
Arta masuk ke ruangan dokter kulit yang akan menanganinya. Setelah sebelumnya mendapatkan semua data diri Arta dari Celo dan melakukan sedikit konsultasi, Arta langsung melanjutkan prosedur Laser bekas luka untuk merekonstruksi kulit wajahnya.
Ternyata bekas luka milik Arta tidak memerlukan waktu lama untuk segera pulih. Menurut keterangan dokter dalam 2 sampai 3 hari kulitnya sudah pulih total. Tentu saja dengan perawatan intensif dan juga memanfaatkan teknologi super canggih dan mahal pastinya.
Sementara itu Arkan menemani si kembar untuk konsultasi ke dokter anak mengenai kesehatan si kembar. Menurut keterangan dari dokter, si kembar tidak boleh terlalu lelah, mereka masih harus banyak beristirahat karena beberapa memar di tubuh mereka masih belum pulih sepenuhnya. Tapi ada yang aneh dengan gelagat dokter itu.
"Bagaimana keadaan anak-anak Saya dok?" tanya Arkan pada dokter wanita yang menangani si kembar.
Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran pria tampan di hadapannya itu.
"Keadaan mereka sudah mulai membaik, Anda tidak perlu khawatir. Tapi saran saya mereka jangan terlalu lelah karena tubuhnya perlu waktu untuk pulih, selain itu masih ada beberapa lebam yang belum pulih sepenuhnya" ucap Dokter wanita itu sambil terus tersenyum penuh arti menatap Arkan.
"Dimana Ibu mereka?" tanya dokter wanita itu.
"Ibu mereka di tempat lain" ucap Arkan cuek.
"Hmm pria tampan yang menggoda, sepertinya dia seorang duda kalau pun bukan aku bisa merebutnya dari istrinya. karena dari yang kulihat dia pria Kaya. Lihatlah dua cincin yang bertengger di jari manisnya itu. Itu Cincin Merah langka yang hanya ada satu pasang di dunia dan itu cincin dengan permata berlian paling langka. Akan kucoba menggodanya, siapa yang tidak tertarik dengan dokter seksi dan cantik seperti aku hahahah" ucap Dokter wanita bernama Kiki itu dalam hati sambil menatap penuh arti pada Arkan
Arkan menyergitkan wajahnya melihat senyuman genit wanita itu. Seketika ia mengubah ekspresi wajahnya yang ramah menjadi datar dan dingin lalu meletakkan tangannya di atas meja.
"Lalu?" tanya Arkan dingin sambil mengetukkan jari jari di atas meja. Tatapan dingin Arkan membuat dokter wanita itu semakin penasaran dan ingin mendapatkan pria itu walaupun memang ia merasa terintimidasi.
"Ehm.. Mereka juga perlu perhatian seorang Ibu, dari yang saya lihat seperti nya mereka tidak mendapatkan perhatian itu" ucap Dokter wanita itu berusaha menggoda Arkan dengan pandangan genit penuh Arti sambil dengan sengaja membusungkan dadanya memperlihatkan bukit yang dibesar-besarkan itu.
Arkan memalingkan wajahnya jijik dengan kecentilan Dokter wanita itu. Ia bangkit berdiri lalu mengajak Jo dan Jen keluar.
"Ayo nak kita keluar, Mama cantik kalian sudah menunggu " ucap Arkan menekankan kata Mama lalu beranjak meninggalkan ruangan dokter anak itu tanpa sepatah kata pun.
"Tuan! konsultasinya belum selesai" teriak Dokter centil itu.
"Maaf Buk Dokter menor, Mama udah nunggu kita wleekk" ucap Jeni menjulurkan lidahnya. Jo dan Jen sejak awal tidak menyukai dokter wanita itu sehingga selama diperiksa mereka hanya diam, senyum pun tidak padahal wanita itu sudah berusaha merayu mereka agar dekat dengannya.
"Huh Sial !! Lain kali akan ku coba lagi" kesal dokter wanita itu namun masih belum menyerah untuk mendapatkan Arkan.
Arkan dengan perasaan kesal menggendong si kembar menuju ruangan Dokter Fiko, dokter yang selama ini merawatnya.
"Siang dok!" Sapa Arkan membuka maskernya. Fiko yang tengah sibuk membaca setumpuk dokumen di hadapannya mendongakkan kepalanya menatap ke sumber suara.
"Selamat siang ...." ucapnya terputus saat melihat penampilan baru Arkan. Mulutnya menganga, berkas yang dipegangnya jatuh berserakan di lantai. Ia masih bengong hingga tak sadar ketiga orang itu sudah duduk manis di hadapan meja konsultasinya.
__ADS_1
"Woi, apa kami disini hanya untuk menontonmu menganga seperti itu?" sindir Arkan membuyarkan lamunan Fiko.
prok prok prok
Terdengar suara tepuk tangan Fiko sambil berjalan menghampiri mereka dan duduk di kursi kebesarannya.
"Wow! this is amazing!"ucap Fiko berdecak lagum dengan perubahan total yang terjadi pada Arkan.
"Gue mau konsul bukan mau dengar pujian " ucap Arkan datar.
"Hahah, Wah gue beneran terkejut loh bos. Gak nyangka Lo bisa berubah sebanyak ini" jelas Fiko.
"Nah itu yang mau gue konsultasikan sama Lo semenjak gue nikah gue gak pernah kumat bahkan sudah bisa berbaur dengan orang lain walaupun masih gugup, tapi kalau dekat dengan Arta dan anak-anak gue gue bakal tenang" jelas Arkan mengenai kondisinya yang semakin membaik.
"Hah?Anak- anak?mereka?" tanya Fiko bingung menunjuk si kembar.
