Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Tiga bumil


__ADS_3

Vika, Kath dan Karina berangkat menuju sekolah anak-anak setelah berhasil memohon pada Samuel yang sangat posesif pada istrinya.


Ketiga bumil itu ditemani oleh Kart yang memang harus ikut kemanapun Karina pergi, pria yang satu ini tak kalah posesif dengan Samuel.


Kalau Arta jangan ditanya, mobil mereka sampai di kawal empat mobil pengawal di masing-masing sisi jalan, bahkan Vika dan Tito dipaksa ikut padahal mereka baru baikan.


Arkan sibuk mengurus sesuatu di markas sehingga ia tidak bisa ikut, bahkan Kart dibuat kesal karena harus menerima telpon dari Arkan setiap saat.


"Haishhh..kalau kau begitu khawatir kau datang saja bodoh!" kesal Kart saat menerima panggilan dari Arkan.


Ketiga bumil cantik itu hanya terkikik geli saat melihat wajah Kart berkerut kesal.


Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai di sekolah anak-anak. Semua mata tertuju pada rombongan mobil itu, bagaimana tidak, mereka dikawal bak presiden.


Anak-anak sudah menunggu di taman sekolah, seperti biasa mereka bermain dulu disana sambil menunggu jemputan mereka.


Ketiga bumil cantik keluar dengan gaya cetar membahana, mereka lebih cocok disebut primadona kampus daripada Ibu-ibu Alisa calon Ibu.


Para Mama muda berjalan menuju taman yang menyatukan halaman Kampus, sekolah dasar, SMP dan SMA di area itu.


"Wah mereka semua sangat cantik," bisik seorang mahasiswa pada temannya.


"Iya benar, tapi rumornya salah satu dari mereka bertiga adalah pemilik yayasan ini," bisik temannya lagi.


"Wah benarkah? berarti mereka Keluarga anak-anak jenius itu dong," ucap yang lain.


Mereka mengangguk mengiyakan ucapan temannya.


Anak-anak di jemput oleh para Bumil, setelah itu mereka semua pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli apa saja yang mereka inginkan. Selain mengidam yang aneh-aneh ketiga bumil ini juga senang berbelanja dan hang out bareng.


"Kak kita beli saja benda benda itu sekarang, supaya mereka tidak curiga apalagi ada Kak Kart disini," bisik Arta yang dianggukkan oleh Karina dan Kath.


Tito dan Vika yang sudah berbaikan kini menempel terus seperti perangko. Mereka berdua ditugaskan menjada anak-anak dan membawa mereka bermain saat tiga wanita itu asik belanja kesana kemari.


Seharian mereka habiskan di dalam mall, setelah puas dengan kegiatan mereka, rombongan mereka keluar dari mall dan kembali ke rumah.


Sedangkan di markas, Arkan tengah mendapat kabar mengejutkan sekaligus membahagiakan bagi seluruh keluarganya. Ia menemukan fakta tentang sesuatu yang selama ini membuat luka di dalam keluarganya.


...****************...


Di ruang keluarga semuanya berkumpul dan bercanda ria, tampak rasa bahagia terpancar dari wajah masing-masing anggota keluarga.


Arkan, Samuel, Celo dan indah juga sudah kembali ke rumah setelah bekerja keras seharian.


Arkan dan yang lainnya sangat senang saat melihat Tito dan Vika sudah kembali seperti semula, tidak sia-sia Arkan sampai menyeret pria itu ke mansionnya.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama, anak-anak asik dengan permainan mereka bersama Indah dan Celo.


Namun tidak seperti biasa, ketiga calon Mama muda itu yang biasanya menempel pada suami masing-masing kini malah lebih sering berkumpul bersama bahkan mengabaikan suami mereka, entah apa yang direncanakan ketiganya merekalah yang tau.


Saat semuanya sedang asik, tiba-tiba Tito berdiri dan berbicara.


"Ehmmm.....Saya mohon waktunya sebentar," ucap Tito yang kini berdiri di antara mereka semua.


Seluruh pandangan tertuju pada pria tampan itu, wajahnya kini kembali segar setelah memulihkan hati dan pikirannya yang sempat kacau.


"Saya ingin mengumumkan bahwa seminggu lagi saya dan Vika akan menikah,"ucap Tito sambil mengajak Vika berdiri, mereka sudah membicarakan hal ini bahkan kedua orangtua Vika sudah dihubungi dan mereka setuju.


"Apa!" ucap mereka bersamaan, mereka cukup terkejut dengan ucapan Tito namun mereka turut senang karena akhirnya tidak ada lagi cekcok di keluarga itu.


"Selamat Tito, Vika," ucap mereka satu-persatu.


