
"Apakah Anda sudah menikah?" pertanyaan pertama yang terlontar tepat sebelum sesi tanya jawab diadakan. Seluruh awak media menatap Arkan, mereka juga penasaran dengan kehidupan pribadi Presdir Argaka Company itu.
Arkan menghentikan langkahnya,ia berbalik dan kembali ke podium, tampak para wartawan harap-harap cemas melihat wajah datar pria tampan itu. Sebab mereka mengetahui bahwa pertanyaan merujuk privasi dilarang keras oleh pihak penyelenggara. Mereka semua terdiam, bahkan wartawan yang menanyakan pertanyaan tadi menjadi kikuk dan ketakutan.
Suasana hening, suara decitan sepatu Arkan terdengar kala ia menaiki podium.
"Pertanyaan bagus!" ucap Arkan dengan wajah sumringah, sontak membuat semua orang dalam ruangan itu menghembuskan nafas lega saat melihat pria itu tersenyum.
"Dengar dan catat ini baik-baik, setelah ini aku tak mengijinkan pertanyaan berbau privasi ditanyakan padaku!" ucap Arkan dengan sorot mata tajamnya yang membuat siapa saja merinding ketakutan disana.
.
.
.
"Ck... seharusnya Mami gak ngasih baju itu ke Papi kalian, lihatlah dia terlalu tampan!" celetuk Arta yang tengah duduk menatap televisi di ruang santai bersama anak-anaknya dan juga kedua mertuanya.
Papa George dan Mama Lily tersenyum kecil mendengar gerutuan menantunya itu, mereka tahu bahwa cinta mereka telah tumbuh sangat besar, bahkan tersalurkan pada orang-orang disekitarnya.
"Mami cemburu nih?" goda Mark sambil menoel-noel lengan Maminya.
"Ciee....mami cemburu, Papi itu cintanya cuma sama Mami tau," imbuh Jeni membuat Arta merona.
"Eheheheh, Mami tau sayang, tadi itu cuma bercanda," cengir Arta tak kalah imut dengan keempat anaknya.
Indah datang membawa nampan berisi cemilan dan minuman untuk mereka.
"Silahkan dinikmati tuan besar, nyonya besar, nyonya muda, nona dan tuan muda," ucap Indah sopan.
"Ndah sini duduk, kita lihat suami kakak lagi nongol di siaran TV," panggil Arta.
"Ah...sa..saya di belakang saja Nyonya," jawab Indah hormat, ia masih dengan kepribadiannya yang tidak enakan, dan merasa rendah diri, sudah berkali-kali Arta mengatakan agar memanggilnya kakak, hanya saja gadis itu selalu menolak meskipun sempat mengubah panggilannya, ia kembali ke panggilan formal membuat Arta kesal.
"Anda terlalu baik untuk saya panggil kakak nyonya, sesungguhnya saya ingin tapi saya tahu kita tidak sederajat," gumam Indah dalam hatinya, dan tentu saja di dengar oleh si kembar.
Jeni membisikkan apa yang di dengarnya pada Arta, sontak Arta menjadi sangat kesal.
"Indah! duduk disini, ini perintah!" ucap Arta tegas sambil menunjuk sofa di sebelahnya.
__ADS_1
"Indah duduklah, turuti permintaan putri kami, kamu tentu tak ingin Singa tidur bangun kan?" ucap Mama Lily menggoda Arta yang tengah malu karena dikatai Singa tidur oleh mertuanya sendiri.
Indah duduk di sofa itu dengan perasaan sangat canggung, ia beberapa kali terlihat memelintir ujung bajunya.
"In, apa kamu tak menganggapku kakak seperti yang lainnya?" tanya Arta dengan suara datar, matanya tetap fokus pada suaminya yang tengah berpidato di podium.
"Ma..maaf nyonya muda, sa..saya tak berani," jawab Indah gugup.
Arta menangis, sontak membuat mereka semua panik saat air mata perempuan itu jatuh membasahi pipinya.
"Mami," ucap Mark dan Ziko khawatir, bahkan Jo dan Jen juga ikut panik, pasalnya mereka tak mendengar apa-apa dari suara batin perempuan itu.
"Nak, kenapa menangis?" tanya Mama Lily heran.
"Indah jahat Ma, Indah nggak anggap Arta kakaknya, huhuhuhu Indah jahat, sebel deh!" rengek Arta.
"Ada apa denganmu nak? tak biasanya kau seperti ini?" tanya Papa George juga heran dengan menantunya itu.
"Ma...maaf nyonya, ia...Indah akan panggil kakak, Indah janji," ucap Indah gelagapan menghadapi Arta yang tiba-tiba bersikap kekanak-kanakan dan cengeng.
"Ada yang aneh dengan Arta," gumam Mama Lily.
Di saat yang sama, Arkan akan melanjutkan perkataannya sampai sebuah panggilan di ponsel yang ia siapkan khusus terhubung hanya untuk istri tercinta dan anak-anaknya berbunyi.
