Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Roti-roti


__ADS_3

Arkan tampak membopong Tito menuju rumah sakit lalu meletakkannya di atas brankar begitupun dengan Karina yang digendong oleh Kart.


Mereka berdua segera di bawa ke dalam ruang pemeriksaan dan langsung di tangani oleh dokter terbaik disana.


"Arkan, bagaimana kau bisa ke tempat itu dan kenapa pria itu juga di culik?" tanya Kart pada Arkan.


Mereka kini duduk di ruang tunggu khusus yang diminta oleh mereka agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Aku melacak Tito melalui alat pelacak di tubuhnya kak, Tito di culik karena mereka pikir Tito adalah pemilik asli Mars Company. Tentu hal ini terjadi karena kami sengaja melakukan pemalsuan dokumen jika ada yang berusaha menerobos sistem keamanan. Selain itu selama ini Tito yang menggantikanku di perusahaan" jelas Arkan .


"Hmmm begitu" ucap Kart mengerti.


"Kakak bukannya bertemu dengan Arta?" tanya Arkan.


"Tidak, dia tak pernah turun langsung ke lapangan. Tunggu apa kau sudah tahu siapa dia?" tanya Kart bingung.


"Sudah, dia juga sudah tahu siapa aku" ucap Arkan.


"Memang kau siap?" tanya Kart menaikkan alisnya.


"Aku Mr. Xiang ketua Dark Rose kak" ucap Arkan.


"Apa!!!" ucap Kart terkejut.


"Iya kak" jawab Arkan menundukkan kepalanya.


"Maaf aku hanya terkejut. Aku bingung dengan takdir yang di buat penulis ini, bagaimana mungkin kalian berjodoh, sungguh pasangan yang mengerikan !!" ketus Kart heran dengan alur hidup yang aneh ini.


"Hahaha, aku juga bingung kak. Aku sempat takut Arta akan meninggalkanku karena tahu aku berhubungan dengan dunia bawah, ternyata dia adalah ratunya" ucap Arkan terkekeh dengan kenyataan yang di hadapinya.


"Dan kau rajanya!" balas Kart tersenyum simpul.


"Tapi kenapa bukan kak Roki yang bangun?" tanya Arkan bingung.


"Hei apa kau tak suka dengan keberadaan ku?" tanya Kart menatap tajam ke arah Arkan.


"Hahahah kau tahu aku hanya bertanya bukan" ledek Arkan.


"Hmmm aku juga tak tahu kenapa dia tidak bangun, tapi aku seperti menyatu dengannya. Ingatan selama dia bangun bisa kulihat" ucap Kart lirih.


"Sebaiknya kakak periksakan" ucap Arkan menguatkan pria itu.


Kart adalah si pemilik tubuh yang asli, namun karena masa lalu yang mengerikan ia memunculkan dirinya yang lain sebagai pengganti untuk menghadapi orang-orang di luar sana.


Roki adalah alter ego yang lembut, ramah, disayang banyak orang. Ia memiliki pekerjaannya sendiri sehingga yang kerabatnya ketahui bahwa Roki adalah pria biasa yang dikagumi banyak orang.


Alter ego Kart muncul ketika ia diculik dan disiksa selama satu Minggu saat usianya 7 tahun, hanya orangtuanya, Arta dan beberapa orang dekat yang tahu dia mempunyai alter ego. Kondisinya juga dirahasiakan dari keluarga Mahendra. Oleh karena itu orang-orang mengenal Kart sebagai Roki yang lembut, ramah dan sedikit lemah.


Inilah yang menjadi titik kelemahan Arta selama tinggal di rumah keluarga Mahendra, jika Arta berbuat sesuatu yang salah maka Kakaknya Roki akan menjadi sasaran kemarahan Om, Tante dan Kakak sepupunya.


Sehingga sebesar apa pun kekuasaan dan kekuatan Arta ia akan bertahan dalam penyiksaan agar kakaknya tidak dalam bahaya, sebab ia tak ingin orang tahu jika kakaknya sakit dan malah membahayakan kakak kesayangannya itu.


"Keluarga pasien di mohon untuk segera menemui dokter" ucap seorang perawat wanita pada kedua pria tampan itu.


