
"ya sudah bersihkan diri kalian," balas Mama Lily.
"Kita ke atas dulu ya Ma," ucap Arkan melangkahkan kakinya diikuti oleh Arta menuju kamar mereka.
...-----------...
Di dalam kamar besar bernuansa hitam putih yang cukup luas, dengan sebuah tempat tidur berukuran King Size dan foto pernikahan yang terpampang di dalamnya memberi kesan klasik pada ruangan itu.
Baru kali ini mereka menempati kamar yang sudah disiapkan oleh Kedua orang tua Arkan yang ternyata telah menyiapkan semua keperluan mereka di kamar itu. Mereka tidak menggunakan kamar lama Arkan karena terlalu sempit menurut Mama Lily, padahal kamarnya begitu luas.
"Kak, kakak mandilah terlebih dahulu biar Arta bereskan ini dulu," ucap Arta sambil menunjuk beberapa barang belanjaan milik mereka berdua.
"Ya sudah Kakak mandi dulu ya," ucap Arkan.
Arta mempersiapkan pakaian kasual yang berbeda dari yang biasanya dipakai suaminya. biasanya suaminya akan memakai kemeja kebesaran dengan celana longgar dengan warna sedikit kurang nyambung.
Arkan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk sepinggang hingga menunjukkan roti sobek miliknya yang tak kalah jauh dengan roti roti sobek internasional di majalah majalah pria di luar sana.
"Arhkk kak! kenapa gak ditutupi itu," ucap Arta menutup matanya sambil menunjuk ke arah perut Arkan.
"Apaan sih, toh kamu juga akan melihatnya. Buka aja mumpung ada tontonan gratis heheh," celetuk Arkan sambil terkekeh melihat ekspresi shock Arta.
"Ihhk Kak Arkan ternyata mesum!" teriak Arta memalingkan wajahnya yang memerah.
"Hahahah mesum sama istri sendiri boleh dong," goda Arkan menaik turunkan alisnya.
"Apa sih! Udah itu pakai baju yang udah Arta siapin," ucap Arta masih enggan melihat ke arah Arkan sambil menunjuk ke atas meja tempat pakaian Arkan diletakkan.
"Iya iya cerewet," ucap Arkan sambil mengambil pakaian itu.
"Hmm Arta, apa kamu gak salah ngasih pakaian seperti ini?" ucap Arkan bingung melihat pakaiannya.
"Ihk nggak lah kak, tapi kakak udah janji mau berubah," ucap Arta masih tak mau melihat ke arah Arkan.
"I..iya kakak memang janji ta..tap," ucap arkan terpotong.
"Gak ada tapi tapian kakak pakai aja itu," ucap Arta tegas.
"Gimana kakak mau pakai kacamata kuda sama segitiga pink ini coba Arta?" ucap Arkan menahan tawanya.
"Hah? kacamata kuda? segitiga pink?" Arta bingung dengan perkataan Arkan. Ia segera membalikkan wajahnya menatap Arkan yang tengah mengangkat pakaian dalamnya dengan kedua tangannya sambil berusaha menahan tawa.
"Ihkk Kak!!! bukan itu!!" teriak Arta sambil beranjak merampas kacamata kuda dan segitiga pink miliknya yang ia tunjuk saat memberi pakaian pada Arkan.
"Pfft Hahahhaha makanya kalau nunjuk itu yang benar. Masa Kakak pakai itu semua hahahahah," tawa Arkan terbahak-bahak apalagi melihat wajah Arta yang memerah dan menahan malu.
"Kakak!!!" teriak Arta berlari ke kamar mandi menghindari ledekan Arkan.
"Hahahahhahah eh ini gaunmu ketinggalan, apa kamu mau pamer hanya dengan memakai kacamata dan segitiga pink itu," teriak Arkan sambil mengangkat dress biru milik Arta yang langsung disambar secepat kilat oleh Arta.
" Huh dasar mesum!!" ucap Arta menatap tajam ke arah Arkan lalu kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Hahahah, Arta Arta," tawa Arkan terbahak-bahak melihat tingkah malu-malu istrinya itu.
Di kamar mandi Arta memegang dadanya karena jantungnya terasa mau copot akibat ulah Arkan.
"Dasar kak Arkan, suamiku ternyata somplak huh," kesal Arta.
Setelah 20 menit Arta keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaiannya, rambut panjangnya yang masih basah digerai sambil di keringkan dengan handuk.
Arkan menatap Arta dengan takjub. Sungguh cantik makhluk di hadapannya itu. Gaun biru selutut dengan lengan tiga per empat begitu pas di tubuhnya menambah kesan cantik dan elegan istrinya itu.
"Sudah selesai? sini ku bantu," ucap Arkan mendudukkan Arta di meja rias lalu mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Arta.
"Eh biar aku saja kak," tolak Arta tak enak.
"Hus diam dan tenanglah, biar aku yang lakukan ini. Mulai hari ini aku akan mengurusmu seperti kamu mengurus aku," ucap Arkan sambil melanjutkan aktivitasnya.
"Terimakasih kak," ucap Arta malu-malu.
