Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Manik biru


__ADS_3

Di dalam markas Blood Tears tampak Roki mengeratkan kepalan tangannya, wajahnya tampak dipenuhi dengan amarah yang membuncah, jelas dari sorot mata pria itu ia siap untuk menghabisi orang yang terekam jelas di layar LCD itu.


"Sialan kau Mahendra !" pekik Roki membuat anak buah mereka bergidik ngeri dengan teriakan pria itu yang memang sering mereka dengar saat ia kembali menjadi Kart. Tak ada anak buahnya yang tahu jika Roki merupakan alter ego dari bos mereka.


Beberapa jam yang lalu saat Roki tengah berdiskusi dengan timnya di kantor Mars Company, anak buahnya menelepon bahwa telah terjadi keributan di sekitar markas sementara milik Blood Tears.


Terjadi serangan lagi yang dilancarkan oleh kelompok yang sama saat mereka melaporkan situasi  markas kepada Arta. Anak buahnya tidak dapat menghubungi Bos pertama mereka yaitu Arta hingga membuat mereka harus menelepon Roki alias Mr. Kart yang mereka ketahui sebagai pemimpin mereka.


Roki berangkat sendirian dan meninggalkan Karina bersama orang-orang yang dipercayainya, ia tak ingin melibatkan Karina lebih jauh lagi dengan dunia bawah yang berbahaya.


"Bawa dia ke ruang bawah tanah !" perintah Roki pada anak buahnya yang langsung dianggukkan oleh mereka. Sementara itu Roki masuk ke dalam ruang pribadi yang hanya bisa diakses oleh dirinya dan Arta.


Roki menenangkan pikirannya, ia tak bisa melakukan lebih dari ini, sebab kemampuannya terbatas hanya sebagai pemikir dan pencari solusi, soal berkelahi sudah diambil alih seluruhnya oleh Kart. Ia menatap Layar komputernya, mengingat semua kejadian yang terjadi hari ini.


Roki memejamkan matanya sejenak, sebentar saja kepalanya tiba-tiba seolah terjatuh namun kembali tegap, dibukanya kedua kelopak matanya dan muncullah manik biru kristal nan indah dengan sorot mata tajam sebagai pertanda bahwa bos mafia sesungguhnya telah bangkit dari tidurnya dan siap melaksanakan misinya.


Kart bangun dari tidurnya, tapi kali ini kepalanya terasa begitu sakit sampai membuatnya meringis kesakitan dan meremas kepalanya dengan kuat.


"Arghhkkkkkk....." teriaknya diiringi putaran memori ketika Roki bangkit sebelumnya yang berputar bagaikan film yang begitu saja lolos di memorinya.


Ia mengingat dengan jelas apa yang terjadi di hari itu, hingga saat Karina dijebak, ia mengingat semuanya. Ingatan ini masuk begitu saja bercampur dengan memorinya. Seluruh kehidupan yang dijalani Roki selama ini telah menyatu ke dalam memorinya, kini dia bukan hanya Kart tapi sekaligus Roki yang menjadi satu dan sempurna seutuhnya.


Tapi sepertinya ada bagian yang hilang yang tidak diingatnya sama sekali, Sepertinya Roki membawa ingatan itu hilang bersama dengan perginya alter ego itu. Tapi ingatan apa itu, sepertinya Roki menyampaikan sesuatu, tapi apa? ia tak ingat sama sekali.


Perlahan rasa sakit kepala itu mulai menghilang, Kart duduk di atas kursinya, ia memandang ke arah komputer yang tersedia di atas mejanya.


Terlihat tulisan di layar komputer itu bertuliskan "OPEN !!!", Kart membuka file itu, ia menemukan segala sesuatu yang selama ini dicarinya. Sebuah Rahasia besar akhirnya terungkap, rahasia yang hanya disimpan oleh Roki dan baru diberitahukan kepada Arkan beberapa hari yang lalu.


Matanya juga teralih pada sebuah file berbentuk Video, ia membukanya dan menontonnya sampai habis. Kart tertegun melihat video itu, tak terasa air matanya menetes. Ya Kart yang dikenal dingin,kejam dan pemarah itu menangis melihat video yang terputar di hadapannya.


"Sampai jumpa lagi !!" ucapnya lalu menutup file-file itu dan beranjak keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Segalanya tentang Kart telah berubah, kini ia kembali menjadi pria yang hangat, ceria, banyak bicara seperti Roki dan sekaligus pria yang memiliki aura kejam, dingin dan tak terbantahkan seperti Kart.


Kart mengambil jacket berlambangkan Blood Tears lalu masuk ke ruang bawah tanah dengan aura seram di wajahnya.


"Bawa orang itu ke hadapanku dan ikat dia disana," ucap KArt dengan sorot mata pembunuh miliknya.


klak   klak  klak


Kart membuka tutup sebuah bolpoin emas di tangannya, sedetik kemudian bolpoin itu mengeluarkan mata pisau yang sangat tipis dari ujung lainnya. Bunyi bolpoin itu terasa seperti setingan jam yang membuat suasana di ruangan lembab itu semakin tegang dan menyeramkan.


