutkan bibirnya.
"Sudah sana kembali bekerja," ucap Celo yang dianggukkan mereka berdua.
"Baik tuan, terimakasih atas kebaikan hatinya," ucap Cindy.
"Cih... berterimakasih lah pada nona Arta," ucap Celo.
"Terimakasih nona!" teriak mereka berdua hingga Arta mendengar mereka walau jaraknya agak berjauhan. Arta tersenyum lembut ke arah mereka berdua.
"Ya ampun cantik sekali!!" ucap Tia histeris saat melihat senyum Arta.
"Hahahha....sudah ayo, kami permisi tuan," ucap Cindy sambil menarik lengan Tia yang masih menatap Arta dengan mata berbinar-binar. Celo hanya geleng-geleng melihat tingkah karyawannya itu.
...****************...
__ADS_1
Kart memutar salah satu video yang dibuat oleh Roki sebelum ia menghilang seutuhnya.
"Hai semua, kalian kangen kan sama Roki yang super duper ganteng, baik hati dan pintar ini heheheh," ucap Roki pada video pembukaan.
"Kak Roki," lirih Arta menatap layar LCD itu, yang lain ikut memperhatikan.
"Sebelumnya gue mau ucapin terimakasih buat semua orang yang tahu dan menerima kehadiran gue selama ini, gue cuma mau bilang kalau Roki sayang banget sama kalian semua,
mungkin berat bagi kalian tapi jangan salah gue dan Kart adalah orang yang sama, Kart sudah kembali menjadi dirinya yang dahulu dia udah sembuh dan akhirnya gue menyatu dengan dirinya. Jadi jangan pernah sedih karena gue akan selalu berada di dekat kalian, Kart yang kalian lihat adalah gue Roki si tampan kebanggaan kalian hehehhe,"
"Dan buat tuan putri kesayangan gue, Arta kakak sayang sama kamu berbahagialah dengan suami kamu si Arkan yang nggak cupu lagi, dia udah keren bahkan lebih tampan dari kakak ck...Gitu amat Lo Arkan ngalahin kakak ipar sendiri, tapi gue seneng akhirnya Lo yang jadi pendamping hidup adek kesayangan gue. Buat Karina kesayanganku terimakasih sudah merawat dua pribadi yang benar-benar berbeda ini, kamu wanita hebat aku menyayangimu, buat yang lainnya mungkin kita tidak terlalu dekat tapi gue harap kalian berbahagia, gue titip adek kesayangan gue dan sahabat gue Arkan pada kalian semua.
Mereka berdua orang yang berharga, dan Arkan jangan pernah salahkan diri Lo karena masa lalu yang mengerikan itu, selesaikan semuanya dan balaskan dendam Lo! gue harap semua berjalan lancar, gue udah siapkan semua file dan bukti tentang kejahatan orang-orang itu, bahkan mereka berhubungan dengan si kembar ponakan gue, dan gue harap kalian bijak menangani ini," ucap Roki.
Mereka menonton video dengan durasi 45 menit itu, semuanya telah dibongkar oleh Roki sebelum ia benar-benar pergi, ia menjalankan misinya mencari tahu semua misteri dibalik kejadian di masa lalu.
"Jadi mereka pelakunya!" ucap Arta geram, air matanya berderai saat melihat video penyiksaan yang dilakukan para penjahat itu pada kedua anak kembarnya.
"Arghh..... huhuhu kasihan anak-anak ku, jahat sekali kalian!!" tangis Arta tak kuat melihat semua bukti yang sudah dikumpulkan oleh Roki.
Arkan merangkul tubuh istrinya dengan erat, ia juga merasakan kesedihan yang serupa dengan Arta. Hati mereka sangat sakit menyaksikan Josua di berkorban agar pedofil pedofil itu tidak menyentuh adiknya.
"Sialan!" teriak Samuel,amarahnya membuncah saat menyaksikan semua video itu.
Vika, Kath dan Karina ikut menyaksikan semua video itu. Tito, Celo dan Kart menatap layar itu dengan tatapan penuh amarah. Arta tak kuasa menahan dirinya, rasa sayangnya pada anak angkatnya itu sangat besar, beruntung ada Arkan yang menguatkan wanita itu, jika tidak mungkin saja ia sudah melakukan tindakan konyol untuk membalas semua orang itu.
"Bagaimana selanjutnya? kita harus segera membalas orang-orang bejat itu!" ucap Kart membuka percakapan.
