
"Sialan!!!" teriak Jaya Mahendra saat menerima paket dari pengirim misterius yang isinya 5 potongan lidah yang berlumuran darah,yang membuat siapa pun yang melihatnya mual dengan daging tak bertulang yang disayat itu.
"Sebenarnya siapa perusahaan Star Company ini? mengapa mereka dengan mudah bisa menemukan orang-orang suruhanku itu?" resah pria paruh baya itu di dalam markasnya.
Paket berisi potongan lidah itu diletakkan tepat di depan markas Shark Monster yang berada di bawah kendali pria tua itu meskipun bukan dia yang bergelar ketua disana namun seluruh kelompok itu menuruti keinginan pria tua itu.
"Storm cari tahu lebih dalam lagi mengenai Star Company, sepertinya ada yang mencurigakan dengan perusahaan itu, mereka sepertinya tidak sebodoh yang kita pikirkan," ucap Jaya Mahendra pada Storm yang sebenarnya adalah ketua kelompok mafia itu.
"Baik tuan," jawab Storm menunduk hormat.
Storm setia dengan Jaya Mahendra karena hutang di masa lalu dimana Mahendra menyelamatkan nyawa keluarga pria berbadan besar itu dari serangan kelompok mafia lain yang menculik ayah dan saudara perempuannya. Hanya saja Jaya membawa pria itu ke jalan yang salah, dia melakukan bisnis gelap atas perintah Jaya Mahendra padahal dulu Storm adalah orang yang baik.
"Siapa sebenarnya Ms. Chan ini? kenapa begitu misterius, bukankah dia hanya seorang gadis biasa? dia bahkan dengan mudahnya terjebak dengan tipuan Fanya, bahkan sampai menyerahkan sebagian besar sahamnya pada Fanya," ucap Jaya Mahendra.
"Tapi Tania mengatakan kalau Ms. Chan sempat berpura-pura menjadi asisten, sebenarnya siapa dia ?" pikir Jaya.
Storm dan anak buahnya mencari ulang data Star Company namun tentu tidak semudah saat mereka meretas sistem keamanan perusahaan itu seperti saat menerima dokumen palsu itu.
Di ruangan VVIP rumah sakit, tampak Mark dan Ziko tengah terlelap di atas sofa, Arta dan Arkan sudah meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu bersama Tito, namun mereka bersikeras untuk berada disana bersama mereka.
"Mereka pasti lapar, sayang aku cari makan dulu ya, kamu juga harus makan, ini udah jam 7 malam dan kita sampai lupa untuk isi perut," ujar Arkan yang berada di samping Ziko yang terlelap sedangkan Arta duduk di sofa lain dan kakinya dijadikan bantal oleh Mark.
"Ya udah kakak beli aja dulu, biar Arta temani anak-anak," ucap Arta sambil mengelus kepala Mark dengan lembut.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arkan.
"Apa aja deh kak, yang penting bikin kenyang," ujar Arta.
"Baiklah, aku pergi dulu ya kalau ada apa-apa langsung kabari, Tito tadi aku suruh buat ambil pakaian ganti untuk kita mungkin yang lain juga akan datang kesini," ucap Arkan.
"Baik kak, hati-hati jangan sampai kenapa-kenapa," ucap Arta.
Cup
"Iya tenang aja sayang, aku pergi y," ucap Arkan setelah memberikan satu kecupan di kening Arta.
Setelah Arkan pergi, Arta kembali menatap layar ponselnya, ia masih berkutat dengan pekerjaannya, apalagi mendengar laporan dari Celo bahwa Fanya dan Tania mulai beraksi.
"Hmmm....kalian sudah masuk perangkap, aku akan membalaskan apa yang kalian perbuat pada keluarga dan anak-anakku!!" gumam Arta menatap layar ponselnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, manik biru gadis itu tampak menatap tajam ke arah layar ponsel itu.
"Ma...Mama, erghh...Mama....Papa....Papa....erghh," Jeni menggeliat di atas tempat tidurnya tampaknya gadis kecil itu mulai sadar dari tidurnya.
Arta meletakkan ponselnya di atas nakas, dan dengan lembut Arta meletakkan kepala Mark di atas sofa agar tidur anak yang beranjak remaja itu tidak terganggu.
__ADS_1
Arta mendekati Jeni yang mulai sadar, "Mama!!" lirih Jeni dengan suara parau khas bangun tidur.
Arta menekan tombol untuk memanggil dokter, lalu ia duduk di samping putrinya yang baru sadar.
"Anak Mama sudah bangun? mana yang sakit? kepalanya pusing ya? sini Mama peluk," ucap Arta memeluk putri kecilnya dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu.
"Mama Abang Josua," ujar Jeni khawatir menatap Josua yang masih tertidur dengan lelap.
"Tenang sayang, Abang akan baik-baik saja kan ada Mama dan Papa, Abang Mark dan Abang Ziko juga ada disini bersama kita," ucap Arta menenangkan gadis kecil itu.
Dokter tiba, lalu memeriksa keadaan Jeni," gadis manis ini mulai stabil nona, hanya perlu istirahat dan jangan sampai drop lagi," jelas dokter anak tersebut sambil tersenyum ke arah Arta.
"Terimakasih Bu dokter," ucap Arta tersenyum tulus.
Saat dokter itu melangkahkan kakinya keluar, Arta menghentikan langkah dokter itu saat melihat Josua bangun dan menangis tersedu-sedu.
"Mama!!! huhuhu.." tangis Josua saat ia pertama kali membuka matanya dan melihat Arta duduk diantara ranjangnya dan ranjang Jeni.