"Ah...orang yang kalian cari tahu sedang meneleponku, maaf aku akan angkat ini sebentar,dia lebih penting dari semua keberhasilan perusahaan ini, aku tak akan jatuh miskin hanya karena menerima panggilan telepon dari istriku!" ucap Arkan tegas.
Awak media berdecak kagum dengan pria itu, ia memprioritaskan istrinya meskipun sedang ditengah-tengah kesibukan. Ada juga yang mengejeknya, mengatakan bahwa dia buka Presdir yang kompeten, dan hal itu di dengar jelas oleh Arkan, namun ia memilih menjawab istrinya dahulu.
"Ada apa sayang?" tanya Arkan lembut, tidak seperti ia berbicara dengan para wartawan dan petinggi-petinggi itu. Ini menjadi nilai plus pria itu di mata kaum wanita. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok lembut, perhatian dan tentunya mapan dan tampan seperti Arkan.
"Mereka jahat huhuhuhu, Indah jahat kak, Mama juga huhuhu," rengek Arta dibalik telepon.
"Sayang bicara yang jelas, beritahu aku apa masalahnya, jangan menangis, aku jadi ikut menangis disini," ucap Arkan lembut.
"Maaf...aku membuatmu menangis," ucap Arta tersedu-sedu.
"Sayang ada apa hmm?" tanya Arkan lembut sambil mengusap air matanya, entah kenapa air matanya jatuh saat mendengar Arta menangis tadi.
"Hmm boleh tidak kau nyalakan speakernya, aku ingin mengucapkan sesuatu, biar semuanya dengar, apa boleh?" tanya Arta dengan suara imut dari seberang sana membuat Arkan berbunga-bunga serasa dunia milik berdua, padahal aksi mereka ditonton oleh seluruh dunia.
__ADS_1
"Baiklah, ini sudah ku pasang, katakanlah," ucap Arkan.
"Halo semua, aku tak perlu memperkenalkan diriku, karena pria tampan yang dahulu ditolak oleh semua orang itu yang akan memperkenalkan seorang gadis buruk rupa yang dijadikannya istrinya, gadis cacat yang dulu ditolak oleh keluarganya sendiri, sekarang aku bahagia bahkan keluarga kami dilengkapi dengan anak-anak manis yang pintar dan menggemaskan, untuk semua orang yang menolak kami di masa lalu, kami berterimakasih karena kalian alasan kami ada dan menjadi sesukses ini," ucap Arta, ia berhenti sebentar membuat semua penasaran dengan kalimat lanjutan wanita misterius itu.
"Untuk suamiku, aku mencintaimu kak, sangat-sangat sangat sangat dan sangat mencintaimu, udah gitu aja heheh terimakasih," sambung Arta lalu mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Semua orang dibuat penasaran dengan sosok wanita itu, berbagai spekulasi muncul bahkan ada yang sampai mengaku-ngaku sebagai istri seorang Arkan semenit setelah panggilan itu disiarkan.
Arkan tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya itu. Hatinya berbunga-bunga mendengar itu semua, senyumannya bahkan merekah di hadapan para wartawan, membuat siapa saja terpana dengan wajah tampan itu.
"Dia adalah istriku, istri yang sangat kusayangi, wanita terhebat dan terkuat yang menarikku dari lubang kehancuran, dan dia akan mendampingiku di perusahaan ini, sebab wanita itu adalah Ms. Chan pemilik Star Company," ucap Arkan memperkenalkan Arta secara resmi dihadapan awak media.
"Buat kamu yang sedang mendengarkan ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, mungkin sedikit berlebihan di telinga orang-orang, tapi itulah cinta kami, setidaknya kami bahagia dengan hidup kami," ucap Arkan mengakhiri ucapannya.
Sekarang mereka beralih ke sesi tanya jawab yang isinya hanya seputar bisnis dan cukup panjang, yang membuat betah penonton adalah paras tampan Presdir itu dan juga paras Tampan Tito dan beberapa pengusaha muda lainnya.
Sementara itu, Arta kegirangan mendengar semua perkataan Arkan. Ia sangat bahagia, sampai-sampai ia berlonjak kegirangan dan memeluk mereka semua yang ada dalam ruangan itu satu-persatu.
"Uhukk....kak sesak!" ucap Indah menyadarkan Arta.
"Maaf adikku yang cantik, heheh" kekeh Arta.
Mereka semua tersenyum bahagia melihat mood Arta kembali membaik. Mama Lily sempat berpikir yang tidak-tidak, namun segera ditepisnya sebab ia tahu cinta mereka tak akan pernah rapuh.
Acara itu diakhiri dengan meriah, namun saat akhir acara tampak wajah Arkan gelisah begitu menerima panggilan telepon entah dari siapa.
Ia melangkah cepat meninggalkan gedung itu dan menyerahkan semua tugasnya pada asistennya.
"Bertahanlah!" gumam Arkan dengan raut wajah khawatir.
.
.
.
.
Like, vote dan komen guys 😉😊😉😊
__ADS_1