Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Kart Sembuh


__ADS_3

Kart ditemani keluarga Arta melangkah masuk ke ruang konsultasi yang juga berada di rumah sakit yang sama dengan tempat perawatan Karina dan Tito.


Mereka bertemu dengan psikiater yang menangani dan membantu pemulihan Kart selama ini.


Seorang pria paruh baya tengah duduk di ruangannya, rambutnya yang telah memutih, kulitnya yang agak keriput dan memakai kacamata tipis tidak menghilangkan kharisma psikiater tersebut.


Pria paruh baya itu tengah membaca beberapa dokumen di atas meja kerjanya sampai ia mendongakkan kepalanya saat orang yang ditunggunya telah tiba.


"Pagi Om Andra!" sapa Kart.


"Pagi nak, wah lihat siapa yang datang" sambutnya sambil beranjak dari mejanya menyambut Arta dan si kembar, sementara Arkan masih di luar menerima telepon.


"Halo Om Andra! " sapa Arta sambil memeluk pria tua itu.


"Sayang salam sama Opa Andra" ujar Arta pada si kembar.


"Hai Opa saya Josua dan ini Jeni" ucap Josua memperkenalkan diri.


"Kalian pasti kembar ya" ucap Andra sambil membungkukkan badannya menyamakan tingginya dengan si kembar.


"Iya Opa, oh ini rambut Opa putih semua, Opa saudaranya Anna dan Elsa di film Frozen ya!" celetuk Jeni sambil menyentuh rambut putih Andra dengan tatapan penasaran.


"Hohoho Opa kakeknya Anna dan Elsa hahah" kekeh Andra sambil mengusap lembut kepala gadis kecil itu.


"Mana suami kamu nak Arta?" tanya Andra.


Arkan masuk ke dalam ruangan setelah selesai menerima panggilan. Matanya terkejut melihat sosok pria paruh baya yang dikenalnya itu.


"Loh om Andra!" sapa Arkan terkejut.


"Jadi Arkan suami kamu nak?" tanya Andra terkejut.


"Iya Om, Om dan Kak Arkan saling kenal?" tanya Arta bingung dengan reaksi mereka.


"Iya kenal dong sayang, Om Andra ini Papinya Dokter Fiko" jelas Arkan sambil menyalam pria tua itu.


"Wah kok bisa kebetulan ya hahah,bagaimana kabar dokter Fiko om?" tanya Arta.


"Dia baik, dia masih belum kembali dari luar negeri entah apa yang dipikirkan anak aneh itu " ucap Andra menggelengkan kepalanya resah dengan perilaku anak satu-satunya itu.


"Mungkin dia sedang bersenang-senang disana Om, terakhir kali Arkan konsultasi, Fiko bilang kalau Arkan sudah sembuh" jelas Arkan.


"Hmmm baguslah,ayo kalian duduk dulu biar om periksa Pria tampan ini dulu" ujar Andra sambil menatap Kart yang tengah duduk di kursi konsultasi.


Kart dan Andra melakukan konsultasi dengan beberapa tes dan melakukan tanya jawab. Sementara Arkan,Arta dan si kembar duduk di ruang tamu menunggu konsultasi Kart selesai.


"Kak, Arta harap Kak Kart sembuh secepatnya" ucap Arta.


"Kakak juga berharap begitu," ujar Arkan.


"Mama, Papa tadi Jeni dengar Paman Kart seperti pernah bertemu dengan kami" bisik Jeni kecil yang duduk dipangkuan Arkan sementara Josua duduk di tengah-tengah antara Arta dan Arkan.

__ADS_1


"Benarkah? lalu?"tanya Arkan .


"Hmmm tadi Paman bicara dalam hati bilang seperti ini ' Apa mereka anak-anak itu? kedua anak yang kucari selama ini? arhkk apa ini ingatan Roki? siapa mereka?' begitu Pa, Ma" jelas Jeni sambil memain-mainkan kancing baju Arkan.


