Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Rumah


__ADS_3

Kath pingsan, untung saja Samuel sigap dan langsung menggendong istrinya.


"Kath, kenapa dia nak?" tanya Mama Lily khawatir.


Arta, Arkan dan yang lainnya juga khawatir melihat wanita itu tiba-tiba pingsan. Memang wajahnya saat tiba di rumah sakit tadi sudah sangat pucat, Samuel memaksa agar ia tinggal di rumah namun Kath kekeh ingin ikut.


Samuel dengan tergesa-gesa menggendong tubuh istrinya dan memanggil dokter. Dokter Langsung menangani Kath, Samuel begitu khawatir, ia didampingi oleh Mama Lily dan Indah.


"Kak jangan khawatir kak Kath pasti baik-baik saja," ucap Indah menguatkan mereka.


"Kakak harap juga begitu," ucap Samuel yang masih gelisah.


"Sebenarnya dia kenapa nak?" tanya Mama Lily.


"Sam juga gak tau ma, tadi pagi Kath juga mual mual, katanya perutnya sedikit keram," jelas Samuel.


Dokter selesai memeriksa keadaan Kath, ia memanggil Samuel dan keluarganya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Samuel di dalam ruang pemeriksaan istrinya.


"Duduk dulu tuan biar saya jelaskan," ucap dokter.


Samuel, Mama Lily dan Indah duduk di hadapan dokter menunggu penjelasan dari dokter itu.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada tuan sebab istri anda sedang mengandung tuan usianya baru tiga minggu," ucap dokter tersebut.


"Apa!!" teriak Samuel terkejut, namun tidak dengan Mama Lily dan Indah sebab mereka sudah menebak hal ini, Mama Lily dan Indah hanya tersenyum saat melihat ekspresi bahagia calon ayah itu.


"Istri saya hamil dok? benarkah, Ma, Indah aku akan jadi ayah! yes aku akan jadi ayah hahahah," teriak Samuel bahagia.


plakkk


Mama Lily memukul pundak Samuel Karen terlalu ribut, takutnya mereka malah mengganggu tidur Indah.


"Kamu ribut sekali seperti ayam bertelur saja, nanti menantu Mama terganggu jangan ribut!" kesal Mama Lily.


Samuel tergelak, ia terlalu senang mendengar kabar bahagia ini. Kemudian dokter menjelaskan apa yang perlu dan harus diperhatikan selama masa kehamilan terutama pada trimester pertama.


Dengan penuh perhatian Samuel mendengar penjelasan dokter. Ia sangat antusias mendengarkan setiap ucapan dokter, bahkan Mama Lily dan Indah sampai geleng-geleng kepala saat mendengar pertanyaan pertanyaan yang muncul dari mulut pria itu.


Setelah konsultasi dokter keluar dari ruangan, Mama Lily dan Indah kembali ke kamar Arkan untuk menyampaikan kabar bahagia ini.

__ADS_1


Samuel duduk di samping istrinya, digenggamnya erat tangan wanita itu, ia begitu bersyukur kini diberikan anugerah terindah, kecemburuannya selama ini pada Arkan dan Kart yang sudah menjadi calon ayah kini terobati.


"Terimakasih sayang, aku mencintaimu," ucap Sam sambil mencium punggung tangan istrinya.


Sementara itu semua orang di dalam ruangan Arkan bernafas lega mendengar ucapan Mama Lily dan Indah yang mengatakan bahwa Kath tengah hamil muda. Kini lengkap sudah penerus keluarga Whitegar.


"Wah selamat ya om, Tan, punya cucu lagi, hebat nih!" ucap Vika sambil memeluk Mama Lily dari belakang, kebiasaan gadis itu bila bertemu dengan Mam Lily.


"Terimakasih nak, kamu kapan nikahnya hmm?"sindir Mama Lily.


"Nanti aja Tan, Vika masih fokus sama karier," ucap Vika menanggapi.


Sebenarnya Tito sudah melamarnya namun dengan alasan yang sama Vika menolak lamaran Tito. Sementara di sudut ruangan Tito diam saja, ia tampak muram namun tak ditunjukkan.


Arkan dan Arta menyadari perubahan asisten mereka itu. Entah apa alasan Vika namun ia kekeh dengan keputusannya untuk tidak menikah dahulu.


...****************...


Dua Minggu telah berlalu, Arkan sudah kembali pulih dan kini sudah bisa beraktivitas normal kembali. Semuanya kembali normal seperti semula, Keluarga Whitegar kini berbahagia karena mereka akan menyambut kehadiran bay kecil di rumah itu.