Anak buah Kart menarik orang itu ke tengah ruangan dan mengikatnya di atas kursi penyiksaan yang sudah disediakan oleh mereka.


Selama ini mereka tidak bermain kasar, dan tidak mau melibatkan fisik kecuali keadaan sudah seperti ini. Saat ada yang berani menyerang markas mereka, maka Kart yang akan turun tangan sendiri menyiksa dalangnya. Ia tidak akan membuatnya mati di tangannya, ia hanya akan menyiksanya dan membuatnya memilih mati sendiri.


Hmmphhh....hmmph terdengar deru nafas kasar pria bertubuh besar yang diikat di kursi penyiksaan itu. Matanya melotot, urat-uratnya tampak timbul di sekitar wajahnya yang memerah dan terasa panas. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat sorot mata iblis di hadapannya itu tengah duduk memandangnya degan santai sambil bermain-main dengan bolpoinnya.


"Sialan, aku pasti akan mati hari ini, siapa dia ? aku tak pernah melihatnya," gumam pria yang tak lain adalah anak buah Storm orang suruhan Jaya Mahendra.


"Hah...hah...lepaskan aku orang gila!" teriak pria itu spontan sesaat setelah mulutnya dilepaskan.


"Hahaha, melepaskanmu untuk apa hmm?" ucap Kart dengan tawa yang menyeramkan membuat siapapun yang mendengarnya merinding ketakutan. Seketika nyali pria itu menciut, ia sadar bahwa dirinya sudah masuk terlalu jauh ke dalam sarang singa.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kart berbasa-basi padahal ia sudah tahu siapa dalang di balik ini semua.


Pria itu hanya diam, ia tak mau menjawab pertanyaan pria yang ada di hadapannya itu. Merasa tidak ditanggapi, Kart berdiri lalu mendekatkan dirinya ke samping pria itu, ia menunduk mensejajarkan dirinya dengan pria itu.


Srett.....sreettttt......krak


"Arkhhh....sakit....sakit,.....shhhhh," teriak pria itu mengerang kesakitan saat benda tajam yang keluar dari bolpoin itu mengiris iris wajahnya dengan sangat pelan, Kart menyobek wajah pria itu hingga berdarah, dan memotong daun telinga kanannya hingga terlepas dan teronggok begitu saja di atas lantai ruangan remang-remang itu. Membuat siapa saja yang melihatnya merinding ngeri.


"Kau tahu sakit rupanya, tapi kau masih berani mengganggu anak buahku dan melukai mereka bangsat!!" teriak Kart, Kart marah bukan karena orang dekatnya diserang, ia marah karena beberapa anak buahnya mengalami luka-luka hingga menyebabkan mereka harus dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


Lucu memang seorang bos mafia begitu memperhatikan keselamatan anak buahnya, sebab ia tahu anak buahnya itu mengabdi kepada mereka dan pastinya memiliki keluarga yang menunggunya untuk pulang ke rumah.


Jika mereka terluka pasti keluarga mereka akan khawatir. Luar biasa sekali tuan Kart ini,tapi memang begitulah dia hingga membuat semua anak buahnya begitu setia dengan pimpinan dan kelompok mereka.


"Ck....kau tak akan bisa mengalahkan kelompok kami!!! Kalian hanya sampah penghalang yang tidak berguna!!" ejek pria itu dengan tatapan meremehkan di hadapan Kart.


"Kalian...kalian pasti akan dibasmi oleh tuanku!!" teriaknya lagi semakin lantang saat melihat Kart terdiam di depan wajahnya.


Kart menjauhkan tubuhnya, ia memberikan bolpoin itu pada anak buahnya untuk dibersihkan.


"Tutup kepalanya, tutup mulutnya, ikat dia dan buang di sekitar tempat itu!!" perintah Kart.


Ia tak menggubris sama sekali perkataan pria itu hingga saat pria itu mengucapkan sebuah kalimat yang membuatnya mengamuk.


"Cih lihatlah dia bahkan tak berani melakukan lebih dari ini, hahahah kau akan tahu saat tuanku membalasmu, ia mungkin akan mengambil kekasihmu, adikmu atau ibumu dan akan dijadikan mainan untuk kami nikmati, aku sangat menantikan itu hahah," ledek pria yang tak takut mati itu.


Sontak anak buah Kart yang mendengar itu membelalakkan matanya, amarah mereka sudah di ubun-ubun, saat melihat pimpinannya melangkah, anak buahnya menghentikan pria itu.


"Tuan jangan kotori tangan Anda membunuh bajingan tak layak ini!! biar aku yang menghajarnya, karena sama saja ia menghina kami semua di tempat ini!!" ucap salah seorang anggota kepercayaannya kepada Kart.


"Kau benar, hajar dia dengan baik Harris!!" perintah Kart lalu meninggalkan ruangan itu. Kart tahu jika anak buahnya yang berada di ruangan itu merasa terluka karena ucapan pria itu.


Terdengar suara teriakan dari dalam sana, entah apa yang mereka lakukan pada pria itu, yang pasti dia sangat menderita saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


Like vote koment 😊😊


__ADS_2