"Dokter, Josua bangun," ucap Arta sedikit berteriak, ia langsung memeluk Josua yang menangis tersedu-sedu saat menatap dirinya.
"Husshh...Mama disini, Abang pasti kuat tenang ya sayang ya," ucap Arta menenangkan Josua dalam pelukannya. Setelah Josua berhenti menangis dokter memeriksa keadaan Josua dengan teliti, sebab kondisi anak lelaki itu sangat drop.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Arta khawatir.
"Baiklah dok, terimakasih atas bantuannya," ucap Arta sambil tersenyum.
"Sudah menjadi kewajiban saya nona," ucap dokter itu lalu permisi keluar.
"Anak-anak Mama, jangan takut ya Mama, Papa, akan selalu menjaga kalian," ucap Arta menguatkan kedua anaknya.
"Abang Mark juga akan lindungi Jo dan Jen!" seru Mark berjalan menghampiri mereka dan duduk di samping Josua begitu juga dengan Ziko yang sudah bangun ia duduk di atas ranjang sambil memeluk Jeni dalam posisi duduk.
"Abang takut Ma," lirih Josua sambil menggenggam tangan Arta dengan erat.
"Takut kenapa sayang?" tanya Arta lembut.
"Abang takut mereka juga akan berbuat jahat sama Mama, Papa dan abang-abang Josua, Josua takut mereka akan pukul Jeni lagi huhuhu, Josua takut mereka..mereka huhuhu," tangis Josua kembali pecah saat mengingat orang-orang Jahat itu.
"Jo, kamu jangan takut nak, ada Papa, Mam dan saudara-saudara kamu yang akan melindungi kamu, Josua anak kuat, Josua pasti bisa melawan rasa takut Josua kamu harus percaya bahwa Kami akan selalu bersama kalian, jadi jangan pernah takut sayang," ujar Arta sambil mengelus wajah lemah pria kecil itu dengan lembut.
"Abang! Jeni sayang sama Abang, Abang jangan sakit lagi karena Jeni, Jeni udah gede udah bisa jaga diri Jeni juga akan lindungi kalian semua kan Jeni itu pintar," celetuk Jeni dengan gaya imut lucu dan menggemaskan yang membuat semuanya tersenyum dengan tingkah lucu gadis kecil itu.
"Jeni, abang-abangmu yang akan melindungi kamu sayang, karena kami sayang sama Jeni, Jeni malaikat kecil yang harus kami lindungi!" ucap Ziko mencubit gemas kedua pipi adiknya itu.
__ADS_1
"Jangan dicubit Abang, nanti merah, kalau merah jadi gak cantik!" celetuk Jeni.
"Cantik kok!" ucap mereka bersamaan yang membuat Jeni tertawa cekikikan.
"Eheheheh...Jeni tahu Jeni cantik tapi yang paling cantik itu Mama iya kan bang?" ucap Jeni.
"Iya dong!" ucap mereka lagi bersamaan, kali ini Karina dan Kath yang baru tiba bersama Celo, Sam dan Tito ikut mengimbuh percakapan mereka.
"Ah...kalian sudah tiba? kak Arkan dimana?" tanya Arta langsung mencari suaminya padahal baru 20 menit yang lalu pria itu pergi.
"Astaga Arta, kami baru saja tiba dan yang kau tanyakan hanya keberadaan suamimu?" ledek Samuel yang asik menggenggam tangan Kath karena ia tak akan bisa melakukan itu jika di rumah.
"Cih seperti Kaka tidak saja, kakak datang kesini mencari kesempatan untuk ngintilin kak Kath, dasar bucin!!" balas Arta tak mau kalah dengan kakak iparnya itu.
"Hei kalian itu ipar, kenapa jadi ribut begini sih gak malu sama anak-anak?" sindir Kath yang membuat keduanya mengalihkan pandangan masing-masing.
"Nona ini pakaian nona dan tuan, pakaian anak-anak juga sudah saya bawakan," ucap Tito sedikit formal karena ia masih merasa bersalah dan sedikit takut dengan istri bosnya itu.
"Terimakasih kak Tito, bagaiman lukanya sudah mendingan kak?" tanya Arta yang masih sempat-sempatnya khawatir dengan keadaan pria itu.
"Ah saya baik-baik saja nona," jawab Tito hormat.
"Ada apa denganmu kak? kenapa tiba-tiba berbicara formal dengan kak Arta?" tanya Celo menaruh curiga sepertinya ada yang terjadi dengan mereka.
"Ah itu...tidak ada apa-apa," jawab Tito dengan cepat.
"Hahahaha....jangan berbohong kak, kau pasti kena Bogeman mentah dari Kaka Arta kan," celetuk Celo membuat Karina, Kath, Samuel menganga tak percaya.
"Eh..itu..itu," Tito gugup.
"Cel, bisa tidak mulutmu itu diam, ingin rasanya kujahit saja mulut itu, kau tak lihat disini ada siapa hmm?" ucap Arta dengan nada sedikit mengancam membuat Celo merinding sendiri.
"Eheheh maaf kak, halo Ponakan paman?" ucap Celo mengalihkan pemerintah, ia menyapa si kembar dan juga Mark dan Ziko yang duduk disana.
"Halo Paman tampan!" seru si kembar, sementara Mark dan Ziko hanya tersenyum kikuk sebab mereka belum mengenal orang-orang itu secara keseluruhan.
.
.
.
like vote komen gaess 🤪🤪🤪🤪
__ADS_1