"Iya Pa, Ma Abang juga dengar, lalu tante Karina tadi begitu sedih tidak bisa menemani Paman Kart, tante Karina menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Paman Kart dengan baik dan malah sakit seperti itu" ujar Josua menatap Mama dan Papanya bergantian.


Arkan dan Arta saling menatap, mereka juga turut sedih dengan keadaan Kart saat ini yang terlihat begitu bingung dengan jati dirinya.


"Benarkah? lalu apa kalian pernah melihat wajah Paman Kart ?" tanya Arta lembut.


"Suara Paman mirip dengan suara laki-laki yang mengalami kecelakaan bersama keluarganya di pinggir jalan yang pernah kami ceritakan Pa, Ma" ucap Josua jujur karena ia merasa tidak asing dengan suara itu.


Arta terdiam, ia tak berani memikirkan apa apa, takut anak anaknya mendengar dan malah menjadi khawatir.


Arkan melihat istrinya tiba-tiba diam, di mengerti dan tidak mengatakan apa pun dalam hatinya. agar anak-anaknya tidak panik.


"Baguslah, jika ada hal seperti ini lagi langsung beritahu Papa dan Mama ya sayang" ucap Arkan mengganti topik pembicaraan.


"Iya Pa" jawab si kembar.


Sementara di dalam ruangan konsultasi, Kart tengah berbaring di atas tempat tidur pasien. Andra berusaha memanggil Alter ego Roki untuk Bangun dengan menggunakan metode hipnoterapi. Namun nihil Roki tidak akan bangun lagi untuk selamanya, Andra mengembangkan senyumnya menatap Kart.


"Ada apa Om? mengapa tersenyum seperti itu?" tanya Kart bingung.


"Nak, apa kau merasa ada ingatan yang menyatu di kepala mu akhir-akhir ini?" tanya Andra.


"Iya Om, dan sangat sering terjadi seolah ingatan itu adalah milikku. Sama seperti saat aku melihat si kembar tadi" ujar Kart dengan sedikit bingung.


"Apakah ini hal baik atau buruk om?" tanya Kart khawatir.


"Aku tak bisa melakukan apa pun tanpa bantuannya, Roki yang menggantikanku selama ini di siang hari" ujar Kart.


"Tidak tidak tidak Kart, Roki adalah bagian dari dirimu yang terbagi menjadi dua akibat trauma yang kau alami. Dirimu telah menemukan obat bagi traumamu, karena setahuku Kart tidak akan bisa bertahan lama di siang hari, Kart akan mengalami tremor panjang jika bangun di siang hari" jelas Dokter Andra.


Kart terdiam, dia mengingat semua yang terjadi pada dirinya beberapa hari ini. Bagaikan potongan puzzle, ingatannya sebagai Roki menyatu dan bergabung dengan dirinya sebagai Kart.


"Apa kau merasa bahagia akhir-akhir ini?" tanya Andra.


"Aku sangat bahagia, bahkan tidak seperti biasanya" jelas Kart.


"Apa boleh kutahu apa yang membuatmu bahagia?" tanya Andra.


"Arta menikah dengan sahabatku yang sangat ku percaya, Arta akhirnya lepas dari rumah Mahendra, aku akhirnya bisa bertemu dengan Karina kekasihku yang kurindukan, Aku punya banyak orang yang mendukung dan menyayangi ku, bahkan kenyataan bahwa aku punya keponakan kembar membuatku sangat bahagia dan merasa hangat" jelas Kart.


"Menurut kesimpulan Saya, mereka adalah obat untuk Anda Kart. Anda bisa pulih sebaik ini karena mendapat dukungan penuh dari orang-orang yang menyayangi Anda. Jadi jangan takut, perlahan-lahan semua akan membaik. Roki dan Kart adalah orang yang sama, jiwa yang sama dalam satu tubuh" jelas Andra.


"Itu artinya Saya sembuh dok?" tanya Kart memastikan kondisi nya.