"Oh iya belum gue kenalin, ini anak anak gue dan Arta. Waktu nikahan mereka sengaja gak ikut karena dalam perawatan" jelas Arkan.
"Sejak kapan Lo punya anak? masa iya Lo udah punya anak gede begini? dua lagi?apa lo sama Arta?" ucap Fiko yang di hadiahi tatapan tajam dari Arkan.
"Eh sori sori, gue bukannya curiga tapi ya gitu deh" ucap Fiko gugup.
"Halo nama kalian siapa ?" sapa Fiko pada si kembar.
"Hai Om Cantik,Aku Jeni Hillary Argaka" sapa Jeni kecil dengan senyuman imutnya.
"Wah, Kalian bisa panggil Om Fiko ya " balasnya tersenyum manis.
"Baik Om Fiko!"seru si kembar kompak.
"Mereka anak kembar, usianya baru jalan 7 tahun. Kami mengadopsi mereka" jelas Arkan untuk menjawab rasa penasaran Fiko.
"Oh, kalau begitu bos kita lakukan pemeriksaan sekarang" ucap Fiko mengarahkan Arkan ke atas pembaringan di ruangan itu.
"Papa sakit apa om?" tanya Jeni kecil.
"Oh Papa kalian bukan sakit ia hanya butuh perhatian Mama dan kalian" bisik Fiko yang dibalas anggukan oleh si kembar.
Fiko melakukan pemeriksaan dengan melontarkan beberapa pertanyaan pada Arkan bahkan melakukan tes psikologi pada Arkan, dan hasilnya sungguh membuat Fiko tercengang. Setelah selesai Fiko mengajak mereka mengobrol mengenai kondisi Arkan saat ini.
__ADS_1
"Bro! selama gue jadi dokter, gue gak pernah melihat penyembuhan paling cepat seperti ini.Bahkan kondisi kejiwaan Lo udah sangat normal. Lo benar kalau nona Arta adalah obat buat Lo, dan lagi kehadiran si kembar juga membantu pemulihan kesehatan Lo" ucap Fiko berbinar-binar menjelaskan keadaan Arkan yang sudah sangat baik, dibalas senyuman bahagia oleh Arkan.
"Syukurlah, Oh iya dokter anak disini baru ya?" tanya Arkan mengingat Kejadian mengesalkan tadi.
"Iya, kenapa kok muka bos gue ini kesal gitu?" tanya Fiko penasaran.
Jo dan Jen yang melihat itu langsung merespon perkataan Fiko.
"Om ,Dokter jelek itu tadi bilang kalau mau ngerebut Papa dari Mama, terus tadi genit-genit gitu sama Papa" jelas Josua, ya sejak kejadian mengerikan itu, Josua dan Jen bisa mendengarkan suara hati seseorang. Oleh karena itu mereka bisa tau siapa yang punya niat baik dan juga niat buruk terhadap mereka.
"Iya Om, udah jelek menor lagi. Selain itu dia coba-coba buat merayu kita" gerutu Jeni kesal mengingat Dokter yang pura-pura baik itu.
"Hahahah, ternyata Bos gue ada juga yang godain ya" ledek Fiko yang dibalas tatapan marah oleh Arkan.
"eh..eh maap maap, iya dia baru di pindah ke sini. Gue lihat sih dia dokter yang ramah, untung kalian kasih tau hampir aja gue ngejar dia" ucap Fiko bergidik ngeri mengingat ia sempat mendekati dokter baru itu.
Arkan mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang di kantornya. Setelah berbincang dia menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Fiko melihat wajah Arkan sepertinya puas akan sesuatu.
"Udah gue beresin tu dokter somplak"balas Arkan puas. Dan Fiko tau apa yang akan terjadi pada orang yang berani main-main dengan dia dan keluarganya.
Dan benar saja, Dokter Kiki centil itu sudah meraung-raung sejadi-jadinya di ruangannya. Kenapa tidak? belum seminggu ia di rumah sakit pusat ia sudah di transfer untuk menjadi dokter di pelosok yang jauh di pedalaman. Akses jalan kesana saja sulit.
Ia menyesali tindakannya. Sebab, Manajer rumah sakit itu mengatakan bahwa pasiennya yang baru saja berkonsultasi dengan dirinya adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit itu dan mereka merasa tidak nyaman dengan pelayanan dokter itu.
Mau tidak mau ia harus mengikuti perintah itu sebab karirnya sebagai dokter bisa saja hancur berkeping-keping, namun bosnya masih punya nurani untuk mengirimnya ke pelosok negeri. Kejadian ini menjadi pelajaran baginya untuk bekerja dengan benar dan berhenti menggoda laki-laki kaya.
"Sekarang Lo periksa mereka" ucap Arkan pada Fiko.
"Bos gue bukan dokter anak,Kalau mau gue bisa rekomendasikan dokter lain deh di rumah sakit ini" ucap Fiko yang memang tidak terlalu menguasai ilmu kedokteran tentang anak sebab yang ada di otaknya hanya psikologi.
"Baiklah tapi jangan yang modelannya kayak orang-orangan sawah itu " ucap Arkan.
" Siap Bos, tapi Minggu depan dia baru balik. Soalnya dia ada tugas di rumah sakit cabang di kota S" ucap Fiko.
"It's oke, Lo atur aja jadwalnya. Kita keluar dulu mau ke ruangan Arta" ucap Arkan menggendong si kembar.
"Loh Arta sakit?" tanya Fiko.
__ADS_1
"Nggak, cuma mau Laser bekas luka doang" ucap Arkan belalu keluar dari ruangan itu.
Fiko hanya mengangguk-angguk mengerti lalu melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk alias sengaja ditumpuk.