Mereka beranjak menuju ruangan dokter yang menangani kedua anak manusia itu.


"Bagaimana keadaan mereka dok?" tanya Arkan .

__ADS_1


"Baik akan saya jelaskan, silahkan duduk terlebih dahulu tuan-tuan" ucap wanita paruh baya itu.


"Nona Karina dan tuan Tito mengalami dehidrasi berat, selain itu mereka tampaknya disuntikkan obat bius dengan dosis tinggi sehingga menyebabkan tubuh mereka melemah. Tuan dan nona mengalami shock ringan, oleh karena itu saya sarankan mereka harus beristirahat penuh selama seminggu dan teratur mengonsumsi obat yang saya resepkan" jelasnya sambil menyodorkan kertas resep.


"Luka-luka mereka akan berangsur pulih, kalian hanya perlu memberi dukungan pada mereka, tampaknya sesuatu yang mengejutkan terjadi sehingga mereka shock" jelas dokter itu.


"Baik dok terimakasih atas bantuannya" ucap Kart.


"Apa kami boleh mengunjungi mereka?" tanya Arkan.


"Saya sarankan tunggulah sekitar 2 jam lagi, biarkan mereka istirahat" jelas dokter itu.


"Baik dok" jawab merek bersamaan.


.


.


.


Arta melangkahkan kakinya menuju rumah sakit tempat Karina dan Tito dirawat setelah mendapat informasi dari Arkan. Ia berangkat ditemani oleh Celo dan beberapa pengawal yang menyamar menjadi pasien dan perawat disana.


Dengan cepat ia mengubah penampilannya menjadi Arta yang sering memakai masker agar tidak terlalu mencolok, rambut hitam panjangnya di kuncir tinggi dan ia mengenakan gaun merah maroon longgar selutut dengan lengan panjang serta gaya turtleneck menutupi lehernya.


Saat di perjalanan ia melihat toko roti dan berhenti disana untuk membeli beberapa potong roti untuk dibawa ke rumah sakit.


"Pak kita berhenti di toko roti itu" ucap Arta Sambil mengenakan maskernya.


Mereka berhenti di depan toko roti sederhana namun cukup ramai pengunjung.


Arta mengelilingi toko roti itu dan mengambil beberapa potong roti.


"Kakak aja yang pilih, kakak kan tau seleraku hahah" kekeh Celo sambil membantu Arta membawa nampan tempat roti-roti itu.


"Hmmm oke oke" jawab Arta sambil menganggukkan kepalanya.


Saat ia sedang memilih roti matanya tak sengaja bertemu dengan orang yang dulu sempat mengisi hatinya. Orang itu sedang bersama seorang wanita cantik nan seksi yang merupakan kakak sepupunya, dia adalah Robin.


"Ck ck ck.....apa kalian menerima pengemis disini?" sindir Tania sambil bergelayut manja di lengan Robin.


"Sudahlah sayang, tak ada gunanya kita berbicara pada wanita miskin dan cacat sepertinya!!" ejek Robin dengan tatapan menghina pada Arta.


Arta tidak menggubris mereka, ia menyelesaikan pilihannya lalu pergi menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Kebetulan Celo sedang memilih kue di sisi lain sehingga Arta pergi terlebih dahulu.


"Cih sombong sekali kau orang miskin!!" ledek Tania, ia tak puas jika tidak melihat Arta dipermalukan.


"Mbak saya mau bayar ini" ucap Arta mengangkat semua roti yang paling mahal di toko itu.


"Ada tambahan mbak?" tanya kasir tersebut.


"Hitung ini dahulu mbak, " ucap Arta ramah.


"Kak!! Ini buat si kemb...." ucapnya terputus saat melihat kode mata Arta yang mengatakan bahwa ia tak boleh membongkar hal itu.


"Eh, ini kuenya nona" ucap Celo mendekati Arta .


Celo yang tubuhnya tegap, kekar, tinggi semampai serta wajah tampan dan terkenal menjadi sorotan banyak pengunjung toko tersebut.

__ADS_1


Siapa yang tidak kenal dia,si pria tampan wakil Presdir Star Company.


"Wah senang bertemu anda tuan!" ucap Robin langsung menghampiri Celo.