"Tapi kenapa secepat itu kak?" tanya Karina sedikit heran.


"Lebih cepat lebih baik, aku tak ingin mengulur waktu toh juga akan menikah mau sekarang ataupun nanti," jelas Tito yang masih menggenggam erat tangan Vika.


"Apa kau tidak keberatan Vik?" tanya Samuel pada sepupunya itu.


"Aku setuju saja, toh kami juga akan menikah, lebih cepat lebih baik," ucap Vika sambil tersenyum menatap Tito begitu pun dengan Tito.


"Iri bilang bos!" teriak Vika.


"Pfhttt....hahahahahahah," mereka semua tertawa mendengar itu.


"Baiklah jika memang itu keputusan kalian, kami akan mendukung kalian, kuharap kalian tidak berkelahi lagi seperti anak TK, padahal bisa dibicarakan kalian malah saling menyakiti dasar bodoh," ledek Arkan.


"Terserah kita dong Arkan, yang penting kan sekarang udah baikan, iya kan sayang," balas Vika sambil menatap calon suaminya dengan lembut.


Tito malah merona dan kikuk pasalnya ia tak pernah digoda seperti itu.


"Eh...i..iya, " balas Tito kikuk.


"Hahahah, sepertinya Vika yang memegang kendali ya Tito," ledek Kart.


Tito hanya senyum kikuk menanggapi ucapan adik iparnya.


"Wah kalau begitu kita harus menyiapkan segalanya, seminggu lagi kalian akan menikah," ucap Arta antusias, sebenarnya dia antusias bukan untuk acaranya tapi untuk rencana mereka mengerjai tiga calon ayah disana.


"Apa kau mau mengadakan acara juga?" tanya Arkan untuk kesekian kalinya, sebab ia selalu menanyakan apakah Arta mau membuat resepsi pernikahan, dan jawabannya selalu sama seperti saat ini.


"Tidak, buat apa kak, sayang duitnya, mending buat beli kado sama kak Tito dan kak Vika," celetuk Arta.

__ADS_1


Arkan hanya bisa pasrah mendengar jawaban istrinya, memang dasar istrinya tidak suka membuang-buang uang untuk sesuatu yang berlebihan seperti itu, toh juga mereka sudah menikah pikirannya.


Mereka semua tertawa bahagia dengan kabar itu, semua perlengkapan pernikahan segera diurus oleh orang kepercayaan Arkan, Arkan banyak membantu sebagai bentuk dukungan pada sepupu dan asistennya ya g sudah dianggapnya sebagai saudara.


"Aku akan memberikan hadiah pernikahan yang tak pernah kalian pikirkan, kuharap kalian selalu bahagia, aku juga terkejut mendengar semua informasi itu, tapi aku senang akhirnya dia kembali bersama kita sebagai keluarga," batin Arkan menatap mereka satu-persatu.


Jo dan Jen mendengar suara batin Papi mereka, merek ingin bertanya tapi diundurkan, sepertinya akan ada kejutan besar di keluarga itu.


Mereka semua asik dengan aktivitas mereka hingga menjelang malam dan mereka kembali ke kamar masing-masing. Semuanya menginap di Mansion utama Whitegar yang pastinya cukup untuk menampung mereka semua.


Anak-anak yang lelah bermain akhirnya terlelap dalam kamar mereka masing-masing setelah menyelesaikan tugas sekolah.


Di dalam kamar Arkan, Arta memeluk suaminya dengan erat, seperti biasa Mama muda itu sangat senang menghirup aroma tubuh suaminya.


"Apa hari ini menyenangkan?" tanya Arkan yang asik menciumi rambut lembut istrinya.


"Sangat menyenangkan, aku senang sekali, apa yang kau lakukan tadi di markas?" tanya Arta penasaran.


"Mencaritahu keberadaan adik sepupuku yang sempat dikatakan meninggal," ucap Arkan jujur, ia tidak bisa menutupi sesuatu dari istrinya.


"Jadi dia masih hidup," ucap Arta terkejut.


Arkan mengangguk, "Ya dia masih, dan dia selama ini ada di dekat kita," ujar Arkan.


"Apa dia..." ucap Arta terputus.


"Iya, tebakanmu benar sayang, terimakasih sudah menyelamatkannya waktu itu," ucap Arkan.


Arta membalas dengan senyuman tulus, "Tuhan yang mengatur semua skenario ini, kita bersyukur karena dipertemukan kembali dengannya," ujar Arta sambil mengelus wajah suaminya.


Cup


Satu kecupan lembut mendarat di bibir Arta.


"Terimakasih, aku mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu kak," balasnya.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😉

__ADS_1


__ADS_2