"Benar Kart, Anda telah melewati banyak hal hingga bisa sampai tahap ini, Selamat tetaplah berbahagia seperti saat ini" ucap Andra sambil tersenyum bahagia pada Kart.


"Terimakasih Om, terimakasih" ucap Kart sambil memeluk Andra dengan erat.

__ADS_1


"Hahahahh, sudahlah mereka menunggumu di luar" ucap Andra menepuk bahu pria itu.


Kart dan Andra menghampiri Arta dan keluarganya.


"Bagaimana keadaan Kakak Saya dok?" tanya Arkan dan Arta bersamaan, sejenak mereka saling menatap lalu tertawa bersama .


"Hahahahahah.... kompak banget sih" goda Kart membuat pasangan itu malu.


"Saya punya kabar bahagia buat kalian, Kart atau Roki sudah pulih seutuhnya. Kart dan Roki sudah menyatu dan menjadi satu pribadi, ini semua berkat dukungan dan semangat kalian semua" jelas Dokter Andra.


"Kak! Benarkah?" tanya Arta menghampiri kakaknya.


"Benar tuan putri, pangeranmu sudah sembuh!" ucapnya sambil membelai kepala adiknya itu.


Arta menghamburkan pelukannya pada Kart. Air matanya jatuh membasahi pipi cantiknya itu.


"hiks hiks hiks, baguslah kakak sudah sembuh huhuhuhuh, ...Arta khawatir,Arta takut Kakak akan sakit lagi hiks hiks hiks" tangisnya dalam pelukan Kart.


Kart membalas pelukan Arta dengan lembut dan menepuk-nepuk punggung perempuan itu.


"Selamat Bro! Lo udah sembuh seutuhnya, sekarang tinggal nunggu undangannya" Goda Arkan dengan menaik turunkan alisnya.


Kart menatap tajam ke arah Arkan, ia tak ingin Arta tahu apa niatnya setelah ia sembuh.


"Hmm? undangan apa kak?" tanya Arta melepas pelukannya meminta penjelasan dari kedua pria itu.


"Undangan...arghh sakit tau kak!" kesal Arkan karena Kart tiba-tiba memukul lengannya dengan kuat.


"Makanya itu mulut jangan ember napa " kesal Kart.


"Apa sih maksudnya kak?" tanya arta heran.


"Mama sini Jeni bisikin" panggil Jeni. Kart mengerutkan keningnya, sementara Arkan sudah menahan tawanya menunggu reaksi Arta mendengar apa yang dikatakan Jeni.


"Apa !!!!Kakak mau ngelamar Karina!!!" teriak Arta terkejut.


"Bwahahhahahahhaha ketahuan kan Lo" ejek Arkan .


Kart terdiam, ia merasa bingung mengapa Jeni bisa tahu, hanya saja ia tak ingin bertanya sebab singa betina dihadapannya sudah siap menerkamnya, apalagi mata Arta yang sudah memelototi Kart bagaikan siap menerkam mangsanya.


"Jelasin, kenapa kakak gak kasih tahu Arta?" kesal Arta sambil berkancah pinggang.


Arkan membawa si kembar dan Andra untuk melakukan konsultasi selanjutnya meninggalkan kakak beradik itu disana.


"Ehmm....Emangnya gak boleh kakak ngelamar Karina?"tanya Kart balik.


Arta memejamkan matanya lalu kembali memeluk Kart dengan lembut. Kart bingung dengan sikap adiknya itu.


"Hmm Ar kok jadi meluk? bukannya kamu marah?" tanya Kart bingung.


"Siapa juga yang marah, aku tadi ngerjain kakak heheheh, Arta justru bahagia mendengar niat kakak, ini menunjukkan bahwa kakak sudah benar-benar sembuh" ujar Arta menatap Kart dengan bahagia.

__ADS_1


"Heheheh makasih tuan putri" ucap Kart mengacak acak rambut Arta.


__ADS_2