Anak-anak juga melanjutkan sekolah mereka, Arkan mulai kembali beraktivitas, hari ini ia akan mengurus beberapa urusan perusahaan.


Di atas tempat tidur, Arkan dan Arta saling berpelukan, Arta masih terlelap karena cukup kewalahan setelah pegulatan panas mereka semalam yang sebelumnya sempat terlewat selama sebulan.


"Apa kamu harus ke kantor hmm?" tanya Arta dengan suara khas baru bangun tidur.


"Aku hanya sebentar, aku sedang mencari tahu sesuatu ini berhubungan dengan Vika, kamu tidak lihat Tito muram selama beberapa hari ini, aku kasihan dengannya, sepertinya Vika masih belum bisa melupakan kejadian ketika ia kehilangan adiknya dulu," jelas Arkan.


Arta mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


"Ada apa sebenarnya? bukankah adiknya sudah meninggal dunia?" tanya Arta penasaran.


"Setahuku juga adik Vika sudah meninggal, hanya saja kemarin aku melihat lambang keluarga Vika di sapu tangan milik Indah, aku ingin menyelidikinya," jelas Arkan.


"Benarkah? apa mungkin...." ucap Arta menatap Arkan.


"Entahlah, kita coba caritahu, dan jika boleh kami berbicaralah dengan Vika, sepertinya dia juga butuh teman untuk curhat, mungkin ia takut membuka hatinya karena kehilangan sang adik," ucap Arkan.


"Hmmmm baiklah, kalau begitu ayo kita bantu mereka, aku juga tidak tega melihat kak Tito muram begitu, Kak Vika juga tampaknya sedang sedih," ucap Arta.


Mereka pun bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka.

__ADS_1


Setelah bersiap-siap, Arkan berangkat ke kantor setelah terlebih dahulu sarapan pagi dan menghubungi Vika untuk datang ke mansion.


"Aku berangkat dulu sayang," ucap Arkan sambil mengecup bibir dan pipi istrinya.


"Iya hati-hati sayang," ucap Arta.


"Papi berangkat ya sayang, jaga Mami kalian Cup," ucap Arkan sambil mengecup perut Arta.


"Baik Papi, hati-hati di jalan, kalau pulang bawakan kami ice cream cokelat ya," ucap Arta dengan meniru suara anak-anak.


"Baiklah sayang," ucap Arkan pamit.


Setelah kepergian Arkan, Arta kembali ke dalam rumah dan menemui Kakak iparnya yang tengah duduk di ruang santai. Kath tidak diperbolehkan ikut bekerja sejak berita kehamilannya, sebab Sam tak ingin istrinya kelelahan.


Keluarga Argaka dan keluarga Sam tinggal bersama di mansion besar Whitegar, hal ini merupakan permintaan dari Papa George dan Mama Lily, mereka tidak ingin kesepian di mansion sebesar itu.


"Kak apa kakak masih sering mual?" tanya Arta sambil mengunyah pop corn yang diambilnya dari lemari Snack.


"Ahh iya Ar, kakak masih sering mual dan muntah, tapi kakakmu lebih parah dia malah ngidam yang aneh-aneh, aku yang kecapekan muntah eh dia yang selera makannya sangat besar," ucap Kath sambil mencebikkan bibirnya.


"Hahahah, sabar kak kali itu sih namanya kehamilan simpatik, kak Arkan juga begitu di masa awal kehamilan, entar kak Sam juga gak nafsu makan dan malah kebalik dengan kakak," jelas Arta yang kini duduk di samping Kath.


"Hahahah pasti lucu kalau dia mual dan muntah, bagus sih biar dia juga merasakan penderitaan ibu hamil bukan enaknya aja," ucap Kath sambil terkekeh.


"Bener apa kata kakak, kira-kira kak Karin gimana ya, apa kak Kart juga mual muntah seperti suami kita?" ucap Arta.


"Mungkin saja," ucap Kath.


"Oh iya kak, kak Vika sebenarnya kenapa ya, sepertinya ada masalah dengan hubungan kak Vika dan Kak Tito," ujar Arta.


"Iya sepertinya ada masalah dengan mereka, aku ingin bicara dengan Vika tapi Sam tidak memperbolehkan ku keluar rumah," ucap Kath.


"Tenang saja kak, sebentar lagi Kak Vika datang kok, tadi kak Arkan udah hubungin kak Vika supaya datang kesini," ucap Arta.


"Ah baguslah, kita harus bicara dengannya," ujar Kath.


.


.


.

__ADS_1


like vote dan komen 😊


__ADS_2