"Hmmm, Arta!" ucap Arkan.
"Ada apa kak?" tanya Arta.
"Maukah kamu memulai semuanya dari awal denganku?" tanya Arkan masih fokus dengan rambut Arta.
"Kita mulai dari awal, kita belajar saling mencintai, saling melengkapi dan saling mendukung," ucap Arkan masih belum ditanggapi oleh Arta.
"Seperti yang kita bicarakan dahulu, mari kita saling terbuka satu sama lain. Aku berjanji akan melindungi kalian Kamu dan anak-anak kita, Aku ingin kuta hidup bahagia, aku mau belajar mencintaimu dan menjadi satu-satunya orang yang menempati hatimu," lanjut Arkan menyampaikan isi hatinya.
"Iya mari kita mulai semua dari awal, Arta janji akan jadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecil kita," ucap Arta meneteskan air matanya.
"Hei apa kau menangis?" ucap Arkan menangkupkan kedua tangannya di wajah Arta hingga posisi mereka saling bertatapan.
Arkan mencium kening Arta dengan lembut, lalu turun ke mata, hidung, pipi dan terakhir bibir mungil Arta.
Arta tersipu malu dengan perlakuan Arkan. Seolah candu, Arkan melanjutkan ciuman di bibir Arkan namun masih bermain sendri karena ini pertama kalinya bagi Arta.
Selama berpacaran dengan Robin Arta selalu menolak jika Robin memintanya untuk berciuman.
"Mmphh eghh " leguh Arta kehabisan napas. Merasa Arta tidak nyaman Arkan menghentikan aktivitasnya.
"Ma..maaf Arta," ucap Arkan menggaruk lehernya gugup.
"Nggak apa apa kak, itu hak kakak," ucap Arta tersenyum.
"Oh iya itu ciuman pertamaku kak heheh," ucap Arta tersipu malu menyembunyikan wajahnya di perut suaminya.
"Benarkah?wah aku juga ," ucap Arkan yang membuat Arta terkejut sekaligus merasa bahagia bahwa pria yang dinikahinya itu tidak pernah berciuman dengan siapa pun.
"Masa iya?" ucap Arta mendongakkan kepalanya menatap Arkan.
"Iya sayang, suami mu ini tak pernah menyentuh wanita lain dengan bibir ini," ucap Arkan memanggil Arta dengan ucapan sayang yang langsung membuat Arta tersipu malu.
__ADS_1
"Aduh gemesin banget istriku ini," ucap Arkan mencubit gemas kedua pipi Arta.
"Heheh," kekeh Arta malu malu.
"Tapi masa iya itu ciuman pertamamu? bukannya kamu dan Robin pernah pacaran?" ucap Arkan dengan nada sedikit tak percaya karena pada umumnya jika sudah berpacaran maka setidaknya ciuman sudah dilakukan.
"Benar kak, selama pacaran dengan pria berengsek itu aku tak pernah menciumnya, lagipula aku tak se cinta itu dengan manusia busuk itu," ucap Arta kesal mengingat Mantan pacarnya itu.
"Dan lagi aku bukan wanita murahan yang mau dicium cium sama pria yang bukan suamiku," lanjut Arta yang dibalas senyuman bahagia oleh Arkan.
"Iya iya aku percaya," ucap Arkan memeluk erat Arta dalam dekapannya.
tok tok tok
"Ada apa?" ucap Arkan dari dalam kamar saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Makan malam sudah siap tuan, nona. Semua sudah menunggu di meja makan" ucap Pak Kus pada mereka.
"Baiklah kami akan segera turun" ucap Arkan.
"Baik tuan, nona saya permisi" ucap Pak Kus dari balik pintu.
"Ya sudah rambutmu sudah kering ayo kita ke bawah," ucap Arkan sambil merapikan anak rambut Arta.
"Apa kakak siap menunjukkan penampilan baru kakak?" ucap Arta menatap suaminya yang tampak gagah dan sangat tampan dengan pakaian kasual yang sudah disiapkannya tadi. Arkan tak lagi mengenakan kacamata dan behel hijaunya sudah di lepaskan.
"Tentu saja siap buk bos! apalagi kalau istriku yang siapkan," ucap Arkan penuh semangat sambil menggandeng tangan Arta.
"Ya sudah ayo ke bawah," ucap Arta sambil tersenyum manis.
"Eh tunggu sebentar ada sesuatu di wajahmu,"
Cup
Satu ciuman mendarat lembut di bibir ranum Arta yang membuat gadis itu terpaku.
"Hei! Arta ayo ke bawah, mereka sudah menunggu kita. Atau kita lanjutkan yang tadi," goda Arkan menyadarkan Arta.
"ihk Kakak cari kesempatan dalam kesempitan nih," ucap Arta memanyunkan bibirnya.
"Hahahaha habisnya manis, ya sudah ayo!" ucap Arkan menarik tangan Arta.
Mereka berdua turun ke ruang makan sambil terus tersenyum dan bergandengan tangan.
"Arkan!!!" teriak Mama Lily saat mereka turun dari tangga.
.
.
.
__ADS_1