"Maaf anda siapa?" tanya Celo dengan tatapan mengintimidasi apalagi tinggi badan mereka yang cukup jauh 185 berbanding 170 sehingga membuat Robin tampak seperti adik kelas yang sedang dibully oleh seniornya.


"Pfft..." terdengar suara tawa Arta saat melihat perbandingan tinggi mereka.


"Dasar jalang kau! beraninya kau menertawakan kekasihku!!" ucap Tania geram, ia melangkah maju ingin menarik rambut Arta namun dengan sigap Celo menghalangi jalannya sambil memberikan tatapan Pembunuh pada wanita ular itu.


"Eh tu...tuan, ada apa? saya hanya ingin memberinya sedikit wejangan dia adik sepupu saya, dia tidak dididik orangtuanya dengan benar sehingga dia tidak memiliki etika seperti ini" ucap Tania lembut dengan nada merayu dan tatapan menggoda padahal tunangannya ada di sampingnya.


"Sekali kau melangkah mendekati nona ini ..." matanya beralih ke arah Robin, " Maka kerjasama kita batal" ucapnya dengan senyum menyeringai.


"Tu..tuan ma..maafkan tunangan saya, ta...tapi gadis itu memang tidak punya sopan santun, ka..kalau begitu saya permisi" ucap Robin gugup dan takut jika kerja sama mereka akan dihentikan sehingga ladang uang mereka musnah begitu saja.


"Dan kau gadis cacat, jangan menjual dirimu demi uang, rawat saja suamimu yang cupu dan penyakitan itu!" ledek Robin sambil menarik lengan Tania keluar dari toko itu.


"Kau.." ucap Celo geram, ia ingin sekali menghajar pria sombong dan gila uang itu namun tangannya sudah dipegang oleh Arta.


"Sudah biarkan saja" ucap Arta .


"Sudah dihitung mbak?" tanya Arta pada penjaga kasir itu.


"Sudah mbak, totalnya 500.000 mbak" ucap pelayan cantik itu sambil tersenyum manis.


"Ini mbak, wah mbak cantik sekali jika tersenyum seperti itu iyakan Cel" ucap Arta.


"cantik, eh aduh apa tadi kak?" tanya Celo gelagapan, sebenarnya sedari tadi ia tertegun melihat wajah cantik dan manis pelayan itu.


"Ah terimakasih pujiannya " ucap gadis pelayan itu malu-malu.


"Hahaha, siapa nama kamu?" tanya Arta.


"Panggil aja Indah mbak" ucapnya malu-malu.


"Indah, seperti namanya" seru Celo tanpa sadar.


"Maafkan keabsurdan pria ini indah, oh iya umur kamu?" tanya Arta lagi.


"20 tahun mbak" jawabnya malu-malu sambil sesekali curi-curi pandang pada pria tampan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan kagum hah....entah apa yang ada dipikiran pria tampan gesrek itu sekarang.


"Panggil kakak aja ya, Kak Arta oh iya ini Celo satu tahun di atas kamu. Kalian boleh berteman hahah ya sudah kami pergi dulu ya" ucap Arta terkekeh melihat ekspresi menggemaskan kedua sejoli itu.


"i..iya kak ,sama-sama" ucapnya sambil tersenyum.


"Woi mangap Mulu, ayo balik kalau mau kenalan entar aja gue kasih libur deh hahahha" ledek Arta sambil melenggang keluar.


"Permisi" ucap Celo ramah sambil tersenyum lalu mengejar Arta.


"Kakak tunggu !!" seru Celo sedikit berlari mengejar Arta, Indah tersenyum simpul melihat kepergian mereka,namun tiba-tiba kepalanya dipukul dengan buku menu oleh seorang wanita yang adalah manajer toko itu.


Brukkk


"Heh gadis miskin kerja yang benar jangan menggoda pria pria kaya yang berkunjung ke tempat ini" ucapnya sambil menarik lengan gadis itu dengan kuat.


"Ma....maaf Ma..." lirih gadis itu menahan rasa sakit di lengannya.

__ADS_1


"Aku bukan Mamamu jalang!!" bisik wanita itu dengan tatapan penuh amarah.


__ADS_2