"Kau benar Kakak ipar, tapi untuk saat ini aku ingin Arta tak usah masuk ke kantor!" ucap Arkan yang membuat semua orang menatap pria tampan itu.
"Kenapa begitu?" tanya Vika.
"Aku ingin dia dekat dengan si kembar, harus ada salah satu dari kami yang mendampingi mereka berdua, kita tidak tahu mungkin saja di rumah itu ada mata-mata," ucap Arkan di hadapan mereka semua.
"Aku setuju..hmmph...aku..aku ingin melindungi anak-anakku, aku akan di rumah kak huhuhu," ucap Arta masih dalam keadaan menangis dalam pelukan Arkan.
"Baiklah, Arta yang akan mendampingi mereka di rumah, untuk saat ini perketat keamanan di seluruh kediaman masing-masing, aku akan mengirim mafioso Blood Tears untuk berjaga-jaga," ucap Kart.
"Dead Rose akan membantu, musuh kita kelompok yang sama, kelompok Shark Monster, si tua bangka itu telah memilih lawan yang salah!!" ucap Arkan dengan sorot mata pembunuh yang tak pernah ditunjukkannya pada semua orang.
__ADS_1
"Dan untuk kalian para wanita, akan lebih aman jika kalian tinggal di mansion Arta, disana banyak anak buah yang berjaga, Celo juga tinggal di sana selain itu jaraknya dekat dengan mansion utama Whitegar," usul Kart, sebab para wanita ini akan menjadi titik kelemahan mereka.
"Kami setuju!" ucap mereka bersamaan.
Shark Monster salah satu kelompok mafia paling sadis yang tak segan-segan melakukan pertumpahan darah, mereka melakukan segala hal berbau kegiatan ilegal.
Penjualan manusia, organ tubuh, pembunuhan, penyelundupan narkoba, dan pekerjaan gelap dirajai oleh kelompok mafia ini. Mereka bermusuhan dengan Blood Tears dan Dark Rose yang selalu berhasil menghentikan aksi mereka dan mengganggu setiap transaksi mereka di pasar gelap.
"Aku akan tinggal dengan Arta!" ujar Vika sebab ia tak ingin Arta menghadapi musuh-musuh itu sendirian saat mereka menyerang nanti, walaupun ada Pak Kus dan yang lainnya.
"Baiklah," ucap Arkan setuju, setidaknya ada orang yang mendampingi Arta dan kedua Anaknya.
"Kalian serahkan saja masalah ini pada kami, jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja," ucap Samuel berusaha menenangkan para wanita yang mulai khawatir.
"Tapi aku merasa lebih baik kita tinggal di satu tempat yang sama, jangan berpencar karena akan sulit jika terjadi apa-apa," usul Arta yang mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Benar usulan Arta, jika kita tinggal di dua tempat berbeda mereka akan dengan mudah menyerang salah satu dari tempat tinggal kita," imbuh Karina.
"Selain itu, lebih baik jika kami menyamar sebagai pembantu baru di Mansion utama Whitegar agar lebih leluasa, setidaknya kita tidak terlalu mencolok karena berkumpul di satu titik yang sama," tambah Karina.
"Aku setuju dengan pendapat nona Karina, akan lebih baik jika kami membantu Arta berjaga-jaga di Mansion, setidaknya mengurangi resiko jika terjadi sesuatu," ucap Kath menyetujui usulan Karina.
"Baiklah, kami setuju!" ucap mereka semua.
"Aku akan merebut semua yang telah mereka rampas dari kehidupanku, dasar manusia jahat!" ucap Arta berapi-api.
"Sebaiknya kita jalankan rencana kita, tapi ngomong-ngomong Celo kemana?" tanya Arkan mencari Celo yang biasanya berceloteh ria jika ada pembicaraan serius seperti ini.
"Dia tadi ke toilet, perutnya sakit katanya. Ya ampun Indah!! indah belum kembali juga," ucap Vika histeris, ia baru teringat dengan Indah karena terlalu fokus dengan pembahasan mereka.
"Loh bukannya tadi dia ikut masuk?" tanya Tito.
"Dia nggak ikut masuk, dia ijin ke toilet tadi tapi sampai sekarang gak balik juga," ucap Vika khawatir.
.
.
.
__ADS_1
like,vote, dan komen biar author bisa makan 😂😂